Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Tragedi Gadis Malam


__ADS_3

Sakti dan Fanya sedang dalam perjalanan pulang. Sakti mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia lebih memilih hati-hati sebab sedang bersama istri. Jika sendiri, sudah pasti lebih ngebut lagi.


Selama perjalanan, Sakti memutar lagu-lagu romantis untuk Fanya. Sesekali mereka bernyanyi mengikutinya. Lagu-lagu romantis menambah suasana romantis di antara mereka.


"Mas, tolong kecilkan volumenya!" pinta Fanya.


Sakti pun menuruti keinginan Fanya.


"Kenapa Sayang?" tanya Sakti.


Fanya tersenyum malu-malu.


"Mas, bisa tidak kita berhenti di depan sana? Itu kayaknya tukang sate yang mangkal deh. Aku pingin makan sate nih!" ujar Fanya sambil menunjuk ke depan.


"Sate?" tanya Sakti memastikan.


"Iya. Aku mau sate, Mas. Itu kan tukang sate. Tiap lewat sini, pasti selalu ramai. Kayaknya rnak deh, Mas. Fanya mau nyobain. Boleh ya?"


Sakti memastikan apakah benar ada tukang sate yang dimaksud Fanya. Ternyata benar. Lalu ia memberhentikan mobilnya tepat di dekat tukang sate yang sedang mangkal.


"Tapi bukannya tadi kamu makan banyak yah? Yakin perutnya masih mampu untuk makan lagi?" tanya Sakti.


"Oh jadi Mas nggak mau beliin aku sate? Aku juga punya uang kok, Mas. Aku bisa beli sendiri kok!" jawab Fanya, sedikit ngambek.


"Bukan gitu. Yaudah, kamu tunggu di sini aja yah. Aku akan belikan. Mau berapa tusuk?" tanya Sakti.


"Ehm, 2 porsi aja, alias 20 tusuk. Itu lebih dari cukup. Cepetan ya Mas." kata Fanya berbinar.


"Baiklah. Sesuai permintaanmu. Yakin cukup?" tanya Sakti.

__ADS_1


"Cukup. Kan aku bilang tadi, lebih dari cukup." jawab Fanyam


Sakti turun dari mobilnya. Ia harus mengantri terlebih dulu sebelum bisa memesan sate. Ada beberapa pembeli yang lebih dulu datang untuk mengantri.


"Apa aku keluar juga ya? Kasian juga Mas Sakti yang mengantri begitu. Sementara aku enak-enakan hanya nunggu di mobil. Padahal kan satenya pasti aku yang makan. Mas Sakti kan makannya nggak sebanyak aku. Aku ikut turun aja deh!" kata Fanya.


Akhirnya Fanya turun dari mobil. Sebenarnya ia hanya perlu berjalan beberapa langkah saja untuk bisa bergabung dengan Sakti yang mengantri. Tapi sialnya, saat ia berjalan ke arah Sakti, seseorang tak dikenal menusuknya dari arah samping.


Fanya kaget dan berteriak minta tolong. Ia pun memegangi perutnya yang terluka. Darah segar mengalir dari perutnya, membasahi bajunya. Saat kejadian memang Sakti tak melihatnya, namun ia segera berlari ke aeah Fanya saat Fanya meminta pertolongan.


Sayangnya pelaku penusukan sudah kabur lebih dulu sebelum Sakti melihatnya. Sakti segera menggendong Fanya kembali ke mobil untuk dilarikan ke Rumah Sakit atau pelayanan kesehatan terdekat.


Sesampai di sebuah Rumah Sakit, Fanya segera dilarikan ke UGD untuk ditindaklanjuti. Sakti harap-harap cemas menunggu Fanya diobati. Ia terus berdoa agar Fanya bisa diselamatkan dan kembali seperti sedia kala. Ia trauma melihat banyak darah keluar dari tubuh Fanya.


Sejam kemudian, dokter keluar dari ruang UGD. Sakti segera mengintrogasi dokter itu.


"Pak Dokter..."


"Dokter Dimas." kata Dokter Dimas.


"Dokter Dimas, apakah lukanya dalam sampai istri saya kehabisan banyak darah?" tanya Sakti.


