
Keesokan paginya tepat pukul 07.00 pagi Davin turun ke lantai bawah, seperti biasa mereka sudah berada di ruang makan untuk sarapan pagi bersama.
Karena makanan sudah siap Mereka pun menikmati sarapan pagi tersebut, di sela-sela makan mereka Bu Santi pun berbicara pada Fatimah.
" Fatimah Ibu mau bertanya denganmu."
" Bertanya masalah apa Bu.?"
" Tentang masalah Laura tadi malam, maaf Ibu menanyakan ini di pagi hari, seharusnya ibu menanyakannya tadi malam, tapi karena malam sudah larut Ibu tidak enak menanyakan ini."
Fatimah tersenyum sembari berucap.
" Tidak apa-apa Bu, kalau ibu mau menanyakannya silakan tanyakan aja, kalau ada yang masih mengganjal di hati ibu." ucapnya.
Terdengar helaan nafas dari Bu Santi, dia menghentikan aktivitas makannya dia menatap ke arah Fatimah sembari tersenyum.
" Fatimah, Ibu percaya kalau kamu benar-benar memaafkan Laura dan itu juga percaya kalau kamu tidak akan pernah memperpanjang lagi masalah yang telah terjadi, tapi yang Ibu takutkan bagaimana dengan paman dan tante serta Aisyah, ibu tidak ingin Aisyah membenci kamu, setelah dia tahu nantinya kalau kamu memaafkan orang yang telah membuat ibunya menderita selama 5 bulan lamanya, karena Ibu sudah melihat sifat dan sikapnya Aisyah, sangat berbeda dengan kamu, kamu berhati lembut pemaaf dan sabar, sedangkan Aisyah kebalikan dari sikap kamu, di karenakan Aisyah masih Labil, Ibu tidak ingin kalian berdua nantinya bertengkar, gara-gara kamu memaafkan Laura, tapi dia tidak memaafkan Laura." Ucap Bu Santi sembari melipat kedua tangannya di atas meja dan terlihat wajahnya sangat sedih.
Fatimah pun tersenyum, Dia kemudian menghentikan aktivitasnya memberi makan pada Keyra.
Terdengarlah nafas Fatimah Dia kemudian menatap ke arah Bu Santi.
" Ibu tidak usah khawatir, Aisyah memang bersikap seperti itu, kalau dia membenci seseorang yang tidak sesuai dengan pandangannya, saya yakin Aisyah tidak bersikap dengan apa yang Ibu pikirkan, Aisyah anak yang baik dia pasti akan memaafkan Mbak Laura, Fatimah akan bicara langsung dengan Aisyah, Begitu juga dengan paman dan tante Fatimah, mereka berdua memiliki pendapat yang sama seperti Fatimah, tidak akan memperpanjang masalah yang dihadapi ibu sekarang ini, jika seandainya orang itu sudah ditemukan, sejak saat kejadian Fatimah tidak mau melapor ke pihak yang berwajib, karena Fatimah tidak ingin memperpanjangnya, begitu juga dengan paman dan tante, Fatimah yakin dengan keikhlasan Fatimah serta keikhlasan Paman dan tante, ibu akan selamat atas izin yang maha kuasa." ucapnya tersenyum.
Laura langsung menundukkan kepalanya dia langsung menghentikan makan paginya itu, Begitu juga dengan Davin dia lalu menatap Fatimah yang duduk di hadapannya bersama dengan buah hatinya itu, lagi-lagi Davin bergumam di dalam hatinya.
" Ya Tuhan, hatimu terbuat dari apa Fatimah, sehingga kamu begitu besar dan tidak akan pernah habis kata maaf di dalam dirimu itu." Gumamnya.
__ADS_1
" Mamah..." panggil Keyra sambil menggoyang-goyangkan tangan Fatimah, Fatimah kemudian menoleh ke arah Keyra.
" Iya sayang..." ucap Fatimah dengan lembut sembari menghapus noda bekas makanan yang ada di bibir Anak Asuhnya itu.
" Key, hari ini mau main sama nenek dan tante." ucapnya sembari menunjuk Bu Santi dan Laura, Laura tersenyum dan mengangguk Begitu juga dengan Bu Santi.
