
" Kamu sekarang tidak akan pernah lagi pergi dari ku Davin,kamu akan menjadi pendamping hidupku sayang!" Ucap Clara pelan.dengan senyuman sinisnya merasa bangga akan keberhasilannya suatu saat untuk mendapatkan Davin sebagai kekasih hatinya dan memberikan cintanya hanya untuk dirinya.
Didalam mobil Davin menatap sang Adik yang duduk disampingnya itu.
" Mamah nggak boleh tahu tentang semua ini, kalau sampai Mamah tahu pasti Mamah akan sedih dan kepikiran." Ucapnya pada Adiknya itu seraya melirik sesaat pada Laura.
" Iya kak, tapi Laura harus bagaimana kak? Laura takut, Laura tidak ingin dipenjara." Ucapnya seraya menatap sang kakak.
" Nanti kakak yang akan mencari solusinya, sekarang ini kamu tetap diam dan jangan sampai orang lain tahu kalau kamu sudah melakukan tabrak lari." Ucapnya.
" Tetap aja kak Laura takut..."
" Sudah Laura! Kamu harus tenang! Kamu jangan menambah pikiran kakak lagi! Kakak kan sudah bilang nanti kakak cari solusinya!" Ucap Davin penuh dengan penekanan.
Laura hanya terdiam dia tidak berani lagi bersuara setelah dia mendapatkan kata penekanan dari kakaknya itu.
" Ini semua salah Laura kak..." Ucapnya seraya menatap kearah sang kakak dengan tatapan bersalahnya tapi Davin hanya terdiam.
" Laura, seharusnya kamu yang bersalah tidak semestinya lari dari tanggung jawab, dan bersembunyi di belakang Clara, jika saja saat kejadian itu kamu hubungi kakak,kita pasti akan menemukan solusinya, sepanik apapun kamu harus hubungi kakak saat itu, bukannya lari dari kenyataan seperti ini, kalau seandainya kamu kasih tahu kakak sejak awal, kamu tidak akan seperti ini, setidaknya kita tahu keadaan orang yang kamu tabrak itu." Ucap Davin seraya tetap menatap kearah depan sembari mengendalikan kuda besinya tersebut.
" Iya maafkan Laura kak..." Ucapnya pelan.
" Sudahlah..." Ucap singkat Davin. Tidak ada suara lagi diantara mereka berdua didalam mobil tersebut, beberapa saat kemudian mobil Davin memasuki halaman rumahnya, setelah memarkirkan mobilnya kakak beradik itupun turun dan melangkah menuju kearah dalam rumahnya dengan cekatan para Artnya langsung mengambil barang punya nona mudanya tersebut dan membawanya masuk kedalam kamar sang nona. Karena mendengar mobil sang papah, Keyra kemudian berlari dari tempat dimana dia bermain dengan sang Nenek.
__ADS_1
" Papahnya datang..." Ucapnya dengan ciri khas suaranya.
" Pelan-pelan Key..." Ucap sang nenek sembari melangkah juga mengikuti larinya Keyra.
" Papah datang...!" teriak Keyra terdengar bahagia yang tiada taranya karena sudah seharian penuh ditinggal sang papah, Davin langsung mengendong tubuh munggil sang anak yang sudah beberapa jam dia tinggalkan dan sudah menyita rasa kerinduannya pada gadis kecilnya itu.
" Laura...?!" ucap Bu Santi yang melihat sang anak yang tiba-tiba ada dihadapannya tersebut, dia terlihat bahagia melihat sang anak sudah kembali dari luar Negeri, Bu santi tidak mengetaui tragedi yang menimpa sang anak bungsunya itu, padahal Laura sudah lama berada ditanah air namun dia tidak pernah pulang kerumahnya karena dia tidak bisa memberikan kabar pada sang mamah atau sang kakak. Selama Laura berada diluar Negeri memang tidak terlalu sering menghubungi keluarganya terutama sang mamah, begitu juga dengan Bu Santi dia juga tidak ingin mengganggu sang anak yang sedang menuntut ilmu, kalau seandainya Laura menghubungi sang mamah atau sang kakak itu dikarenakan uang bulanannya sudah mulai menipis dan dia juga sangat merindukan sang mamah.
" Mamah..." ucap Laura yang menghambur langsung dalam pelukan sang mamah dengan berderai air matanya yang begitu saja tumpah karena rasa rindu dengan mamahnya tersebut dan dia juga merasa bersalah dengan keluarganya terutama sang mamah tentang masalah yang dialaminya lima bulan terakhir ini. Ibu santi tertegun dengan sikap Laura yang begitu sangat bersedih.
