Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Buket Bunga Mawar


__ADS_3

Satya kaget melihat Sakti kembali masuk ke mobil.


"Tuan nggak jadi ketemu Nona Fanya?" tanya Satya.


"Dia lagi keluar. Kita tunggu di sini dulu deh." jawab Sakti.


Lalu Sakti mencoba menghubungi Fanya. Namun berkali-kali dicoba, tetap diabaikan oleh Fanya. Sepertinya Fanya enggan mengangkat telepon dari Sakti.


"Kenapa nggak diangkat yah? Apa terjadi sesuatu padanya? Sat, coba deh kamu yang hubungi Fanya. Kali aja kalo kamu yang menghubungi dia, diangkat telponnya." perintah Sakti.


Satya segera mendial nomor Fanya. Hingga nada sambung ketiga, telepon baru tersambung. Fanya mengangkat panggilan dari Satya.


"Halo Non Fanya." sapa Satya.


..."Iya halo, Satya. Ada apa?" balas Fanya....


"Maaf, kalo boleh tau, Non Fanya ada dimana sekarang?" tanya Satya.


"Aku ada di tempat yang nyaman untuk berpikir. Kenapa? Apa Sakti menyuruhmu menghubungiku karena aku tak mengangkat telponnya?"


"Tuan Sakti terlihat kebingungan menunggu Non Fanya. Dia sudah sampai di butik Bu Syakira, tapi tak menemukan Non Fanya. Apa Non Fanya akan segera kembali ke butik apa bagaimana?"


"Eh Satya, tolong sampaikan pada orang bernama Sakti itu. Aku tak mau membagi cintaku untuk orang lain. Jika dia sudah tak sayang dan cinta padaku, tolong segera lepaskan aku. Lebih baik aku pulang ke rumah orang tuaku daripada pulang ke tempat neraka yang disebut penghianatan." ujar Fanya.


"Maaf Nona, saya tidak bermaksud ikut campur mengenai urusan rumah tangga kalian. Tapi bukankah lebih baik jika kalian bertemu dulu untuk membahas masalah kesalahpahaman diantara kalian. Saya sebagai tangan kanan Tuan Sakti, sangat paham bagaimana bucinnya Tuan Sakti pada Nona. Jadi, saya pikir tak ada kata penghianatan. Mungkin hanya sekedar kesalahpahaman."


"Entahlah, aku sedikit ragu tentang perasaannya padaku. Katakan saja padanya, aku butuh waktu untuk menjernihkan pikiran."


"Baik Nona. Saya akan mengatakannya pada Tuan Sakti. Bagaimanapun juga, saya harap Nona segera menjawab panggilan dari Tuan Sakti." ujar Satya.

__ADS_1


Sementara Sakti hanya diam mendengarkan percakapan telepon antara Satya dan Fanya.


"Dia marah besar padaku..." gumam Sakti begitu Satya memutuskan panggilan telponnya.


"Tuan, Nona Fanya sepertinya sedang cemburu pada Tuan. Memangnya apa yang sudah terjadi? Eh maaf, bukannya saya lancang mau ikut campur. Tapi sepertinya ada kesalahpahaman yang membuat Nona Fanya sedikit menghindari Tuan." ucap Satya.


"Sepertinya tadi dia melihatku saat aku membantu membereskan barang-barang wanita yang tadi ku tabrak. Masalahnya kan aku membawa buket bunga. Mungkin Fanya berpikir aku kasih bunga ke wanita tadi. Padahal kan aku cuma nitip aja sembari memungut barang-barang yang jatuh. Menurutmu aku harus bagaimana?"


"Sebaiknya Tuan Sakti meminta maaf pada Nona Fanya. Jika saat ini Nona tak mau mengangkat panggilan Tuan, mungkin dengan mengirimkan pesan lebih baik. Tadi Nona Fanya meminta waktu untuk menjernihkan pikiran." kata Satya.


"Oke. Aku ikuti saranmu." kata Sakti.


Sakti mengirim pesan yang berisi penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Meski tak berbalas, tapi bisa dipastikan Fanya telah membacanya. Hal ini terlihat dengan tanda berupa centang biru.


...****************...


