Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Masih Saja Dibenci


__ADS_3

Henny yang tadi niatnya diet, memutuskan untuk menundanya sementara waktu. Lebih memilih menikmati pizza pemberian Bu Syakira.


"Enak juga makan pizza." ujar Henny sumringah.


"Lah tadi katanya Kak Henny mau diet yah. Makanya nggak ikutan makan siang bareng yang lain."


"Halah, lupain dulu dietnya. Pizza ini lebih enak dimakan saat hangat-hangat begini. Ayo kamu makan juga. Mumpung masih anget nih. Enak banget tau...." cerocos Henny yang hendak menikmati potongan pizza yang lain.


"Iya deh iya." kata Fanya yang ikut menikmati pizza tersebut.


Pizza seloyang ukuran sedang sudah tandas dilahap Fanya dan Henny.


"Uwaaaa, aku kenyang. Nikmat banget. Abis ini janji diet lagi deh." seru Henny.


"Kak Henny ngapain sih pake diet segala? Badan udah langsing gitu kok."


"Ah kamu belum ngrasain kehidupan berumah tangga ya? Dimana si istri diharuskan memiliki penampilan yang WOW untuk sang suami. Itu tujuannya agar sang suami tidak menghianati si istri dengan lebih melirik wanita lain. Aku mah harus jaga penampilan pokoknya. Kudu jaga penampilan semaksimal mungkin!" ujar Henny sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Kak Henny udah punya anak belum sih?" tanya Fanya lagi.


"Udah. Punya anak satu, cowok umur 8 tahun." jawab Henny.


"Udah punya anak, tapi badan masih aduhai begitu. Ngirinya daku...." seru Fanya.


"Kan rajin diet. Kalo kamu beda cerita kali ya. Yaudah aku mau ke mejaku. Ini kamu rapiin yah sisanya. Maaf nggak bantuin beresin."


"Iya Kak."


Tak lama setelah itu, rombongan Lusi CS kembali dari makan siang. Tampak wajah-wajah berbinar dengan tangan mengelus perut masing-masing.


"Sayang banget lo nggak ikut, Fanya. Kami semua bersenang-senang tanpa lo. Makan sepuasnya dengan menu yang enak-enak. Ah, kenyangnya. Rugi lo nggak ikut!" ledek Gina.


"Gapapa. Aku juga sudah kenyang. Tadi makan pizza pemberian Bu Syakira. Sama aja kan? Sama-sama kenyang. Nggak rugi juga." ujar Fanya santai.


Gina langsung melirik tempat sampah. Terlihat kardus coklat bungkus pizza tergeletak di sana.


"Oh jadi asupan gizi dari sang calon mama mertua yah. Pantes, orang dalem. Yaudah, gue nyerah." kata Gina.


"Gin, kemari!" panggil Lusi.

__ADS_1


Gina segera mendatangi meja Lusi. Lusi menyodorkan brosur dan semacamnya.


"Tolong kamu pelajari ini. Nanti untuk selanjutnya, kamu yang menanggung alih tanggung jawab kegiatan ini. Sementara kamu dalami materi dulu biar nggak kaget. Kamu bisa minta bantuan Fanya. Dia kan paling tau medan areanya. Jadi pasti hasilnya akan lebih maksimal nanti." perintah Lusi.


"Baik Kak." jawab Gina menurut.


'Seorang Gina yang sudah bekerja di sini selama 2 tahun, harus meminta bantuan pada anak baru yang baru bekerja selama kurang lebih 2 bulan? Ini benar-benar sudah gila. Dimanakah letak harga diriku nanti? Gue nggak bakal minta bantuan seujung kuku pun padanya. Najis parah!' batin Gina.


"Tunggu apa lagi?" tanya Lusi lagi.


"Ah iya. Sudah Kak." jawab Gina yang langsung bergegas ke meja kerjanya yang bersebelahan dengan Fanya.


Gina menatap Fanya dengan kesal. Sungguh, hanya Fanyalah satu-satunya manusia yang membuatnya bad mood. Mungkin status single yang disandangnya tak seberapa dibandingkan dengan kebenciannya terhadap Fanya.


"Kenapa sih kamu benci banget sama aku?" tanya Fanya pelan, yang hanya didengar oleh Gina seorang.


Gina mendekatkan bangkunya ke meja Fanya.


"Kenapa bisa benci? Karena lo itu sumber masalah. Bayangin aja, hari-hari gue selama kerja di sini ibarat seperti neraka. Jujur, gue udah nggak nyaman kerja di sini. Lo itu kayak sampah yang sok berperan jadi putri raja. Dan ya, lo itu...." belum sempat diteruskan tiba-tiba sudah ada Henny di samping Gina.


