Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 30


__ADS_3

" Aisyah! kenapa kamu berbicra begitu, tidak boleh Dek..." Tegur Aisyah pada sang Adik.


" Nggak apa-apa Fatimah, Aisyah hanyalah anak remaja yang baru gede." Sambung Pras.


" Enak aja!!" sahut Aisyah sembari mendegus dengan kesal.


Pras menatap Aisyah dengan senyuman sinisnya.


" Sudahlah pak, katamu tadi Adiknya Fatimah adalah anak yang baru gede, tapi wajahnya jangan ditekuk gitu juga kali pak, kasihankan adiknya Fatimah kalau ditatap seperti itu." ucap Davin seraya tersenyum tipis, menambah rasa kesal diwajah pras.


" Kakak permisi dulu Fatimah." ucapnya seraya menatap Davin dengan tatapan yang menjengkelkan,


Dianggukkan Fatimah.


" Dari tadi kek, keluar dari ruangan ibu, kesel juga melihatnya." Sahut Aisyah.


" Dek, udah jangan terlalu emosi gitu ach, malu sama majikan Kaka." Ujar Fatimah sembari tersenyum pada sang Adik.


" Huh!! Menjengkelkan sekali mereka itu,bikin kesal aja sih.!!" gerutu Pras sambil berjalan dari ruangan ibu Fatimah yang sedang dirawat,Laura yang masih berada diluar menatap heran dengan Pras,


" Kenapa sih tuh orang, kesambet kali ya." ucapnya sembari menatap kearah pras yang berjalan menuju keluar rumah sakit, Laurapun menatap kearah pintu ruangan tersebut, dan dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dan kembali duduk dikursi luar ruangan tersebut.


" Ishh! lama banget sih kakak sama Mamah, kenapa sampai sekarang nggak keluar juga sih dari ruangan pesakitan itu, aku ogah masuk kedalam, apalagi melihat wajahnya kak Fatimah, aku lagi kesel dengannya karena gara-gara dia aku kena marah kak Davin, ish!! menyebalkan sekali, rela-relanya kak Davin memebela dia sih dan memepermalukan adiknya sendiri di depan orang lain lagi." gerutuya sembari mensendekapkan kedua tangannya didada.


Diapun dikejutkan dengan kedatangan paman Fatimah bersama dengan istrinya, Laura menatap kearah pasangan suami istri itu, dan paman Ari hanya memberikan senyumnya pada Laura dengan menganggukkan kepalanya sembari melangkah masuk keruangan ibunya Fatimah, paman Ari mengetahui ruangn sang kakak dari chat Fatimah padanya.


Setelah berada didalam, paman Ari langsung menanyai pada sang ponakan.


" Fatima, bagaimana ceritanya kenapa sampai dipindahkan, mana orangnya, paman ingin berterimakasih padanya karena bisa membantu ibu kamu sekarang ini, setidaknya kita merasa lega dengan ini." ucapnya sembari mnoleh kearah bu Santi dan Davin, dia langsung terkejut melihat kehadiran Davin.


" Eh, Bapak? bukannya Bapak yang tadi bertanya tentang teman Bapak ya, apa sudah ketemu? tapi kenapa bapak ada diruangan ini? apa bapak yang telah menanggung pembiayaan kakak saya?" tanya paman Ari sembari melihat kearah bu Santi, Davin dan Fatimah.


Fatimah terkejut saat pamannya itu mengatakan kalau pamannya suah pernah bertemu dengan Tuan Mudanya itu.

__ADS_1


Davin hanya tersenyum.


" Udah pak, saya ketemu dengan teman saya itu, dan kebetulan anak saya tadi menangis ingin bertemu dengan Fatimah, makanya saya kesini lagi dan bertanya dengan perawat jaga dan diarahkan keruangan ini." Ucap Davin.


Paman Ari hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, dia hanya bisa menggumbar senyumnya karena dia merasa ada yang disembunyikn Davin darinya.


" Paman, bukan pak Davin yang membiayai ini semua, tapi katanya sih si eror itu yang membiayai semua pengobatan ibu." Sahut Aisyah.


" Eror siapa?" tanya Paman Ari seraya menatap kearah Aisyah.


" Paman maksud Aisyah itu kak Pras, katanya dia yang punya inisiatif untuk menolong kita." lanjut fatimah.


" Pras? paman merasa tidak percaya, karena dari kondisi keuangnnya dia itu selalu meminta persetujuan dari orang tuanya terutama Ayahnya." ucap paman Ari, sembari menatap kearah Davin sesaat, Davin hanya tersenyum saja dan mengngguk-anggukkan kepalanya.


Paman Ari merasa ada yang aneh, dia tidak percaya kalau si Pras yang menanggung semua perobatan tersebut, dia merasa yakin penanggungan rumah sakit itu ada sangkut pautnya dengan lelaki yang ada didepannya itu.


