Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Menyesal Tapi Diulang


__ADS_3

Sinar matahari berhasil menembus ruangan dimana dua insan sedang tertidur pulas. Suara cicit burung liar pun ikut mendominasi, sehingga mengganggu nyenyaknya tidur Sonia dan Kayden. Dalam waktu yang hampir bersamaan, mereka terbangun dari tidurnya.


"Oh sudah pagi. Lelahnya tubuh ini... Tapi aku menikmatinya!" ucap Sonia dengan senyuman di bibirnya.


Jayden menguap berkali-kali. Dirinya juga merasakan lelah sebab aktivitas panasnya semalam.


"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Sonia sambil bergelayut manja pada dada bidang Jayden yang masih polos.


"Biasa aja. Aku lelah." jawab Jayden datar.


Sonia menciumi pipi Jayden dengan gemas. Sebenarnya membuat Jayden sedikit risih. Tapi dia diam saja atas ulah Sonia.


"Kamu hebat. Bisa memuaskanku. Awalnya aku takut akan sakit. Tapi ternyata enak juga. Aku ketagihan kalo gini ceritanya. Kapan-kapan mau lagi deh!" kata Sonia yang masih memeluk Jayden.


Jayden merasa bersalah. Tidak seharusnya melakukan hal seperti itu pada Sonia. Sonia adalah pelampiasan atas Fanya yang belum bisa dimilikinya.


"Kenapa diam saja?" tanya Sonia lagi.


"Gapapa. Aku hanya lelah." jawab Jayden.


Sonia melepaskan pelukannya. Menatap wajah tampan Jayden yang berhasil mencuri hatinya.


"Baiklah. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Nanti kita mandi bareng ya. Jujur sih, ini pertama kalinya buatku. Tapi aku tak menyesal." ucap Sonia senang.


"Iya." kata Jayden.


Jayden menatap punggung Sonia yang polos. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang sudah ia lakukan.


"Maaf." kata Jayden pelan, namun masih bisa didengar oleh Sonia.


"Kenapa?" tanya Sonia berbalik mendekati Jayden.


"Aku terbawa suasana. Seharusnya ku lakukan untuk cinta pertamaku. Tapi aku sudah merusakmu. Aku bersalah padamu. Maaf pun, tak cukup untuk membayar kesalahanku padamu." ujar Jayden seraya menatap wajah Sonia.


"Bukan salahmu sepenuhnya. Aku juga menginginkannya. Jika pun aku hamil, maka aku akan membesarkannya sendiri. Aku tak akan meminta pertanggungjawaban darimu." ujar Sonia meski hatinya perih membayangkan jika Jayden lepas tanggung jawab.


Sonia yang masih dalam keadaan polos, segera berlari ke kamar mandi. Mengunci pintu rapat-rapat. Ia tak menyangka jika kebahagiaan hatinya beralih menuju cerita sedih dalam waktu singkat.


Sementara Jayden lebih merasa bersalah lagi. Ia bingung harus berbuat apa untuk selanjutnya. Ia menyadari bahwa dirinya adalah pria yang berambisi. Namun, menjadi pengecut juga bukanlah bagian dari dirinya. Ia adalah salah satu abdi negara. Mana bisa berlaku seenak jidatnya.


Jayden menuju kamar mandi. Mengetuk pintu yang sebelumnya sudah dikunci oleh Sonia. Walau telah mengetuk dan memanggil nama beberapa kali, Sonia seakan bergeming. Tetap tak membuka pintu. Hanya terdengar suara tangisan kecil yang ditahan.


"Keluarlah Sonia! Ayo kita bicara!" seru Jayden.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Sonia. Lantas Jayden mendobrak paksa pintu kamar mandi itu. Tampak Sonia sedang duduk meringkuk ketakutan.


"Ada apa denganmu? Bukannya kamu senang setelah apa yang kita lakukan sebelumnya? Kenapa mendadak begini? Dimana Sonia yang aku kenal? Sonia yang pemberani, penuh percaya diri, dan pantang menyerah?" kata Jayden.


Sonia pun berdiri. Menatap wajah Jayden dengan kesal.


"Sudahlah. Jangan hiraukan aku. Tak perlu mengasihaniku. Aku memang pantas dicampakkan seperti ini. Aku tak pantas dicintai dan disayangi oleh siapapun. Jadi sudah selayaknya aku menderita seorang diri. Jangan cemas, aku tak akan menuntutmu. Cukup berpura-puralah bahwa tak terjadi apa-apa di antara kita. Aku lelah memikirkan betapa kacaunya hidupku." ujar Sonia yang hendak keluar dari kamar mandi.


Jayden menarik tubuh Sonia. Memeluknya.


"Kenapa? Apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan? Katakan saja!" tantang Sonia.


"Ayo kita menikah!" kata Jayden serius.


"Menikah? Menikah bagaimana maksudmu? Tolong jangan bercanda! Aku bukan tipe wanita yang suka dikelabuhi. Jangan bercanda denganku. Tolong akhiri sandiwaramu!" seru Sonia.


