Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Lupa Rasanya


__ADS_3

Satya kembali ke kantor, menjemput Sakti dan Fanya.


"Sat, ku kira kamu nggak jadi balik ke kantor? Apa urusanmu lancar?" tanya Sakti.


"Saya kan sudah janji pada Tuan. Untuk urusan saya, sepertinya belum bisa dikatakan lancar. Masih banyak yang harus diperjuangkan." jawab Satya.


"Masalah rumit yah? Yasudah kamu boleh pulang duluan deh. Biar aku aja yang bawa mobilnya. Kamu bawa mobil operasional yang lain aja." perintah Sakti.


"Tapi Tuan..."


"Gapapa. Mas Sakti dan aku biar pulang sendiri aja. Kamu sepertinya lelah dan perlu istirahat. Pulanglah!" ujar Fanya yang baru masuk ruangan.


"Benar." kata Sakti.


"Apa Non Fanya tau, jika Marina ternyata akan dijodohkan dengan pria lain?" ucap Satya pada Fanya.


Fanya mendekati Satya yang tengah tertunduk sedih.


"Darimana kamu tau? Jujur, aku tak tau menahu mengenai hal itu. Kalaupun iya, maka perjuanganmu harus lebih keras lagi. Marina bukan tipe pembangkang pada kedua orang tuanya." tutur Fanya.


"Iya. Andai saya tau siapa orangnya, pasti saya akan mencari tau dulu bagaimana cara mengalahkannya. Tapi ini masih jadi misteri." kata Satya.


"Nanti misteri itu pasti terjawab. Kamu sabar aja dulu. Oh iya, orang tua Fanya apakah akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat?" tanya Fanya.


"Kata Marina sih begitu. Tapi belum tau kapan. Marina pun tak tau." jawab Satya.


"Oke. Kamu segera pulang saja. Istirahat sembari mengatur strategi untuk meminta restu. Aku dan Mas Sakti masih mau di sini." kata Fanya.


"Baiklah. Terima kasih Non Fanya..." kata Satya yang kemudian pergi.


Kini di ruangan hanya ada Fanya dan Sakti.


"Si Satya lumayan galau juga jika dihadapkan dengan masalah percintaan. Aku pikir dia akan kaku juga seperti wajah dan sikapnya." komentar Fanya.


"Sudahlah, jangan terlalu ikut campur urusan mereka. Nggak ngaruh pada kita juga." ujar Sakti.


"Cukup ngaruh tau! Liat aja kalo dia galau begitu, urusan pekerjaan terkendala juga kan? Yang repot kan kamu-kamu juga, Mas." ucap Fanya.


"Iya juga ya. Baru begini aja udah galaunya setengah mati. Gimana kalo sampe nggak dapet restu?" tanya Sakti.


"Ya itu urusanmu juga pastinya. Makanya jangan sampe Satya galau. Ngaruh juga loh bagi kehidupan bisnismu." jawab Fanya.


"Oke Nyonya Sakti..." kata Sakti.

__ADS_1


Fanya memeluk suaminya.


"Kenapa?" tanya Sakti.


"Apakah istri dilarang meluk suami sendiri? Masa meluk aja harus izin dulu? Atau harus punya alasan dulu?" kata Fanya balik tanya.


Sakti terhibur oleh kata-kata Fanya.


"Bagaimana bisa aku mendapatkan istri sepintar dan semenarik ini? Aku beruntung banget dapetin kamu." kata Sakti.


"Iya dong. Kamu beruntung banget loh!" seru Fanya.


"Eh Mas, pekerjaanmu udah kelar belum sih? Malah bercandaan sama aku. Aku gapapa kamu tinggal dulu. Daripada pekerjaanmu nggak kelar trus dibawa pulang. Nanti aku juga yang repot." ujar Fanya.


"Repot karena uring-uringan nungguin aku yah?" tanya Sakti.


"Bukan gitu!" jawab Fanya.


"Jujur aja. Aku sering liat kamu ngedumel sendiri gegara aku tinggalin di kamar sendirian. Kamu nggak sabar nungguin aku yang masih sibuk ngurusin kerjaan kantor di ruang kerja kan? Semuanya terpantau CCTV Sayangku, jadi pasti aku liat semuanya. Mau mengelak lagi?"


"Uhm, iya sih. Abisnya Mas Sakti suka lama. Aku nggak sabar gitu ditinggal sendirian. Nggak harus ngapa-ngapain juga, tapi aku nggak mau sendirian." ujar Fanya.


"Lah emang mau ngapain?" selidik Sakti.


