
Davin yang berada di dalam mobilnya pun hanya terdiam dia tidak tahu apa yang harus dia katakan nantinya dengan Fatimah kalau seandainya Laura sudah berkata jujur dengannya.
" Sebelum Laura berkata jujur langsung dengan Fatimah apakah aku yang harus mengatakan semuanya kepada Fatimah, apa aku harus bicara empat mata dengan Fatimah biar semua ini tidak menjadi beban di dalam keluargaku terutama untuk diriku sendiri aku tidak ingin dikatakan oleh keluarga Fatimah memanfaatkan keadaan, Ya Tuhan beri aku jalan kuatkan Aku agar aku bisa mengatakan semuanya kepada Fatimah." ucapnya sembari fokus menatap ke depan dan mengendalikan stir yang ada di depannya itu, beberapa saat kemudian mobil itu pun memasuki halaman rumah sakit ya seperti biasa memarkirkan mobilnya, Dia turun dan melangkah dengan santai menuju ke arah ruangan di mana ibunya Fatimah dirawat.
Pintu ruangan itu pun terbuka dan mereka yang ada di dalam pun menoleh kearah luar, Davin tersenyum dan melangkah menuju ke arah mereka.
" Papah..." panggil Keyra, Davin langsung menggendong sang anak, Aisyah pun tersenyum begitu juga dengan Fatimah.
" Maaf Fatimah apakah sudah mau pulang? atau kamu masih ingin berada disini, aku akan menunggu kalian "
" Tidak, saya sudah menunggu tuan sedari tadi karena terlihat Keyra sudah mengantuk."
Davin menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun berpamitan pada Paman Ari dan istrinya yang memang sudah berada di ruangan tersebut.
" Aisyah kakak pergi dulu ya kamu jaga ibu kalau ada apa-apa cepat hubungin kakak ya.."
" Iya kak, kakak hati-hati ya." ucap Aisyah sembari tersenyum sambil mencium punggung tangan Fatimah, dan juga punggung tangan Davin, Davin pun mengusap kepala Aisyah sembari menggendong Keyra, mereka berdua pun melangkah menuju ke arah parkiran setelah mereka berpamitan dengan keluarga Fatimah yang ada di dalam ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian mobil yang berada di parkiran itu pun meninggalkan halaman rumah sakit dan menuju pulang ke arah rumah.
" Kamu sudah makan Fatimah?"
Fatimah menggeleng.
__ADS_1
" Bagaimana kalau kita makan di luar, karena aku sudah sangat lapar juga, gimana sayang, Keyra mau makan juga kan?"
Keyra hanya menganggukkan kepalanya, Davin pun kemudian berputar arah mobilnya ke arah restoran siap saji kesukaannya, tidak berapa lama mobil itu memasuki halaman restoran mereka bertiga turun dengan sigap Davin langsung memegang tangan Fatimah dengan keyra berada masih di dalam gendongannya, mereka menuju ke arah dalam dan memilih tempat duduk yang tidak terlihat sangat ramai, Fatimah duduk berhadapan dengan Davin sedangkan Keyra duduk di samping Fatimah, Kemudian mereka pun dihampiri pelayan restoran tersebut setelah memesan makanan mereka berdua, pelayan itu pun meninggalkan mereka untuk mempersiapkan pesanan makan malam Davin dan Fatimah, sembari menunggu makanan itu pun Fatimah dan Keyra saling bercanda, Davin pun melihat layar ponselnya beberapa saat, kemudian dia menatap ke arah Fatimah.
" Aku harus mengatakan semuanya kepada Fatimah sekarang, sebelum Laura berbicara karena ini penting sebelum pernikahanku dengan Fatimah terlaksana." Gumamnya.
" Fatimah..." panggil Davin Fatimah pun langsung menoleh.
" Ya Tuan..."
Davin pun menengok kiri dan kanan dia tidak ingin orang mendengar Fatimah memanggilnya dengan sebutan Tuan di tempat umum.
" Fatimah aku minta denganmu kalau di tempat umum seperti ini kamu nggak usah memanggilku dengan sebutan Tuan, biasakanlah kamu menyebut aku dengan Davin atau apa saja tapi lebih enaknya lagi kamu memamggil aku Mas." ucap Davin sembari tersenyum, Fatimah pun tersipu malu.
" Iya Tuan, eh.. maaf Mas." ucapnya tersenyum dengan malu-malu dan menundukkan kepalanya sembari membelai rambut Keyra.
" Apakah aku sanggup untuk mengatakan ini semua dengan Fatimah tapi apakah ini momen yang terbaik untuk aku mengatakannya Ya Tuhan beri aku kekuatan." ucapnya sembari memainkan jari jemarinya sambil menatap ke arah Fatimah yang sedang tersenyum dengan Keyra.
Kemudian pelayan pun datang membawakan pesanan mereka, pelayan itu menyusun makanan di atas meja, mereka bertiga pun kemudian menyantap santapan malam tersebut, sembari Davin kuat berfikir bagaimana caranya untuk mengatakan semuanya kepada Fatimah sambil dia mengunyah makanannya dan menatap Fatimah, terlihat senyum Fatimah bahagia sambil menyuapi Keyra sang anak Asuhnya itu.
" Ya Tuhan apakah ini jodoh kedua yang terbaik untukku? kalau memang lancarkanlah ya Tuhan jalanku, tapi kalau seandainya memang ini tidak terbaik untukku jauhkan dia dariku." gumamnya dalam batinnya sambil mengunyah makanan yang ada di hadapannya itu,Davin tidak terlalu merasakan enaknya makanan yang dia kunyah, padahal makanan itu adalah makanan kesukaannya, karena pikiran Davin berperang dengan pikiran dia selama ini antara mengatakan kejadian yang sesungguhnya dan tentang pernikahan yang dia akan laksanakan bersama dengan Fatimah.
" Fatimah..." panggilnya sekali lagi Fatimah pun langsung menghentikan makannya menatap ke arah Tuan mudanya itu.
__ADS_1
" Ya Mas ada apa?" ucapnya, Davin tersenyum.
" Ayahmu sudah aku temukan, maksudnya alamat Ayahmu tinggal sudah aku ketahui besok pagi kita akan bersama-sama menemui Ayah kamu, apakah kamu bersedia kita berdua menemui Ayah kamu itu.?" Tanya Davin, dia begitu lancar mengatakannya tapi sayang bukan topik utamanya yang dia katakan pada Fatimah.
Fatimah mengangguk.
" Syukurlah kalau Ayah sudah ditemukan dan benar alamat itu adalah tempat tinggalnya."
ucapnya terlihat senang di wajahnya karena dia ingin mengatakan kalau dia sudah ingin menikah dengan Ayahnya itu, apapun tanggapan Ayahnya dia akan tetap menginginkan Ayahnya itu hadir di pernikahannya sebagai wali nikahnya yang sah..
Tapi Rasa bahagia itu pun sirna dari wajahnya setelah dia mengingat kejadian saat itu Ayahnya berbicara saat dia pergi meninggalkan keluarganya kala itu.
Flashback on...
" Ayah kenapa Ayah begitu tega meninggalkan kami, kasihan anak-anakmu." ucap Bu Dewi sambil memegang surat perceraian yang sudah ditandatanganinya secara paksa oleh suaminya, Bu Nany tidak ada pilihan lain selain menandatangani itu daripada dia berpisah dengan kedua anaknya tersebut.
" Sudahlah Bu aku sudah tidak ingin hidup susah Aku ingin hidup bahagia kalau nanti kamu mencari aku itupun demi anak kita suatu saat untuk menikah, aku akan datang untuk menikahkan mereka." ucap Pak Ahmad kala itu.
" Tapi ingat tidak semudah membalik telapak tangan untuk menikah memanggil suamiku lagi, kalau kamu datang ke rumahku dan ingin menikahkan anak kamu dengan wali Ayahnya, kamu harus membayar ganti rugi waktu yang sudah dibuang untuk hadir dipernikahan anak-anakmu nanti." ucap Bu Feny, Bu Nany terperanjat mendengar ucapan Bu Feny tersebut, ia menatap ke arah suaminya yang sudah beberapa detik menceraikannya itu.
" Kamu tidak bisa melarang seorang Ayah untuk menikahkan anaknya, karena tidak ada hak dari kamu! biar bagaimanapun dia adalah Ayah kandung dari kedua anakku!" ucap Bu Nany dengan tegas.
Flashback of.
__ADS_1
" Fatimah...!" Tegur Davin, diapun terkejut dan langsung saja dia melanjutkan memberi makan Keyra.
" Ada apa dengan Fatimah?" Gumam Davin seraya menatap kearah Fatimah.