"Aku serius. Kesalahanku sudah fatal. Aku telah menodaimu. Aku telah mengambil untung atas dirimu. Mana mungkin aku lepas tanggung jawab begitu saja. Ya, aku masih belum sepenuhnya move on dari Fanya. Tapi mungkin kamu bisa memutar haluan hatiku dengan kita menikah. Bagaimana?"


"Terserah kau sajalah. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku terlanjur takut kehilangan harga diri."


"Sonia, ayo kita mandi bareng. Jangan bersedih lagi. Tersenyumlah seperti semalam. Aku terhibur dengan seulas senyumanmu." ujar Jayden.


Mereka mandi bersama. Memceburkan diri dalam bath up yang sudah penuh dengan busa-busa wangi.


"Kamu cantik, mandiri, pintar, dan sudah pasti seksi." jawab Jayden sembari tersenyum.


Sonia jadi salah tingkah saat Jayden menyebut kata seksi.


"Seksi?"


"Iya. Tubuhmu sangat seksi. Tidak terlalu kurus ataupun gemuk. Tubuhmu bisa dibilang lumayan sintal dengan ukuran payudara dan bokong yang montok. Aku menyukainya. Terlebih sekarang aku sudah melihatnya secara langsung."


"Benarkah?" Sonia termakan pujian Jayden.


"Iya benar. Mendekatlah, aku ingin memastikan lagi seberapa besar dan montoknya da..."


Belum selesai bicara, Sonia buru-buru membekap bibir Jayden dengan mendaratkan kecupan.


"Lagi?" ujar Jayden menyeringai.


Mereka pun kembali berciuman. Untuk kali ini, Jayden lebih menikmati dan menyadari bahwa lawan mainnya adalah Sonia.


***

__ADS_1


Fanya menyiapkan sarapan untuk Sakti. Ia menggelar beberapa hidangan di meja makan.


"Wow, wanginya masakan istriku. Sepertinya enak. Jadi nggak sabar buat makan." ujar Sakti yang langsung mengambil posisi duduk.


"Semoga sesuai seleramu, Mas. Ayo makanlah! Mumpung masih hangat dan fresh. Aku juga akan membawakanmu bekal untuk makan siang." kata Fanya.


"Oke deh. Istriku memang terbaik!"


"Terima kasih Mas. Kapan-kapan kita nginep di rumah Mama yah. Kasian Mama sendirian terus."


"Nggak sendiri. Ada Bik Ani dan beberapa penjaga di rumah. Masih rame lah di sana. Kalo kita ya cuma berdua." ujar Sakti sambil menyendokkan sesuap nasi.


"Iya sih."


Mereka makan dengan tenang. Fokus dengan suapan masing-masing. Hanya suara ketukan sendok dan piring yang terdengar.


"Terima kasih sayang, sarapan buatanmu selalu enak dan membuatku kenyang. Hari ini kamu kerja nggak?"


"Kerja Mas. Abis ini aku ganti baju kok. Mas kalo buru-buru mau kerja, berangkat duluan aja. Aku bisa naik taksi."


"Tidak. Aku akan menunggumu. Aku ke ruang tengah dulu deh. Kamu siap-siap dulu aja. Santai. Hari ini nggak ada rapat. Dandan yang cantik, tapi jangan cantik-cantik banget yah." kata Sakti.


"Iya." ujar Fanya yang berlari menuju kamar.


Sakti menunggu Fanya di ruang tengah. Menyalakan TV adalah salah satu alternatif untuk mengisi waktu.


"Sayang, udah belum?" teriak Sakti setelah 30 menit Fanya belum keluar dari kamar.


Tak ada sahutan, Sakti segera bergegas ke kamar menyusul istrinya. Betapa terkejutnya Sakti saat mendapati Fanya tengah terduduk di lantai sembari meringis kesakitan.


"Sayang, ada apa?" tanya Sakti dengan memastikan apakah ada yang terluka atau semacamnya.


"Aku tadi terpeleset pah. Sebelumnya aku numpahin minyak zaitun di lantai, lalu aku terpeleset karena ngelapnya kurang bersih. Maaf ya Mas, membuatmu khawatir. Aku emang kurang hati-hati." jawab Fanya merasa bersalah.


"No! Bukan salahmu. Lihat, ini memar dan pasti sakit kan? Hari ini kamu istirahat aja. Nanti aku bilang Mama kalo kamu izin tidak masuk kerja. Bagaimana ya, aku nggak bisa ambil cuti hari ini. Tapi nggak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan begini. Uhm, kamu ikut aku ke kantor aja yah. Di ruanganku kan ada kamar tidurnya. Kamu bisa istirahat di sana. Sekalian aku bisa memantau keadaanmu. Mau kan?"


"Aku nurut Mas Sakti aja. Tapi aku susah geraknya Mas. Sakit. Makanya gini aja sedari tadi."


"Yaudah, aku bantu gantiin baju. Trus nanti aku gendong kamu. Mau pake baju yang mana?" tanya Sakti.


"Aku udah ambil. Tuh di atas ranjang. Angkat aku ke sana aja Mas."


"Baiklah."

__ADS_1


Sakti membantu Fanya yang kesulitan berganti baju. Lalu setelah siap, ia menggendong Fanya menuju mobilnya. Fanya diajaknya ke kantor.


__ADS_2