Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Di tengah obrolan Sakti dan Fanya, tiba-tiba MC meminta Fanya untuk menyumbangkan sebuah lagu alias bernyanyi.


"Loh, namaku disebut?" tanya Fanya heran.


"Kamu masih bisa nyanyi kan?" bisik Sakti.


"Masih, Mas. Tapi kalo dadakan gini, ya aku kagetlah. Bingung mau nyanyi apa. Aku butuh ngatur nafas nih!" bisik Fanya.


"Teruntuk Saudari Fanya, silakan menyumbangkan sebuah lagu untuk kedua mempelai!" seru MC itu lagi.


"Waduh!" ucap Fanya.


"Yaudah maju aja. Aku temenin apa gimana?" tanya Sakti.


"Mas bisa nyanyi?" Fanya balik tanya.


Sakti mengangkat bahunya. Ia sendiri tak yakin apakah suaranya saat bernyanyi diterima di telinga orang lain atau tidak. Tapi demi menemani Fanya untuk bernyanyi, akan tetap dilakukannya.


Alhasil Fanya maju ke panggung, diikuti oleh Sakti. Tapi sebelum maju, antara Fanya dan Sakti sudah berdiskusi akan menyanyikan lagu apa. Karena menyamakan lagu yang dibawakan merupakan bentuk kerja sama yang sesungguhnya.


Saat keduanya bernyanyi, mereka tak luput dari perhatian para tamu undangan yang hadir. Selain suara emas yang dihasilkan, paras cantik dan tampan keduanya adalah magnet tersendiri. Keduanya menjadi perbincangan hangat.


Kenalan Robi yang merupakan seorang wartawan, bahkan mengabdikan momen itu dengan baik. Sengaja diabadikan untuk dijadikan berita di salah satu infotainment nantinya.


Usai lagu dibawakan, Fanya memberikan pidato singkat berisikan ucapan selamat untuk kedua mempelai. Serta doa dan harapan agar pernikahan sahabatnya itu berakhir bahagia dan langgeng.


"Untukmu sahabatku, Clara dan suaminya Robi. Semoga kalian menjadi pasangan suami istri yang selalu berbahagia. Semoga rumah tangga yang akan kalian jalani, dikuatkan oleh cinta kalian. Apapun masalah dan ujian pernikahan, semoga terlewati dengan komitmen kebersamaan kalian. Mudah-mudahan kalian selalu bahagia, itu harapan saya!" seru Fanya dengan penuh semangat.


Lalu Fanya turun dari panggung dengan dibantu oleh Sakti. Sakti terus menggenggam tangan Fanya. Bukan sengaja menunjukkan keposesifan, tapi menunjukkan tanda kepemilikan yang hakiki.


"Kita mau kemana, Mas?" bisik Fanya.


"Karena kita sudah menikmati pestanya, bukankah kita harus pulang?" tanya Sakti.


"Secepat itu?"

__ADS_1


"Mau apa lagi?"


"Aku masih mau mencicipi hidangan di sini, Mas. Ada beberapa stand jajanan yang belum aku kunjungi. Aku mau mencoba semuanya!" ujar Fanya.


"Aku bisa mengajakmu makan di luar. Bagaimana?" tawar Sakti.


"Ih, aku maunya makan di sini. Percaya deh Mas. Aku cuma ingin makan semuanya, lalu kita akan pulang setelahnya." kata Fanya.


"Ah yasudah kalo begitu." Sakti mengalah.


Sakti ingin segera mengajak Fanya pulang setelah tau bahwa istrinya menjadi perhatian beberapa pria yang ada di sana. Ia tak ingin wajah cantik istrinya menjadi konsumsi publik. Tapi kalau istrinya kekeuh tak ingin pulang sebelum menikmati hidangan yang tersaji, ia bisa apa?


"Mas Sakti ikutin Fanya aja yah. Jagain Fanya aja. Fanya malu dilihatin orang-orang." bisik Fanya.


"Kan itu yang aku takutkan dari tadi. Nggak mau istri cantik Mas ini jadi pusat perhatian para pria itu. Padahal mereka sudah punya gandengan masing-masing. Kenapa istri Mas ini masih saja dilirik. Jujur, Mas benci melihatnya." kata Sakti.


Sakti mengikuti Fanya. Fanya antri mengambil makanan yang akan dicicipinya. Mulai dari bakso, siomay, zuppa soup, pizza mini, es krim, es cendol, dan beberapa jajanan lainnya.


"Enak yah?" tanya Sakti.


