Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Dugaan selingkuh


__ADS_3

Sakti dan Fanya telah sampai di apartemen mereka. Fanya lebih dulu masuk ke kamar mandi. Sementara Sakti memilih bersantai di balkon. Menatap ke arah luar. Meski hanya terlihat titik-titik cahaya lampu yang menerangi gelapnya malam.


Sakti terpikirkan kata-kata Sonia. Pembahasan mengenai 'anak' yang terlalu sensitif baginya. Ia bukan menyalahkan Fanya karena belum juga mengandung anaknya. Tapi lebih kepada penyebab Fanya belum bisa mengandung.


'Apa di antara aku atau Fanya ada permasalahan medis yang harus diobati? Tapi aku rasa tidak! Aku sempat cek ******, bahwa spermaku hasilnya baik-baik saja. Tak ada masalah. Hasil tes pemeriksaan yang sudah Fanya lakukan, juga hasilnya bagus. Aku melihatnya sendiri tanpa sepengetahuannya. Gara-gara wanita itu aku jadi kepikiran hal sepele begini. Padahal aku bukan orang yang mengharuskan anak dalam pernikahanku. Cukup aku dan Fanya bahagia. Anak adalah poin plus hubungan kami.' batin Sakti.


"Mas, giliranmu!" kata Fanya.


Tak ada respon dari Sakti. Fanya pun mendekati Sakti yang melamun.


"Mas melamun?" tanya Fanya.


"Eh!" Sakti tersentak kaget.


"Ada apa Mas? Melamunin apa?" tanya Fanya lagi.


"Bukan apa-apa. Aku hanya teringat masa lalu. Dimana dulu Mamaku berjuang seorang diri demi menghidupiku." bohong Sakti.


Fanya mengusap tangan Sakti. Sakti yang diusap tangannya, fokus menatap wajah cantik Fanya.


"Mamamu hebat. Beliau penuh perjuangan demi membangun karakter dan masa depan putra sekata wayangnya ini. Aku pun bangga denganmu. Telah banyak perjuangan yang telah kamu lakukan. Darah dan keringat jadi satu, demi mewujudkan perusahaan besar yang makmur. Nasib pekerja pun juga kau utamakan dibalik majunya perusahaan. Aku bangga padaku, Mas. Jangan lupakan, bahwa kamu juga hebat. Ini aku bicara kebenaran dan fakta, bukan omong kosong demi menyenangkanmu." ujar Fanya.


"Iya. Mamaku hebat. Aku pun bersyukur atas itu. Untukku, kehadiranmu pun juga merupakan anugerah terindah yang pernah ku miliki." ucap Sakti sembari mengelus rambut Fanya yang tergerai karena basah.


"Rupanya kamu keramas. Ini masih basah. Aku akan bantu keringkan ya?"

__ADS_1


"Tidak usah Mas. Nanti juga kering sendiri. Mas mandi aja ya. Setelah itu, kita ngobrol-ngobrol lagi. Aku akan buatkan kopi dan siapkan camilan untuk kita nanti. Gimana?" tawar Fanya.


"Baiklah. Aku akan mandi secepat mungkin." balas Sakti.


Sepeninggal Sakti, Fanya segera bergegas ke dapur. Menyiapkan kopi untuk suami dan dirinya. Serta tak lupa menyiapkan camilan sebagai teman kopi.


Saat Fanya kembali ke balkon, rupanya Sakti belum kembali dari mandinya. Fanya pun memutuskan untuk menunggu Sakti dengan duduk di sofa empuk yang berada di balkon. Fanya merasa seperti menkndih sesuatu. Ternyata ada ponsel Sakti yang tergeletak di sofa itu.


"Wah, Mas Sakti naruhnya sembarangan. Kena dudukan aku juga nih ponsel. Tapi syukurlah masih aman." gumam Fanya, lalu meletakkan kembali ponsel Sakti ke atas meja kecil di sebelah sofa.


Tanpa Fanya duga, ada beberapa notifikasi pesan dari ponsel Satya. Sebenarnya Fanya tak begitu minat untuk kepo dengan pengirim pesan ataupun isi pesannya. Berhubung notifikasi terlihat sekilas dengan sebagian isi pesan, membuat Fanya beralih ke mode penasaran. Dibukalah pesan itu tanpa izin dari Sakti.


