Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Hanya Alasan


__ADS_3

Fanya masih menikmati makanannya. Kali ini ia memakan burger isi fillet ayam kesukaannya. Sakti senang melihat istrinya lahap menikmati makanannya.


"Senangnya melihat istriku lahap makannya." ujar Sakti.


"Sudah aku bilang, aku hanya sayang pada makanan ini. Sebenarnya perutku sudah kenyang." kata Fanya.


"Oh gitu ya." Sakti merasa gagal paham dengan jawaban istrinya.


"Dia nggak liat kita lagi kan?" tanya Fanya.


"Jayden maksudmu?" diangguki Fanya.


"Dia sedang menikmati makanannya bersama Sonia. Entahlah, sepertinya dia hanya fokus pada urusan makan mereka berdua. Tanpa menatap kearah kita." jawab Sakti.


"Oh bagus itu. Mas, abis ini kita pulang aja yah. Kencan di rumah aja. Abis makan sebanyak ini kok perut rasanya begah banget. Buat gerak aja, susahnya minta ampun. Tapi kalo Mas masih mau kita jalan-jalan, ya aku nurut aja." ujar Fanya.


"Iya, kita pulang aja. Lagipula buat apa kencan sembari menembus angin malam yang tak bagus buat kesehatan? Lebih baik kita berduaan di rumah kita dengan suasana yang tenang dan romantis."


"Syukurlah kalo Mas sependapat. Kalo lagi nggak ada masalah sama badan aku, ya sebenarnya aku masih milih jalan-jalan di luar untuk mengusir penat." ucap Fanya.


"Penat karena aku?" tanya Sakti.


"Bukan, hanya karena masalah pekerjaan aja. Aku orangnya gampang kepikiran meski masalah kecil sekalipun." jawab Fanya.


Sakti menggenggam tangan istrinya. Mengelusnya dan mencoba menguatkan.


"Apapun masalahnya, jika rasanya berat bagimu, tolong sharing ke aku. Statusku bukan hanya sebagai suamimu saja. Anggap aku sebagai teman curhatmu. Entah dapat solusi atau tidak dariku, mudah-mudahan dengan kamu bercerita padaku, maka beban hidupmu akan berkurang. Percayalah, aku adalah pendengar yang baik untukmu." ujar Sakti.


"Baik, terima kasih Mas. Tanpa kau sebutkan, aku pasti selalu bercerita padamu." kata Fanya.


Sakti pun menikmati es krimnya yang setengah meleleh. Itupun setelah Fanya tak habis memakannya.


"Kenapa Mas nggak pesan lagi aja? Daripada ngabisin sisaku yang acak-acakan itu."

__ADS_1


"Gapapa. Sisamu sangat enak. Ini langka dan spesial." ujar Sakti sambil melengkungkan bibirnya.


"Senyummu aduhai sekali, Mas. Aku mau kalo punya anak nanti, mirip-mirip denganmu. Pasti cantik dan ganteng. Tapi itu kapan yah? Aku bahkan belum ada tanda-tanda kehamilan sama sekali. Beberapa bulan kita menikah, rasanya hampa tanpa kehadiran buah hati."


"Jangan begitu. Kalo emang belum saatnya, ya mau bagaimana lagi. Kita hanya perlu sabar dan terus berusaha mewujudkannya. Diiringi doa yang tulus juga. Aku tak menjadikan patokan bahwa menikah harus punya anak. Bagiku, cukup kamu setia untukku dan tetap disampingku, aku rasa sudah cukup. Anak adalah pelengkap saja." ujar Sakti.


Fanya cukup terharu dengan penjelasan Sakti. Dirinya semakin yakin bahwa Sakti adalah jodoh yang selama ini ia idam-idamkan.


"Kamu masih belum ada tanda-tanda kehamilan? Setelah sekian lama menikah? Aku aja yang belum lama berhubungan dengan Jayden, sudah ada tanda-tanda kehamilan tuh! Ehm, coba deh periksa ke dokter! Jangan-jangan ada indikasi mandul atau semacamnya." ujar Sonia yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat Fanya.


"Hei, jaga ucapanmu!" teriak Sakti.


