
Fanya makan dengan santai. Di hadapannya ada Sakti dan Satya yang tengah mengobrol urusan bisnis. Dila sudah pulang sesaat setelah Robi meninggalkannya demi mengejar Clara.
"Oh iya Mas, kan tadi Clara bawa mobil yah. Kuncinya masih sama aku. Dia kepikiran lari ke parkiran trus niat masuk mobil nggak ya? Aku khawatir nih sama dia." kata Fanya.
"Jangan pikirkan dia. Dia sudah ditangani oleh suaminya. Tak peduli dia mau naik mobil atau jalan kaki, dia sudah bersama orang yang aman. Untuk mobilnya, nanti biar dibawa Satya saja. Jadi kita bisa semobil nanti." kata Sakti menatap Fanya seraya mengelus rambut Fanya.
"Bener juga sih. Tapi entah kenapa aku kasian juga sama si Dila tadi. Dia tak ada niatan mau gimana-gimana sama Mas Robi. Tak taunya ada kejadian kayak tadi. Meski Clara nggak melimpahkan kesalahan kepada Dila secara langsung, tapi kan pasti si Dila bakal kepikiran juga." ujar Fanya.
"Udahlah, berhenti memikirkan masalah mereka. Mereka sudah sama-sama dewasa. Bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan. Dan yah, kita hanya bisa berpartisipasi sebagai penonton bukan jaksa penuntut umum!" kata Sakti.
"Tuan, sepertinya saya izin pulang lebih dulu. Saya sudah ada janji dengan Marina dan orang tuanya. Tak enak jika saya terlambat." ujar Satya.
"Oh baiklah. Silakan pulang duluan. Sayang, tolong berikan kunci mobil Clara pada Satya!"
Fanya memberikan kunci mobil Clara kepada Satya.
"Sampaikan salamku untuk Marina dan keluarganya yah!" kata Fanya.
"Iya Nona." kata Satya.
Setelah mengucap pamit, Satya segera meninggalkan Fanya dan Sakti. Tentu saja Fanya masih menikmati sisa makanan di mejanya dengan santai.
"Apakah mau nambah lagi?" tanya Sakti.
"Tidak, Mas. Ini sudah hampir kenyang. Maaf yah, kali ini makanku banyak. Aku juga nggak mau pulang sebelum kenyang." jawab Fanya.
"Kamu Sakti Dirgantara, kan yah?" tanya seorang wanita bernama Nina.
"Ah iya." jawab Sakti datar.
Nina segera duduk di sebelah Sakti yang kebetulan kosong karena Fanya duduk di depan Sakti.
"Mau apa kamu duduk di situ?" tanya Fanya kesal.
"Eh Mbaknyah, nggak usah kesal gitu juga. Suaminya aja biasa kok." jawab Nina sewot.
"Lah, kok situ yang sewot? Dia kan suami saya!" ujar Fanya.
"Bangga yah cuma jadi istri?" ledek Nina.
"Ya harus bangga dong. Sebagai informasi nih ya, sebelum kami menikah, Mas Sakti-lah yang ngejar-ngejar saya! Bukan kayak kamu yang gatel ngejar suami orang! Ups keceplosan!" seru Fanya.
__ADS_1
Beberapa orang memperhatikan mereka. Sampai-sampai ada yang merekam adu mulut Fanya dan Nina.
"Tolong dong kamu pergi dari sini. Kami sangat tidak nyaman dengan kehadiranmu." ujar Sakti.
"Sakti, bagaimana bisa aku pergi dari sini? Restoran ini kan punya kakakku? Aku mana bisa pergi begitu saja?"
"Ayo Mas, kita saja yang pergi! Toh aku udah kenyang dan rasanya mau muntah jika terus berhadapan dengan wanita ini. Ayo!" ajak Fanya.
Sakti bangkit dari kursinya. Tapi Nina bersikukuh menahan Sakti untuk tetap di tempatnya.
"Mau kamu apa?" tanya Sakti.
Meski Sakti berkata dengan nada sopan, tapi sungguh ia menahan kesal seperti Fanya. Bagi Sakti, mau adu fisik ataupun adu mulut, jika lawannya adalah wanita, maka bukan lawan yang tepat.
"Kita kan sudah lama nggak ketemu, jangan pergi dulu! Uhm, aku traktir deh!" jawab Nina penuh semangat.
