
Fanya mengikuti Sakti ke kantornya. Dalam gendongan Sakti, Fanya menyembunyikan wajahnya di antara ceruk leher Sakti. Ia menahan malu saat melewati beberapa karyawan.
"Mas, aku malu." bisik Fanya.
"Lupakan. Aku lebih mempedulikan kesehatanmu daripada omongan mereka. Tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai di lift prioritas." ujar Sakti menenangkan Fanya.
Karyawan yang lalu lalang hanya berani melihat bossnya yang menggendong istrinya, tanpa berani berkomentar apa-apa. Mungkin dalam hati mereka ada yang iri, kesal, ataupun malah bodo amat.
Sakti menekan tombol naik di lift prioritas. Setelah memasuki lift, ia menekan angka yang menunjukkan lantai dimana ruangannya berada.
"Sebentar lagi kita sampai di ruangan kerjaku." kata Sakti yang hanya diangguki Fanya.
Tak menunggu lama, mereka telah sampai di ruangan kerja Sakti. Ruangan kerja yang sebenarnya didesain minimalis, tapi mengandung multifungsi. Bagaimana tidak, selain ruang kerja formal, terdapat sebuah ruangan yang bisa digunakan untuk istirahat selayaknya kamar tidur yang dilengkapi kamar mandi juga.
"Inikah ruangan rahasiamu, Mas? Wow, aku baru tau loh selama menjadi istrimu. Uhm, siapa aja wanita yang pernah masuk ke sini?" tanya Fanya penasaran tapi menyimpan sedikit kekesalan.
"Ada 2. Yaitu..." belum sempat diteruskan oleh Sakti.
"Ah, aku mengerti. Aku selalu jadi yang kedua. Yang pertama pasti wanita istimewa." kata Fanya kesal dan langsung beranjak turun dari gendongan Sakti.
"Dia memang wanita istimewa. Kamu juga tau itu." kata Sakti serius.
"Kan, Mas Sakti jahat banget!" keluh Fanya kesal.
"Jahat kenapa?" tanya Sakti bingung.
"Iya, Mas Sakti jahat! Aku akan adukan Mas ke Mama. Berani nyakitin aku." jawab Fanya sambil menahan rasa sakit kakinya.
"Aku nggak jahat." ucap Sakti datar.
"Wanita mana yang pernah kamu bawa ke sini, Mas? Istri mana yang tak kesal jika suaminya..."
"Wanita pertama sudah pasti Mamaku. Mana mungkin Mama tak tau ruangan rahasia ini? Kan aku anaknya. Anak satu-satunya. Pasti Mama serba tau apa yang ku lakukan kan?"
"Oh jadi Mama? Aku pikir wanita lain. Ya maaf..." kata Fanya yang salah duga.
__ADS_1
"Mana ada wanita lain. Aku adalah pria workaholic. Mana sempat berpikiran bermain dengan para wanita. Kerja dan kerja saja selama ini. Yah, sampai aku melihatmu di cafe Monix. Sejarah itulah yang mengubah hidupku menjadi seperti ini."
Sakti merapikan anak rambut Fanya yang sedikit berantakan. Menyelipkan di belakang telinga agar lebih rapi.
"Bagiku, kamu adalah gadis malam yang ku temui di tengah malam. Meski gelap suasana malam, tapi sinar wajahmu seakan bercahaya dalam gelapnya malam. Aku percaya suratan takdir. Dimana takdir takkan mungkin tertukar karena sudah dituliskan sejak awal. Dan takdirku, mungkin adalah bersamamu."
Fanya meleleh oleh kata-kata Sakti yang berbau rayuan pujangga cinta.
"Oh suamiku, darimana Mas belajar kata-kata itu? Sebelum ini, aku menganggap Mas pria tak romantis, cuek, dan apa adanya. Tapi setelah aku semakin mengenal Mas, aku semakin paham jika Mas itu sebenarnya sangat romantis. Hanya perlu momentum yang pas untuk membuka jati diri Mas yang sebenarnya." kata Fanya yang bergelayut manja di dada suaminya.
"Tidak sebagus itu. Hanya pas aja momennya. Mana ada aku romantis? Aku hanya apa adanya. Oh iya, ayo berbaring di ranjang! Kakimu pasti masih sakit banget." ujar Sakti.
