
'Dalam nafas kata yang diucapkan secara sadar itu, ternyata aku sudah sah menjadi kekasih halalnya Mas Sakti. Hanya sedemikian rupa, secepat itu, statusku telah berubah. Secara hukum dan agama, aku telah resmi menjadi istrinya. Prioritasku bukanlah orang tuaku lagi, tapi Mas Sakti. Mulai sekarang, aku akan belajar menjadi istri yang baik. Entah bagaimana nantinya, aku pasti bisa.' batin Fanya seraya duduk dan menatap cermin.
"Sedang apa?" tanya Sakti yang hanya berlilit handuk di pinggangnya.
"Oh ya ampun! Mas Sakti ngagetin aku. Kenapa nggak pake baju Mas? Nanti dingin loh!" seru Fanya.
"Kamu sendiri masih pake kimono. Coba aku lihat!" kata Sakti yang langsung memeriksa tubuh Fanya.
"Eh. Iya. Tapi Mas mau apa?".
"Kan bener. Bahkan kamu belum pake daleman." ujar Sakti.
"Uhm, belum sempet Mas. Tadi ngaca dulu. Jadi lupa." penjelasan Fanya.
'Padahal tadi ngelamun juga sih. Dasar aku!' batin Fanya.
"Tapi gapapa sih. Aku seneng kok kamu begini. Memudahkan langkahku. Ayo ikuti aku!" ajak Sakti.
Sakti mengajak Fanya duduk di tepi ranjang. Lalu menghela nafas panjang. Membuat Fanya gelisah sekaligus takut.
"Ada apa Mas? Apa di hari pertamaku menjadi istrimu, aku sudah membuat Mas kecewa? Maaf ya Mas..." ucap Fanya pelan.
"Tidak." kata Sakti.
"Lalu kenapa? Bahkan kita pun belum memulai apa-apa. Dan Mas sudah terlihat kecewa begitu."
Sakti pun tersenyum dengan perkataan Fanya. Kemudian memeluk istrinya perlahan. Bau wangi tubuh istrinya, seakan menggoda Sakti untuk melakukan aksi lebih.
"Mari kita mulai!" bisik Sakti seraya melepas kimono yang dikenakan Fanya.
Fanya terbelalak melihat kimononya dilucuti oleh Sakti. Saat benar-benar telanjang, Fanya beringsut malu dan mencoba menutupi bagian dada dan intinya.
"Kan aku sudah liat tadi pas kita mandi bareng." bisik Sakti.
Alhasil Fanya pasrah dengan perlakuan Sakti.
'Habislah sudah diriku sore ini. Belum malam tapi rasanya seperti tengah malam. Horor!' pikir Fanya.
Sakti menjamah tubuh istrinya sesuka hati. Ia merasa gemas dengan tubuh wanita yang sangat dicintainya.
'Kan, aslinya lebih seksi dari bayanganku.' batin Sakti.
Sakti menciumi tubuh Fanya dengan gemas. Fanya pasrah saja. Antara suka dan geli saat dihujani ciuman Sakti.
__ADS_1
"Mas, ini geli..." desah Fanya saat Sakti mulai memainkan intinya.
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati." kata Sakti.
"Tapi, ini. Ahh aku..." kata Fanya saat bagian intinya memuntahkan sesuatu.
"Rasanya enak kan?" tanya Sakti pelan dengan tatapan nakal.
Fanya mengangguk. Memang benar, bagi Fanya ada gejolak tersendiri saat bagian intinya seperti memuntahkan lahar. Rasanya susah dideskripsikan dengan kata-kata. Fanya seperti melayang ke langit.
"Enak Mas." jawab Fanya malu-malu.
"Mau lebih enak lagi?" tanya Sakti.
"Iya. Lakukan sesuka hatimu. Aku pasrahkan tubuhku ini untukmu." jawab Fanya sembari mengulas senyum.
Sakti semakin bersemangat untuk melancarkan aksinya. Ia segera melempar handuk yang sedari tadi melilit pinggangnya ke sembarang arah. Nampaklah pusaka miliknya. Fanya menatapnya heran sekaligus ngeri.
'Apakah benda hidup seperti itu akan menembus liang kewanitaanku? Sebesar itu? Pasti ngilu dan perih deh. Takut. Gimana bisa nolaknya kalo udah di depan mata gini. Ya Tuhan, lindingi hambamu yang polos ini...' gumam Fanya.
Sakti membaringkan tubuh Fanya dengan hati-hati.
"Jangan takut. Sakitnya hanya sebentar. Nanti kamu akan terbiasa dengan sendirinya. Awalnya sakit, tapi lama kelamaan akan terasa enak. Katanya bikin nagih loh. Mari kita coba!" ujar Sakti membujuk Fanya.
Sakti hanya mengangguk. Kini ia memegang senjata pusakanya, mengusapnya pelan, lalu mengarahkan ke bagian inti Fanya yang sudah basah karena ulahnya tadi.