" Oh ya paman, beliau berdua ini adalah majikan Fatimah, ini pak Davin dan ini ibu Santi, ibunya pak Davin, dan ini adalah Keyra anak yang Fatimah asuh, paman bisakan jangan pulang dulu, karena Fatimah mau ikut mereka , karena Keyra tidak mau pulang, kalau dia tidur disinikan nggak baik anak kecil berada dirumah sakit terlalu lama." terang Fatimah sembari meminta tolong pada sang paman.


" Baiklah nak,paman dan tante kamu akan nginap disini, kalau kamu kemalaman tidurlah dirumah bu Santi, temanilah nak Keyra, paman takut kalau dia menangis tengah malam mencari kamu, ini aja dia nggak mau pulang, apalagi nanti kalau sudah dirumahnya dan tidak melihat kamu dia pasti akan merajuk." ucapnya sembari tersenyum pada sang ponakan.


" Sudahlah nanti paman yang jaga."


" Iya Fatimah, tante juga akan menjaga ibu kamu, pergilah nak, kasihan Keyra cape nanti dia tidur digendonganmu." sambung tantenya.


Fatimah hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kemudian dia menoleh sesat pada ibu Santi, terlihat ibu Santi terseyum dan mngangguk.


" Naiklah pak kalau gitu, kami permisi dulu ya." ucap Davin tersenyum sembari meminta ijin pada paman Ari.


" Oh iya silahkan pak."


" Paman titip ibu dan Aisyah ya, Fatimah pergi dulu,"


" Iya nak hati-hati.."

__ADS_1


Kemudian Fatimah melangkah mengikuti langkah ibu Santi, dan Davin mensejajari langkah Fatimah. Sesampainya diluar dia meminta agar Fatimah memberikan Keyra padanya.


" Biarkan saya yang menggendong Keyra" ucapnya.


Fatimah mengangguk, dan diapun langsung menyerahkan tubuh mungil tersebut, tapi lagi-lagi Keyra terbangun dan menagis, Davin pun langsung menyerahkan pada Fatimah kembali


" Kenapa sih, Kak Fatimah dibawa lagi padahal kan perjanjian pekerjaannya cuma siang aja?" tanya Laura yang berada di luar sembari berdiri dan mengikuti langkah mereka, Fatimah yang berjalan dengan bu Santi terlebih dahulu pun tidak mendengar apa yang diucapkan Laura.


" Udah! kamu nggak usah banyak bicara, lagian kenapa kamu tidak mau masuk ke dalam, kamu yang mau meminta ikut ke sini, kamu nggak sopan sekali sih." Tegas Davin.


" Udah deh Kak, kenapa sih kakak selalu marah terus dengan Laura gara-gara kak Fatimah sampai segitunya kakak sama Aku, semenjak kehadiran kak Fatimah dirumah kita, kakak mulai berubah sama Laura." Protes Laura.


" Kakak tidak berubah sama kamu, tapi karena kelakuan Kamulah yang membuat kakak ingin marah padamu."


" Kelakuan apa sih kak." ucapnya sembari mengikuti langkah Davin.


" Ish!! ini semua gara-gara kakak Fatimah, makanya Kak Davin jadi marah denganku, apa bagusnya sih dia." Gerutunya sembari terus melangkah menuju ke arah parkir di mana mobilnya Davin terparkir rapi di depan rumah sakit tersebut.


Kemudian Davin membukakan pintu mobil untuk mamanya dan kemudian membukakan pintu mobil kembali untuk Fatimah.


" Ayo Laura masuk." Tegur Davin karena melihat sang Adik tidak bergeming untuk masuk kedalam mobinya.


" Laura Nggak ingin duduk di samping Kak Fatimah!" Tegasnya.


" Memang kamu mau duduk di mana?"


" Lebih baik Laura ikut taksi aja!" Ucaonya sembari berjalan menuju arah pintu gerbang.


" Laura !!" panggil Davin sembari mendekati Adiknya tersebut dan menariknya kembali, diapun kemudian membukakan pintu mobil tersebut dan mau tidak mau Laura pun duduk bersebelahan dengan Fatimah.


" Ada apa sih Mbak Laura,jadi seperti itu sikapnya dengan aku, padahal awal pertama bertemu dengan aku Dia baik banget tapi kenapa berubah 90 derajat seperti ini, apakah karena kejadian tadi siang." Gumam dalam batinnya Fatimah sembari dia mengelus pipi mungil Keyra yang kembali tertidur dalam dekapannya.


" Laura ini memang keterlaluan! dia juga tidak menyadari kalau sebenarnya dia salah! untuk marah dengan Fatimah, kalau seandainya dia tahu pasti Fatimah yang akan marah dengannya!" Ucap Davin dalam batinnya seraya menghidupkan mesin mobilnya, kemudian Bu Santi menengok ke arah Laura yang duduk di belakang kursi setir Davin.

__ADS_1


" Kamu kenapa Laura merajuk segala, lagi pula tadi kamu juga yang mau ikut ke sini." Ucap Bu Santi


Laura hanya mendengus dengan kesal dan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil sang kakak yang perlahan-lahan meninggalkan halaman rumah sakit tersebut


__ADS_2