"Apakah kita akan bermain di sini?" tanya Fanya to the point.
"Bisa jadi. Tapi tidak sekarang ya. Aku harus kerja. Banyak PR yang harus aku selesaikan. Lagi pula, kamu perlu istirahat."
Sakti membantu Fanya menaiki ranjangnya. Setelah tidur dalam posisi yang pas, Sakti mengambil minyak urut di laci obat. Selanjutnya mengoleskan ke area kaki Fanya yang keseleo.
"Mas nggak jijik melakukan ini? Nanti tangan Mas kotor. Biar aku aja Mas."
"Pake diurut-urut segala. Tapi enak sih, Mas. Aku jadi pingin kalo begini caranya." ucap Fanya.
"Oh ya? Tunggu ya, setelah ini aku penuhi keinginanmu. Kerjaan nomer dua, yang penting kamu diutamakan." bisik Sakti.
Sakti buru-buru menyelesaikan ritual pemijatannya. Ia bergegas mencuci tangannya hingga bersih. Tak lupa ia mengunci pintu ruangan rahasianya.
"Apakah sudah siap?" tanya Sakti sembari melonggarkan dasinya.
Fanya hanya mengangguk, dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. Sakti langsung mengecup bibir istrinya. Mereka berciuman dengan penuh cinta. Sakti melepas blouse yang dikenakan Fanya. Hanya satu tarikan, blouse terlepas. Tersisa daleman dengan warna senada.
"Wow! Luar biasa!" seru Sakti mendapati tubuh istrinya yang menurutnya indah.
"Apa sih. Aku jadi malu." Fanya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Padahal sudah sering berpolos ria di depanku. Tapi kenapa masih saja malu?"
__ADS_1
"Nggak tau. Aku malu." ujar Fanya yang masih menyembunyikan wajahnya.
Sakti segera melucuti sisa pakaian Fanya yang masih tersisa. Saat sudah benar-benar polos, ia memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang memanjakan.
"Sudah siapkah? Relaks ya. Abis ini enak." kata Sakti.
Fanya menutup mata. Menunggu kesakitan yang akan didapatkannya. Sakti hanya tersenyum mendapati istrinya masih takut oleh junior kecilnya. Sakti mengelus pipi Fanya. Berusaha menenangkan agar Fanya kembali relaks. Sakti memegang kendali permainan. Ia ingin istrinya senang. Lalu terjadilah permainan yang dinantikan.
"Bagaimana?" tanya Sakti pelan setelah semua usai.
"Aku selalu dibuat tak berdaya olehmu." jawab Fanya lemah tak berdaya.
Sakti menciumi wajah Fanya yang penuh peluh.
"Kita berkeringat, Mas. Di sini apakah ada baju cadangan?" tanya Fanya.
"Banyak. Di dalam lemari sudah lengkap pakaianku dan pakaianmu juga. Aman ya." ucap Sakti serius.
"Sedetail itu kamu menyiapkan semuanya, Mas. Bahkan aku tak tau apa-apa. Tapi kamu mempersiapkan segalanya. Terima kasih atas semua usaha yang telah kamu lakukan." ujar Fanya.
"Iya. Apapun akan ku lakukan untuk menyenangkanmu. Kamu senang, aku pun akan senang. Kamu paham?"
"Paham. Ayo kita mandi!" ajak Fanya.
"Sebentar lagi. Aku masih ingin bermanja seperti ini." ujar Sakti yang masih memeluk tubuh Fanya.
"Baiklah. Lima menit lagi ya." kata Fanya.
Mereka berpelukan erat. Saling menyayangi satu sama lain. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan derap langkah seseorang.
"Bukannya Tuan Sakti tadi sudah masuk ya? Kok sepi-sepi aja. Kemana perginya ya? Info sekretarisnya, tadi ada Nona Fanya juga. Kemana mereka? Ah entahlah, aku taruh aja dokumennya di sini. Nanti ke sini lagi." kata Satya yang kebingungan mencari Sakti.
"Itu ada Satya di luar Mas." bisik Fanya.
"Biarkan saja. Dia nggak tau ada ruangan rahasia ini." bisik Sakti.
__ADS_1
Satya segera ke luar ruangan setelah menaruh berkas-berkas penting di atas meja kerja Sakti.