Fanya duduk seorang diri di sebuah cafe yang lokasinya tidak jauh dari butik milik Bu Syakira. Sesekali menyedot jus stroberi yang tersaji di depannya. Ia berulang-ulang memandangi foto dirinya dan Sakti di galeri ponselnya. Semuanya terlihat bahagia.


Fanya pun tak tahan untuk tidak menangis. Air matanya lolos begitu saja. Hatinya terasa sakit saat ingat kejadian saat Sakti memberikan buket bunga mawar pada wanita lain. Beberapa pengunjung lain yang melihat Fanya, merasa prihatin dan kasian.


"Mas Sakti, kamu jahat padaku. Aku sudah jatuh cinta padamu. Tapi apa yang kamu lakukan? Dengan segampang itu kamu jatuhkan aku. Sakit tau Mas..." keluh Fanya.


Tiba-tiba sosok yang dirindukan sekaligus dibenci Fanya datang. Dialah Sakti.


"Ternyata kamu di sini. Aku mencarimu kemana-mana." ujar Sakti.


"Darimana kamu tau aku di sini, Mas? Aku berusaha menghindarimu, tapi kenapa kamu malah mendatangiku tanpa rasa bersalah?" tanya Fanya dengan wajah sendu.


"Kamu menangis?" tanya Sakti.

__ADS_1


"Uhm, seperti yang Mas lihat. Aku sedang tidak baik-baik saja. Bahkan saat melihat Mas sekarang ini, hatiku sangat sakit dan tertekan." jawab Fanya.


Sakti menggenggam kedua telapak tangan Fanya, lalu menciumnya. Hati Fanya semakin terasa perih dibuatnya.


"Maafkan aku, banyak hal yang kurang dariku. Oh iya, aku ke sini mau memberimu ini!" kata Sakti seraya menyodorkan buket bunga mawar kombinasi.


Fanya tercengang melihat buket bunga yang dibawa Sakti.


"Ini kan buket bunga yang kamu kasih ke wanita cantik tadi. Kenapa dikasih ke aku?" tanya Fanya.


"Sebenarnya ini memang buatmu. Tadi aku hanya nitip sebentar. Aku hanya membantunya memungut barang-barangnya yang jatuh. Apa kamu pikir aku memberikan buket bunga ini untuk wanita yang sama sekali tak ku kenal? Mungkin menurutmu wanita tadi adalah wanita cantik. Tapi, wanita cantik di mataku hanyalah Mamaku dan istriku. Istriku yang bernama Fanya Asmara." jawab Sakti.


"Jangan basa-basi. Aku terlanjur benci padamu, Mas. Aku kecewa, kesal, dan patah hati. Hatiku sakit sekali. Semudah itu kamu bilang hanya salah paham. Aku terlanjur sedih tau..." ujar Fanya kesal, tapi hatinya sedikit lega mendengar penjelasan Sakti.


"Maaf Sayangku, aku sudah menyakitimu. Tapi aku tak ada maksud sama sekali untuk menghianatimu. Cintaku masih untukmu." ucap Sakti.


Fanya menarik tangannya. Kembali menyedot jus stroberi di hadapannya.


"Sayang, tolong maafkan aku. Aku akan melakukan segalanya untukmu, asal kita bisa kembali seperti dulu. Aku tak bisa dijauhi olehmu." kata Sakti merajuk.


"Yasudah, aku maafkan. Tapi aku masih kesal denganmu, Mas. Bayangkan saja, aku melihatmu memberikan bunga pada wanita lain. Sudah pasti hancur hatiku." ujar Fanya.


"Baiklah. Aku akan berhati-hati untuk selanjutnya. Kamu sudah makan tadi?" tanya Sakti dengan senyumnya.


"Mas jangan tersenyum seperti itu. Aku meleleh dengan senyuman itu. Aku sudah makan tadi." jawab Fanya.


"Jangan sedih lagi ya! Aku harap tidak ada kesalahpahaman lagi di antara kita. Ingatlah, hatiku hanya satu dan hanya milikmu. Jangan ragukan kesetiaanku!" tutur Sakti meyakinkan Fanya.


Fanya hanya mengangguk dan memandangi buket bunga cantik di depannya.

__ADS_1


"Buket bunga mawar ini sangat cantik. Terima kasih." ujar Fanya.


"Sama-sama." balas Sakti.


__ADS_2