
Saat jam pulang kerja, Sakti dengan sabar menunggu Fanya. Dengan bersandar di mobilnya, ia memantau dengan jeli tanda-tanda kehadiran Fanya yang tak juga muncul di hadapannya. Ia rela menjadi tontonan gratis karyawan yang lain hanya untuk membuktikan bahwa dirinya sabar menanti kekasihnya.
"Tuan, silakan menunggu di mobil saja. Nona Fanya juga pasti risih jika Tuan menunggunya terang-terangan seperti ini." kata Satya dari dalam mobil.
"Tidak perlu. Aku tunggu di sini saja." ujar Sakti konsisten dengan niatnya.
"Baik Tuan." Satya pasrah dengan jawaban Sakti.
Hampir setengah jam menanti, akhirnya Fanya keluar dari butik dengan senyum sumringah. Tentu saja setelah melihat wajah rupawan kekasihnya yang sangat dicintainya.
"Hai Tuan Sakti. Apakah lama menungguku? Maaf yah, tadi ada sedikit kerjaan tambahan. Jadi lama ya. Uhm, Tuan Sakti memiliki pesona yang luar biasa. Dari jauh, aku merasa silau dengan pesona Tuan. Takutnya, aku jatuh cinta pada Tuan. Apakah boleh?" ujar Fanya manja.
"Tuan? Kamu kayak Satya aja. Yaudah yuk naik! Aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Eh tapi kamu punya tempat yang mau dikunjungi nggak?".
"Aku Fanya Asmara, mengikuti kemanapun Mas Sakti pergi. Yuk ah kita berangkat!" seru Fanya memasuki mobil Sakti.
"Hati-hati." kata Sakti.
"Lah tumben Mas Satya ikut juga? Seharusnya ada Marina juga nih. Biar kita jadi double date. Kan lebih asik. Apa aku telpon Marina yah?" tanya Fanya.
"Jangan Nona. Dia sedang ada meeting dengan klien yang akan sewa tempat. Jadi sudah pasti dia sibuk dan tak bisa diganggu." jawab Satya.
"Oh begitu." Fanya manggut-manggut.
"Kita ke apartemenku aja." perintah Sakti pada Satya.
"Baik Tuan." kata Satya patuh dan segera melajukan mobilnya.
Fanya langsung berpikiran negatif saat Sakti mengatakan apartemen.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku mau mengajakmu ke apartemen bukan untuk berbuat mesum." sontak Fanya memeluk dirinya sendiri.
"Lalu?" tanya Fanya penasaran.
"Akan ada kejutan. Lihatlah nanti." jawab Sakti.
Hampir sejam mereka menghabiskan perjalanan karena macet. Jam pulang kerja memang jamnya macet.
"Nah, kita sudah sampai. Ayo masuk!" ajak Sakti.
Fanya menuruti Sakti. Ia terlebih dulu masuk ke apartemen milik Sakti. Tidak sebesar rumahnya, tapi tetap terkesan mewah dan artistik. Fanya berkali-kali berdecak kagum menikmati keindahan dan kenyamanan apartemen Sakti.
"Loh, tadi Mas Satya nggak ikut masuk? Kok cuma kita berdua? Aku jadi takut kalo hanya berduaan denganmu seperti ini, Mas." ucap Fanya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Sakti mendorong tubuh Fanya hingga ke tembok, menguncinya rapat-rapat.
"Ini maksudnya apa?" tanya Fanya gemetaran.
Sakti menyeringai membuat Fanya bergidik ngeri. Lantas ia menutup matanya, berharap Sakti tidak melakukan hal buruk padanya.
"Takut?" tanya Sakti.
Fanya membuka matanya. Menatap wajah Sakti dengan ketakutan. Sakti tersenyum mendapati kekasihnya yang benar-benar ketakutan.
"Aku takut...." lirih Fanya gemeteran.
Sakti mendekap erat kekasihnya. Fanya ingin memberontak, tapi terlanjur gemeteran. Ia menjatuhkan tasnya ke lantai hingga isinya berantakan. Sakti menciumi pipi dan kening Fanya dengan gemas. Fanya pasrah, keringat dingin bercucuran membasahi dahinya.
"Kenapa takut? Bukankah kita sudah sering melakukannya?" tanya Sakti.
"Aku belum siap. Aku takut." jawab Fanya gugup.
"Memangnya belum siap kenapa? Kita sudah biasa melakukannya bukan? Apanya yang ditakutkan?" tanya Sakti lagi.
"Pasti sakit. Aku takut." jawab Fanya ambigu.
Sakti berpikir keras tentang jawaban Fanya.
"Sayang, aku sudah berkomitmen menjagamu. Hal seperti itu akan kita lakukan nanti setelah halal. Tidak sekarang. Ya maaf jika kelakuanku tadi membuatmu takut. Aku hanya ingin menggodamu saja. Kejutan yang kamu tunggu belum datang. Jadi tunggu sebentar lagi." penjelasan Sakti.
