
Fanya merapikan berkas-berkas di meja kerjanya. Membuang kertas yang tak terpakai ke tempat sampah. Menempelkan kembali catatan deadline yang tersebar.
"Fanya, kamu dijemput?" tanya Gina.
"Iya. Aku dijemput suami. Sekalian mau mampir ke acara resepsi sahabatku. Kamu gimana?"
"Aku naik ojek aja. Hari ini mau jadi LC lagi. Aku lagi butuh dana banget. Doain lancar-lancar aja yah urusanku." kata Gina.
"Loh masih lanjut aja? Nggak ada kapoknya yah kamu?" tanya Fanya.
"Nggak ada pilihan lain. Saudaraku di kampung lagi sakit keras, butuh biaya berobat yang tak sedikit. Minimal aku harus bantulah. Ringanin beban orang tuaku. Yaudah, aku jalan yah. Salam buat suamimu!" seru Gina bergegas pergi.
"Kenapa kasih salam buat Mas Sakti? Ada-ada aja tuh bocah!" gumam Fanya.
"Sayang, malam ini kamu dan Sakti ada acara nggak? Bermalam di rumah Mama aja ya. Mama pingin kalian nginep di rumah Mama." kata Bu Syakira yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Fanya.
Fanya berbalik menatap mertuanya.
"Maaf Mama, kami sudah ada rencana menghadiri resepsi pernikahan sahabat Fanya. Namanya Clara. Kayaknya pulangnya malem deh. Jadi kayak kurang etis kalo kami ke tempat Mama, tengah malam gitu. Tapi Fanya janji, lain kali kami akan menginap di rumah Mama." ujar Fanya mencoba menjawab dengan bijak.
"Uhm, gitu yah. Baiklah kalo gitu. Mama tunggu kedatangan kalian yah. Yaudah, Mama pulang duluan yah. Mau ke tempat temen Mama. Janjian kocok arisan." kata Bu Syakira, yang kemudian berlalu.
Fanya merapikan kembali penampilannya. Menyisir rambutnya sekaligus membenarkan make up nya. Ia sudah berganti baju setengah jam yang lalu, sebelum jam pulang.
"Mas Sakti jadi jemput aku nggak ya? Apa aku telpon dia aja? Ah jangan deh, takutnya masih di jalan. Nanti nyetirnya nggak fokus." gumam Fanya.
Karena di ruangan sepi, akhirnya ia memilih menunggu Sakti di ruang tunggu lobby. Lima belas menit kemudian, Sakti baru muncul.
"Maaf Sayangku, aku tadi kejebak macet. Ada kecelakaan. Kamu sudah lama nunggunya? Maaf yah membuatmu harus menunggu dengan tidak layak begini. Aku minta maaf!" kata Sakti merasa bersalah.
Fanya mencoba tersenyum. Ia pun menggandeng lengan Sakti.
"Tidak apa Mas. Aku tak marah ataupun kesal padamu. Ayo kita jalan sekarang!" ajak Fanya.
"Syukurlah kalo kamu baik-baik saja. Aku tadinya khawatir kamu marah padaku." ujar Sakti.
"Tidak. Mas bawa mobil sendiri apa disupirin Satya?"
"Noh sama Satya. Dia kekeuh mau nganterin. Gapapa kan?"
"Iya Mas. Gapapa. Ayo!" ajak Fanya untuk segera memasuki mobil.
Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke lokasi resepsi pernikahan Clara dan Robi. Padahal biasanya kalau sedang dalam kondisi lancar, hanya butuh waktu sekitar 10 menit saja. Efek dari macet yang luar biasa melelahkan.
"Nah, kita sudah sampai Tuan Sakti." kata Satya.
__ADS_1
"Kamu turun juga nggak?" tanya Fanya pada Satya.
"Tidak Nona. Saya tak berkepentingan di sini. Saya akan menunggu saja. Silakan kalian masuk saja. Jangan hiraukan saya!" ujar Satya.
"Oke." balas Sakti.
Sakti dan Fanya memasuki gedung mewah dimana resepsi pernikahan Clara dan Robi diselenggarakan. Mereka melewati pemeriksaan yang ketat. Dimulai dari menunjukkan undangan, cek barang bawaan, cek suhu, mengisi buku tamu, dan terakhir diambil dokumentasi.
"Belum juga ketemu kedua mempelai, kita udan difoto aja." ujar Fanya.
"Mungkin standarisasinya begini. Buat arsip siapa aja yang datang ke tempat ini. Ayo kita salaman pada kedua mempelai!"
"Iya Mas."
Mereka naik ke panggung. Menyalami kedua mempelai yang tengah berbahagia.
"Akhirnya kamu datang juga! Kirain absen dateng. Nggak jadi dicoret deh dari daftar pertemanan." celoteh Clara.
"Enak aja! By the way, selamat yah Clara dan Robi. Kalian telah berjodoh menjadi pasangan suami istri. Selamat dan semoga berbahagia selalu!" doa Fanya.