"Pelan-pelan aja ya Mas. Aku takut." rengek Fanya.
Sakti mencoba memasukkan pusakanya dengan pelan. Awalnya agak kesulitan karena masih sempit. Beberapa saat kemudian, senjata pusakanya berhasil masuk setengahnya. Fanya merasakan sakit yang luar biasa.
"Tahan Sayangku. Sedikit lagi." pinta Sakti.
Sakti mengeluarkan tenaga ekstra, hingga masuklah keseluruhan miliknya. Fanya memekik kesakitan hingga menangis. Sakti merasa kasian dengan Fanya, tapi ia harua menuntaskan hasratnya. Kemudian ia memaju mundurkan miliknya. Fanya masih merasakan ngilu dan perih. Namun beberapa menit berlalu, rasa sakit berubah jadi nikmat.
"Sudah mulai terbiasa?" tanya Sakti yang diangguki Fanya.
"Lebih cepat Mas." ujar Fanya memelas.
Sakti mempercepat gerakan memaju mundurkan miliknya. Jangan ditanya, Sakti benar-benar menikmati momen intim tersebut.
"Hangat." lirih Fanya saat Sakti berhasil mengeluarkan cairan ke dalam inti Fanya.
Sakti merebahkan tubuhnya di samping Fanya. Ia mengecupi dahi dan pipi Fanya yang basah berkeringat.
__ADS_1
"Terima kasih Sayangku. Aku puas sudah berhasil menjamah dan menikmati tubuhmu yang indah ini. Ayo kita bersihkan sisa bercinta kita. Nanti dilanjut lagi yah saat malam. Aku masih ingin menikmati tubuh ini." bisik Sakti sambil menoel dada Fanya.
Fanya hanya tersenyum pasrah.
'Sejujurnya aku suka. Tapi masih perih ini. Gimana ya? Aku hanya bisa pasrah untukmu Mas....' batin Fanya.
"Ayo kita mandi lagi!" ajak Sakti yang mulai bangkit dari ranjang.
"Aku masih merasakan perih, Mas. Bergerak dikit aja, sakitnya kebangetan." ucap Fanya.
Sakti langsung menggendong Fanya. Ia membawa Fanya ke kamar mandi. Perlahan ia menurunkan Fanya. Ia mendudukkan Fanya di closet agar Fanya bisa membersihkan intinya. Lalu Sakti mengisi bath up dengan air hingga penuh.
"Ayo kita berendam air hangat. Sebentar saja. Setelah itu kamu boleh istirahat." kata Sakti.
"Aku laper Mas." keluh Fanya.
"Iya. Selepas ini, aku akan membawakan makanan untukmu. Aku janji!" kata Sakti.
Fanya pun menurut. Ia langsung berendam air hangat seperti perintah Sakti. Sakti pun demikian. Mereka sama-sama menikmati berendam dengan saling menyabuni tubuh satu sama lain.
Kini Fanya dan Sakti sudah selesai berendam. Mereka kembali ke kamar. Fanya tak urung mengenakan bajunya. Ia memilih memakai kimono. Sementara Sakti sudah berganti dengan baju santai. Sakti segera keluar kamar untuk mengambil makanan untuk Fanya dan dirinya. Baru ia mau melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga, ternyata Bik Ani sudah membawakannya makanan.
"Den Sakti balik aja ke kamar. Bibi aja yang anterin." kata Bik Ani.
"Baik Bik. Kan aku jadi enak. Bawa makanan yang banyak ya Bik." ujar Sakti.
"Iya Den. Siap. Bibi ambil makanan lagi ya." kata Bik Ani yang menyodorkan nampan berisi makanan.
Sakti kembali ke kamarnya. Ia mendapati Fanya yang bersandar di bantalnya.
"Makan yuk. Biar aku suapi kamu yah. Aku mau melayanimu sepenuh hati dan sepenuh cinta." ujar Sakti.
"Iya Mas. Baru gini aja aku udah tumbang. Maaf yah." kata Fanya.
"Gapapa. Mungkin semua wanita yang baru merasakan untuk pertama kalinya, seperti apa yang kamu rasakan. Ayo buka mulutmu!" seru Sakti menyuapkan makanan untuk Fanya.
Tiba-tiba pintu kamar digedor.
"Oh, itu pasti Bik Ani. Aku tadi minta makanan yang banyak. Tunggu yah." kata Sakti yang segera membukakan pintu kamar dan mengambil makanan dari Bik Ani.
"Bagaimana keadaan Non Fanya?" tanya Bik Ani.
"Bik Ani gausah kepo dulu yah. Kami mau makan dulu. Nanti juga Bibi tau Fanya gimana keadaannya. Dah ya Bik, jangan ganggu kami lagi. Kalo butuh apa-apa, aku akan panggil Bibi." kata Sakti dan segera menutup pintu kamar dengan cepat.
__ADS_1
"Dasar anak muda ya. Lagi enak-enakan belah duren apa yah?" kata Bik Ani cengegesan.