
"Sayang bangunlah jangan seperti ini. Bukalah matamu Sayang, jangan pernah pergi dariku. Aku tidak ingin kehilanganmu, tetaplah bersamaku samapai kita menua bersama. Aku tidak akan pergi darimu Sayang, aku sudah tahu semua tentangmu. Aku mencintai dirimu yang sekarang, Audrey yang setelah bangun dari koma dulu. Sekarang bangunlah Sayang, sampai kapan kamu akan seperti ini. Suka amat tidur sih." Ucap Daren pada Audrey yang masih tetap nyenyak dalam tidurnya.
Sudah sebulan lebih Audrey masih lelap dalam tidurnya. Seakan enggan untuk membuka matanya. Daren yang sudah sebulan menjaga Audrey pun enggan beranjak meninggalkan Audrey. Semua aktivitas Daren hanya dalam kamar inap Audrey.
Dia tidak ingin sekalipun meninggalkan Audrey sendiri di dalam kamar ini. Kenan yang harus mengalah untuk bolak-balik Jerman Indonesia. Karena semua pekerjaan menantinya.
Riko Cs pun demikian, mereka bolak-balik Jerman Indonesia agar mengetahui bagaimana keadaan Audrey yang sampai saat ini masih betah menutup matanya. Kini mereka telah berkumpul di kamar VVIP milik Audrey.
Mereka yang melihat keadaan Daren seperti tidak bernyawa pun kasihan. Tubuh yang dulu terlihat gagah kini seakan sirna dan kurus tak terawat.
Kumis yang sudah menebal, jenggot pun sama sudah agak panjang. Rambutnya di biarkan agak memanjang. Riko yang melihat Daren seperti itu, prihatin melihatnya.
"Sampai kapan lo mau kayak gini Ren. Lo mau nanti pas Audrey bangun dia tidak mengenali lo. Makanlah dengan teratur jaga juga kesehatan lo, nanti kalo lo sakit siapa yang jaga Audrey. Pulanglah dulu ke Vila bersihkan tubuhmu dan hilangkanlah hama di wajahmu. Audrey paling tidak suka melihat lelaki yang wajahnya penuh dengan hama." Nasehat Riko pada Daren.
"Aku tidak akan pergi dari sini sama sekali, aku akan selalu ada di sisinya Ko. Aku tidak akan meninggalkannya. Soal hama ini biar aku panggil pekerja salon ke sini. Aku tidak mau istriku tidak mengenali suaminya yang tampan ini." Balas Daren yang masih setia duduk di dekat brangkar istrinya dan menggenggam tangan pucat Audrey.
Hatinya begitu sakit ketika melihat istri tercintanya terbaring lemah tidak berdaya. Rasanya ingin menggantikan posisi Audrey saat ini.
Daren yang sudah menghubungi Kenan untuk mendatangkan seorang babershop ke ruangan Audrey. Dan kini barbershop itu sudah datang dan kini sedang menata rambut dan membersihkan wajah Daren.
Setelah tiga puluh menit berlalu kini Daren pun sudah selesai dengan kegiatannya bersih-bersih di bagian wajah dan rambutnya. Daren pun sudah terlihat segar dan rapi, tidak seperti sebelumnya yang terlihat berantakan.
Barbershop yang menangani Daren sudah pulang. Riko Cs yang tadi sempat keluar untuk mencari makan pun sudah kembali ke dalam kamar Audrey.
"Ren makan dulu" tawar Arman pada Daren.
"Nanti aja Man, lo makan dulu." Tolak Daren yang enggan makan.
__ADS_1
"Bro udahlah makan kasian Audrey juga nanti. Makan sedikit nggak apa-apa." Ucap Kenan agak memaksa.
"Gue nggak selera makan Nan, coba lo semua di posisi gue. Apa yang akan kalian lakukan hah apa. Gue nggak tahan liat istri gue diam saja seperti itu, mending gue di omelin sama dia, di marahin sama dia. Sakit tau nggak sakit rasanya, nggak bisa dengar suara orang tersayang kita. Gue nggak mau kehilangan dia." Resah Daren mengutarakan isi hatinya.
Mereka semua yang ada di sana semuanya merasakan kesedihan Daren. Para wanita pun sudah menangis merasakan betapa hancurnya Daren saat ini.
Tak berselang lama dalam kesedihan yang di rasakan Daren dan lainnya. Tiba-tiba pintu kamar di ketuk dan masuklah Dokter dan Suster yang membawa beberapa alat.
Daren dan lainnya terlihat bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Daren yang langsung panik pun segera menghampiri Dokter.
"Dokter Jeriko apa yang terjadi pada istri saya. Apa ada hal buruk yang terjadi dan siapa Dokter wanita itu." Tanya Daren yang memberondong pertanyaan pada Dokter.