"Aamiin Fanyaku Sayang. Yaudah yuk foto yuk!"
Fanya dan Sakti berfoto dengan Clara dan Robi. Berbagai pose mereka lakukan untuk mendapatkan foto-foto yang akan menjadi momen kenangan.
"Silakan makan hidangannya. Semoga sesuai selera!" bisik Clara pada Fanya.
"Oke." kata Fanya.
Fanya dan Sakti menuju tempat catering disajikan. Mereka memilih menu untuk dicicipi.
"Aku terima telpon dulu yah. Di sini rada berisik. Nggak lama kok!" kata Sakti.
Fanya hanya mengangguk dan kembali memilih menu yang tersaji. Setelahnya, ia duduk di kursj yang telah disediakan.
"Hai, apa kabar?" sapa Harlan dengan senyum di bibirnya.
"Baik. Kamu diundang juga sama Clara ya?" tanya Fanya.
"Enggak. Mana mau dia menyapaku, apalagi mengundang. Aku sodaranya Robi. Jadi pasti aku datenglah buat support Robi. Eh kamu makin cantik aja deh kalo diliat-liat. Aku nyesel udah pisah sama kamu. Harusnya aku nolak saat kamu putusin aku!" kata Harlan.
"Kalo kamu nolak putus, gimana bisa aku menikah dengan suamiku sekarang?"
"Dia ikut?" tanya Harlan.
"Ikut. Tuh liat, pria tampan di sebelah sana!" tunjuk Fanya ke arah Sakti yang sedang bertelepon.
__ADS_1
"Pria berjas biru itu? Dia suamimu?" tanya Harlan.
"Iya. Lumayan ganteng kan? Aku nggak salah pilih kan? Yang lebih ganteng dari kamu banyak! Jadi saat dulu aku pernah diremehkan oleh kedua orang tuamu, aku berasa menang sekarang. Aku mendapatkan berlian setelah meninggalkan emas. Kamu kan dianggap emas oleh orang tuamu. Jadi sepaptutnya aku bersyukur dan berbahagia." jawab Fanya.
"Tapi kan mereka belum benar-benar mengenalmu. Mereka taunya aku lagi deket sama Linda. Jadi bagi mereka, Linda yang lebih unggul dari kamu." ujar Harlan mengiba.
"Bagus dong." kata Fanya.
"Aku ke sini bareng Linda. Kami sudah bertunangan." cerita Harlan.
"Oke. Lalu dimana dia? Harusnya kamu temani dia. Malah ngajakin ngobrol mantan." sindir Fanya.
"Tapi salah nggak sih kalo aku masih berharap kita bisa balikan lagi?" tanya Harlan pelan.
"Salah!" seru Sakti.
"Kamu suaminya Fanya ya?" tanya Harlan kaget.
"Iya, aku suaminya. Tolong Anda jaga jarak dengan istri saya. Oke, kalian mungkin pernah menjalin sebuah hubungan di masa lalu. Tapi ingat, Fanya sekarang sudah sah menjadi istri saya. Jangan mengganggu hubungan kami. Urusi saja kisah percintaanmu sendiri!" seru Sakti yang menatap tajam Harlan.
"Ada apa ini?" tanya Linda yang ikut bergabung.
"Tidak apa-apa, Lin. Hanya salah paham." jawab Harlan santai.
"Apa maksudmu salah paham? Berani berharap balikan dengan mantan itu cuma salah paham? Hei wanita, tolong jaga baik-baik pacarmu ini. Jangan sampai dia mengusik Fanya lagi. Atau akan berurusan denganku." kata Sakti.
Linda paham maksud Sakti. Ia menatap tajam Harlan. Lalu pergi begitu saja.
"Linda, tunggu aku!" seru Harlan, mengejar Linda yang meninggalkannya.
Sakti mendekati Fanya yang sedang menikmati makanannya.
"Kenapa diam saja? Harusnya memanggilku tadi. Udah sah jadi istri orang aja, masih banyak aja yang ngedeketin kamu.." ujar Sakti.
"Halah masalah kecil. Bukan apa-apa. Aku bisa mengurusnya sendiri. Tadi siapa yang telpon?"
"Sekretarisku. Dia izin mau cuti selama beberapa hari. Katanya ibunya sedang dirawat di Rumah Sakit. Jadi dia harus menjaganya selama beberapa hari." ujar Sakti.
"Trus posisi sekretaris kosong dong. Aku deh yang gantiin!" ucap Fanya ngasal.
"Aku sih mau aja. Tapi kalo kamu yang jadi sekretaris, aku takut malah nggak bisa fokus kerja. Takut yang dikerjain lain." bisik Sakti.
"Oh, takut maen mulu yah?" tanya Fanya dengan tatapan menggoda.
"Nah kamu paham." jawab Sakti.
__ADS_1