
Kini Cinta sudah berada di atas kereta yang akan membawanya menuju Yogyakarta .
Tempat baru yang akan menjadi tempatnya menyembuhkan luka hatinya .
Perjalanan akan Ia tempuh sekitar 7 sampai 8 jam . Ia rasa waktu selama itu cukup jika Ia masih harus mengeluarkan air matanya .
Cinta sudah bertekad , sesampainya disana Ia akan memulai kehidupan barunya . Kehidupan yang sesuai dengan keinginannya .
Masih dalam perjalanan menuju Yogyakarta , Cinta mencoba menghubungi Ayah dan Bundanya .
Tuut ....Tuut ...
" Halo nduk ... " terdengar suar Bundanya .
Cinta tak menjawab dan langsung saja terisak .
" Nduk... Cinta, kamu menangis Nak ? Ada apa ? " Suara bundanya kini terdengar panik .
Cinta belum menjawab karena Ia yakin tangisannya belum bisa Ia kendalikan .
" Yah... ayah... sini cepetan . Ini loh ada telepon dari Cinta . Tapi dia gak ngomong dan sepertinya dia sedang menangis deh Yah ... "
Cinta bisa mendengar suara Bundanya yang sedang berbicara dengan Ayahnya .
" Bun... da ... " Ucap Cinta terbata .
Ia masih terus mencoba mengendalikan tangisannya .
" Bunda .... Ayah.... Cinta mau ngomong sama Ayah dan Bunda . " Ucapnya .
Bunda segera mengubah panggilannya ke mode loudspreaker .
" Kenapa Nak sayang , ayo cerita . Sekarang Ayah dan Bunda sudah bisa mendengarkanmu . " Sekarang malah Ayah yang menjawab .
" Ayah , Bunda . Maafkan Cinta jika ini mengecewakan kalian . Tapi Cinta tak akan pernah menikah dengan Jackson . " ucap Cinta menahan rasa sakit di hatinya .
" Maksudmu apa Nduk ? " tanya Bunda .
" Semalam Cinta sudah mengakhiri hubungan dengan Jackson . " Ucap Cinta .
" Kok bisa gitu ? Kalian bertengkar karena masalah apa ? Jangan gitu Nduk , selesaikanlah baik baik jika ada masalah. Astaga Nak , hanya tersisa 4 hari lagi dan kamu bilang pernikahan itu batal . Cinta ... cinta ... pikirin lagi Nak , bagaimana ..... " Ucapan Bunda dihentikan oleh Ayah .
" Lalu sekarang kamu di mana ? Kamu baik baik saja kan Nak ? " Tanya ayah .
" Sekarang Cinta sedang di perjalanan . Cinta baik baik saja kok Yah . "
" Ya udah , kamu pulang yah Nak . Ayah , bunda selalu menerimamu . Menerima apapun yang jadi keputusanmu . " bujuk Ayahnya .
" Maafkan Cinta Yah , tapi sepertinya Cinta tak akan pulang ke rumah dulu . Cinta butuh waktu untuk sendiri . Bisakah Ayah dan Bunda mengerti ? " Cinta memohon .
" Cinta.. kenapa malah kabur Nduk ? Kamu harusnya menyelesaikan masal ... " Ucapan Bunda Cinta dihentikan oleh Ayah .
Ayah sampai harus merebut ponsel yang sebelumnya di pegang oleh Bunda .
" Kemana tujuanmu Nak ? Apa tidak bisa jika pulang ke rumah saja ? Ayah berjanji kali ini akan melindungi Mu nak . "
" Maaf Ayah , Cinta butuh waktu sendiri . Ayah dan Bunda percaya pada Cinta kan ? "
" Tentu saja kami percaya padamu Nak . Ayah yakin kamu pasti bisa melewati ini semua . " ucap Ayahnya bijak .
" Ya sudah , aku sudah tenang sudah mengabari Ayah dan Bunda . Maafkan jika aku harus merepotkan karena harus membatalkan semua rencana pernikahan , juga keluarga kita akhirnya harus menanggung malu . " Ucapan Cinta sungguh penuh penyesalan .
" Itu semua tak ada artinya Nak . Yang terpenting kebahagiaan kamu Nak . Pergilah kemanapun tujuanmu . Tenangkanlah dirimu , obati rasa sakit di hatimu . Jika suatu saat kamu sudah siap untuk cerita pada ayah dan bunda , kami siap mendengarnya . "
Bunda sudah mulai terisak mendengar percakapan suami dan anak bungsunya .
" Terimakasih Ayah dan Bunda sudah mau mengerti aku . " balas Cinta dengan air mata yang tak henti hentinya mengalir di pipi mulusnya .
" Yang terpenting kamu harus jaga diri kamu . Jaga kesehatan kamu . Tolong jangan berhenti memberi kami kabar . " Pinta Ayah sebelum keduanya mengakhiri panggilan telepon .
Cinta melanjutkan perjalanannya yang masih 4 jam lagi .