" Ada apa nak? kamu kenapa? kenapa kamu langsung menangis seperti ini?" tanya Ibu Santi sembari membelai pundak sang anak. Laura mengeratkan pelukannya pada sang Mamah, dan bu Santi hanya menatap kearah putra sulungnya dan seakan-akan dia meminta penjelasan pada Davin tentang sang Adik sampai seperti ini bersikap pada dirinya, seolah-olah Anak bungsunya itu memiliki masalah yang berat. Davin hanya bisa menarik nafasnya dengan pelan dan dia menggelengkan kepalanya seraya berjalan menuju kearah ruang tengah rumahnya dengan menggendong buah hatinya tersebut.
" Papah...Key mau es cream..." Ucap Keyra seraya merosotkan tubuhnya turun dari pangkuan sang papah. Davin menganggukkan kepalanya dan Bocah mungil itupun langsung menemui Asisten rumah tangganya yang sedang berada didapur. Ibu Santi melangkah membawa Laura menuju kearah Davin yang sedang duduk disofa. Kemudian mereka berdua duduk berdampingan dengan masih posisi Laura memeluk sang mamah.
" Ada apa Davin? Kenapa dengan adikmu.?" Tanya Bu Santi.
" Davin...kamu tidak berbohongkan sama mamah?" Tanya bu Santi. Davin terkejut dengan ucapan sang mamah namun dia pintar menyembunyikan rasa terkejutnya itu, dia langsung merebahkan kepalanya disandaran sofa yang dia duduki saat ini, dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya tersebut.
" Mamah, mana beranilah Davin bohong pada Mamah, tanya aja tuh sama Laura." Ucap Davin sembari menarik nafasnya dengan pelan.
" Benar Laura? Apa yang dikatakan kakak mu itu?" Tanya Bu Santi seraya menyentuh dagu putrinya, Laura hanya menganggukkan kepalanya.
" Ya udah, kamu istirahat gih sana, bersihkan dirimu." Ucap Bu Santi. Laura mengangguk dan melepaskan pelukannya pada sang Mamah, dia melangkah menuju kearah kamarnya yang berada dilantai atas.
__ADS_1
" Ya udah ya Mah,Davin juga mau istirahat nih, cape banget dikantor banyak kerjaan." Ucapnya beranjak berdiri dan meninggalkan sang mamah yang duduk sendiri diruang tamu.
" Pasti ada yang disembunyikan Davin dan Laura, tidak biasanya dia berbicara tidak melihat kearah ku." Ucap batin bu Santi.
Bu Santi merasa curiga dengan sikap Laura dan Davin, yang terlihat ada sesuatu yang besar disembunyikan darinya, yah! Namanya juga seorang ibu, ikatan batin yang sangat kuat pada anak-anaknya tersebut membuat dirinya menyakini kalau kedua anaknya itu ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
" Nenek..!" Panggil Keyra membuyarkan lamunan Bu Santi.
" Ya nak...ada apa sayang.."
" Papah, Keyra mau papah..." Ucapnya menarik-narik tangan bu Santi untuk mengajaknya menemui sang papah. Kemudian bu Santi langsung menuju kearah lantai atas membawa sang cucu menemui Davin.
" Davin..boleh mamah masuk?" Ucap Bu Santi seraya mengetuk pintu kamar sang anak. Davin yang merebahkan tubuhnya rersebut terkejut dengan suara Mamahnya itu, dia langsung bangkit dari tidurnya dan melangkah menuju kearah pintu kamar dan membukanya.
" Ya mah, masuk aja..."
" Papah..." Ucap Keyra langsung minta gendong pada Davin.
" Duh...kesayangan papah, berat sekali ya badannya baru aja makan es cream sudah berat bagaimana kalau maem nasi? Bisa-bisa nggak bisa papah gendong nih...hehehe.." ucap Davin sembari mencium sang anak yang sangat menggemaskan itu. Keyra pun juga ikut terkekeh.
Davin mengajak sang mamah menuju sofa yang ada diruang kamarnya itu, mereka kemudian duduk saling berhadapan dan Keyra dipangku Davin sembari menggoyang-goyangkan tubuh sang anak dan Keyra hanya terdiam sembari memainkan tangannya diwajah sang papah, terkadang dia memaikan tangannya ditelinga Davin.
" Ada apa Mah?" Tanya Davin.
__ADS_1
" Mamah tahu kalau kamu berbohong pada mamah."
" Berbohong apa Mah? Semua yang Davin katakan itu benar adanya mah " ucapnya pelan, padahal terkaan mamahnya benar kalau dirinya itu berbohong tentang Laura.