Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Kenangan Lama


__ADS_3

Suasana resepsi Marina dan Satya masih cukup ramai meski sudah menjelang malam. Tamu-tamu penting yang merupakan undangan dari Pak Ilyas mulai berdatangan.


"Hai Ilyas, apa kabar?" sapa seorang pria yang seumuran dengan Pak Ilyas, papa Marina.


"Hai Ammar! Sudah lama tak jumpa. Kabarku baik. Bagaimana denganmu? Apakah status dudamu sudah berakhir? Ku dengar ada wanita yang kamu dekati, apakah benar?" tanya Pak Ilyas.


Pak Ilyas dan Pak Ammar saling bersalaman. Bukannya menjawab, Pak Ammar justru mengerutkan dahinya. Entah apa yang dia pikirkan.


"Ada apa? Apa pertanyaanku menyinggungmu? Maafkan aku karena kelancanganku ya. Aku tak bermaksud membuatmu sedih. Sungguh, aku minta maaf!" ujar Pak Ilyas merasa bersalah.


"Tidak, Ilyas. Bukan begitu! Aku bukan sedih karena pertanyaanmu. Aku sedih karena mengingat wanita yang pada awalnya ku dekati itu. Ingin sekali rasanya menjadikannya ratu di hidupku. Tapi sayangnya, dia memilih kabur dariku. Aku pun tak tau ada dimana dia sekarang." kata Pak Ammar sedih.


"Sudahlah. Meski usia kita tak jauh berbeda, aku rasa wajahmu terlihat awet muda. Kamu cukup tampan, mapan, dan berkelas. Kamu pasti bisa mendapatkan wanita impianmu." nasihat Pak Ilyas.


Pak Ammar hanya tersenyum getir mendengar nasihat sahabatnya itu. Ia cukup mengerti betapa baiknya seorang sahabat memberikan motivasi sekaligus nasihat bijak. Lalu ia mengambil minuman yang tersaji. Hingga suatu ketika, matanya menangkap sosok yang sangat familiar baginya.


Pak Ammar menaruh kembali minuman yang sudah hampir diminumnya itu. Berusaha secepat mungkin menghampiri seseorang yang membuatnya mengingat masa lalu.


"Hei Ammar!" panggil Pak Ilyas.


Panggilan Pak Ilyas hanya terlewat begitu saja. Fokus Pak Ammar adalah mendekati seorang wanita yang menjadi bagian masa lalunya itu.


"Fanya Asmara!" panggil Pak Ammar pada Fanya.


Fanya menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya sosok pria paruh baya yang membuatnya ketakutan di masa lalu.

__ADS_1


"Ke... kenapa Anda di sini?" tanya Fanya gugup dan takut.


"Aku hanya menghadiri undangan sahabatku. Ilyas adalah sahabatku. Senang bisa melihatmu kembali. Bagaimana kabarmu? Apakah baik-baik saja?"


"Kabarku baik. Tapi maaf, saya tak tertarik berbicara panjang lebar dengan Anda. Saya harap Anda pura-pura tak mengenali saya. Itu jauh lebih baik daripada sok kenal tapi canggung. Maaf!" kata Fanya yang meninggalkan Pak Ammar.


"Hotel Singa kamar 502!" seru Pak Ammar.


Beberapa orang menghentikan aktivitasnya dan fokus menatap Pak Ammar dan Fanya bergantian.


"Hotel Singa kamar 502. Di sanalah kita bertemu sebagai penjual jasa dan pembeli jasa. Apa kamu sudah lupa dengan janjiku padamu waktu itu? Tenang saja, masih banyak waktu untuk kita memulai hidup bersama." kata Pak Ammar dengan penuh keyakinan.


"Jangan asal yakin dengan fakta asal. Saya menegaskan bahwa saya bukan penjual jasa seperti yang Anda bilang. Saya mau menemui Anda di hotel bukan berarti saya mau menawarkan jasa pada Anda. Titik pointnya bukan itu. Saya hanya menggantikan teman saya yang bekerja. Dia bilang saya harus membersihkan kamar hotel itu karena dia harus pulang cepat. Memang dia bekerja di hotel yang Anda sebutkan itu. Entahlah, seharusnya saya harus kecewa dengan teman saya itu. Jangan asal menilai saya. Maaf, saya tak ada waktu mengobrol dengan Anda." ujar Fanya serius.


"Kita harus pergi, Mas!" ajak Fanya.


"Fanya tunggu!" seru Pak Ammar yang mendekati Fanya dan Sakti.