"Udah ah, Mas Sakti lanjutin kerja aja. Aku mau ke kantin dulu cari makanan. Laper gegara capek diajakin bercanda mulu sama Mas. Mas mau nitip beli sesuatu nggak?" tanya Fanya.


"Emang ada apa di kulkas itu?" tanya Fanya.


"Liat aja sendiri." jawab Sakti sembari mengukir senyum.


Fanya berjalan mendekati kulkas yang letaknya berada di sudut ruangan. Saat dibuka, ia benar-benar takjub akan isinya.


"Ada aneka minuman. Jus, susu, dan minuman kemasan aneka rasa. Ada juga aneka buah-buahan segar yang menyilaukan mata. Trus aneka cake dan tiramisu kesukaanku. Ada juga aneka es krim yang seakan menggodaku. Ini lengkap banget stoknya." gumam Fanya.


Fanya mengambil tiramisu dan susu. Lalu duduk di sofa dan menikmatinya.


"Ini enak banget. Padahal dari dulu rasanya memang begini. Tapi kenapa bisa seenak ini?" tanya Fanya pada dirinya sendiri.


Sakti hanya mengamati kelakuan istrinya yang sedang menikmati tiramisu. Ia puas karena isi kulkasnya mampu menerbitkan kebahagiaan untuk istrinya.


"Enak banget...!" seru Fanya.


"Abisin Sayang kalo enak. Nanti Mas pesenin lagi kalo masih kurang." ujar Sakti.

__ADS_1


"Mas, maksudnya bukan nertawain aku kan? Ya kali aku bisa abisin semuanya. Sebelum abis udah melar deh ini badan." cicit Fanya.


"Nggak segampang itu badanmu melar. Kan kamu banyak melakukan olahraga bersamaku." kata Sakti.


"Enggak tuh. Aku nggak pernah olahraga. Selain nggak sempet juga males." kata Fanya.


Fanya lalu menyedot susu kemasan. Menghabiskannya dalam sekali sedot.


"Olahraga pembentukan otot sih nggak pernah. Tapi olahraga malam kan hampir tiap hari." ucap Sakti.


"Nggak inget. Udah lupa rasanya." kata Fanya merasa tak bersalah.


"Apa kita harus mengulangnya lagi? Mumpung ini belum malam. Mau?" tanya Sakti.


Fanya manyun mendengar pertanyaan Sakti. Padahal belum lama tadi mereka sudah menghabiskan dua ronde bercinta. Tentunya sebelum Satya datang.


"Aku udah capek Mas. Tenagaku abis. Makanya makan yang manis-manis untuk nambah tenaga." jawab Fanya.


"Tadi bilangnya nggak inget. Jadi aku mau bikin kamu inget lagi."


Fanya mencebik. Menatap kesal suaminya.


"Loh kok marah? Aku samperin ya?"


Sakti mendekati Fanya dan duduk bersama di sofa. Fanya sedikit menghindar, tapi Sakti justru merapatkan tubuhnya ke Fanya.


"Apa perlu aku ingatkan lagi?" bisik Sakti tepat di telinga Fanya.


Fanya mencoba mengambil jarak. Sedikit menjauhkan tubuhnya dari Sakti.


"Semakin kamu menjauh, maka akan semakin ku kejar." bisik Sakti lagi.


Fanya dibuat merinding oleh suaminya.


"Kok suasanya jadi horor begini sih? Aku jadi merinding. Seperti ada yang berbicara, tapi tak ada wujudnya. Apakah hantu apa gimana?"


Sakti memeluk istrinya yang pura-pura resah karena sesuatu.


"Ayo kita ulangi lagi sebelum kita pulang. Masih ada waktu untuk kita memadu kasih. Selain karena aku suka, aku juga ingin membuktikan padamu bahwa hubungan kita sdalah hubungan yang sehat. Aku akan senantiasa menyenangkanmu. Termasuk saat olahraga malam. Ayo kita ulangi lagi permainan kita! Rasanya belum puas jika belum bisa membuatku ingat rasanya..." canda Sakti.


"Sudah Mas, sudah! Aku sudah ingat. Jadi tak perlu diingatkan lagi ya." kata Fanya.


Sakti tak menghiraukan apa yang Fanya katakan. Ia menggendong Fanya menuju ruangan rahasia miliknya.

__ADS_1


"Mas, aku mau dihajar lagi? Aku...." belum sempat diteruskan.


"Bukan dihajar, aku mau membuatmu ingat rasanya. Itu saja!" ujar Sakti tersenyum nakal.


__ADS_2