Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 57


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Mereka semua sudah bersiap-siap untuk melaksanakan pernikahan Davin dan Fatimah. Fatimah yang berada di ruangan ibunya itu pun sudah mempersiapkan dirinya, dia menggenggam tangan ibunya terlihat senyum bahagia di wajahnya, Fatimah yang dibalut dengan kebaya putih dan sedikit dandanan sederhana di wajahnya itu menambah Aura kecantikan dirinya.


" Kakak, Akhirnya hari ini kakak akan menikah juga, Aisyah senang mendengarnya, semoga pernikahan Kakak ini sekali dalam seumur hidup, semoga Kakak bahagia." ucapnya sembari memeluk kakaknya dari arah belakang karena posisi Fatimah sedang duduk menghadap sang ibu. Fatimah mengangguk dan tersenyum pada sang adik.


Paman Ari dan istrinya tersenyum bahagia melihat sang keponakan sudah mau dipersunting oleh laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab, walaupun pernikahan mereka harus dilakukan di Rumah Sakit tepatnya di ruangan sang ibu yang masih dalam keadaan koma.


Sedangkan keluarga Davin melaju menuju ke arah rumah sakit, tapi bukan ke rumah sakit di mana Fatimah dan keluarganya menunggu, melainkan Davin dan keluarganya menuju ke arah rumah sakit di mana sang istri berada.


Sebelum dia membuka pintu ruangan istrinya itu dia terlihat gemetaran, Bu Santi menatap sang anak dan memegang tangannya.


"Ada apa Davin? kenapa kamu gemetaran?" tanya Bu Santi seraya menatap ke arah Davin.


Davin kemudian menoleh ke arah sang mama sembari mengukir senyum di wajahnya.


" Tidak ada apa-apa mah, cuman Davin merasa..." Davin tidak melanjutkan kalimatnya dia mengusap wajahnya dan menghela nafasnya dengan pelan.


" Sebenarnya ada apa? kamu merasa kenapa?" Tanya Bu Santi sembari menatap Davin dengan rasa heran.

__ADS_1


" Kak Davin... Kakak nggak usah gemetaran seperti itu, Kak Sherly pasti mengetahui kalau hari ini Kak Davin akan menikah dengan Kak Fatimah, Kak Sherly pasti mendukung keputusan Kak Davin untuk menikahi Kak Fatimah yang memang wanita terbaik untuk kakak dan Keyra." lanjut Laura sembari tersenyum pada kakaknya itu, Davin membalas senyum sang adik kemudian dia memejamkan matanya sesaat di dalam batinnya dia mengucapkan bismillah dia membuka pintu ruangan sang istri, terlihat tubuh istrinya yang masih menempel alat medis di atas tempat tidur itu pun tidak bergeming sama sekali, masih dengan posisi semula dan masih dengan betahnya dia menutup matanya, Davin melangkah mendekati sang istri, ada rasa getaran di hatinya, seakan-akan dia merasa bersalah dengan istrinya yang masih berjuang di atas pembaringan pesakitan itu, Davin kemudian menyentuh tangan istrinya dan menggenggamnya, dia menatap sendu wajah istrinya yang sudah 3 tahun lamanya tidak membuka matanya itu.


" Sherly sayang, hari ini aku datang, tapi tidak seperti hari biasanya, aku ke sini ingin meminta Restu darimu, karena hari ini aku akan melangsungkan pernikahanku dengan Fatimah, wanita pilihanmu, Aku berharap setelah pernikahan ini terlaksana aku mendapatkan kabar baik darimu sayang, karena sudah 3 tahun lamanya kamu menutup mata dan kamu tidak melihat buah hati kita sekarang sudah besar, Maafkan aku sayang, bukan aku menghianati cinta yang pernah kita ukir bersama-sama, Maafkan aku sayang." ucapnya kemudian membelai rambut istrinya itu dan mencium kening sang istri dengan penuh kasih dan sayang tidak terasa di sudut mata Davin terasa basah dia pun kemudian mengusapnya dengan pelan karena dia tidak ingin mamahnya dan adiknya itu melihat kesedihannya, kemudian Davin melihat ke wajah sang istri seakan-akan Sherly yang tidak bergerak sama sekali itu dan betah menutup matanya itu pun membiaskan senyum di wajahnya, seakan-akan dia merestui pernikahan suaminya dengan wanita pilihannya yaitu Fatimah dan dia mengisyaratkan dengan suaminya melalui mimpi yang dirasakan Davin seakan-akan Sherly nyata menemuinya.


Bu Santi pun tersenyum dalam tangisnya dia tidak tega melihat sang menantu terbaring begitu lamanya di ranjang pesakitan itu.


" Sherly maafkan Ibu nak, sebenarnya ini bukan salah Davin, tapi salah ibu yang memaksa Davin untuk menikah lagi dan maafkan Ibu, ibu yang memilihkan calon istri untuknya, karena Keyra sangat menyayangi wanita pilihan Ibu ini." ucapnya sembari mengusap tangan Sherly dengan penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri.


" Hai, Kak Sherly, Laura datang menemui kakak, maaf ya Kak, baru kali ini Laura bisa menemui Kakak, bukannya Laura melupakan Kakak, tapi Laura tidak tega melihat keadaan Kakak seperti ini, semoga saja ada keajaiban untuk kakak dan kakak bisa membuka mata Kakak walaupun sebentar, jujur Laura rindu sama kakak, rindu bersama seperti dulu, hari-hari kita lalui bersama-sama, Maafkan adikmu ini yang jarang menemui mu kak." ucapnya sembari meraih tangan Sherly dan mencium punggung tangan kakak iparnya itu.


Keyra yang berada dalam gendongan Laura terlihat membungkukkan badannya untuk mencium sang Mama, dengan bantuan Laura gadis kecil itu pun bisa mencium pipi kiri dan kanan ibu kandungnya itu.


Tidak memakan waktu lama mobil itu sudah memasuki halaman rumah sakit di mana Fatimah dan keluarganya berada, Mereka pun turun dari mobil dan melangkah menuju ke arah ruangan di mana Ibu Fatimah berada.


Davin membuka pintu ruangan Ibu Fatimah, mereka semua menatap ke arah pintu, di ruangan itu sudah berada Pak penghulu yang baru saja sampai sebelum Davin dan keluarganya sampai.


" Maafkan kami, karena kalian menunggu agak lama." ucap Bu Santi sembari tersenyum.


" Tidak Bu, kami juga baru sampai." ucap pak penghulu sembari membalas senyuman Bu Santi mereka saling bersalaman, Davin kemudian menengok kiri dan kanan mencari Pak Ahmad.

__ADS_1


Karena yang dicari belum datang kemudian dia pun menghubungi Haris yang ditugaskan menjemput Pak Ahmad.


Setelah berbicara dengan Haris beberapa menit kemudian pembicaraan itu pun selesai, lalu Davin menjelaskan pada mereka kalau Haris dan Pak Ahmad masih dalam perjalanan menuju ke rumah sakit itu.


Mobil yang dikendalikan oleh Haris pun memasuki halaman rumah sakit dan terparkir di samping mobil Devan, Pak Ahmad yang kebetulan datang seorang diri karena Bu Fenny tidak mau ikut itu pun terkejut melihat dirinya dibawa ke rumah sakit, sebelum turun dia pun langsung bertanya dengan Haris.


" Maaf nak Haris, katanya saya dijemput untuk pernikahan anak saya, kenapa kita berada di rumah sakit.?" tanyanya merasa heran.


" Pernikahannya memang dilaksanakan di sini pak."


" Pernikahannya dilaksanakan di rumah sakit ini? memang siapa yang sakit? Apakah Fatimah.?" Tanyanya merasa heran dengan jawaban Haris.


" Apakah mereka tidak bilang sama Bapak? kalau pernikahannya akan dilaksanakan di rumah sakit ini?" Ucap Haris sembari menatap ke arah Pak Ahmad, Pak Ahmad menggelengkan kepalanya.


" Pak Ahmad, pernikahan anak bapak Fatimah dan Davin memang dilakukan di rumah sakit ini, di depan ibunya Fatimah yang sedang mengalami koma selama 5 bulan lamanya, karena mengalami kecelakaan kala itu dan mereka juga menjalani pernikahan ini hanya diketahui pihak keluarga dan orang terdekat, bukan kenapa-napa karena ini adalah permintaan dari Fatimah dan Davin, sebelum Ibunya sadarkan diri mereka tidak merayakan pernikahan besar-besaran." terang Haris lagi.


" Nany mengalami kecelakaan? dan Nany koma?Ya Tuhan kenapa ini terjadi, ini adalah salahku." ucapnya bergumam di dalam hati, karena dia tidak bisa berbicara apa-apa lagi setelah mengetahui kalau Mantan istrinya itu mengalami koma, karena kecelakaan 5 bulan yang lalu. Rasa tidak percaya mendengar keterangan dari Haris, Pak Ahmad merasa badannya gemetar mendengar Mantan istrinya itu kecelakaan 5 bulan yang lalu dan mengalami.koma sampai sekarang.


Haris pun kemudian mengajak Pak Ahmad turun dari mobilnya, Pak Ahmad pun mengangguk dan turun dari mobil,dia berjalan gontai seakan tidak ada arah dan tujuan, dia hanya mengikuti langkah Haris menuju ke ruangan Ibu Fatimah di mana mereka sudah menunggunya.

__ADS_1


__ADS_2