Untuk sesaat, Sakti menjadi pusat perhatian. Sakti menghela nafas. Mencoba meredakan api kemarahan yang menumpuk setelah tersulut emosi oleh perkataan Sonia.


"Sudah Mas, tak ada gunanya menanggapi perkataan wanita ini. Aku sudah pernah cek ke dokter. Aku baik-baik saja." kata Fanya bersikap tenang.


"Tapi Sayang, aku tak terima jika wanita ini dengan lancangnya berbicara seperti itu. Apa gunanya ia disekolahkan tinggi-tinggi sampai ke luar negeri, kalo attitude saja dia tak mengerti." seru Sakti kesal.


Fanya menyuruh Sakti kembali duduk di bangkunya.


"Kamu liat kan Sayang, gara-gara aku belum jadi wanita yang sempurna, kamu kena getahnya juga. Aku harus bagaimana agar kamu tak malu oleh keadaanku ini?" Fanya mengeluh.


"Huh! Aku tak peduli dengan omongan jahat tentangku. Aku hanya ingin kamu tenang. Jangan hiraukan hal-hal yang membuatmu sakit hati. Selama aku masih bersamamu, maka aku akan menjagamu dan selalu mencintaimu." kata Sakti.


"Bahkan Jayden hanya diam saja melihat pacarnya semena-mena pada kita." kata Fanya.


"Sudah makannya? Bisa kita pulang sekarang? Darahku seakan semakin mendidih jika tetap berada di sini." ucap Sakti, hatinya masih kesal.


"Baik Mas." Fanya segera berdiri dan berjalan keluar mengikuti Sakti.


Sekilas, Fanya menatap Jayden dan Sonia. Jayden membalas tatapan Fanya dengan senyuman. Tapi senyuman memudar menjadi tatapan sinis setelah dipelototi oleh Sonia.


"Kenapa masih memberi senyuman untuk wanita yang mencampakkanmu?" tegur Sonia.

__ADS_1


"Tidak. Aku tak senyum. Kamu hanya salah liat." kata Jayden santai.


"Bohong!" seru Sonia tak percaya.


"Benar. Buat apa tersenyum padanya, hatiku sudah getir dibuatnya." ujar Jayden.


Sonia kembali memasukkan salad ke mulutnya. Meneruskan makannya yang sempat tertunda hanya karena ingin membuat Fanya sakit hati.


"Apa yang kamu bicarakan tadi? Hingga Sakti terlihat begitu marah padamu. Aku tak begitu mendengar apa yang kalian katakan tadi." tanya Jayden.


"Hanya bilang suruh Fanya periksa ke dokter. Jangan-jangan dia mandul." jawab Sonia.


"Dia tak mungkin mandul. Apa itu masuk akal? Pantas saja tadi Sakti marah besar padamu. Aku saja yang notabene kekasihmu, kesal setengah mati oleh pernyataanmu itu." ujar Jayden.


"Oh, kamu mulai belain wanita itu? Udah nggak peduli sama aku? Atau sama bayi kita?" seru Sonia.


"Bayi kita?" tanya Jayden tak percaya.


"Iya, aku sudah hamil lima minggu." jawab Sonia.


"Tapi aku baru menyentuhmu sekitar tiga atau empat minggu yang lalu. Bagaimana bisa?" tanya Jayden.


"Karena usia janin bukan berdasarkan pada usia pembuahan, tapi berdasarkan usia sel telur yang dibuahi. Ayo aja kalo kamu mau tes DNA. Silakan aja!" tantang Sonia.


"Oke, aku percaya." kata Jayden menyerah.


Sonia menyelesaikan makannya.


"Jangan harap akan kembali untuk bersama dengan wanita itu! Ingat, ada anakmu di dalam perutku!" ancam Sonia.


"Aku tau. Aku sudah menyerah tentang Fanya. Aku bersamamu bukan semata-mata karena janin yang ada di perutmu. Hanya sebagai pertanggungjawabanku sudah menyentuhmu." kata Jayden.


Jayden tertawa getir. Menertawai sendiri bagaimana hancurnya rencana hidup yang sudah ia rencanakan.

__ADS_1


__ADS_2