Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Lamaran


__ADS_3

Pertemuan yang membahagiakan bagi Fanya. Sudah beberapa tahun ini dia tak berjumpa dengan keluarganya. Padahal sebenarnya bukan masalah jarak dan waktu. Ketidakinginan untuk mengenang pahitnya cerita lama, membuat Fanya enggan untuk kembali pulang.


"Mereka sudah tidur?" tanya Sakti.


"Iya Mas. Makasih yah, sudah mau menampung keluargaku. Maaf yah sudah banyak ngerepotin Mas. Trus Mas Sakti bagaimana bisa tau alamat rumahku di kampung? Padahal aku nggak pernah cerita sama Mas."


"Aku mencari tau dari beberapa orang terdekatmu. Salah satunya Clara. Dia banyak membantuku. Selain itu, aku pernah meminta informasi dari tempat kerjamu. Lewat Mamaku, aku tau dimana kamu berasal. Yang penting sekarang kita semua bisa berkumpul. Untuk sementara, biarlah mereka tinggal di sini. Kamu tinggal juga di sini." kata Sakti.


"Oh jadi begitu ceritanya. Makasih ya Mas. Bantuan Mas sangat membantu keluargaku. Aku berharap segala kebaikan yang Mas berikan, menjadi berkah untuk Mas juga." ujar Fanya.


Sakti memeluk Fanya.


"Ini sudah malam. Istirahatlah. Besok kan kamu harus kerja lagi. Setidaknya, keluargamu aman di sini. Aku pulang dulu yah!".


"Mas mau pulang? Kenapa nggak nginap di sini aja. Kan ada kamar Mas Sakti juga di sini?" tanya Fanya.


"Di sini cuma ada 3 kamar. 1 kamar utama, kamarku dan 2 kamar tamu. Jika 2 kamar tamu sudah ditempati kakakmu dan ortumu, kan hanya tersisa kamar utama. Nah, kamu tidurlah di kamarku. Aku bisa pulang ke rumah. Masa iya aku harus nginap di sini? Trus kita sekamar gitu? Nggak mau kan? Di bawah, Satya sedang menungguku. Jadi, anggap saja ini rumahmu juga. Langsung istirahat yah! Nanti kalo ada waktu, aku akan ajak Mamaku bertemu dengan ortumu." jawab Sakti.


"Baiklah Mas." kata Fanya pasrah dan mengelus pipi Sakti.


Mereka akhirnya berpisah. Fanya pun segera masuk ke kamar Sakti.


"Mas Sakti, kamu sungguh baik. Banyak bantuan dan kebaikan yang sudah kamu lakukan untukku. Lihatlah, kamu bahkan memberikan tumpangan untuk menginap keluargaku di sini. Kamu belum tau kan bagaimana cerita asliku. Awal mula aku tidak pernah pulang ke rumah lagi? Kamu belum tau ceritaku. Suatu hari nanti, aku pasti cerita padamu. Rahasia apa yang sudah lama ku pendam, akan aku curahkan kepadamu." kata Fanya sembari menatap foto Sakti yang berada di atas nakas.


***


Pertemuan keluarga Sakti dan keluarga Fanya dilakukan di apartemen Sakti.


"Perkenalkan, saya Syakira, mamanya Sakti." kata Bu Syakira memulai pembicaraan.


"Saya Anya, ibunya Fanya. Dan ini suami saya, Fahmi. Salam kenal ya Bu. Maaf kalo kedatangan kami sudah merepotkan keluarga Bu Syakira." balas Bu Anya.


"Tidak apa-apa Bu. Sebenarnya sayalah yang seharusnya mendatangi kediaman Ibu dan sekeluarga. Berhubung putra dan putri kita sepertinya kesulitan menemukan waktu yang pas untuk berkunjung ke sana, yah akhirnya ibu dan keluarga yang didatangkan ke sini." kata Bu Syakira.


"Sebelumnya maaf beribu maaf ya Bu. Saya mau tanya, untuk kelanjutan hubungan Nak Sakti dan putri saya bagaimana? Kami butuh kejelasan." tanya Pak Fahmi.

__ADS_1


"Sebagai seorang ibu, tentu saja saya ingin putra saya, Sakti, bisa menemukan pendamping hidup sesuai keinginannya. Saling mencintai satu sama lain. Bukan atas perjodohan tanpa cinta. Sejauh ini, saya taunya antara Sakti dan Fanya, mereka saling mencintai dan menyayangi. Kalo saya pribadi, saya mendukung keputusan Sakti untuk dekat dengan Fanya. Kebetulan dalam pertemuan ini, saya berniat untuk melamar Fanya untuk Sakti. Saya harap niat baik saya dan Sakti disambut keluarga Pak Fahmi." ujar Bu Syakira mantap.


Deg. Fanya merasakan angin segar. Pak Fahmi lantas menganggukkan kepalanya. Lalu menoleh ke arah Fanya yang duduk di sebelahnya.


"Bagaimana, apakah kamu bersedia menerima lamaran Nak Sakti?" tanya Pak Fahmi pada Fanya.


"Fanya mau Pak." jawab Fanya.


"Alhamdulillah." seru yang lainnya.