"Tuan Daren tolong tenanglah, saya akan menjelaskannya pada Anda. Saya kemarin saat memeriksa Nyonya Audrey, saya merasakan ada satu hal berbeda dari Nyonya Audrey. Dan maaf saat saya melihat perut Nyonya, agak sedikit membuncit. Dan saya sengaja mengajak Dokter spesialis kandungan untuk memeriksa Nyonya lebih teliti. Perkenalkan dia adalah Inggrid, Dokter spesialis kandungan di rumah sakit ini." Terang Dokter Jeriko.
"APA?.... Apa istriku hamil." Kaget Daren tidak percaya.
"Baru dugaan saya Tuan. Makanya saya membawa Dokter Inggrid ke sini untuk memastikan dugaan saya. Dan saya juga menduga bahwa tidak hanya satu." Balas Dokter Jeriko.
"Baiklah Tuan dari pada penasaran lebih baik kita cek dulu keadaan pasien." Kata Dokter Inggrid.
"Ya periksalah dan awas hati-hati jangan sampai istriku terluka sedikit pun, Paham." Tegas Daren.
"Ya Tuan saya mengerti." Balas Dokter Inggrid takut. "Ya Tuhan seram amat sih tu orang." monolog Dokter Inggrid hanya berani dalam hati.
Dokter Inggrid pun segera memeriksa Audrey dan benar dugaan Dokter Jeriko bahwa Audrey hamil. Dan bukan hanya satu tapi ada lima janin yang berkembang dalam rahim Audrey.
"Tuan Daren, coba Anda lihat titik di layar monitor. Dan tolong Anda hitung ada berapa." Pinta Dokter Inggrid pada Daren untuk menghitung ada berapa titik di sana.
__ADS_1
Daren yang merasa terhipnotis pun menurut apa yang di minta Dokter Inggrid.
"Satu, dua, tiga, empat, lima. Ada lima titik, apa itu Dokter?" Hitung Daren dan bertanya pada Dokter Inggrid.
"Titik itu adalah janin yang berkembang di dalam rahim istri Tuan Daren. Dan janin yang ada di rahim istri Tuan Daren ada lima. Istri Tuan Daren mengandung lima janin sekaligus Dan usianya masih empat minggu. Kami akan memantau Nyonya Audrey dengan ketat, karena dengan kondisi seperti ini Sangat menghawatirkan bagi keduanya Tuan." Jawab Dokter Inggrid dan menjelaskan kondisi Audrey.
"Apa lima." Kaget semua orang yang ada di kamar Audrey di rawat.
"Apa lima. Yang kecil-kecil itu janin istri saya Dok, itu anak-anak saya Dok. Astaga Tuhan, Engkau memberiku anak langsung lima. Terima kasih Tuhan." Syok Daren dan berterima kasih kepada Tuhan.
"Nan aku mau punya anak, lima Nan lima. Kalian semua akan jadi uncle dan aunty." Lanjut Daren bahagia sambil menunjukkan tangan lima jarinya.
"Wow selamat Bro. Lo bentar lagi bakal jadi Daddy." Ucap Riko bahagia.
"Selamat ya Bro, udah nggak berdua lagi tapi bakal bertujuh. Ha ha ha" Ucap Kenan bahagia juga, akhirnya Daren bisa punya anak. Karena dulu Dokter memvonis Daren tidak bisa punya anak. Tapi apa ini, sekarang ucapan Dokter itu tidak benar.
Daren bisa punya anak dan semua itu berkat Audrey yang telah membuatkan obat untuk Daren. Agar Daren bisa mempunyai anak.
Para sahabat memberi selamat pada Daren. Mereka semua senang, sebentar lagi akan ada tangis anak di antara mereka.
"Makasih buat ucapan dan do'a baiknya. Dan do'akan istriku, sahabat kalian bisa sadar dari komanya dan kembali pada kita." Ungkapan Terima kasih Daren pada semuanya.
"Dan untuk Dokter Jeriko terima kasih untuk semuanya." Ucap Daren dan memeluk Dokter Jeriko.
Setelah mereka berbagi kebahagiaan, Daren pun langsung mendekati brangkar Audrey dan mengatakan semuanya pada Audrey. Daren yakin jika Audrey pasti mendengarkan dia berbicara.
"Sayang bangunlah, kau tahu Sayang. Kita akan menjadi orang tua, kita akan punya anak sayang. Tidak hanya satu, tapi kau tahu berapa Sayang. Lima Sayang, anak kita ada lima. Jadi bangunlah untuk mereka Sayang." Ucap Daren memberikan semangat untuk Audrey, agar bangun kembali.
__ADS_1
Di saat Daren menggenggam tangan Audrey dan memberikan semangat untuk Audrey. Tiba-tiba ada satu pergerakan yang di tunjukkan Audrey.
Bersambung...... ???????!!!