Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 23


__ADS_3

Sesampainya dihalaman cafe pelangi, Davin memarkirkan mobilnya, dia pun menuju kearah dalam cafe tersebut, dia memesan minuman kesukaannya dengan beberapa cemilan, dia memilih duduk dipojok yang tidak terlalu nampak dari orang-orang dan ditambah lagi ruang cafe yang terlihat sedikit remang penerangannya itu membuat suasana damai sementara bagi Davin, cafe tersebut bukan hanya tempat nongkrong Davin dan Harris melainkan cafe pelangi itu adalah cafe bersejarah bagi Davin saat dia bertemu dengan Sherly yang sekarang menjadi istrinya.


Davin pun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi cafe tersebut, dia pun merebahkan kepalanya di sandaran kursi itu dan menerawang menatap ke langit-langit ruangan cafe, Dia teringat beberapa tahun yang silam di mana Sherly bersama beberapa orang temannya sedang bercanda, berbicara dan tercipta gelak tawa diantara mereka, di situlah Davin memperhatikan Sherly dan dia pun jatuh cinta dengannya.


Davin memberanikan dirinya mendekati Sherly kala itu, dia pun memperkenalkan dirinya di hadapan teman-temannya Sherly, dia juga tidak menyangka ada kekuatan apa, sehingga dia memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya dengan Sherly sejak pertama pandangan Davin hanya terlihat ke arah Sherly.


Ya Sherly memang wanita yang sangat cantik, Dia mempunyai kepribadian yang baik dengan kesederhanaannya dia dapat mengalihkan pandangan Davin dari wanita-wanita di luar sana yang menginginkan dirinya sebagai pasangan hidup contohnya seperti Clara, saat Davin menemui Sherly semua temannya yang ada bersama Sherly itupun membiarkan Sherly dengan Davin yang duduk bersama, dan mereka berpindah tempat duduk, padahal hari itu adalah hari pertama dia melihat Sherly tapi teman-teman Sherly merasa kalau Davin adalah laki-laki yang baik untuk Sherly.


Mereka pun membiarkan Sherly dan Davin berbicara dan saling mengenal satu sama lain, kebahagiaan pun mulai terlihat Davin dan Sherly kala itu di mana ada Davin di situ ada Sherly. Sampai akhirnya orang tuanya pun menyetujui untuk Davin meminang Sherly, begitu juga dengan keluarga Sherly, tapi sayangnya kebahagiaan yang Sherly terima kala itu berangsur menjadi duka nestapa bagi Sherly, sebelum Sherly dipersunting oleh Davin menjadi istrinya, kedua orang tua Sherly mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat kejadian. Orang tua Sherly tidak dapat merasakan kebahagiaan anaknya kala itu, awalnya rencana pernikahan mereka dipercepat tapi beberapa bulan pernikahan itu pun ditunda, karena tidak bisa melanjutkan dikarenakan Sherly masih berduka, Davin pun sabar menemani sang kekasih kala itu sampai masanya pun Sherly menerima Davin dan siap untuk menjadi istrinya. Davin merasa bahagia karena Sherly sudah siap menjadi istrinya dan mereka pun merajut pernikahan yang bahagia, buah hati cinta mereka pun hadir di rahim Sherly, menambah kebahagiaan mereka berdua.


Disaat senangnya masa itu, menyambut kehadiran anak pertama mereka Davin tak henti-henti merasa bersyukur, tapi sayang Tuhan berkata lain Sherly mengidap penyakit yang sampai saat ini menghilangkan kesadarannya beberapa tahun lamanya. Davin pun terjaga dari lamunannya karena dia mendengar suara pelayan cafe yang menemui dia mengantarkan pesanannya, Davin kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, Dia kemudian meminum minuman yang sudah dipesannya dan menikmati beberapa cemilan yang sudah tersedia di atas mejanya itu.


Dia terus melahap cemilan itu dan minum minumannya beberapa saat dia berada di cafe itu saat dia ingin beranjak pergi dari Cafe dan membayar pesanannya itu, tapi kemudian Dia dikejutkan dengan suara seorang wanita yang menegurnya.


" Davin? sejak kapan kamu ada di sini? "


Dapin menoleh ke arah suara, ternyata Clara. Davin kemudian mengurungkan niatnya untuk keluar dari cafe itu, karena Clara menahan langkah Davin yang hendak pergi.


" Ayolah Davin, jangan pergi dulu, kita bicara lagi sekarang, Aku tidak ingin ada pertengkaran diantara kita." ucap Clara.


Davin hanya menghela nafasnya dengan jengkel, Dia kemudian kembali duduk di kursinya sedangkan Clara pun mendekati dia duduk disampingnya.