"Iya enak. Aku suka melakukannya, Mas. Kebiasaan setiap menghadiri pesta alias kondangan yah begini. Seru deh pokoknya. Mas sih nggak mau nyicipin." jawab Fanya.


"Ini Fanya yah?" tanya seseorang tiba-tiba.


Fanya menoleh ke sumber suara.


"Iya, ini aku. Tapi kamu siapa yah? Aku nggak kenal." jawab Fanya.


"Aku Siska. Kamu masa lupa sama aku? Eh wajar deh kalo lupa. Aku udah operasi lipatan mata dan hidung. Pasti berubah di matamu. Aku Siska, yang dulu pernah sebangku denganmu pas SMA. Meski cuma sebulan. Karena setelahnya aku mutusin pindah sekolah. Inget nggak?"


Fanya pun berpikir keras. Flashback ke masa dirinya masih mengenakan baju seragam putih abu-abu.


"Oh Siska Dilara? Kamu Siska yang itu? Wow luar biasa! Berubah 180 derajat. Sekarang cantik banget! Dulu juga cantik kok. Sekarang makin cantik dan glowing!" puji Fanya.


"Uhm, kamu bahkan berlipat lebih cantik. Eh tapi ini siapa di sebelahmu? Suamikah?" bisik Siska.

__ADS_1


"Iya. Kenalin ini suami kesayanganku, Mas Sakti. Mas Sakti, ini Siska temen SMA ku dulu!" Fanya mengenalkan Siska pada suaminya.


Siska dan Sakti berjabat tangan.


"Tapi sepertinya aku pernah melihat suamimu dimana yah? Kok rasanya familiar banget. Tapi lupa." ujar Siska.


"Kamu lupa? Dia kan Sakti Dirgantara. Klien aku yang pernah aku ceritakan padamu. Kamu bahkan ikut menyetujui MOU kerja sama." kata seorang pria yang tiba-tiba menggandeng pinggang Siska.


"Oh iya, ini suamiku, Dio." kata Siska.


Mereka saling bersalaman. Hingga obrolan mengarah ke bisnis. Dio dan Sakti lumayan akrab setelah mengubah tema pembicaraan menjadi bisnis yang mereka lakukan bersama.


"Suamimu dan suamiku ternyata akrab juga yah!" kata Siska.


"Begitulah. Suamiku selalu nyambung jika obrolan menyangkut bisnis. Eh kamu udah makan apa belum?" tanya Fanya.


"Udah. Aku bahkan udah kenyang. Kamu sudah lama tinggal di kota ini?" tanya Siska.


"Lumayan. Abis lulus SMA kan aku memiiih menetap di sini. Makanya aku sempet lupa sama kamu. Apalagi kamu berubah menjadi lebih cantik begini."


"Iya Fan. Aku dulu nggak PD dengan wajah dan penampilanku yang dulu. Makanya pas lagi ada uang tabungan, aku mutusin untuk operasi lipatan mata dan perbaikan hidung supaya jadi mancung begini. Terlebih Dio juga mendukungku. Aku tambah semangat melakukan operasi. Kamu sih enak udah cantik alami. Aku kalau udah cantik kayak kamu gitu, yaudah pasrah, nggak usah operasi. Tapi kan keadaanku waktu itu beda. Makanya aku milih operasi." kata Siska mengenang masa lalu.


"Sudahlah. Operasi adalah pilihan hidupmu. Jadi yaudah nikmatin aja proses sesudahnya. Ingat, cantik itu sebenarnya relatif. Jika kamu merasa baik-baik saja dan menganggap dirimu cantik, maka aura cantik akan keluar dengan sendirinya." kata Fanya.


"Iya. Aku pun sudah cukup sampai di sini. Nggak mau operasi lagi."


"Uhm, oke deh. Semoga kamu selalu berbahagia yah."


"Iya terima kasih. Kamu baik sekali." kata Siska.


Lalu Fanya dan Siska saling bertukar kontak untuk memudahkan mereka berkomunikasi.


"Eh Fan, aku dan Dio pamit pulang duluan yah. Kamu gapapa kan aku tinggal?" tanya Siska.


"Iya. Aku abis ini juga mau pulang. Bahkan Mas Sakti udah dari tadi ngajakin pulang. Hati-hati yah!"

__ADS_1


"Iya. Jangan lupa berkontak yah! Aku tunggu pesanmu!" seru Siska.


Mereka berpisah. Tak lama setelah itu, Fanya dan Sakti pamit pulang pada kedua mempelai.


__ADS_2