
Pulang kerja, Fanya menyempatkan diri mampir ke sebuah minimarket. Ia ingin bersantai sejenak di sana sembari membeli beberapa camilan untuk dibawanya pulang.
Saat memilih camilan keripik, ia tak sengaja menjatuhkan keripik kemasan itu. Sebelum ia mengambilnya, seseorang sudah lebih dulu mengambilnya. Lalu menyodorkan ke arah Fanya. Fanya menerimanya. Lalu bilang terima kasih tanpa melihat siapa orangnya.
Fanya menaruh keripik kemasan tersebut dalam keranjang belanjaannya. Ia pun kembali meneruskan pencariannya. Mencari camilan lain yang akan menemaninya kala ia bersantai di rumah.
"Apa kabar?"
Fanya masih fokus dengan pencariannya. Ia merasa tak perlu menjawab karena mungkin sapaan itu bukan untuknya.
"Fanya, masih ingat aku?"
Merasa namanya disebut, Fanya pun menoleh ke sumber suara. Dimana seorang pria dengan postur tinggi tengah menatapnya.
"Siapa ya?" tanya Fanya merasa tak kenal dengan seseorang yang memanggilnya.
"Aku Bian. Temennya Fandi, kakakmu. Kamu lupa aku?"
Fanya berusaha mengingat siapa saja teman-teman dari kakaknya. Alhasil ia mulai teringat sosok Bian yang dulu sangat diidolakannya karena permainan basketnya.
"Apa sudah ingat?" tanya Bian lagi.
"Sepertinya kakak kelas yang jago basket itu bukan? Maaf, aku rada lupa." jawab Fanya.
"Hanya bisa aja. Bukan jago banget. Kemampuanku masih standar aja." kata Bian merendah.
"Oh oke. Mas masih mau di sini? Aku mau pergi setelah bayar ini." ujar Fanya.
"Iya. Aku masih di sini. Masih ada yang aku cari. Yasudah sampai berjumpa lagi jika ada kesempatan." ujar Bian sedikit kecewa.
Fanya pun perlahan berjalan sambil menenteng keranjang belanjaannya, menjauhi Bian yang seakan masih berharap ngobrol dengannya.
"Bian!" panggil seorang wanita yang tengah berbadan dua alias hamil.
"Iya, aku di sini. Ada apa? Apa sudah selesai milih barangnya?" tanya Bian pada wanita hamil itu.
"Sudah Sayang. Tapi aku mau ditemani kamu belanja baju keperluan bayi kita." jawab Ola, istrinya Bian.
"Mau aja. Tapi mau belanja di mana? Kamu udah nentuin tempatnya apa terserah aku?" tanya Bian lagi.
'"Ada tempat yang ingin aku tuju. Tapi sebelum itu, kamu bayar dulu yah belanjaanku. Aku mau nunggu di tempat duduk sana aja!" jawab Ola sembari menyodorkan keranjang belanjaannya berisi susu hamil dan lainnya.
Bian menuju ke arah kasir dimana di sana ada Fanya yang masih mengantri pembayaran.
"Loh masih ngantri? Kirain udah pulang?" tanya Bian memulai percakapan.
"Iya. Tadi masih ada yang harus dicari. Mas Bian tinggal di sekitaran sini?" kata Fanya balik tanya.
__ADS_1
"Iya. Belum lama menetap di sekitaran sini." jawab Bian.
Fanya hanya manggut-manggut mencerna jawaban Bian. Mata Fanya tertuju pada sebuah benda kotak bergambar wanita hamil.
"Mas Bian beli susu hamil buat istrinya?" tanya Fanya yang mulai kepo.
"Iya. Istriku sedang hamil. Tuh, dia lagi nunggu aku di sana!" Bian menunjuk ke arah seorang wanita hamil yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Uhm itu. Cantik istrinya Mas Bian." puji Fanya saat menatap istri Bian dari kejauhan.
"Masih cantik kamu lah..." seloroh Bian tak sadar dengan apa yang diucapkannya.
"Iya, istriku memang cantik." ujar Sakti yang tiba-tiba datang.
"Mas Sakti sudah di sini aja. Aku lagi beli camilan nih, Mas." ucap Fanya dengan rona bahagia.
"Mas Bian, perkenalkan ini Mas Sakti. Suami Fanya." kata Fanya memperkenalkan Sakti pada Bian.
"Dan ini Mas Bian. Temen dekatnya Mas Fandi." kata Fanya lagi.
Sakti dan Bian saling berjabat tangan dan memperkenalkan nama masing-masing.
"Sebelah sini Kak!" seru kasir pada Fanya.