Sakti mencoba menenangkan Fanya yang sudah berlinang air mata. Terdengar pintu diketuk.
"Siapa?" tanya Fanya sesenggukan.
"Entahlah. Yuk kita lihat bareng." ajak Sakti sambil menggandeng bahu Fanya.
Saat pintu dibuka, muncullah beberapa orang yang dikenali Fanya.
"Kalian? Hiks..." Fanya tak kuasa menahan haru dan menangis sejadinya.
Tamu yang datang adalah keluarga Fanya. Sakti jauh-jauh mendatangkan mereka dari luar kota. Ada kedua ortu, kakak laki-laki dan istrinya, serta keponakan Fanya yang masih bayi.
"Ibu kangen kamu, Nak! Sudah lama kamu tidak pulang kampung. Bahkan pernikahan kakakmu saja, kamu tak datang. Lihat, ini istri kakakmu. Kamu kenal dia kan? Dan bayi kecil itu adalah keponakanmu." kata Bu Anya, ibunya Fanya.
Fanya hanya mengangguk dan memeluk erat ibunya. Meluapkan kerinduan sebab lama tak jumpa dan permintaan maaf karena lama tak pulang.
"Iya Dik. Mas sudah nikah dan punya anak. Dan yang Mas nikahi adalah Lastri, kakak kelasmu dulu." kata Fandi, kakak Fanya.
__ADS_1
"Iya Mas. Mbak Lastri apa kabar? Nggak nyangka Mbak menikah dengan Mas Fandi. Padahal emang dulu aku niatnya mau kenalin Mbak sama Mas Fandi. Ternyata emang Mas Fandi adalah jodohnya Mbak. Selamat ya Mbak dan Mas atas pernikahan kalian. Maaf waktu itu aku nggak bisa datang saat acara sakral kalian. Dan, putra kalian begitu menggemaskan. Boleh aku gendong?" Fanya membentangkan tangannya.
Dengan hati-hati, Fanya menerima bayi kecil itu dalam gendongannya. Fanya tersenyum memandangi keponakannya, yang menurutnya sangat mirip dengan Fandi.
"Mirip banget sama Mas Fandi yah?" tanya Fanya.
"Yaiyalah, aku kan bapaknya." jawab Fandi.
Sakti ikut bahagia menyaksikan interaksi keluarga Fanya.
"Eh Nak Sakti, terima kasih atas bantuannya. Berkat Nak Sakti, kami sekeluarga akhirnya bisa berkumpul di sini." ucap Pak Fahmi, ayah Fanya.
"Sama-sama Pak. Lagipula, tujuan saya kan agar Fanya bisa bahagia jika dipertemukan kembali dengan keluarganya." kata Sakti.
"Permisi!" kata Satya yang tiba-tiba datang membawa tentengan makanan dan minuman.
"Ini siapa lagi?" tanya Bu Anya bingung, sebab yang dia tau, Sakti adalah anak tunggal.
"Oh, ini Satya yang bekerja dengan saya." jawab Sakti.
Lalu semua berkumpul di ruang tengah sambil menonton TV. Tentu saja Fanya tak bisa lepas dengan terus menggendong keponakan satu-satunya.
"Namanya siapa tadi Mbak?" tanya Fanya pada Lastri yang duduk di sebelahnya.
"Namanya Riandi. Panggil aja Rian. Dia nurut juga yah sama kamu. Biasanya suka rewel dan nangis kalo digendong orang yang baru ditemuinya." jawab Lastri.
"Ah, karena dia lihat tantenya cantik sih. Jadi pasti mau digendong lama-lama. Ah coba Mas Sakti sini deh. Mau nggak ya kalo sama Mas Sakti!" seru Fanya.
Sakti pun mendekat. Mencoba mengambil Rian dari gendongan Fanya. Dan berhasil. Rian tetap terlihat sumringah dan tenang.
"Wah, Mas Sakti sudah cocok jadi ayah. Tuh Rian diem aja. Om Sakti ganteng ya Rian?" ucap Fanya.
"Iya dong. Kan sudah waktunya. Kalo Bapak dan Ibunya Fanya merestui Sakti jadi mantu, yah kita bikin yang kayak gini ya." goda Sakti pada Fanya, namun semua ikut mendengarnya.
"Itu sih tergantung Fanya juga. Mau apa enggak." kata Pak Fahmi.
Jawaban Pak Fahmi membuat Sakti merasa tersentil.
"Nanti saya akan atur pertemuan antara Bapak-Ibu dengan Mama saya." ujar Sakti serius.
"Akhirnya, ada juga yang mau ngajakin serius adiknya Mas." goda Fandi.
"Apaan sih Mas. Malu tau digodain mulu." seru Fanya dengan pipi merona karena malu.
__ADS_1