
" Vin Aku tanya padamu sebenarnya kamu merasa senang tidak kalau Anak mu itu ada yang ngasuhnya sekarang ini?" tanya Haris sembari menatap kearah Davin yang hanya menghela nafasnya tersebut.
" Entahlah, antara sedih dan senang itu Aku tidak tahu harus mengtakannya apa, karena Aku belum merasakannya bagaimana sekarang Keyra saat ini dengan wanita itu." ucap Davin sembari menyenderkan tubuhnya disandaran sofanya.
Terdengar helaan nafas Haris dan mereka sama-sama terdiam beberapa saat.
" Oh ya Vin,kembali lagi tentang si Rahman adik tirimu itu, kamu jangan sampai lengah, kamu tidak lupakan bagaimana dia inginkan perusahaan kamu ini, dan begitu gencarnya dia ingin menginginkannya, dia adalah orang yang sangat berbahaya karena dia itu menghalalkan segala cara agar semua keinginananya tercapai." ucap Haris dengan membenarkan duduknya,
" Iya Ris, Aku tidak akan pernah melupakan itu, bagaimana dia mengambil perhatian Papah saat itu, jika Aku mengingat kebelakang tentang peristiwa itu Aku tidak akan pernah memaafkan dia, kala itu papah lebih percaya padanya dari pada Aku, dan karna dia juga sampai Papah membenci kami semua dan di akhir hidupnya Papah, kami tidak bisa melihat dan menemuinya." kenang Davin.
" Aku sarankan padamu jangan sampai dia mendapatkan celah untuk masuk kedalam perusahaan kamu ini."
" Iya Aku tahu Ris, in sya Allah Aku akan selalu waspada dengan Dia, tapi sementara ini Aku tidak ingin punya urusan dngannya dulu, karena semenjak papah meninggal Aku dan Dia tidak pernah bertemu lagi, tapi sebenarnya Aku tidak ingin bertemu ataupun melihatnya." ucap Davin sembari mendengus dengan kesal.
" Hmmmm...Makanya Aku bilang padamu jangan sampai Dia mengambil kesempatan disaat kamu lengah, apalagi sekarang ini Kamu sudah terlalu banyak pikiran, ditambah lagi tentang masalah yang dihadapi Laura saat ini, aku khawatir kalau dia tahu tentang kejadian yang menimpa Laura tersebut akan menjadi senjatanya dalam menghadapi mu untuk merebut perusahaan kamu yang sudah kamu pertahankan saat ini dari kehancuran dimasa lalu, kalau seandainya dia datang dan tetap keukeh menginginkan haknya kita akan hadapi bersama." ucap Haris antusias dalam memberikan semangat pada sang sahabat sekaligus bosnya tersebut.
" Aku juga tidak akan memberikannya sepeserpun, karena ini semua bukan dari Almarhum papah, tapi hasil dari usaha aku dan mamah, karena perusahan papah sudah jatuh ketangan dia, dan sekarang masih dijalankannya, tapi aku tidak tahu lagi perkembangannya."
Terlihat Haris Mengganggukkan kepalanya dan Davin hanya menghela nafasnya dengan pelan.
" Baiklah pak Bos, aku akan kembali lagi keruanganku, dan menyelesaikan pekerjaanku." ucapnya tersenyum dan dianggukkan Davin.
Haris memang sahabat sekaligus orang kepercayaan Davin dan dia juga menjabat sebagai sekretaris Davin.
Haris pun kemudin melangkah menuju ke arah pintu keluar dan dia pun menutup kembali pintu ruangan bosnya tersebut.
__ADS_1
Saat dia mau melangkah menuju ke ruangannya tepat di pintu ruangannya tersebut dia berpapasan dengan seorang wanita yang tidak pernah dilihat dan dikenalnya, dia pun langsung memberhentikan langkah wanita itu untuk tidak terus melangkah menuju ruangan sang bos, Maklum Haris tidak mengenali siapa Clara karena haris hanya teman sekolah Davin dari tingkat sekolah menengah atas, jadi dia tidak mengenal siapa Clara.
" Maaf bu mau cari siapa ya?"
" Ibu...ibu...emang aku setua itu sehingga kamu panggil aku ibu ucap Clara sewot.
" Maaf Nona ada keperluan apa Nona kesini?"