"Lumayan. Tapi saran saya, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik fokus saja dulu untuk penyembuhan istri Bapak. Kami akan berupaya membantu istri Bapak untuk proses penyembuhan. Oh iya, silakan diurus untuk administrasinya. Kalau begitu, saya permisi!"


Sakti sedikit bisa bernafas lebih lega. Ia tak mau kehilangan istri tercintanya. Istrinya dipindahkan ke ruang perawatan. Sementara itu, ia harus mengurus administrasi di bagian administrasi untuk mendapatkan pelayanan selanjutnya.


Selesai mengurus administrasi, Sakti diarahkan menuju ruang perawatan Fanya, yaitu ruang Anggrek no. 1. Termasuk ruang perawatan VVIP sesuai permintaan Sakti.


Sakti semakin sedih melihat istrinya tampak pucat dan terkulai lemah di ranjangnya. Hatinya sakit melihat bekas jahitan di perut istrinya. Tapi ia meyakinkan dirinya sendiri, bahwa istrinya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Sakti, bagaimana keadaan Fanya?" tanya Bu Syakira yang baru datang.


"Mama...." Sakti berhambur memeluk Mamanya.


"Apa yang terjadi?"


"Fanya ditusuk orang tak dikenal. Untuk sementara Sakti belum tau siapa orangnya. Tapi Sakti sudah mengerahkan anak buah Sakti untuk mengusut kejadian naas ini. Fanya... masih belum sadarkan diri. Kita harus sabar menunggu ia siuman kembali. Entahlah, Sakti merasa orang yang bodoh. Tidak bisa menjaga Fanya meski kami sedang bersama. Sakti gagal, Ma...."


"Jangan salahkan dirimu. Kamu sudah menjaganya dengan baik. Hanya saja, takdir menyakitkan itu sudah tertera sebelumnya. Jadi walau bagaimanapun kamu menjaganya, tak ada yang bisa mengubah takdir. Sabar ya Sayang!" nasihat Bu Syakira.


Sakti memeluk Mamanya. Ia sebenarnya malu menangis di depan Mamanya. Tapi ia tak sanggup menutupinya.


"Mama ke sini naik apa?" tanya Sakti.


"Naik taksi online." jawab Bu Syakira.


"Sakti berterima kasih Mama sudah mau datang di tengah malam begini. Tapi rasanya Sakti semakin bersalah sama Mama juga. Membiarkan Mama datang malam-malam ke tempat ini. Sendirian lagi. Maafin Sakti ya Ma. Sudah ngerepotin Mama. Jauh-jauh ke sini. Harusnya besok saja Sakti ngabarin Mama." ujar Sakti.


"Tidak Sayang. Mama tak merasa direpotin. Bagi Mama, Fanya adalah putri Mama juga. Tak masalah. Kamu istirahat aja yah. Biar Mama yang begadang jagain Fanya. Tadi Mama juga sempet tidur kok di rumah." perintah Bu Syakira.


"Tapi Ma..."


"Ikuti Mama. Kamu butuh tenaga lebih untuk menjaga istrimu. Istirahatkan tubuhmu. Percaya deh sama Mama. Lagipula Mama sudah tidur beberapa jam tadi. Jadi belum ngantuk lagi. Biar Mama yang jaga dia. Kalo ada apa-apa, pasti Mama akan bangunin kamu. Nurut Mama ya Sayang!"


Sakti pun menututi perintah Mamanya. Ia segera merebahkan dirinya di sofa yang tersedia. Sementara Bu Syakira duduk di kursi uang berada di sisi ranjang Fanya.


"Cepet sembuh ya Sayang. Kamu bukan hanya Mama anggap sebagai menantu, tapi sebagai putri Mama juga. Sebagaimana sayangnya Mama ke Sakti, Mama juga menyayangimu. Karena Mama tau, kebahagiaan Sakti juga ada padamu. Kamu wanita yang baik, istri yang baik, dan menantu yang baik untuk Mama. Tolong segera sehat seperti sedia kala. Banyak orang yang sayang sama kamu." kata Bu Syakira.


Sakti memandang betapa sayangnya Mamanya pada istrinya. Ia pun tersenyum di balik kegetiran hatinya. Lalu ia pun memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2