
Pagi ini Jackson harus berangkat ke kota Makassar , ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan .
Jackson dengan berat hati harus meninggalkan sang istri untuk menemani Adit , sahabat yang sudah seperti saudaranya dalam memperjuangkan cintanya .
" Sayang , aku pergi dulu yah . Ku usahakan akan segera pulang , akan sangat sulit bagiku karena belum pergi saja aku sudah mulai merindukanmu . " Ucap Jackson pada Cinta sesaat sebelum masuk ke mobil .
" Jack , lu baca puisinya nanti aja ... keburu ketinggalan pesawat nih . " Sela Adit dari dalam mobil yang sudah tak sabar ingin segera menemui sang pujaan hati .
Jackson hanya bisa mendengus karena kesal . Ia lalu memberikan ciuman di kening dan juga kecupan singkat dibibir Cinta .
" Hati - hati yah sayang . Pastikan misi kalian sukses . " Ucap Cinta saat melepas kepergian Jackson .
Setelah mobil Jackson menghilang dari pandangannya , Cinta masuk ke dalam rumah untuk bersiap siap kembali melakukan rutinitasnya yang sudah seminggu ini Ia tinggalkan .
Penerbangan ke kota Makassar di tempuh Jackson dan Adit selama 2 jam 30 menit .
Jackson dan Adit sudah tidak asing dengan kota ini karena di sana Haryono Grup memiliki cabang perusahaan yang bergerak di bidang pusat perbelanjaan .
Namun perjalanan mereka ternyata belum selesai karena saat memberikan alamat pada supir perusahaan yang bertugas menjemput keduanya , menurut sang supir yang bernama Andi jika untuk sampai di alamat Sofi masih harus menempuh perjalanan dengan mobil sekitar 3 sampai 4 jam .
Tapi hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat mereka . Yang mereka inginkan kini hanya segera sampai di rumah orang tua Sofi dan meluruskan kesalah pahaman yang terjadi .
Sebelum menempuh perjalanan ke rumah orang tua Sofi , Jackson dan Adit menyempatkan untuk makan siang terlebih dahulu . Dan kesempatan seperti inilah Jackson manfaatkan untuk menghubungi Cinta lewat panggilan video. Baru berapa jam saja tapi Jackson sudah sangat merindukan istrinya .
Perjalanan yang cukup jauh namun pemandangan indah persawahan hijau yang memanjakan mata keduanya cukup membantu untuk mengurangi kelelahan kedua sahabat itu . Sangat berbeda dengan pemandangan sehari hari mereka di Jakarta .
Betul saja , setelah 4 jam perjalanan Jackson dan Adit tiba ketika pukul 5 sore . Mobil berhenti tepat di sebuah rumah yang kini sangat ramai orang berkumpul . Beberapa pria paruh baya terlihat sedang sibuk memasang tenda sedang beberapa wanita yang juga sudah berumur sedang berkumpul saling mengobrol .
Adit lebih dulu berjalan dan memastikan tentang kediaman orang tua Sofi , dan benar saja saat keduanya dipersilahkan masuk kedalam Adit sangat bahagia saat melihat sang pujaan hati berada di sana .
" Adit ... bang Sultan .... " Ucap Sofi masih tak menyangka jika dua pria itu kini ada di hadapannya .
Sofi baru saja akan menyambut keduanya saat suara bariton seorang pria paruh baya menghentikan langkahnya .
" Sofi ..... mau apa kamu menemui pria itu lagi . Masuk kamar . " Ucapnya tegas .
Pria paruh baya itu tak lain adalah ayah Sofi . Dengan berat hati Sofi berbalik untuk masuk kekamarnya . Adit hanya bisa memberi isyarat agar wanita itu tenang saja , Ia akan membersekan semuanya .
" Sofi sudah masuk kamar , jadi jika tidak ada lagi keperluan lain silahkan pergi . " Ucap Ayah Sofi .
Adit mulai panik karena merasa dirinya diusir bahkan sebelum Ia sempat menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi .
Berbeda dengan Jackson . Pria itu sepertinya tidak terpengaruh ucapan Ayah Sofi barusan .
" Maaf Pak jika kedatangan kami mengejutkan Bapak dan keluarga . Tapi sesungguhnya kami kemari bukan untuk menemui Sofi , tapi menemui Bapak . " Ucap Jackson .
Ayah Sofi menatap Jackson mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki . Walaupun dari pandangannya saja Ia bisa tahu jika Jackson bukanlah orang biasa , tapi menurut pengamatannya sepertinya Jackson bukan keluarga Adit .
__ADS_1
" Yang saya ingin temui adalah keluarga anak ini . Bukan kamu yang sama saja dengan dia . Buang buang waktuku saja . " Ucap Ayah Sofi .
Adit sudah menelan ludahnya , Ia hawatir bisa saja Jackson terpancing emosinya karena ucapan Ayah Sofi .
Namun sungguh diluar dugaan , Jackson hanya membalas dengan senyuman . " Syukurnya jika memang itu keinginan Bapak , berarti Bapak bertemu dengan orang yang tepat . " Ucap Jackson ramah tapi tetap terdengar tegas .
" Perkenalkan , saya Jackson Putra Haryono . Saya saudara Adit . " lanjutnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan .
Jabatan tangannya bersambut . Ayah Sofi memperkenalkan namanya adalah Bachtiar .
Pak Bachtiar kini mempersilahkan keduanya masuk dan duduk di ruang tamunya .
" Ternyata cukup lama juga waktu yang kamu perlukan untuk membawa keluargamu . " Ucap Pak Bachtiar menyindir Adit .
" Maat Pak , kami baru sempat kemari . Itu salah saya yang saat kejadian sedang berada di Paris untuk berbulan madu . Saya juga baru saja menikah . Dan istri saya adalah salah satu sahabat Sofi . " Jelas Jackson .
" Cepat sampaikan apa yang ingin kalian bicarakan setelah itu pergilah . Kalian lihatkan saat ini kami sedang sibuk . " Ucap Ayah Sofi .
" Terimakasih atas kesempatan yang Bapak berikan . Pertama tama izinkan saya menjelaskan hubungan kami dulu . Seperti yang saya katakan tadi , saya ini saudaranya . Walaupun bukan saudara sedarah . Adit dan saya tumbuh dan besar bersama . Kami sekolah bersama dan kini sedang membangun bisnis bersama . " Ucap Jackson .
Ayah Sofi terlihat sedang mengerutkan alisnya mencerna setiap ucapan Jackson .
" Saya meminta Bapak untuk mau mendengarkan penjelasan Adit perihal kejadian malam itu . Bukankah setiap orang memiliki kesempatan untuk membela dirinya ? "
" Ohh... jadi kamu ini bukan keluarganya . Oke , karena kalian sudah jauh jauh kemari silahkan katakan apa pembelaanmu . " Balas Ayah Sofi .
Adit lalu menceritakan setiap detail kejadian malam itu tanpa menambah atau mengurangi sedikitpun . Namun sayang respon Ayah Sofi tetap tidak sesuai harapan .
" Baguslah jika memang begitu kejadiannya . Tapi hal itu tetap tidak merubah keputusanku . Kalian lihatkan , malam ini kami sedang bersiap untuk besok menerima lamaran seorang pria pada Sofi . " Ucap Ayah Sofi .
Adit dan Jackson tercengang , keduanya saling pandang .
" Tapi Pak , bukankah saat ini yang terpenting adalah perasaan putri Bapak ? Sudah sangat jelas jika putri Bapak juga mencintai Adit begitupun sebaliknya . " Balas Jackson .
" Yang terpenting sekarang itu adalah siapa yang lebih siap ke jenjang yang lebih serius . Asal kamu tahu , pria ini adalah anak dari pengusaha nomor satu di desa ini . Mengenai cinta juga bisa datang sendiri nanti . " Tolak Pak Bachtiar .