" Aku mau ketemu dengan Bos kamu, dimana ruangannya." ucapnya sambil melangkah dan tetap dihentikan Haris tepat didepan pintu ruangan Davin.
" Ngapain kamu halangi aku masuk, kamu nggak kenal dengan aku ya?!"
Haris menggeleng santai...
" Tidak! saya memang tidak mengenali Nona, dan memang saya tidak kenal sama Nona, karena Nona baru saja saya lihat."
Haris diam dengan menatap Clara dengan tajam dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
" Iisshh...siapa dia ini, dengan berpakaian seperti ini mana kurang kain lagi pakaiannya dan baju belum selesai dijahit juga, begitu bangganya berbicara seperti itu padaku, kenal dimana Davin Nona lampir ini, yang nggak ada sopan santunnya sama sekali dengan orang yang baru dikenalnya, apakah ini pacar Davin yang baru." gumamnya.
" Kenapa kamu menatapku seperti itu, naksir ya dengan ku, maaf nggak level." ucapnya ketus.
" Udah buruan minggir, aku mau ketemu Davin."
" Eh Nona, ini kantor ya, jangan seenaknya Anda masuk seperti ini,karena ini ada aturannya dan ada sopan santunnya jangan seenaknya kaya gitu dong,semua kantor ada aturannya, kalau Nona ingin menemui pak Bos saya, apa udah buat janji? kalau tidak buat janji maaf silahkan Anda keluar dari kantor ini, dan kalau Anda masih keukeh untuk meminta bertemu tapi kurang sopan seperti ini saya akan panggilkan security sekarang." ucap tegas Haris.
__ADS_1
Karena mendengar suara sedikit ribut didepan pintu ruangannya, akhirnya Davin pun keluar untuk melihat ada apa sebenarnya yang terjadi.
" Ada apa ini ?"
" Davin...akhirnya kamu keluar juga." Ucap Clara
" Pak Bos, apakah Bapak kenal dengan Nona lampir ini?"
" Heh !! enak aja bilang orang lampir..."
" Emang iya, Nona lampir, liat aja penampilan kamu ini baju belum selesai dijait aja sudah digunakan, mana kurang kain lagi seperti ini, kenal dimana sih pak Bos dengan Nona lampir ini."
Davin hanya tersenyum tersembunyi sedangkan Clara terlihat marah dengan Haris.
" Lagian Nona Lampir, saya nanya baik-baik, kamunya aja yang sewot dan marah-marah aneh nih orang, datang kesarang orang dia yang marah kaya ini tanpa sebab,seperti tempat dia aja sih ishhh..." ucap Haris sembari tersenyum mengejek pada Clara.
" Haris biarkan dia masuk, dia teman kuliahku " ucap Davin.
Clara merasa senang dan langsung saja dia meraih tangan Davin, namun Davin menepisnya dengan cepat.
" Clara, maaf ini kantor jangan sampai ada orang yang salah paham tentang kedatangan kamu kekantor ini."
" Oh ya Ris, kamu kerjakan pekerjaan kamu yang ada didalam ruanganku sekarang ya, karena pekerjaan menumpuk." ucap Davin meminta Haris tetap berada didalam ruangan Davin.
" Baik pak bos." ucap Haris sembari melangkah menuju meja sang bos dan Clara hanya terdiam pupus sudah harapan Clara ingin berduaan dengan Davin, karena terhalang Haris berada didalam ruangan Davin.
__ADS_1
" Davin..! Aku datang kesini mau membicarakan masalah Laura, kenapa ada orang segala sih diruangan kamu, ntar kalau sampai ketahuan terus nyebar yang rugikan keluarga kamu Vin, Ayolah suruh dia melakukan pekerjaannya diruangannya aja." Pinta Clara pada Davin.
Namun Davin tidak menggubris perkataan Clara dia terus melangkah menuju kearah sofa dan diikuti Clara, Davin mempersilahkan Clara duduk, dengan muka kesal diapun akhirnya duduk, Davin tahu sikap, sifat dan kelakuan Clara seperti apa, jadi biar tidak ada fitnah diantara mereka berdua akhirnya Davin sengaja membawa Haris masuk dalam ruangannya, kehadiran Haris membuat Clara tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap Davin.