"Saya tak mengenal Anda. Sebaiknya Anda jangan berharap saya mengenal Anda. Tolong, jangan dekati saya apapun alasannya." ujar Fanya.


"Tapi saya hanya ingin membuat perjanjian ulang. Katakanlah waktu itu kamu membatalkan perjanjian sepihak. Aku sudah memaafkanmu. Tapi tolong beri kesempatan lagi. Aku sungguh penasaran denganmu. Aku akan membayarmu mahal!" kata Pak Ammar meyakinkan.


Fanya yang tadinya menundukkan kepala, kini beralih menatap Pak Ammar dengan tegas.


"Mohon maaf, saya tak ada urusan mengenai transaksi yang sudah teman saya janjikan kepada Anda. Perjanjian sepihak? Apa maksud Anda? Jika Anda merasa dirugikan secara waktu dan finansial, bukan komplen pada saya. Tapi pada teman saya itu. Sudah lama saya memutus kontak dengan dia. Jadi jika Anda menuntut ganti rugi, Anda pasti bisa membayar seseorang untuk mendapatkan informasi teman saya itu. Bukan menjegal saya dengan alibi menuntut ganti rugi pada saya." kata Fanya.

__ADS_1


"Iya, saya rugi finansial. Bukan nilai nominal yang saya perjuangkan, tapi kesanggupanmu untuk dekat kembali denganku. Kamu tau, setelah pertemuan singkat kita, aku sudah menjatuhkan pilihan kepadamu. Aku akan menjadikanmu ratu di kehidupanku. Menikahlah denganku!" seru Pak Ammar tanpa canggung sedang berada dimana dan banyak mata memperhatikannya.


"Tapi Fanya adalah istriku!" seru Sakti mulai berbicara.


"Istri?" tanya Pak Ammar tak percaya.


"Iya. Fanya adalah istriku. Perkenalkan, saya adalah Sakti Dirgantara. Saya adalah suami dari Fanya Asmara. Mengenai masa lalu atau kenangan lama yang sedari tadi Anda lontarkan secara terang-terangan tadi, itu adalah omong kosong. Seharusnya bukan Fanya yang datang ke kamar Anda. Bukankah kamar Anda nomor 502? Nah, Fanya hanya salah masuk kamar. Seharusnya Fanya istriku, masuk ke kamar 501. Dia sempat bingung apakah masuk ke kamar 501 atau kamar 502 waktu itu. Karena yang pertama dibuka adalah pintu kamar 502, jadilah dia masuk ke sana tanpa ragu. Yah, itupun sebelum melihat sosok Anda di kamar itu. Aku pastikan ceritaku sesuai fakta. Aku pun punya rekaman CCTV hotel itu." jawab Sakti.


"Mas...?" lirih Fanya.


"Bukan apa-apa. Karena di hotel itulah awal mula aku bertemu denganmu. Makanya setelah melihatmu lagi bekerja di Cafe Monix, aku lebih penasaran lagi denganmu. Sampai aku mengecek kembali kejadian kamu salah masuk kamar pria itu. Untungnya tak terjadu apapun. Tuhan masih melindungimu untukku." kata Sakti.


"Hei, apa benar semua ucapanmu?" Pak Ammar menatap tajam ke arah Sakti.


"Lalu berarti aku seharusnya bertemu wanita lain dan bukan kamu, Fanya?" tanya Pak Ammar.


"Anda hanya salah mengira. Setelah Anda berlarian mengejar Fanyaku yang ketakutan pada Anda, wanita yang seharusnya Anda temui itu datang. Dia hanya melihat kamar kosong tak berpenghuni dan lalu pergi entah kemana." jawab Sakti.


"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa sampai tahu sedetail itu?"


"Tuan Ammar yang sangat terhormat, mungkin hanya sebuah kebetulan saja. Hotel Singa adalah hotel peninggalan kakekku. Memang bukan aku yang bertanggung jawab atas hotel itu. Tapi boleh dikatakan, ada saham yang aku miliki atas hotel itu." ujar Sakti.


"Jadi tolong, kita tak ada urusan sepenting itu hingga Anda berani mengintrogasi saya untuk mengingat Anda. Permisi!" kata Fanya yang berjalan ke luar meninggalkan tempat resepsi pernikahan.


"Semoga kedepannya, Anda tak mencari gara-gara lagi dengan istriku. Ingat baik-baik ucapanku hari ini. Jangan sampai Anda menyesal di kemudian hari!" ancam Sakti dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2