"Kami sudah makan. Tapi terima kasih atas ajakannya. Kami permisi dulu yah!" kata Sakti.
"Tapi kan kita baru bertemu? Kenapa tidak bisa kamu sedikit lebih lama di sini?" pinta Nina.
"Aku masih ada urusan dengan istriku." ujar Sakti.
Nina mendesah kecewa. Ia menarik tangan Sakti agar tetap duduk bersamanya.
"Baiklah." kata Nina pasrah.
"Cantik dan seksi bolehlah. Tapi gatel jangan!" seru Fanya hingga didengar pengunjung yang lain.
"Apa katamu?" Nina tak terima, tapi diam di kursinya.
"Sudahlah, jangan bikin malu kakak! Bantuin kakak di belakang saja yuk!" kata seorang wanita yang tak lain adalah kakak Nina.
Fanya bergelayut manja pada lengan Sakti. Ia puas membuat Nina kesal setelah membuatnya kesal. Jadi balas dendam sudah terbalas kontan.
"Kamu kayaknya bahagia banget yah?" tanya Sakti yang menenteng belanjaan Fanya.
"Iya dong bahagia. Bisa jalan berdua gini sama suami. Istri mana yang nggak bahagia?" jawab Fanya.
"Bukan bahagia karena udah berhasil bikin wanita tadi kesal?" tanya Sakti.
"Yah itu juga. Abisnya ngeselin kan yah kelakuannya. Udah tau ada istrinya di depan mata, masih berani aja ngegoda kamu. Gimana kalo kamu sendirian ya? Makin berani mungkin!" ujar Fanya.
__ADS_1
"Kalo nggak ada banyak orang, sudah pasti aku usir. Tadi nggak enak aja diliat orang-orang kalo aku ngusir dia. Itu kan restoran saudaranya kalo nggak salah. Aku inget kita pernah makan di restoran yang deket butik mama. Nama restorannya sama kan?"
"Ah iya, kamu inget juga tentang itu. Kalo aku cuma inget betapa gatalnya wanita itu. Ternyata lama tak ketemu, gatelnya bukan ilang tapi malah menjadi. Huft, menggelikan!" kata Fanya.
"Kamu nggak gatel emang?" tanya Sakti.
"Aku juga gatel sih. Tapi kan hanya gatel di depan suami aja. Selebihnya normal." jawab Fanya sambil cekikikan.
"Tapi kamu beneran sudah kenyang?"
"Sudah Mas. Untungnya wanita itu datang pas aku udah selesai makan. Jadi nggak ngeganggu makanku."
"Oke. Apa kita langsung pulang aja?"
"Trus kalo nggak pulang, Mas Sakti mau nemuin wanita itu?"
"Bukan begitu. Kali aja masih mau belanja. Kita kan jarang banget bisa nge-mall kayak gini. Masa iya aku nemuin wanita itu lagi? Tadi aja rasanya pingin kabur kok!"
"Masa?" tanya Fanya.
"Yaiyalah, ngapain coba ngeladenin wanita nggak jelas gitu. Sama yang nggak dikenal aja gatel gitu. Gimana kalo udah kenal?" jawab Sakti.
"Kan udah saling kenal nama, Mas. Namanya Nina."
"Kita hanya kenal nama, bukan kenal kepribadian dan lainnya."
"Oke deh, suamiku. Mobilmu diparkir sebelah mana?" tanya Fanya.
Mereka sudah sampai di parkiran basement. Sakti menggandeng Fanya menuju mobilnya. Setelah masuk ke mobil, Sakti segera memeluk Fanya.
"Mas kenapa?" tanya Fanya heran.
"Gapapa. Dari tadi aku nggak sabar pingin meluk kamu."
"Padahal gapapa loh kalo meluk aja. Nggak akan dilarang juga. Kita juga udah jadi pasangan halal."
"Tapi Sayang, nggak bagus juga kalo dilihat sama pasangan yang belum halal. Nanti kalo ditiru bagaimana?"
"Oh iya yah. Kamu bener juga. Tapi ayo deh kita pulang, Mas. Meluknya dilanjut nanti di apartemen. Nanti kalo ada yang nyamperin kita gimana?"
"Nyamperin kenapa?"
__ADS_1
"Yah Mas. Masa Mas nggak tau? Dikira mobil goyang." kata Fanya.
"Astaga!" seru Sakti.