Ponsel Sakti memang dibuat mode privasi. Tapi Fanya diberikan akses untuk membukanya. Terlihat dengan sidik jari Fanya bisa digunakan untuk unlock ponsel Sakti.


Fanya membuka pesan masuk. Dirinya kaget mendapati isi pesan yang baru saja masuk. Intinya penuh dengan kata godaan untuk merebut hati Sakti. Serta, kalimat manja yang bahkan dirinya saja masih enggan atau malu untuk menyatakannya.


"Apa-apaan ini? Siapa orang ini? Kenapa pesannya sangat norak sekali. Apa dia tak tau jika Mas Sakti sudah punya istri? Apa sengaja melabelkan dirinya sebagai pelakor?" seru Fanya geram.


Saat itulah Sakti muncul dengan penampilan kasual. Menggunakan kaos oblong dengan celana pendeknya.


"Ada apa? Kenapa mukamu kesal? Trus kenapa ponselku ada di tanganmu?" tanya Sakti.


"Aku kesal, Mas. Membaca isi pesan dari seseorang bernama Mela. Siapa dia? Kenapa pesan dari wanita bernama Mela itu sangat vulgar? Apa kamu mengenalnya dengan baik?" kata Fanya balik tanya.


Sakti hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Maksudnya apa? Jujur saja, apa kamu punya sesuatu yang kamu sembunyikan dariku? Katakan Mas, aku akan mendengarkannya. Aku akan berusaha siap dengan apa yang akan kamu katakan. Tolong jujur supaya aku mengerti semuanya. Aku ingin hidup dalam ketenangan dan kejujuran. Tak ingin ada torehan luka yang disembunyikan." ujar Fanya yang mulai menitikkan air mata.


"Seharusnya kamu tak membuka pesan dari ponselku, tanpa seizinku. Baik itu dari pria ataupun wanita, rasanya itu adalah privasi untukku. Kamu harus tau dimana batasmu. Beruntung aku memberimu akses unlock di ponselku. Tapi bukan berarti kamu seenaknya membaca pesan masuk ataupun keluar. Sekarang kan jadinya rumit. Kamu salah paham dengan pemikiranmu sendiri. Aku pun terjebak penjelasan padamu. Ribet kan jadinya?"


"Siapa dia Mas? Tolong jawab itu saja. Aku ingin tau saja. Apa dia orang spesial juga?" tanya Fanya tak menyerah.


"Kalo dibilang spesial ya cukup spesial. Mau dikata apa lagi." jawab Sakti.


Sakti duduk di sofa itu. Lalu merebut kembali ponselnya yang sebelumnya berada dalam genggaman Fanya.


"Oh baik. Jika demikian maumu, aku akan pergi dari hidupmu sekarang juga! Buat apa mempertahankan rumah tangga dimana salah satu pihak membenarkan perselingkuhan. Aku tak sudi dengan label selingkuh. Hah, Mas Sakti yang ku percayai ternyata berselingkuh? Tak bisa dipercaya." ucap Fanya yang kemudian berlari ke dalam kamar.


Fanya segera mengunci kamarnya. Ia mengambil koper besar dan mengisinya dengan beberapa setelan baju dan lainnya. Sakti menggedor-gedor pintu, meminta pintu untuk dibuka. Diabaikan oleh Fanya begitu saja.


"Kesalahan fatal!" seru Fanya.


Fanya hanya membawa barang sekenanya saja. Seingat yang bisa dia bawa. Disamping belum bisa berpikir jernih, ia juga menyadari bahwa barang yang dimilikinya sekarang, sebagian besar adalah pemberian dari Sakti.


Sakti masih setia menunggu Fanya di depan pintu kamar. Berharap Fanya membuka pintu. Namun betapa kagetnya Sakti, saat melihat Fanya keluar kamar dengan menenteng koper besarnya.


"Mau kemana malam-malam begini?" tanya Sakti.


"Aku akan pergi dari sini. Masalah kelanjutannya bagaimana, aku akan utus pengacaraku untuk menemuimu. Aku akan berdamai dengan keadaan. Jadi, aku akan siap menerima keputusan terberat ini. Aku akan jaga diriku baik-baik. Jangan khawatirkan aku. Aku pun masih punya cadangan tabungan di akun bank milikku." jawab Fanya.


"Mau kemana? Aku tak mengizinkanmu pergi. Aku masih suamimu. Berhak melarangmu!" seru Sakti.

__ADS_1


__ADS_2