" Jadi ini soal kesiapan Pak ? Saya juga siap andaikan Bapak mau memberi saya kesempatan untuk menyiapkan segalanya . Katakan saja Bapak ingin apa ? Saya bisa kok memberikan semuanya . " Ucap Adit terdengar pongah . Sungguh saat ini Ia hanya hawatir akan kehilangan Sofi .
Jackson menyadari perubahan raut wajah Ayah Sofi yang merasa tak suka dengan ucapan Adit barusan , Ia berusaha menengahi .
" Maaf Pak jika ucapan Adit barusan menyinggung Bapak . Mungkin yang dimaksudkan Adit jika dia juga sudah memiliki kesiapan yang Bapak maksudkan . Saya juga menjamin hal itu Pak . Adit sudah bersama saya sejak saya membangun perusahaan saya sendiri di Bali . Sampai saya kembali ke Jakarta untuk memimpin perusahaan keluarga saya , Adit tetap ikut membantu saya . Jadi saya tahu betul jika Adit akan mampu bertanggung jawab pada Sofi lahir dan batin Pak . " Jelas Jackson .
__ADS_1
Pak Bachtiar terlihat berpikir . Namun salah seorang keluarganya yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya ikut buka suara .
" Maaf yah Dik , tapi apa boleh saya tahu Adik berdua ini berbisnis apa yah ? " Tanyanya .
" Perusahaan saya di Bali bergerak dibidang restauran , tapi setelah menikah perusahaan itu kini sudah dikelola oleh istri saya . Sekarang saya dan Adit fokus untuk membesarkan bisnis keluarga , mungkin Bapak pernah dengar Haryono Grup . " Ucap Jackson jujur .
Pak Bachtiar dan pria yang bertanya barusan masih terlihat bingung .
" Hemmm... biar lebih jelas , salah satu cabang perusahaan kami juga ada di Kota Makassar kok . Di sana kami memiliki H Mall . " Lanjut Jackson .
Kedua pria paruh baya itu baru mengerti dan ber-ohh secara bersamaan .
" Tolong Bapak pikirkan kembali rencana Bapak menerima lamaran pria lain Pak untuk Sofi . Kami berdua saling mencintai . Jika yang Bapak inginkan keseriusan , saya juga sangat siap untuk lanjut ke tahap yang lebih serius dengan Sofi . Tolong Bapak pikirkan juga perasaan putri Bapak , apa dia akan bahagia jika hidup bersama pria yang tidak Ia cintai . " Ucap Adit .
" Pergilah kalian berdua . Saya rasa sudah cukup kalian menjelaskan semuanya . Yang pasti sampai saat ini saya belum merubah keputusan saya . " Ucap Pak Bachtiar kemudian berlalu meninggalkan Jackson dan Adit .
Jackson tidak bisa lagi mencegah Ayah Sofi . Ia lalu menepuk pundak sang sahabat untuk memberinya support .
" Sudahlah , ayo kita pergi . Besok pagi kita kembali lagi kemari . Jika memang besok masih belum ada harapan , maka kita lakukan seperti bagaimana cara kita biasanya . " ucap Jackson .
" Maksudnya ? " tanya Adit yang bingung .
" Jika besok belum berjalan sesuai keinginan kita , maka lakukan cara kita yang seperti biasa . Kita ini pebisnis , malam ini lu cari tahu rivalmu itu siapa . Jika tidak bisa menekan Ayahnya Sofi , kita bisa menekan pria yang Ia sebutkan . Gue mau tahu , sehebat apa sih pria yang dia bangga banggakan itu . " Jelas Jackson .
Adit ikut tersenyum karena paham dengan rencana sahabatnya .
" Benar Jack . Kita bisa lakukan seperti cara kita biasanya . "
.
.
.
.
.
.
"*Cinta adalah tentang rasa percaya bahwa seseorang akan terus membahagiakanmu, tanpa perlu kamu merengek padanya*."
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue