
" Surprise ... "
Ucap Jackson dengan semangatnya .
" Hah ? "
" Ayo masuk . Aku akan menunjukkan apa yang ada di dalam . "
Ucap Jackson lalu menuntun Cinta masuk ke dalam bangunan 3 lantai itu .
" Sayang , ini sengaja aku siapkan untukmu . Entahlah kamu akan setuju atau tidak , tapi aku rasa setelah kita menikah sudah cukup bagimu untuk terus mengalah pada keadaan . Aku ingin kamu juga merasakan bagaimana memperjuangkan mimpimu . " Ucap Jackson .
" Ini hadiah pertunangan dariku untukmu . Terserah padamu kapan akan kamu mulai , bukalah sebuah butik . Mungkin belum bisa langsung sebesar impianmu , tapi mulailah dari awal . Aku akan selalu berada di sisimu untuk membantu . " Lanjutnya .
Air mata Cinta tak bisa lagi Ia tahan .
Ia berhambur memeluk Jackson .
" Terimakasih , tapi hadiah ini terlalu berlebihan . "
" Tak ada yang berlebihan untukmu sayang . Sebenarnya bisa saja aku membuatkanmu butik yang sudah jadi tapi aku tak melakukannya karena aku tahu kamu suka untuk memulai sesuatu dari awal . " Balas Jackson .
" Ini saja sudah sangat membuatku bahagia Sayang . "
Bagaimana tidak bahagia , Jackson memberinya sebuah ruko 3 lantai dengan interior yang di design untuk membuka sebuah butik .
" Ayo kita ke atas , kamu masih harus melihat 2 lantai lagi . " Ajak Jackson .
" Ku harap kamu bisa segera memutuskan untuk fokus membangun tempat ini . " Ucap Jackson lirih .
Tentu Cinta sangat paham maksudnya . Memang Jackson sudah sempat beberapa kali mengungkapkan keinginannya agar dirinya berhenti bekerja setelah menikah .
Biar bagaimanapun menjadi seorang karyawan , Cinta harus bersedia mematuhi semua aturan aturan dari perusahaan tersebut .
Sedang menurut Jackson jika mereka telah menikah , Ia berharap agar Cinta memiliki waktu lebih banyak untuk mereka berdua dan keluarga kecilnya kelak .
Setelah mereka berdua puas melihat lihat dan merencanakan apa saja yang akan mereka lakukan untuk tempat itu , mereka memilih untuk kembali ke apartemen Cinta agar bisa beristirahat sebelum besok kembali kerutinitas pekerjaan masing masing .
Di tempat lain Emily yang masih kesal setelah menyaksikan sendiri bagaimana romantisnya pertunangan Jackson dan Cinta , kini sedang menanti kedatangan seseorang yang sudah Ia hubungi sejak semalam .
" Semoga saja dia segera datang. " Batin Emily .
Benar saja , seorang pria yang di tunggu Emily terlihat berjalan masuk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh cafe .
Emily mengangkat tangan kanannya agar memudahkan pria itu mengenalinya .
" Hai.. aku Emily . "
" Ricko . " Jawab pria itu singkat .
Yah ,pria itu adalah Ricko . Pria yang menjadi harapan terakhir Emily untuk membantunya .
Ricko duduk di hadapan Emily setelah di persilahkan oleh wanita itu .
" Jadi ada hal apa soal Cinta sehingga kamu ingin menemuiku ? "
__ADS_1
" Sebelumnya perkenalkan aku adalah mantan kekasih Jackson . Sebenarnya 8 tahun lalu belum pernah terucap kata putus di antara kami . Tapi kami harus berpisah karena aku yang pindah ke Paris . " Ucap Emily .
" Dasar wanita , kamu meninggalkan pria selama 8 tahun dan kamu anggap kalian belum pernah putus . Sungguh egois . " Komentar Ricko .
" Disini kamu tak perlu memikirkan aku yang egois atau tidak . Aku hanya ingin mengajakmu kerja sama . Aku tahu kamu menyukai Cinta kan ? "
" Memangnya apa yang bisa kamu lakukan ? "
" Aku akan membawa Cinta padamu . Dan kamu bisa memiliki dia seutuhnya . Ku rasa kamu paham maksudku . " Ucap Emily memberitahu rencananya .
" Kamu yakin akan berhasil ? " Ricko ragu .
" Tentu saja. Jackson paling anti dengan penghianatan . Apalagi selama ini dia sangat menjaga Cinta . Ku yakin kamu paham maksudku . Tinggal sekali ini kesempatanmu . " Bujuk Emily .
" Baiklah . Kabari aku apa yang harus ku lakukan . " Putus Ricko sebelum Ia akhirnya pergi meninggalkan tempat itu .
Sementara di tempat yang tak jauh dari sana , anak buah Mike sedang mengikuti Ricko . Walaupun tak dapat mendengar dengan jelas pembicaraan mereka karena suasana cafe yang sangat bising , tapi Ia yakin mereka berdua sedang merencanakan sesuatu .
Jackson cukup gelisah setelah mendengar berita dari Mike . Sejak hari itu , dia terus saja menempeli Cinta kemanapun dia pergi . Dia hanya tak ingin Cinta dalam bahaya .
