
Tak terasa malam pun semakin larut, mereka berdua telah melewatkan makan malamnya. Sekarang Daren baru saja berhenti dari aktivitasnya yang menguras energi tapi sangat nikmat.
Daren pun merebahkan diri di samping Audrey yang sudah tak berdaya. Audrey hanya bisa mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dia sudah tidak ada tenaga hanya untuk membuka kedua matanya.
Beberapa jam di gempur oleh Daren yang bagaikan Singa yang lama tidak mendapatkan mangsa. Dia seakan tidak pernah puas, tubuh Audrey bagaikan candu untuknya.
"Sayang terima kasih ya sudah menjaganya untuk ku seorang. Muah." Kata Daren berterima kasih pada Audrey yang sudah menjaga mahkotanya untuk Daren. Dan dia pun mengecup puncak kepala Audrey penuh dengan kasih sayang.
"Hem... " Balas Audrey yang hanya bisa dengan dehaman saja. Karena sekujur tubuh Audrey seakan remuk redam bagai di hantam beton berton-ton.
"Sayang maaf ya sudah membuatmu seperti ini. Habisnya sih kamu bikin nagih Sayang." Ucap Daren dan memeluk Audrey dengan sayang. Dia pun menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua yang bagaikan bayi baru lahir.
Yang hanya mendapatkan balasan senyum merekah dari Audrey. Audrey yang mendengar perkataan Daren yang menandakan dirinya candu bagi Daren pun, dia malu bukan main.
Pipinya berubah menjadi seperti buah tomat yang merah merona. Dan menenggelamkan dirinya di dada bidang Daren yang nyaman.
Tak selang beberapa lama, mereka pun terlelap dalam tidurnya. Saling berpelukan seakan enggan untuk berpisah. Menyelami mimpi indah bersama pasangannya.
****
Waktu pun berjalan sangat cepat dan sekarang malam pun sudah berganti dengan pagi. Di kamar yang menjadi saksi bisu bagaimana dua insan yang dulu tidak saling mengenal dan mencintai.
Tapi sekarang malah saling memberi kenyamanan dan kenikmatan yang hakiki. Masih di dalam selimut yang sama, mereka masih dalam pelukan yang sama seperti kemarin malam setelah pertempuran yang mereka lalui.
__ADS_1
Saat ini Daren lah yang pertama membuka matanya dan hal pertama yang terlihat adalah wajah cantik Audrey yang tanpa make up.
"Cantik" ucap Daren sambil meraba wajah Audrey dan merapikan rambut yang menutupi wajahnya.
"Sayang maafkan aku yang dulu pernah menyia-nyiakanmu. Tapi sekarang aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dan menjagamu. I love you Cassandra." Ucap Daren tulus dari hati yang terdalam.
Daren tidak menyadari jika Audrey sejak dari tadi sudah bangun, saat Daren menyentuh wajah Audrey dan merapikan rambutnya. Audrey yang notabenenya adalah Cassandra yang insting dan sensitif akan sesuatu pasti akan terbangun ketika merasakan sesuatu di tubuhnya.
Dia pun mendengar apa yang di ucapkan Daren padanya. Dia merasakan kebahagian dan kenyamanan dari seorang Daren.
"I love you too Sayang." Balas Audrey yang masih memejamkan matanya dan memeluk Daren begitu erat.
Daren yang mendengar Audrey membalas ucapannya pun terkejut. Dia tidak menyadari bila istrinya sudah bangun dan mendengar apa yang telah di ucapkannya.
Yang hanya di balas anggukan kepala oleh Audrey. Tindakan Audrey yang memeluk erat Daren sangat erat pun mendapatkan reaksi dari To'ing. Yang langsung menjulang tinggi seperti Tugu Monas.
"Sayang, kamu membangunkan si To'ing. Kamu harus tanggung jawab loh ya." Ucap Daren memberi isyarat dengan menaik turunkan alisnya.
"Hah apa? siapa To'ing sayang? kenapa bisa bangu di sini, malu tau." Balas Audrey yang belum tahu siapa To'ing sebenarnya.
"Ha ha ha ha. Kamu lucu sekali sih Sayang. Dengar ya, To'ing itu bukan orang tapi ini." Tawa Daren menggema dan menjelaskan pada Audrey siapa To'ing sebenarnya sambil menunjuk di bawah selimut.
Audrey yang melihat tangan Daren menunjuk kearah pribadinya pun merasa malu. Dia pun melihat To'ing yang sudah menjulang tinggi seperti Tugu Monas pun merinding di buatnya.
__ADS_1
Bayangan betapa buasnya Daren yang menerkamnya bagaikan Singa yang kelaparan. Masih membayanginya, sebenarnya dia sudah tidak sanggup lagi karena bagian bawahnya masih perih dan terasa sakit.
"Sayang sekali lagi ya, pleaaaase." Pinta Daren memelas.
Audrey yang melihat itu pun merasa tidak tega. Apa boleh buat sudah terlanjur bagaimana lagi. Audrey pun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dan akhirnya pun pertempuran kembali terjadi, tidak hanya di atas tempat tidur saja. Tetapi saat mereka mandi bersama pun tidak bisa di elakkan lagi.
Tadi Daren bilang hanya sekali tapi apa berkali-kali dan membuat Audrey lemas tak berdaya. Daren yang melihat istrinya tak berdaya pun langsung menggendongnya ala bridal stail.
Didudukannya istri cantiknya di kursi yang berada di depan meja rias.
"Sayang, mana hairdryernya biar aku yang mengeringkan rambutmu." Ucap Daren dan mengambil hairdryer dari tangan Audrey.
Audrey hanya diam dan cemberut. Dia sebal gara-gara Daren membuatnya lemas tak berdaya.
"Sayang jangan marah dong. Jelek tau kalau kamu cemberut kayak gitu. Senyum dong Sayang." Ucap Daren sambil mencolek dagu Audrey. Daren merasa gemas akan tingkah Audrey yang cemberut.
Mereka berdua bergegas untuk berganti baju dan segera sarapan. Sarapan yang di antarkan ke kamar mereka. Karena Daren tidak tega melihat Audrey yang susah jalan dan lemas.
Padahal Audrey adalah Cassandra yang mempunyai fisik tangguh tapi apalah daya. Tenaganya di kuras habis oleh Singa Daren yang kelaparan.
"Sayang, kamu istirahat saja ya di kamar jangan kemana-mana. Ok" pinta Daren.
"Nggak, aku mau turun aku mau ikut kamu aku nggak betah bila sendiri di sini Sayang....
__ADS_1
Bersambung....