"Ya sayang, kalau mau main sama nenek dan tante, Key mainnya jangan nakal ya, nanti Mamah ada kerjaan sebentar, Key di rumah aja ya, mau kan tinggal sama nenek dan tante?" ucap Fatimah dengan lembut.
Keyra pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Dia kemudian menggoyang-goyangkan kakinya sangat bahagia terlihat sekali di wajahnya sambil mengunyah makanan yang diberikan oleh Fatimah dalam mulutnya.
" Oh ya jadi kan kalian hari ini ke tempatnya Pak Ahmad? tanya Bu Santi.
Davin menganggukkan kepalanya sembari menatap kearah Fatimah.
" Jadi Mah, Davin Akan tetap mempertemukan Fatimah dan Ayah kandungnya." Ucap Davin dan dia pun menatap kearah Fatimah, terlihat Fatimah tersenyum secara terpaksa dan diapun langsung menyembunyikan wajahnya dengan cara menyamping menghadap Keyra.
" Sepertinya ada yang disembunyikan Fatimah, sebenarnya ada apa?" Gumam Davin sembari mengunyah sarapannya.
Setelah dia selesai menyantap sarapannya itu terdengar ponselnya berbunyi, ponsel yang berada di dalam saku celananya itu pun langsung diambilnya dan dia melihat siapa pemanggilnya ternyata pemanggilnya adalah Haris.
Davin langsung menjawab panggilan tersebut dan dia melangkah menjauh dari mereka semua yang masih berada di meja makan, Davin memang sengaja menjawab panggilan dari Haris menjauh dari mereka agar mereka tidak mendengarkan pembicaraan mereka berdua, setiap Haris menghubunginya itu pasti selalu memberikan kabar yang sangat penting yang memang harus diselesaikan oleh Davin tentang masalah kantor.
" Halo Ris ada apa?"
" Rahman ada di ruanganmu sekarang ini."
" Aduh!! maunya apa sih anak itu di ruanganku." Ucap Davin terdengar nada yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
" Aku sudah mengatakan padanya, kalau kamu tidak masuk hari ini, tapi dengan lantangnya dia mengatakan kepadaku kalau kamu tidak masuk berarti dia yang berada di kursi kerjamu." Ucap Haris menerangkan pada Davin.
" Sekarang kamu di mana?"
" Aku berada di depan ruanganmu, aku mau manggil security keamanan untuk mengusirnya."
" Baguslah! usir saja dia! kalau dia masih belum mau keluar dari ruanganku itu, aku akan melaporkan dia kepada pihak yang berwajib."
Terdengar suara Rahman yang membentak security di kantor Davin, karena disuruh keluar paksa dari ruangan Davin.
" Ya udah aku akan berangkat ke sana." ucap Davin.
" Nggak usah Vin, kamu lanjutkan aja urusan kamu bertemu dengan Ayahnya Fatimah, urusan yang di sini aku yang akan menghandlenya, Aku cuma ngasih tahu ke kamu agar kamu tidak merasa terkejut aja nantinya mendengar kedatangan saudara tirimu ini." ucap Haris
" Baiklah, kalau seperti itu, kalau memang tidak bisa ditangani segera hubungi aku."
" Siap bos!"
Davin dan Haris pun kemudian memutus sambungan bicaranya, Davin menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat, dia berdiri di teras rumahnya sedikit lama, kemudian dia pun dikejutnya dengan suara Keyra yang menepuk-nepuk kaki Davin.
Davin menggendong sang anak kemudian dia pun menatap ke arah Mamahnya dan Fatimah.
" Apakah kamu sudah siap Fatimah?"
Fatimah menganggukkan kepalanya, kemudian Laura mengambil Keyra dari gendongan Davin.
Fatimah dan Davin kemudian memasuki mobil pribadinya,dengan diiringi pandangan Keyra, biasanya dia selalu menangis kalau ditinggal oleh Fatimah, Tapi saat itu Keyra sepertinya mengerti karena calon Mamahnya itu ada urusan pribadi yang harus segera diselesaikan, dengan manisnya dia melambaikan tangannya kearah Fatimah dan Davin, perlahan-lahan mobil yang dikendarai Davin pun meninggalkan halaman rumah pribadinya itu menuju ke arah tempat yang dituju yaitu rumah Pak Ahmad Ayah kandungnya Fatimah.
__ADS_1