Hari itu Jackson harus ke darerah puncak untuk meninjau pembangunan resort Haryono Grup yang baru .
Sejak semalam Ia sudah memaksa Cinta untuk cuti dan ikut dengannya , tapi Cinta terus menolak dengan alasan pekerjaannya menumpuk karena sudah sering cuti .
Dengan berat hati Jackson meninggalkan Cinta setelah wanita itu berjanji tak akan pergi kemana mana tanpa supir yang sudah disiapkan Jackson .
Saat sedang fokus pada layar komputernya , ponsel Cinta berbunyi . Nomor yang tak dikenal nampak disana .
" Halo " , sapa Cinta saat menerima panggilan telepon itu .
" Cinta , ini aku Emily . Aku ingin bertemu denganmu . Aku harus memberitahumu sesuatu soal Jackson . " Ucap Emily .
" Maaf , tapi aku tak punya waktu mendengarkan lagi semua hayalanmu . Pekerjaanku banyak . " Balas Cinta .
" Ku mohon . Sekali ini saja lalu aku akan pergi dari kehidupan kalian . Aku akan memberitahumu sesuatu tentang pesan Jordi untuk Jackson . Ku harap kamu bisa menyampaikan padanya , karena Jackson sudah tak ingin bertemu denganku lagi . " Bujuk Emily .
Cinta berpikir sejenak . Sepertinya tidak apa apa jika mereka berdua bertemu . Lagian kami akan bertemu di restauran , tak mungkin Emily berbuat macam macam di tempat umum . Pikir Cinta .
" Baiklah. Kirimkan alamatnya. Tapi aku hanya bisa menemuimu jam 7 malam nanti . " Ucap Cinta pada akhirnya .
Sambungan telepon terputus . Cinta melanjutkan pekerjaannya yang masih sangat banyak , sedang Emily kini sedang tersenyum senang karena recana awalnya berhasil.
Jauh di tempat lain entah mengapa perasaan Jackson tak tenang .
Sejak dalam perjalanan pagi tadi , Ia terus terbayang wajah tunangannya .
Jackson sadar jika Cinta sedikit kesal dibuatnya lantaran dirinya yang terus saja menelpon .
Akhirnya kini Ia lebih memilih untuk menghubungi anak buah Mike yang bertugas mengawasi Cinta .
__ADS_1
" Bagaimana keadaannya ? " Tanya Jackson di telepon .
" Baik baik saja tuan muda , tidak ada yang mencurigakan . Nona hanya sekali saja keluar saat makan siang . Ia berjalan kaki bersama rekan rekannya ke rumah makan padang yang tak jauh dari kantornya . " Jelas anak buah Mike .
Setelah mengetahui jika Cinta baik baik saja perasaan Jackson sedikit lega .
" Gak perlu hawatir , Cinta pasti baik baik saja. Kan sudah ada yang menjaganya . Fokuslah pada pekerjaan disini , biar cepat selesai dan kita bisa kembali secepatnya . "
Adit juga ikut menenangkan Jackson , karena sejak tadi bos dan sahabatnya itu cemas tanpa alasan . Hal itu mempengaruhi kinerja mereka .
Adit hawatir jika seperti ini terus maka pekerjaan mereka akan memakan waktu lebih lama dari yang mereka rencanakan .
Emily memang sengaja memilih hari ini untuk bertemu Cinta , tentu saja karena Ia tahu jika Jackson sedang ke puncak dan Cinta sendiri .
Emily tahu hal itu setelah Ia menelepon ke kantor Jackson dan menanyakan keberadaan pria itu pada sekertarisnya .
Setelah mengirim pesan lokasi restauran tempat mereka akan bertemu , Ia segera menghubungi Ricko .
" Halo Rick... hari ini adalah harinya yah . "
" Aku sudah menyiapkan semuanya , pokoknya kamu tinggal menunggu saja di kamar hotel yang telah kusiapkan . " Perintah Emily.
Sebenarnya Ricko sedikit ragu dengan rencana Emily .
" Tapi apa harus aku berbuat sejauh itu. Aku juga mencintainya , aku tak ingin menyakitinya . " Sanggah Ricko .
" Siapa bilang kamu menyakitinya . Kamu melakukannya atas dasar cinta kan ? Lagian ini satu satunya cara untuk mendapatkan Cinta , jika kamu berharap hatinya akan sukarela berpaling padamu maka itu tak akan mungkin terjadi . " Bujuk Emily .
Setelah berpikir sekali lagi akhirnya Ricko setuju dengan catatan Emily tak boleh melukai atau menyakiti Cinta .
Setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Ricko , kini Emily tertawa tawa seorang diri di kamarnya .
Ia membayangkan sebentar lagi Jackson akan mencampakan Cinta . Dan dia bisa kembali bersama Jackson .
Sepertinya obsesi telah membutakan hati Emily sehingga Ia berencana untuk berbuat jahat pada wanita lain .
.
.
.
.
.
"Perasaan laksana hujan, tak pernah datang dengan maksud yang jahat. Keadaan dan waktulah yang membuat kita membenci kedatangannya." - Fiersa Besari
__ADS_1