"Nah, kami sudah setuju menerima lamaran dari Nak Sakti. Selanjutnya, bagaimana untuk tanggal pernikahan?" tanya Pak Fahmi.


"Kalo boleh, dalam waktu dekat. Saya ingin segera menghalalkan Fanya. Untuk lebih tepatnya, bolehkah antara saya dan Fanya yang menentukan tanggalnya terlebih dahulu? Kami mohon izin berbicara berdua dulu." jawab Sakti tegas.


Pak Fahmi menoleh ke arah Fanya. Fanya memohon dengan gestur wajahnya.


"Baiklah!" ujar Pak Fahmi.


Fanya pun izin meninggalkan tempat. Diikuti Sakti yang mengekor di belakangnya. Mereka memisahkan diri dari keluarga masing-masing. Sampailah mereka di balkon yang menghadap ke luar ruangan.


"Bolehkah hari ini saja kita menikah?" kata Sakti balik tanya.


"Mas, jangan bercanda. Aku mau serius sama kamu." tukas Fanya kesal.


"Aku juga serius. Tapi nggak bisa yah kalo hari ini? Uhm, bagaimana kalo 2 minggu lagi? Apakah kamu sudah siap?" tanya Sakti.


"Hah, secepat itu? Bukannya ribet yah kalo ngurus pernikahan? Mana sempat secepat itu?".


"Sempat. Kita nggak perlu bikin pesta yang mewah. Pesta sederhana dengan kehadiran keluarga besar kita dan teman-teman terdekat pun, sudah cukup meriah dan sakral. Atau kamu mau kita adain acara yang mewah? Seperti pernikahan artis yang lagi viral?".


"Bukan begitu. Justru aku malah maunya akad aja udah. Maksudku ribet dalam hal ngurus berkas-berkas pernikahan. Harus ke RT/RW, kelurahan, kecamatan, KUA, trus belum lagi pasti tes kesehatan untuk dapet Sertifikat Layak Nikah. Pokoknya ribet banget. Soalnya aku dapet cerita dari beberapa temen begitu." ujar Fanya bingung.


"Sudahlah. Nanti dibantu Satya. Dia punya jalur khusus untuk urusan perijinan. Kita pasti menikah. Kamu siap kan?" tanya Sakti yang langsung diangguki oleh Fanya.


Sakti dan Fanya kembali bergabung dalam pertemuan keluarga.

__ADS_1


"Bagaimana keputusan kalian?" tanya Bu Syakira.


"Kami sepakat akan menikah 2 minggu lagi. Kami hanya mengadakan acara pernikahan sederhana yang dihadiri keluarga besar dan teman terdekat." jawab Sakti.


Bu Syakira tampak kecewa dengan keputusan Sakti. Bukan tak setuju kapan penetapan pernikahan. Tapi kecewa dengan hanya diadakan acara pernikahan sederhana. Padahal ia ingin acara yang meriah. Berhubung Sakti adalah putra semata wayangnya.


"Sakti, apa tidak salah? Mama ingin kalian menikah sebagaimana mestinya. Apa tidak terlalu...".


"Sudahlah Ma. Ini keputusan kami berdua. Fanya pun sudah setuju. Apakah Bapak dan Ibu setuju dengan keputusan kami?".


"Jika keputusan kalian demikian, kami sebagai orang tua Fanya, pasti akan mendukung." ucap Pak Fahmi serius.


"Pak Fahmi dan keluarga ikhlas jika pernikahan hanya dirayakan sederhana?" tanya Bu Syakira.


"Kami tak mempermasalahkan hal itu, Bu. Bahkan jika hanya akad pun, kami tak keberatan. Sejatinya menikah adalah mempersatukan dua insan dalam perjanjian menurut agama. Jika secara agama sah, ditambah didaftarkan menurut hukum yang ada, yasudah sah. Kalo untuk pesta, kan nggak wajib. Kami memang orang miskin, tapi kami tak menuntut macam-macam pada Nak Sakti. Sudah berjanji mau menjaga putri tercinta kami, Fanya, kami sudah cukup bahagia." jawab Pak Fahmi.


Acara tukar pendapat telah usai. Selanjutnya mereka menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh Bik Ani.


"Wah, akhirnya kamu akan segera halal yah." goda Fandi pada Fanya saat mereka duduk bersebelahan di meja makan.


"Iya, mau nyusul Mas Fandi. Mau bikin bayi yang lucu kayak Rian. Masa iya Mas Fandi aja yang punya mainan tanpa baterai. Fanya juga mau kali." tukas Fanya pelan.


"Iya, nanti kita bikin yah kalo udah halal." bisik Sakti pada Fanya.


"Kok kamu denger?" tanya Fanya heran.


"Tante juga denger loh. Langsung dijadiin yah nanti. Kamu udah janji di depan kami semua!" seru Bu Syakira.


"Duh, maksud Fanya adalah..." Fanya bingung harus berkata apa.


'Nah loh, bingung kan harus jawab apa. Harusnya aku bicara lebih hati-hati. Kalo udah gini kan berasa kena mental sendiri.' gumam Fanya.


"Ayo-ayo silakan dimakan hidangan ala kadarnya ini. Semoga cocok di lidah." ujar Bu Syakira.


Akhirnya mereka semua menikmati makan malam dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2