
Usia kehamilan Fanya sudah menginjak 10 minggu. Itu artinya sudah sekitar 2 bulanan. Ia semakin bersyukur dengan bertambahnya usia kehamilan. Sebab, menurut Sakti dirinya semakin terlihat seksi dan tentunya semakin disayang oleh Sakti.
Tiap hari, ia senantiasa mencari informasi terkait kehamilan. Banyak browsing informasi seputar kehamilan di internet, sering konsultasi dengan dokter kandungan, bahkan sesekali sharing pengalaman dengan ibu-ibu yang juga dalam kondisi hamil ataupun pernah hamil.
Fanya tak ubahnya seperti ibu-ibu hamil yang lain. Terkadang mengalami morning sickness di pagi hari. Muntah secara tiba-tiba meski perut sedang dalam keadaan kosong alias belum makan. Tidak tiap hari, tapi dalam seminggu bisa dihitung antara 3 sampai 5 hari ia dalam keadaan itu.
Belum lagi, Fanya dihadapkan oleh permasalahan yang sering dialami oleh ibu hamil. Apalagi kalo bukan masalah ngidam. Seperti hari ini, Fanya ngidam ketemu Satya. Tentu saja Sakti syok mendengarnya. Apalagi setiap hari kerja Fanya selalu bertemu dengan Satya di kantor.
"Lalu dimana dia sekarang? Kenapa belum datang juga? Apa kamu nggak bilang kalo aku mau bertemu dia, Mas? Mas nggak bilang yah?" tanya Fanya nggak sabar.
Sakti menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat Fanya menatapnya dengan tatapan kesal. Sakti sebenarnya gemas juga dengan tingkah Fanya, tapi ia juga merasa itu wajar. Jadi bagaimana caranya ia harus marah? Ah, mungkin belum saatnya untuk marah!
Pintu ruangan Sakti diketuk. Setelah dipersilakan masuk, Satya masuk dengan memberi salam. Seketika Fanya berbinar melihat kedatangan Satya. Sakti menyuruh Satya duduk di sofa agar Fanya bisa berbincang dengan Satya. Sementara dirinya memilih duduk di kursi kebesarannya.
"Satya, kamu tampan yah hari ini!" puji Fanya.
Seketika Sakti menatap tajam ke arah Fanya dan Satya. Namun baik Satya ataupun Fanya, tak ada yang melihat ke arah Sakti.
"Bukan hari ini saja. Sebelumnya kamu juga tampan." ujar Fanya.
"Lalu menurutmu apa aku tidak tampan?" seru Sakti.
"Bukan tidak tampan, kamu sudah sangat tampan. Hanya saja, aku sedang ngidam melihat wajah tampan Satya. Tolong Mas Sakti lebih toleransi sedikit saja padaku. Aku kan lagi ngidam, Mas..." ujar Fanya.
"Maaf Tuan, gara-gara saya kalian harus berantem begini." kata Satya merasa tak enak hati.
"Kamu tak salah Satya. Oh iya, kamu mau ngerjain pekerjaan kamu kan? Bagaimana kalo kamu ngerjainnya di sini aja. Aku mau kamu tetep di sini dulu! Kan nggak mungkin kalo aku yang ke ruangan kamu." pinta Fanya memelas.
Satya langsung menatap Sakti. Meminta persetujuan dari tatapan mata. Sakti mengangguk tanda setuju.
"Baik. Saya akan ambil laptop dulu ya." ucap Satya.
"Iya. Eh Marina kesini nggak hari ini?" tanya Fanya.
"Tidak. Hari ini dan selama seminggu ke depan, dia standby di cafe Monix. Akan ada acara perayaan ultah dan arisan kaum sosialita." jawab Satya.
"Oh bagus deh! Jadi aku bisa berlama-lama menatapmu tanpa ada yang cemburu." kata Fanya.
__ADS_1
"Hmmm..." Sakti berdehem.
"Saya ambil laptop dulu ya Nona Fanya." ujar Satya yang buru-buru ke luar ruangan.
"Kamu apasih Mas?" tanya Fanya.
"Aku gapapa." jawab Sakti.
"Kamu kerja aja sih. Aku nggak ganggu kamu kok!"
"Tapi dengan membuatku cemburu begitu, apakah itu tak menggangguku? Coba kamu jelaskan!" seru Sakti.