__ADS_1
Sementara di kediaman keluarga Cinta , Ayah dan Bunda berdebat .
Bunda masih belum terima keputusan Ayah yang mendukung Cinta untuk pergi .
Ayah dengan lembut dan tenang menjelaskan semua pada istrinya .
" Bun , sudah saatnya kini gantian kita yang mendukung Cinta . Ingatlah , dulu dia merelakan impiannya , merelakan masa mudanya , untuk membantu keluarga kita keluar dari keterpurukan . Apa lagi yang bisa kita lakukan selain mendukung apapun keputusannya . Ayah percaya pada anak ayah . Cinta tak akan pernah mengambil keputusan jika tak memikirkannya baik baik . Kita sebagai orang tua harus selalu berdiri di sisi anak kita Bun. Mendukung dan membantu semua keputusannya . Dengan atau tanpa izin kita , Cinta akan tetap pergi . Jika kita menentangnya maka bisa jadi kita malah tidak bisa tahu keadaan putri kita sama sekali Bun . "
Penjelasan Ayah akhrinya bisa di terima oleh Bunda .
Mereka berdua akhirnya mulai menghubungi pihak WO , menghubungi anak tertuanya yang setelah menikah tinggal bersama suaminya . Dan juga menghubungi sanak keluarga mereka untuk memberikan kabar mengejutkan jika pernikahan Cinta akan di batalkan .
Beberapa keluarga ada yang turut prihatin ada juga yang mencibir .
Ternyata berita batalnya pernikahan itu sampai juga kepada Papi dan Mami Jackson .
Semuanya berawal setelah WO yang di Malang mengkonfirmasi kebenaran berita itu pada WO yang menangani pernikahan Jackson dan Cinta di Jakarta .
WO yang di Jakarta belum yang belum menerima kabar apapun mengenai pembatalan segera menghubungi Jackson namun pria itu tak menjawab .
Terakhir , pihak EO menghubungi Mami Lastri .
Saat mendengar perkataan dari EO Mami Lastri sangat terkejut . Tiba tiba Ia merasa seperti sesuatu yang besar dan berat menimpa dan menghimpit dadanya .
Untung saja di sana ada Papi Haryono yang segera menolong Mami saat akan terjatuh .
Papi segera merebahkan Mami di sofa kemudian mengambil alih ponselnya .
Papi cukup terkejut dengan apa yang di sampaikan pihak WO , mengingat terhitung 4 hari lagi pernikahan itu akan di selenggarakan .
Papi belum memberi jawaban pada WO , ia masih harus mengkonfirmasi langsung pada putranya dan calon menantunya .
Setelah telepon terputus , Papi segera menenangkan Mami .
Baru berselang beberapa menit , Jackson yang di tunggu tunggu tiba di kediaman kedua orang tuanya .
__ADS_1
Dengan berlari Ia segera menuju kamar Mami dan Papi nya sebab kata seorang pelayan , Maminya baru saja hampir pingsan .
" Mami ... mami... mami kenapa ? " tanyanya saat melihat Maminya terbaring lemah di tempat tidur .
" Pi... ada apa dengan Mami ? " tanya Jackson menatap Papinya yang kini menatapnya tajam .
" Kamu masih bertanya kenapa ? "
" Mengapa pihak WO yang di Malang mengatakan jika pernikahan kamu dan Cinta batal ? " tanya Papi dengan suara yang meninggi.
Jackson terdiam .
" Apa secepat itu Cinta mengambil keputusan . Ia bahkan tak memberi kesempatan bagiku untuk berusaha menjelaskan dan memperbaiki semuanya . " Batin Jackson .
Diamnya Jackson sudah menjelaskan jika dirinya dan tunangannya sedang ada masalah . Tentu saja Papi menyadari hal itu .
" Masalah apa lagi kali ini Jack ? " tanyanya .
" Tolong jangan katakan Papi dan Mami harus membatalkan pernikahan anak kami untuk yang kedua kalinya . " lanjut Papi Haryono .
Jackson menunduk . Sungguh Ia juga tak berharap semua ini terjadi .
" Maafkan Jackson Pi . Ini semua kesalahan Jackson . Semalam aku melakukan kesalahan sehingga membuat Cinta pergi , tapi aku tak menyangka jika keputusannya membatalkan pernikahan kami secepat ini . " Ucap Jackson .
" Maafkan Jackson Pi , Mami . Tolong beri Jackson waktu untuk bicara pada Cinta dan memperbaiki hubungan kami . "
Setelah mengucapkan permintaan maafnya , Jackson segera pergi dari rumah . Tujuannya kini adalah apartemen Adit . Saat ini Ia membutuhkan bantuan dari sahabat sahabatnya untuk menjelaskan kejadian semalam seperti apa .
.
.
.
.
" *Pada awal kehidupan, orangtua tentu harus membesarkan anaknya, mengasuh, mengajari. Tapi, pada titik tertentu, orangtua justru harus mengajari anaknya kehidupan dengan melepaskan.” - Donna Widjajanto* "
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue