Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Antara Mau dan Malu


__ADS_3

"Udah ah. Turunin aku. Aku berdiri aja." bisik Fanya pada Sakti.


"Udah gapapa. Mama juga nggak marahin kita kok. Ya kan Ma?" tanya Sakti.


"Sebenarnya Mama marahnya ke kamu, Sakti. Kamu yah bisa-bisanya bikin anak gadis malu begitu. Kalo Fanya anakku, udah aku sentil kamu!" kata Bu Syakira menatap tajam putra semata wayangnya.


Tiba-tiba pintu diketuk. Bu Syakira mempersilakan masuk. Muncullah Lusi dengan menenteng beberapa dokumen di tangannya.


"Maaf Bu, saya membawa dokumen yang tadi ibu minta." kata Lusi gugup tapi juga heran.


Gugup karena saat ia masuk, ia dan Satya saling bertatapan. Heran karena melihat Fanya berada dalam pangkuan Sakti dengan santainya.


'Bagaimana ini, wajah tampan Pak Sakti masih mengitari pikiran dan perasaanku? Terlebih tadi dia sempat menatapku sekilas. Meski tanpa senyuman, tapi pesona tampannya masih terasa di hati. Sulit menghilangkan candu pesona seorang Pak Sakti yang sudah terlanjut melekat di hati. Lalu, kenapa si Fanya dengan santainya berada dalam pangkuan Pak Sakti? Ah iya, pasti Bu Syakira sudah tau hubungan mereka. Bahkan sudah dapet lampu hijau alias restu. Wajar sih. Tapi aneh aja. Fanya yang aku kenal polos, ternyata liar juga yah. Buktinya mau-mau aja dipangku mesra begitu. Kalo aku sih... pasti mau juga yah. Hihi.' batin Lusi.


Lusi terus berperang dengan pikirannya sendiri.


"Ibu Lusi ya? Silakan duduk. Biar saya duduk di sofa." ujar Satya yang membuyarkan lamunan Lusi.


"Oh iya. Terima kasih." balas Lusi gugup.


Lusi pun duduk di samping Sakti. Tentu saja masih ada Fanya yang nyaman duduk di pangkuan Sakti.


"Ini dokumennya, Bu. Silakan diperiksa." kata Lusi sembari menyodorkan dokumen yang dibawanya.


Bu Syakira menerima dokumen pemberian Lusi. Lembar demi lembar dibaca dengan seksama. Lusi melirik ke arah Fanya yang tertunduk malu.


"Kerja bagus. Lalu bagaimana penyelidikan yang sudah kamu lakukan Lusi?" tanya Bu Syakira.


"Belum menemukan hasil yang pasti. Tapi sudah mengerucut pada beberapa dugaan pelaku. Semoga segera tertangkap pelaku yang sebenarnya. Karena jujur saja, kebocoran desain ini tentu saja merugikan tim desain kita. Jadi, sebisa mungkin pelaku harus dihukum setimpal." jawab Lusi.


"Kalo mencari pelaku, kenapa nggak ngelibatin Satya aja Ma. Dia kan ahlinya mencari pelaku." tukas Sakti.

__ADS_1


"Ah benar. Yaudah, Satya tolong bantu Lusi yah!" perintah Bu Syakira yang langsung diangguki oleh Satya.


"Nah, nanti kamu akan dibantu oleh Satya. Tapi ingat, dia udah punya pacar. Jadi, jangan digoda yah. Nanti pacarnya marah besar." nasehat Bu Syakira pada Lusi.


Bu Syakira sudah mengetahui bahwa Lusi menaruh rasa pada Satya. Sudah sejak lama sebelum Satya berpacaran dengan Marina.


"Baik Bu. Tidak akan. Saya cukup tau diri." kata Lusi yang membuat Satya merasa tak enak hati.


"Bagus." kata Bu Syakira, lalu menyerahkan kembali dokumen yang sudah dibubuhi tanda tangannya kepada Lusi.


"Kalo begitu, saya permisi ya Bu." ujar Lusi pamit.


Lusi keluar ruangan dengan perasaan berdebar-debar. Masih belum biasa menata hati saat bertemu dan bertatapan langsung dengan Satya.


"Bu Lusi kenapa?" tanya Gina saat melihat Lusi melewati meja kerjanya.


"Gapapa. Lanjutkan kerjamu." jawab Lusi yang berjalan menuju meja kerjanya.


'Bu Lusi kenapa ya? Apa gugup saat melihat Pak Satya? Kurasa karena itu. Apa lagi coba? Bu Lusi tipe wanita mandiri. Sudah pasti hanya gugup kalo udah berhadapan dengan cinta.' gumam Gina.