"Masa iya Mas cemburu pada Satya?" tanya Fanya.
"Gimana nggak cemburu. Kamu dari awal udah muji-muji dia terus." jawab Sakti.
"Cuma muji dia tampan aja. Udah itu aja! Apanya yang salah sih Mas?" tanya Fanya.
"Salahnya kamu muji laki-laki lain selain suamimu sendiri! Di depan mata kepalaku lagi. Sakitnya tuh di sini!" jawab Sakti sembari menepuk dadanya.
Fanya menghampiri Sakti. Lalu mengecup bibir Sakti sekilas. Merasa dipancing, Sakti lekas mencium bibir Fanya dengan penuh semangat. Fanya pun membalasnya karena niatnya adalah menggoda Sakti.
Fanya dan Sakti menyudahi ciuman mereka. Bersamaan, menatap Satya yang bertingkah malu.
"Kenapa malu-malu? Masuk sajalah! Turuti apa yqng istriku minta." kata Sakti yang menahan frustasi.
"Baik Tuan."
Satya masuk ke dalam ruangan. Menutup pintu dan segera duduk di sofa. Mengerjakan laporan yang diminta Sakti dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Ia pura-pura tak melihat apa yang dilakukan Bossnya.
"Yah gagal lagi deh!" bisik Sakti pada Fanya.
"Kan masih bisa di waktu lain. Lagi pula, aku tak seserius itu mengajakmu bercinta sekarang. Belum ada feel yang cocok. Kamunya aja masih mode kerja gitu." kata Fanya.
Sakti menutup laptopnya, menyingkirkan berkas yang berserakan di mejanya. Memberi ruang pada Fanya untuk duduk di mejanya.
"Apa ini?" tanya Fanya panik.
__ADS_1
"Apa ini yang kamu tanyakan? Bukannya udah paham, jika sudah sefrontal ini aku akan berbuat apa padamu?" tanya Sakti.
"Eh tapi kan ada Satya?" bisik Fanya.
Sementara Satya hanya melirik sekilas. Ia masih berusaha fokus menatap laptopnya.
"Kamu takut?" tanya Sakti dengan tatapan tajamnya.
"Ti... tidak. Maksudku jangan sekarang. Kita bisa melakukannya lain waktu. Bukan sekarang. Bayangkan posisi kita sekarang! Kita tak sedang berdua sekarang. Ada Satya juga. Masa iya?"
"Satya!" panggil Sakti.
"Ya Tuan. Ada yang bisa dibantu?" tanya Satya.
"Keluarlah untuk sementara waktu. Aku ingin memberi pelajaran pada istriku ini. Nanti aku akan memanggilmu jika urusanku telah usai." jawab Sakti serius.
Satya hanya mengikuti apa yang diperintah Sakti. Ia keluar begitu saja meski tau Fanya berusaha mencegahnya.
"Yah dia benar-benar keluar. Kamu sih Mas...." keluh Fanya.
"Ya kan aku yang nyuruh. Pasti dia segera mengikuti perintahku lah!" ujar Sakti.
"Tapi bagaimana ya, aku masih pingin liatin dia?"
"Kan ada aku. Bagaimana sih?"
"Kalo Mas Sakti aku usah hafal semuanya. Tanpa aku liat pun, aku udah ingat bentukannya. Aku kan lagi ngidam, Mas. Liatin wajah tampannya Satya boleh ya? Ngidam kan nggak lama." kata Fanya.
"Satya kan pria dewasa dan juga pacar orang. Sementara aku kan suamimu. Lagi pula aku tak kalah tampan dari Satya. Mau berdebat apa lagi?" tanya Sakti.
"Kalo tampanmu, aku nggak bisa debat deh, Mas. Dari lahir Mas Sakti udah terlahir tampan. Nggak bisa aku debatin. Fix, nanti bisa-bisa aku dimarahi Mama Syakira. Nggak deh!" jawab Fanya.
"Nah itu tau! Ayo kita ke ruangan rahasia!" ajak Sakti.
"Ngapain Mas?" tanya Fanya kepo.
"Kok ngapain? Ya melanjutkan misi menguji ketampanan yang sesungguhnya dong. Masih mau tanya?"
__ADS_1
Fanya beringsut kesal, memanyunkan bibirnya. Sudah paham kemana arah pembicaraan Sakti. Tak jauh dari urusan 21+.