
Rahman melihat Harris menghubungi seseorang,karena merasa takut Rahman langsung berdiri dan menarik pelan tangan Harris agar dia tidak menghubungi pihak yang berwajib, Harris terkejut.
" Tolong jangan hubungi yang berwajib, karena Aku merasa salah padamu!" Ucapnya sembari menatap kearah Harris.
Haris menatap kearah Rahman, padahal dia tidak menghubungi siapa pun dia hanya meletakkan ponselnya ditelinganya seolah dia sedang menghubungi seseorang.
Davin tersenyum, begitu juga dengan Harris yang tersenyum-senyum dalam hati, disisi lain Davin merasa kasihan dengan Rahman disaat dia mengakui salahnya dia terlihat kebingungan.
" Apaan sih!! Terserah Aku dong mau hubungi siapa aja!! Makanya jangan bikin ulah! Kalau tidak ingin kamu merasakan bagaimana rasanya hotel prodeo kembali!" Ucap Harris.
" Rahman! Sekali lagi aku tegaskan padamu jangan lagi kamu datang kerumahku ataupun kantorku karena aku tidak akan pernah sepeserpun memberikan yang bukan hak kamu!" Ucap Davin sembari menatap kearah Rahman, Rahman terdiam! Dia menghentakkan tubuhnya kembali lagi kesofa yang semula dia duduki.
" Saat ini aku tidak akan melaporkanmu, tapi kalau kamu masih mengganggu keluarga Davin, jongos Davin ini akan melaporkan mu, karena ini adalah bukti nyatanya, dan bukti ini tidak ada tanggal expayetnya! Ingat itu!!" Ucap Harris membuat Rahmah terkejut, dia tidak berpikir secara jernih, mana ada sebenarnya kesalahan yang dilakukannya dilaporkan beberapa bulan kemudian.
Rahman kemudian menatap kearah Davin sesaat dia tidak berkata apa-apa, dia merasa ada ketakutan tersendiri saat Harris berbicara seperti itu.
" Ingat! Apa yang dikatakan Harris! Kalau masih kamu berbuat seperti itu lagi pada keluarga ku ataupun kekantorku dengan semena-mena kamu, kamu akan rasakan akibatnya.!" Ucap Davin sembari melangkah meninggalkan Rahman yang duduk seorang diri ditempatnya semula.
__ADS_1
Rahman hanya bisa memandang kepergian kedua lelaki tersebut, kemudian dia menyandarkan tubuhnya disofa dan mencengram kuat rambutnya sembari berteriak dengan penuh kekesalan dengan apa yang dia lakukan tersebut barusan.
Melihat tamunya sudah tidak ada lagi, kedua wanita tersebut mendekatinya, namun Rahman langsung berdiri.
" Aku sudah tidak selera lagi dengan kalian." Ucapnya sembari berdiri dan melangkah menuju kearah luar cafe, dan kedua wanita tersebut hanya tersenyum saling pandang dan mereka pun langsung mencari mangsa baru lagi.
Di mobil Harris yang sedang melajukan mobil pribadinya itu pun tersenyum-senyum membuat Davin merasa heran, dia pun kemudian menatap ke arah Haris sembari bertanya pada sahabatnya itu sekaligus orang kepercayaannya.
" Kenapa kamu tersenyum dan lagi aku masih tidak mengerti dengan rencana kamu tadi, kamu kan tidak pernah bilang untuk membuat rencana agar Rahman tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selama ini kamu hanya memberikan aku semangat saja dan kesabaran jika Rahman mengganggu, jujur aku merasa heran tadi dan aku tidak menyangka juga rencana kamu begitu saja bahkan aku pun tidak mengetahuinya sama sekali, tapi benar kamu tidak apa-apa dengan bogem mentah yang diberikan Rahman padamu itu."
Haris tersenyum Lagi sembari sesaat menoleh ke arah Davin yang duduk di sampingnya itu.
" Makanya aku sengaja saat dia menghajarku aku hanya diam saja dan merekamnya untuk diriku sendiri agar menjadi bukti untuknya ternyata kamu melihat sendiri kan dia itu penakut aslinya, dia hanya bertameng dengan Almarhum papa kamu, Kamu kan tahu kamu paling takut dengan papa Kamu, bukannya takut gimana-gimana, tapi kamu takut untuk melawan papa kamu kala itu, makanya saat papa kamu berbicara seperti itu untuk memberikan sebagian dari hasil perusahaan kamu pada Rahman, kamu hanya mengiyakan saja." ucap Haris sembari menoleh sesaat ke arah Davin.
" Aku menuruti apa kata Papah itu karena aku tidak ingin menyakiti hati papa, walaupun papa dan mama sudah berpisah kala itu aku sebagai seorang anak hanya bisa ingin membahagiakan Mama dan papaku, walaupun mereka sudah memiliki kehidupan yang berbeda, makanya aku mengiyakan saja keinginan Papah untuk membagi keuntungan perusahaanku pada Rahman."
Terdengar Davin menghela nafasnya dengan pelan, kemudian di dalam mobil itu hanya diam tidak ada bersuara, dan Haris melajukan mobilnya menuju ke arah kantor kembali.
__ADS_1
Sedangkan di dalam mobil Rahman, dia pun berteriak sekencangnya karena kejadian yang sudah menimpanya di cafe tersebut.
Saat dia menyandarkan tubuhnya di jok mobilnya terdengar ponselnya berbunyi, Dia kemudian mengambil ponselnya yang berada di sampingnya itu, dia melihat layar ponselnya tertera sebuah nomor tanpa dia kenal langsung saja dia menjawab panggilan itu.
" Halo...selamat siang, ini dengan Mas Rahman?" Tanya suara di seberang sana.
" Iya, saya Rahman, ini siapa ya.? Dan ada keperluan apa.?"
" Maaf Mas Rahman, saya Pak RT diwilayah kediaman rumah Mas, saya mau memberi kabar kalau Ibu mas sudah dibawa ke rumah sakit, karena kami melihat beliau tidak sadarkan diri di depan teras, tapi ada dua orang yang baru keluar dari rumah kediaman Mas Rahman." ucap Pak RT.
" Apa ? mamah pingsan di depan teras rumah? sekarang dibawa ke rumah sakit mana.?"
" Rumah Sakit Wijaya.."
" Baiklah! saya akan segera berangkat ke sana, terima kasih Pak RT atas informasinya."
Kemudian pembicaraan itu pun terputus, Rahman melajukan mobilnya berbalik arah menuju ke rumah sakit Wijaya, tapi di tengah perjalanan dia menghentikan laju kendaraannya dan berhenti di pinggir jalan beberapa saat.
__ADS_1
" Bukankah Rumah Sakit Wijaya itu miliknya keluarga Davin? Aduh! ya Tuhan kenapa ke rumah sakit itu Mama di bawa sih!!" ucapnya menyandarkan tubuhnya sembari mencengkram rambutnya dengan kuat ia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dia melajukan kembali mobilnya menuju ke arah rumah sakit tersebut.