"Tante, urusan Fanya sudah selesai kan ya? Fanya mau ngerjain laporan." kata Fanya.


"Urusan denganku udah selesai. Nggak tau kalo sama Sakti. Tanya aja sama dia." ujar Bu Syakira.


"Belum selesai dong. Aku masih kangen." bisik Sakti yang bikin Fanya merinding.


'Anak dan Mama sama aja. Kalo Tante Syakira bilang begitu kan Mas Sakti makin menjadi. Aduh, gimana ini? Aku nggak enak kalo melarikan diri di depan Tante Syakira. Tapi pingin kabur.' natin Fanya.


"Aku mau pipis. Jadi, aku ke toilet dulu yah." pinta Fanya memelas.


"Yaudah, pake aja toilet itu. Kalo di sini ada toilet, kenapa harus keluar sih?" ucap Sakti.

__ADS_1


"Tapi aku risih kalo dipangku begini, Mas. Aku mau duduk di kursi kerjaku aja. Kamu pasti masih sibuk kan? Jadi, aku nggak akan ganggu kamu." tukas Fanya jujur.


"Ah, aku lagi senggang sekarang. Makanya milih maen ke sini. Kamu nggak suka berada di dekat aku yah? Padahal kan aku kangen berat sama kamu." kata Sakti memelas.


"Kan kemaren kira baru ketemuan Mas. Nih liat, aku pake baju yang Mas belikan loh. Bagus kan?".


"Sayang, aku juga manusia. Sulit rasanya mengontrol rasa kangenku padamu. Tolong pahami keinginanku untuk bertemu denganmu. Aku sudah jauh-jauh ke sini sampai diantar oleh Satya, hanya untuk menemuimu. Bahkan dengan alibi bertemu Mamaku. Tidakkah kamu kasian padaku?" bisik Sakti, tapi Bu Syakira masih bisa mendengarnya.


Bu Syakira hanya menggelengkan kepalanya. Tidak mau terlalu ikut campur urusan percintaan putranya selama masih dalam tahapan wajar. Dia sendiri pernah muda dan mengalami hal serupa. Dulu, suaminya saat masih pacaran dengannya, juga melakukan hal-hal serupa. Namun semua itu hanya kenangan yang hanya bisa dikenang. Papa Sakti sudah beristirahat tenang di alam berbeda.


"Tapi Mas, aku mau kerja. Di sini kan aku dibayar buat kerja. Bukan untuk manjain kamu. Nanti kan sepulang kerja kita masih bisa ketemu. Itupun kalo aku nggak lembur yah. Trus kamu nggak ada meeting dadakan juga. Bisa tuh kita janjian ketemuan walau hanya sekedar makan malam di pinggir jalan. Itupun aku sudah senang." ucap Fanya.


"OK. Kamu berhasil. Kamu boleh melanjutkan kerja lagi. Tapi tunggu!" Fanya langsung menoleh menatap Sakti.


Saat Fanya menatap Sakti dengan penuh penasaran, Sakti pun segera mencium kening Fanya secepat kilat.


"Mas.... " seru Fanya dibuat kesal oleh ulah Sakti.


"Maaf. Aku hanya memberi sedikit tanda sayang. Udah yah, makasih." kata Sakti tak berdosa.


Bahkan Satya yang tadinya diam seribu bahasa, tak kuasa menahan tawa. Meski ditutupi tangannya, Fanya bisa mendengar dengan jelas. Betapa malu Fanya. Sementara Bu Syakira hanya menahan senyum melihat ulah iseng putranya.


"Sudah. Kamu boleh kembali ke tempat kerjamu. Biar Tante yang urus bocah nakal ini." kata Bu Syakira pada Fanya.


"Makasih ya Tante. Fanya pamit dulu." kata Fanya yang mencoba berdiri tapi masih ditahan oleh Sakti.


"Apa lagi?" tanya Fanya geram.


"Nggak ada umpan balik gitu? Tadi udah aku cium, kamu nggak gantian cium aku? Belanja aja kalo lebih ada kembalian. Ini masa dicium tanpa balasan." keluh Sakti.


Fanya mengepalkan tangannya. Semakin kesal oleh ulah Sakti yang berlebihan.

__ADS_1


"Sakti, jangan ganggu Fanya lagi. Fanya, kamu boleh pergi, Sayang. Biar Sakti Tante yang urus." ujar Bu Syakira.


Fanya pamit ke luar ruangan. Dia menghirup nafas lega. Berhasil bebas dari penjara Sakti. Fanya kesal bukannya tak suka dengan ulah Sakti yang manja. Tapi kesal karena malu dan risih jika dilihat langsung oleh Bu Syakira dan juga Satya.


__ADS_2