Fanya bergegas mendekati kasir untuk melakukan transaksi belanja.
"Kayaknya kita perlu kencan dulu deh. Waktu pacaran kita pasca menikah harus ditambah sebanyak mungkin." ujar Sakti.
"Oh iya, Mas Bian, kami permisi dulu yah! Salam juga sama istrinya." ucap Fanya berpamitan pada Bian.
"Iya, nanti aku sampaikan!" ujar Bian terpaksa tersenyum.
Entah kenapa, Bian tiba-tiba kesal saat melihat Sakti menggandeng pinggang Fanya dengan begitu mesra. Ada perasaan iri dalam hatinya.
"Mas, totalnya tiga ratus delapan puluh empat ribu rupiah. Mau dibayar cash atau debit?" tanya kasir pada Bian yang masih mematung memandangi Fanya dan suaminya.
Bian masih bengong, pikirannya tiba-tiba kacau dan tak fokus. Kasir pun memanggilnga ulang hingga Bian dibuat kaget.
"Maaf Mbak, ada sesuatu yang saya pikirkan. Jadi semua berapa?" tanya Bian.
"Totalnya tiga ratus delapan puluh empat ribu rupiah. Mau dibayar cash atau debit?"
"Debit aja Mbak." ujar Bian.
Selesai melakukan transaksi pembayaran, Bian menghampiri Ola, istrinya.
"Ayo kita ke Mall, beli keperluan bayi kita!" ajak Bian.
__ADS_1
"Oke deh. Tapi terserah aku yah mau beli dimana? Banyak yang mau aku beli." kata Ola manja.
"Iya." ujar Bian pasrah.
..."Eh tapi tadi siapa ya? Kamu kenal sama wanita yang tadi itu? Aku liat loh!" tanya Ola kepo....
"Itu adiknya temenku dulu pas jaman SMA." jawab Bian.
"Cantik banget dia. Itu dari dulu dia emang secantik itu apa udah kena efek perawatan?"
"Setauku dia emang seperti itu dari dulu. Nggak ada yang berubah." jawab Bian datar, pikirannya melanglang buana membayangkan Fanya.
"Oh jadi emang dari dulu sudah cantik. Iya kan Sayang?" selidik Ola pada Bian.
"Iya dia cantik. Eh tapi masih cantikan kamu..." Bian gelagapan bingung dengan jawabannya.
"Jangan bilang dia cinta pertamanya kamu. Iya?" Ola memastikan dengan penuh penekanan.
Beberapa orang di sana memperhatikan interaksi pasangan ini.
"Bukan begitu. Bagiku cantik itu standar. Tapi dulu memang aku sempat tertarik padanya. Itu kan sebelum aku kenal kamu." ujar Bian mencoba menenangkan hati istrinya.
"Sudahlah. Kita pulang aja. Aku jadi nggak minat belanja sekarang." kata Ola dengan nada ketus.
Sementara itu, Fanya dan Satya sudah masuk ke dalam mobil. Kali ini Satya tak ikut bersama mereka. Karena sebelumnya Sakti ingin quality time bersama Fanya.
"Tumben si tampan Satya nggak kamu ajak?" tanya Fanya.
"Dia masih ada kerjaan di kantor." jawab Sakti ngasal.
"Anak buahnya masih kerja aja. Trus bossnya kelayapan gini?" sindir Fanya.
"Gapapa. Kan bossnya udah punya istri. Suka-suka dialah kalo pulang cepet. Lagipula Satya juga nggak ada yang nungguin kan? Gapapa dia lembur aja, biar tabungannya makin banyak buat biaya nikah!" ujar Sakti.
"Hmm, bisa-bisanya..." Fanya terkekeh mendengar jawaban Sakti.
"Kamu ternyata banyak juga yah penggemarnya." kata Sakti pelan.
"Penggemar apa? Aku bukan artis, Mas. Siapa juga yang mau jadi penggemarku." ujar Fanya.
"Contohnya pria yang ada di minimarket tadi. Dia kan salah satu penggemarmu. Iya kan?"
"Ah bukan! Kebetulan kenal aja, Mas. Dia kan temen Mas Fandi. Penggemar katamu, ah yang bener aja." Fanya kembali tertawa.
'Fanya tak sadar jika pria itu diam-diam menaruh rasa padanya. Aku kurang jelas dengan masa lalu perkenalan mereka seperti apa. Yang aku tau, dari tatapan pria itu, sangat jelas bahwa dia menyimpan rasa pada Fanya.' batin Sakti.
"Ayo Mas, segera tancap gas! Katanya tadi mau kencan? Jadi nggak?" tanya Fanya.
__ADS_1
"Ayo!"