Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Jayden Berulah


__ADS_3

Fanya masih berkutat dengan pekerjaannya yang belum terselesaikan. Sudah lewat jam pulang, tapi masih setia berada di kursi kerjanya. Satu persatu karyawan sudah pulang. Hanya tersisa dirinya dan Henny.


"Fan, aku duluan yah. Aku udah ditungguin anakku di rumah. Kamu gapapa sendirian?" tanya Henny yang akhirnya akan pergi.


"Iya gapapa Kak Henny. Bentar lagi juga aku pulang kok. Ini nanggung kalo dikerjain besok. Kak Henny hati-hati yah. Salam untuk jagoan di rumah." jawab Fanya.


"Tapi nanti kamu pulangnya dijemput suamimu kan?" tanya Henny.


"Sepertinya iya, Kak. Tadi bilangnya mau jemput kalo urusan kerjaannya kelar. Tapi belum ada kabar. Kak Henny duluan aja."


"Okelah. Aku duluan ya kalo begitu. Oh iya, kalo butuh camilan, ambil aja di laci kerjaku. Aku naruh banyak camilan di sana. Sudah ya, aku pulang ya!" seru Henny sambil berlalu dari hadapan Fanya.


"Iya Kak. Hati-hati!" seru Fanya.


Fanya menghela nafas. Dirinya baru sadar jika hanya sendirian di ruangan itu. Di lobby sebenarnya masih ada petugas keamanan, tapi tetap saja dirinya sendirian sekarang.


"Semangat Fanya! Cepat selesaikan pekerjaanmu dan pulang! Mau dijemput atau tidak, itu urusan nanti. Kamu harus bisa melawan rasa takutmu." kata Fanya.


Fanya kembali menyelesaikan pekerjaannya. Sekitar pukul 8 malam, barulah ia menyelesaikan semuanya. Belum ada kabar dari suami tercinta, apakah dijemput atau tidak. Ia lantas memutuskan menunggu di lobby butik.


"Bu Fanya belum pulang?" tanya salah seorang petugas keamanan yang kebetulan sedang bertugas.


"Iya, Pak." jawab Fanya.


Fanya mengirim pesan kepada suaminya. Tapi sampai menunggu hampir setengah jam, belum ada respon sama sekali.


'Sabar. Sepertinya Mas Sakti sedang ada rapat penting yang tak bisa diganggu. Kan biasanya ponselnya dalam mode silent. Apakah aku pulang sendiri? Tapi kalo dia kesini gimana? Akh serba salah deh. Mana pesanku belum dibalas sama sekali.' perang batin Fanya.

__ADS_1


Fanya semakin gusar. Ia ingin segera pulang, membersihkan diri, dan istirahat. Sayangnya, ia dilema memutuskan apa yang akan dilakukan.


"Aku pulang aja deh! Mas Sakti aku kirimin pesan, nggak direspon sama sekali. Saking sibuknya apa gimana. Aku udah lelah menunggunya" gerutu Fanya.


Fanya pun keluar butik. Ia terpaksa memesan ojek online. Sayangnya gagal. Berkali-kali mencoba, tak ada driver yang ambil orderan Fanya. Fanya makin kesal dan lelah.


"Fanya..." panggil seseorang.


Fanya menoleh, nampak Jayden dengan senyuman manisnya.


"Belum pulang?" tanya Jayden.


"Iya." jawab Fanya lesu.


"Sekalian aja aku anterin pulang yah!" tawar Jayden semangat.


Jayden tak mau menyerah. Ia tetap membujuk Fanya untuk ikut dengannya.


"Tidak perlu. Lagi pula, aku sudah tak ingin terlalu dekat denganmu. Sudahlah, aku bisa pulang sendiri. Biasanya memang Mas Sakti yang menjemputku. Mungkin hari ini dia berhalangan. Tapi bukan berarti aku harus mengiyakan tawaranmu kan? Aku berhak menolaknya kan? Oh iya, mungkin kamu perlu menelepon Sonia. Barangkali dia butuh bantuan darimu. Ya siapa tau." ujar Fanya.


Baru beberapa langkah Fanya melangkahkan kakinya, Jayden menahannya.


"Seburuk apa pemikiranmu terhadapku? Sampai tidak layakkah aku untuk bersanding denganmu? Aku pikir karena dulu aku belum sukses dan hanya menumpang nama dari orang tuaku, itulah penyebab kamu meninggalkanku. Ternyata bukan! Penyebabnya ada di aku. Ada apa denganku? Apa kelebihanku tak mampu menutupi kekuranganku?" seru Jayden sembari menatap tajam Fanya.


Fanya dibuat kesal, marah, dan juga takut. Kesal karena waktunya terbuang untuk meladeni omongan Jayden yang tak penting baginya. Marah karena Jayden masih berlagak sombong dan menganggap kekayaan adalah segalanya. Serta takut karena tatapan mata Jayden seperti pembunuh yang siap menerkam mangsanya.


"Tak ada yang tau. Aku pun selalu bertanya-tanya kenapa selalu terpesona pada Mas Sakti. Aku tak tau apa jawabnya. Termasuk pertanyaanmu tadi. Aku tak tau kenapa aku tak bisa tertarik denganmu. Mungkin memang kita bukan ditakdirkan untuk berjodoh. Aku mencintai suamiku bukan berdasar dia kaya atau bagaimana. Bukan seperti itu! Aku hanya menurut apa kata hati. Jika hatiku sudaj bisa menerimanya, bukankah tubuh, jiwa, dan ragaku akan menerimanya juga? Tolong kamu sadar diri. Setiap manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan. Pahami itu!" kata Fanya tegas.

__ADS_1


Jayden menarik tangan Fanya. Mereka bertatapan. Sesaat kemudian, Fanya membuang muka.


"Tolong lepaskan tanganku!" pinta Fanya lirih.


Jayden melepas tangan Fanya.


"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku begini. Biasanya harga diriku tinggi untuk menakhlukkan hati seorang wanita. Tapi tidak demikian jika menyangkut denganmu. Aku tak bisa. Maaf jika aku gagal move on denganmu. Sampai detik ini pun, aku masih menyukaimu. Sama seperti dulu, aku masih tergila-gila denganmu. Bertahun-tahun ini, aku bersabar untuk tak terlihat olehmu. Aku senantiasa mengawasimu. Aku bahkan membiarkanmu berpacaran dengan pria lain. Tak masalah. Aku harus berjuang menstabilkan ekonomiku dulu." ujar Jayden.


"Aku sudah bersuami. Masih single pun, belum tentu aku mau denganmu. Ini masalah hati ya. Bukan perkara harta. Dari awal aku sudah tau, kamu terlahir dari keluarga kaya. Siapa sih yang tak mengenal ayahmu yang kaya dan populer itu? Semua orang pun tau, bahwa kamu adalah pria populer di kampung dulu." kata Fanya.


"Beri aku kesempatan. Izinkan aku untuk merebutmu kembali." pinta Jayden memelas.


"Percuma. Bahkan hatiku sendiri sudah diambil oleh suamiku. Jadi, tolong jangan usik kebahagiaanku. Bertahun-tahun sudah aku berhasil lepas darimu. Berhasil bebas dari ketakutanku. Lalu kenapa aku harus kembali berhadapan denganmu? Itu konyol!" kata Fanya penuh emosi kesal.


"Aku janji akan memberikan kebahagiaan untukmu. Kamu hanya perlu membuka hatimu sedikit saja. Kumohon, aku terlanjur jatuh cinta padamu. Akan aku lakukan apapun yang kamu minta, asalkan kamu bersamaku!" pinta Jayden bersungguh-sungguh.


Fanya menggelengkan kepalanya. Risih dan tak peduli dengan ucapan Jayden.


"Baiklah, jika itu maumu. Tapi aku akan tetap berusaha merebut kembali apa yang seharusnya aku miliki. Kamu.... adalah milikku! Jangan harap kamu bisa lepas dariku! Hanya menunggu waktu saja." kata Jayden penuh penekanan.


"Ku mohon kamu pergi! Aku nggak mau melihatmu lagi!" seru Fanya sambil menangis.


Jayden menatap Fanya dengan kesal. Dirinya ingin membawa pergi Fanya. Lari sejauh mungkin hingga tak ada yang mengetahuinya. Tapi diurungkan sebab status Fanya masih sebagai istri dari Sakti.


"Oke aku pergi." Jayden pun meninggalkan Fanya seorang diri.


Fanya menangis tersedu-sedu. Emosinya sedang tidak baik-baik saja. Ia ingin mencari kenyamanan agar emosinya segera mereda. Hatinya terlanjur sakit saat mengingat perkataan Jayden yang akan merebutnya kembali dari Sakti.

__ADS_1


__ADS_2