"Apa ya? Kasih tau dong?" tanya Henny sok kepo.


"Kan, ku bilang apa. Fanya itu baik. Nggak kayak yang di sebelahnya itu. Suka nebar fitnah dan suka iri hati." celetuk Henny, lalu pergi begitu saja.


"Nasib baik Henny belain lo. Kalo nggak, lo abis di tangan gue!" kata Gina pelan dengan ekspresi wajah sarkas.


"Tenang, yang waras ngalah aja dulu. Sabarin aja sampe gunung es mencair." ujar Fanya berusaha menenangkan diri.


Beberapa saat kemudian.


"Teman-teman desainer termasuk kamu juga Fanya." Lusi menunjuk Fanya yang sedang mengetik pesan.


"Eh." Fanya kaget.


"Malam ini kita harus lembur untuk menyelesaikan proposal desain untuk presentasi besok." tandas Lusi.


"Loh, bukannya minggu depan yah jadwalnya. Kemaren aku cek seperti itu." kata Henny yang baru muncul lagi.


"Kamu salah. Mereka merevisi jadwalnya. Jadi, besok kita harus menyelesaikan proposal desain kita untuk dipresentasikan di depan merek." balas Lusi.

__ADS_1


"Kok dadakan sih?" tanya Gina merasa tidak adil.


"Ya namanya bisnis ya begini. Masalahnya kompetitor kita juga ikut presentasi besok. Kalo kita kalah start, bisa saja kita kalah. Karena siapa yang menang dan lulus sesuai kriteria mereka, tentu saja akan diikutkan dalam pameran internasional beberapa minggu lagi. Hebat kan?" Lusi menjelaskan.


"Maksud Kak Lusi, mereka itu siapa ya?" tanya Fanya yang memang tak paham.


"Juri Masterchef!" celetuk Gina.


"Hah?" Fanya tak percaya.


"Mereka adalah investor penyelenggara pameran yang sudah mumpuni dan kaya raya. Sayang kan jika itu terlewat begitu saja?" ujar Henny.


"Wah, luar biasa. Mari kita rebut juara pertama. Juara harapan masa depan yang lebih baik dan terpercaya." seru Lusi berjingkrak semangat.


Sementara yang lain tampak lemas. Sudah merasa bosan dengan kata 'lembur' yang diikrarkan oleh Lusi.


"Bisa nggak Gina nggak ikut lembur? Ada acara keluarga soalnya." ujar Gina memelas.


"Keluarga? Kamu kan jauh sama keluarga. Kamu kan ngekost di sini? Pacar juga nggak punya. Kenapa buru-buru mau pulang ontime? Aneh deh. Ngehindar banget setiap diajakin lembur. Lembur juga dibayar loh!" ledek Ica.


Ica si anak pendiam, yang jika sudah bicara, ada benarnya juga. Omongannya frontal, bahkan tak segan-segan menyakiti lawan bicara.


"Ah iya, benar juga. Ngapain yah kira-kira? Apa Gina punya double job?" celetuk Ica.


Gina mulai kesal dengan perkataan Ica yang seakan menyudutkannya. Ia sendiri memang punya double job. Tapi ia merasa tak memungkinkan jika ia mengatakannya. Ia malu mengakui profesinya yang lain.


"Pokoknya Gina nggak ikut lembur yah." ujar Gina.


"Kan...." seru Ica.


"Eh Ca, lo ngapain sih sok iye? Yaudah lo aja gih yang lembur. Gue tuh ada acara keluarga. Nggak bisa kok maksa sih!" kata Gina sewot.


"Ye, nggak usah sewot gitu juga kali yah. Slow down baby.... Aku tuh taunya kamu punya sisi lain." kata Ica.


"Bodo amat ah." kata Gina yang meninggalkan meja kerjanya.


"Dia kemana?" tanya Ica pada Fanya.


"Nggak tau. Mungkin mau ke toilet." jawab Fanya ngasal.

__ADS_1


"Dasar bocah tengil! Liat aja, ntar juga bakal ketahuan kalo dia tuh LC alias Lady Companion alias pemandu lagu. Ya aku nggak tau jelas yah. Dia cuma pure pemandu lagu aja atau membuka jasa plus-plus juga. Nggak tau deh yaaa...." ujar Ica lagi, membuat yang lain geleng-geleng kepala.


__ADS_2