
Setelah mereka menyelesaikan sarapan paginya di kedai kopi, mereka berdua kemudian berpisah didepan kedai tersebut, setelah menerima panggilan dari ponsel pribadinya Clara mengurungkan niat asalnya untuk bertemu dengan Davin untuk menjelaskan semua yang terjadi tadi pagi.
Laura melajukan mobil pribadinya menuju rumah teman semasa dia sekolah dulu.
Davin yang sudah menyelesaikan sarapannya terlebih dahulupun beranjak dari meja makan menuju kearah kamar kerjanya, karena dia hari itu memutuskan tidak masuk kantor dan hanya mengerjakan tugas kantor dari ruangan kerjanya melalui laptop pribadinya.
Saat dia masuk ruang kerjanya dia menatap kesekeliling ruangan tersebut, kemudian dia memanggil Mbak Sarni yang kebetulan sedang menyapu, Mbak Sarni adalah Asisten rumah tangga dirumahnya tersebut, karena masih muda semua orang rumah memanggilnya dengan sebutan Mbak.
" Mbak Sarni..." Panggilnya.
Mbak Sarni menoleh kearah Davin dan dia pun langsung menghentikan pekerjaannya dan mendekati Davin.
" Ya Tuan Muda..."
" Mbak Sarni tolong gantikan tirai jendela diruangan kerja saya."
" Kemaren sudah diganti Tuan."
" Saya tidak suka dengan warnanya."
" Tapi Tuan?"
" Udah! Jangan banyak membantah!"
" Maaf tuan bukan saya mau membantah perkataan Tuan, tapi itukan warna sesuai dengan keinginan Tuan Muda yang memang khusus untuk ruangan kerja Tuan Muda."
Davin menghela nafasnya, dan dia menatap kearah Mbak Sarni.
" Ganti aja Mbak,cari warna Lain." Ucapnya langsung saja masuk kedalam ruangan kerja pribadinya dan menuju kekursi kerja yang ada diruangan tersebut.
" Baik Tuan..." Ucap Mbak Sarni berjalan menuju kearah penyimpanan khusus tirai jendela, pintu semua ruangan yang ada didalam rumah tersebut.
__ADS_1
" Haduh! Tuan Davin ini ada-ada aja, padahal warna tirai jendelanya adalah warna kesukaannya dan baru juga kemaren diganti, eh! Minta diganti lagi, Aneh mah orang kaya, untung aja punya tirai segudang dan berbagai macam warna jadi nggak susah tuh nyari warna lainnya yang ingin cepat untuk digunakan." Ucapnya sambil membuka pintu ruangan khusus penyimpanan semua Tirai, Mbak Sarni berjalan menuju kearah kursi yang memang khusus untuk dia berpijak mengambil sesuatu didalam ruangan tersebut termasuk tirai jendela, karena dia mempunyai postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlali rendah, bisa dibilang sedikit memiliki postur tubuh sedang, jadi dia memerlukan tempat pijakan untuk mempertinggi badannya.
" Warna apa ya yang cocok buat ruangan Tuan Muda?" Pikirnya.
" Ini aja kali ya." Ucapnya lagi seraya mengambil tirai jendela berwarna hijau muda, tapi saat dia mengambil tirai tersebut dia terpeleset salah pijakan dan...
" Buukkk! " Diapun terjatuh kelantai ubin keramik ruangan tersebut.
" Aduh! Sakit sekali kaki ku, ich! Kenapa juga pakai jatuh segala sih, nakal banget nih kursi, sakit tahu kursi, makanya kalau aku mau turun tuh bilang dong salah pijakan gitu!" Ucapnya sembari memukul kursi tersebut, saat dia hendak berdiri pergelangan kakinya terasa sakit dan tidak bisa dia paksakan untuk berjalan, diapun kembali lagi keposisi dia terjatuh dan duduk lagi sambil memijat pelan pergelangan kakinya tersebut.
Kebetulan saat itu Fatimah menuju kearah ruangan juga hendak mengambil salah satu tirai jendela buat kamar Keyra, dia terkejut melihat Mbak Sarni yang duduk dilantai.
" Mbak....ada apa Mbak?" Tanya Fatimah segera mendekati Mbak Sarni.
" Untung kamu datang Fatim, bisa minta tolong nggak."
" Bisa Mbak..."
" Gantikan tirai jendela Tuan Muda diruangan kerjanya, ini tirainya, aku kayanya nggak bisa jalan karena kaki ku sakit, tadi terpeleset salah pijakan, gara-gara ini nih si kursi yang mau ngajakin bercanda!" Ucapnya sembari memukul kembali kursi tersebut.
" Mbak, yang salah itu bukan kursinya, kursi kan benda mati Mbak, yang salah tuh kitanya kurang hati-hati." Ucap Fatimah tersenyum lagi pada Mbak Sarni, dan mereka berdua pun terkekeh.
" Baiklah Mbak, saya akan menggantikan tirai tersebut." Ucapnya seraya mengambil dua tirai jendela berwarna biru bermotif kartun untuk kamar Keyra, lalu diapun mengambil tirai yang lain yang sudah disiapkan Mbak Sarni.
" Mari Mbak saya bantu kekamar Mbak?" Ucapnya.
" Nggak usah Fatim, Mbak bisa sendiri nanti, ini juga masih dipijat-pijat dulu biar mengurangi rasa sakitnya, cepat aja gih ganti tirainya nanti Tuan Muda marah lagi."
" Iya Mbak..."
" Makasih ya Fatimah, sudah bantuin Mbak " ucap Mbak Sarni seraya tersenyum.
__ADS_1
" Iya Mbak, sama-sama." Ucap Fatimah seraya berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Dia berjalan menuju ruangan kerja pribadi Davin, saat dia mau mengetuk pintunya, dia merasakan detak jantungnya semakin kuat.
" Ya Tuhan, kenapa jantung ini selalu berdegup dengan kencang bila mau bertemu dengan Tuan Muda." Ucapnya pelan seraya memegang Dadanya sendiri, diapun kemudian diam sesaat untuk menenangkan degupan jantungnya itu, perlahan-lahan dia menarik napasnya dengan pelan dan menghembuskan nafasnya dengan perasaan yang sedikit tidak karuan.
" Tok-Tok "
" Masuk!" Ucap Davin dari dalam ruangan dan tanpa menoleh pun sama sekali siapa yang datang, matanya fokus dengan layar laptopnya.
" Permisi tuan..."
" Yah...silahkan ganti aja tirainya segera..." Ucapnya dengan tanpa menyadari kalau Fatimah yang berada diruangannya itu.
Fatimah melihat kiri dan kanan untuk mencari pijakan yang harus dia gunakan, karena jendela ruangan kerja Davin sedikit tinggi dari jangkauannya, sampai akhirnya dia menemukan sebuah meja kecil yang memang khusus untuk pijakan, diapun langsung mengambilnya dan menggunakannya. Dengan trampil tangannya melepas tirai tersebut dan menggantinya dengan yang baru, dan saat dia hendak turun dari atas meja tersebut,dia hilang keseimbangan karena salah berpijak, dia mengira tidak mengenai tirai yang lama tetapi salah perkiraannya dia malah menginjaknya dan sedikit licin saat itulah Davin spontan menoleh kearahnya dan sigap dia langsung mendorong kursi kerjanya yang memiliki roda di kaki kursinya dan..." Bukk..." Tubuh ramping Fatimah jatuh dalam pangkuan Davin, Fatimah memejamkan matanya sesaat dan perlahan membuka matanya dia terkejut karena Davin menatapnya dengan lekat, mata mereka tanpa kedip saling pandang begitu lama.
" Kenapa jantungku berdegup kencang sekali?" Gumam Davin sembari menatap manik bola mata Fatimah.
" Ya Tuhan...mahluk manis yang kau ciptakan ini sangat cantik..." Lagi-lagi batinnya bergumam.
Sedangkan Fatimah tak bisa bersuara karena dia tidak menyangka kalau dia akan terjatuh dalam pangkuan sang Tuan Muda tampan yang ada dihadapannya itu.
Fatimah kemudian tersadar, dia langsung bangun dari pangkuan sang Majikan dan langsung saja berdiri, terlihat wajahnya merah merona karena menahan rasa malu dan takut, kalau Davin akan marah padanya.
" Maafkan saya Tuan Muda...saya tidak sengaja..." Ucap Fatimah seraya menunduk.
Davin tersenyum tersembunyi...
" Kenapa kamu yang menggantinya? Kemana Mbak Sarni?" Tanya Davin berdiri dari duduknya sembari menyenderkan tubuhnya dijendela seraya mensedekapkan tangannya didada dan menatap kearah Fatimah yang terlihat seperti ketakutan kalau dia akan memarahinya.
" Mbak Sarni tadi kepeleset di ruangan tempat penyimpanan tirai dan kakinya sedikit sakit, dia meminta tolong pada saya untuk menggantikan tirai ruangan Tuan Muda, karena kebetulan saya mau mengganti tirai kamar Keyra." Terangnya yang masih dengan posisinya yang menundukkan kepalanya dia tidak berani menatap Davin saat ini.
__ADS_1
Lagi-lagi Davin tersenyum melihat Fatimah begitu polosnya menjelaskan semuanya padanya...
" Gadis yang cantik dan unik..." Ucapnya pelan tanpa terdengar oleh Fatimah.