" Tolong Clara kalau bisa kamu nggak usah duduk di sampingku, di depan masih ada kursi yang kosong." ucap ucap Davin merasa tidak senang dengan kehadiran Clara, tapi dia tidak ingin menghindari Clara saat itu secara terang-terangan, dikarenakan Davin mulai berpikir kalau seandainya dia meninggalkan Clara kala ini ataupun membenci Clara secara terang-terangan dia pasti akan membeberkan masalah Laura, karena Davin belum mencari tahu siapa korban Laura saat itu, dengan hati yang jengkel dan dongkol dia pun terpaksa berada di cafe itu lebih lama lagi bersama Clara, Clara pun kemudian mengambil cemilan yang ada di depan Davin, yang sudah dipesan olehnya.


" Wow! enak sekali ya, sejak kapan kamu suka makanan seperti ini, setahu aku kamu tidak suka loh makanan siap saji seperti ini." Ucapnya tersenyum.


" Dari mana kamu tahu kalau aku tidak suka dengan makanan siap saji? kalau kamu tidak tahu dengan diriku buat apa kamu bicara seperti itu, jangan sok tahu!" ucap Davin dengan cueknya pada Clara.


Clara tersenyum, dia terus mengunyah cemilan yang ada di depannya dan tanpa pikir panjang lagi Clara pun mengambil minuman yang masih ada tersisa di atas meja itu, dia pun langsung meminumnya Davin menatap ke arah Clara dengan merasa jijiknya.


" Clara! lain kali kamu harus sopan itu minuman aku."


" Tapi kamu kan udah nggak meminumnya lagi, jika seandainya aku nggak datang ke sini kamu juga sudah mau pulang kan? jadi wajarlah aku minum." Ucapnya santai.


" Tapi kamu itu perempuan Clara, tidak baik kamu meminum bekas orang lain yang bukan siapa-siapa kamu."


" Tapi sebentar lagi Kamu akan jadi milik aku." Ucapnya santai tidak ada rasa malunya berucao seperti itu.


" Maksud kamu?" Tanya Davin heran.


" Enggak... aku cuma bercanda aja." ucapnya.


Davin menatap ke arah Clara dia merasa heran kenapa Clara bisa berbicara seperti itu.


" Apakah dia akan memakai kesalahan Laura sebagai senjatanya untuk mendekati diriku?" Batin Davin.

__ADS_1


" Davin, aku meminum bekas kamu ini karena aku sangat sayang pada kamu, tapi kenapa kamu tidak pernah mengerti akan perasaanku."


" Clara, aku sudah bilang padamu, aku masih suami orang! walaupun aku tidak menjadi suami orang, aku tidak bisa untuk mencintai kamu."


" Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa mencintai aku, toh kamu bisa menyukai Sherly tapi kenapa kamu tidak bisa menyukai aku, aku dan Sherly apa bedanya? aku sama-sama wanita, Aku juga cantik sama sepertinya, bahkan mungkin saat ini aku masih seger." ucapnya sembari menatap penuh kemesraan ke arah Davin.


" Maksud kamu apa? kamu bilang seperti itu Kamu pikir Sherly tidak seger? Kamu pikir ikan gitu? Seger...seger..." Ucap Davin.


" Dia masih sehat..." Lanjut Davin langsung dipotong Clara ucapannya.


" Cuma dia masih betah untuk menutup matanya iya kan." Sambung Clara.


Davin mendengus dengan kesal...


" Sudahlah Vin, sadarlah kalau aku ini lebih baik untukmu daripada si Istrimu itu."


" Cukup Clara!!" Ucap Davin penuh penekanan, dan Clara hanya mendengus dengan kesal.


Davin saat ini terpaksa berbicara dengan Clara karena dia tidak ingin Clara mengumbar kejahatan adiknya kemana-mana sebelum Davin mengetahui semuanya, yang sekarang Davin pikirkan adalah kalau seandainya yang jadi korban Laura itu adalah ibunya Fatimah, Davin akan merasa bersalah sekali dengan Fatimah, di karena dia tidak bisa menjaga adiknya dan dia juga tidak bisa untuk memaksa adiknya untuk bertanggung jawab dengan kesalahannya, sebelum kebenaran terungkap.


" Kalau seandainya korban dari Laura itu ditemukan hidup atau mati, Aku sendiri yang akan menyerahkan Laura ke ke pihak yang berwajib." Gumam batin Davin.


Clara kemudian mendekati Davin lebih dekat lagi, dan Davin menggeser duduknya dengan wajah kesalnya, kalau seandainya dia menghindar Clara dia pasti akan mengatakan sesuatu tentang Laura dia tidak ingin saat ini dia banyak menyimpan masalah, dia ingin menyelesaikan masalah ini satu persatu jadi dibiarkannya Clara berada di sampingnya.


" Mbak...!" panggil Clara kepada pelayan cafe, kemudian pelayan kafe itu mendekati mereka berdua.


" Saya minta bill-nya ya untuk pesanan pacar saya." Ucap Clara tersenyum.


Davin terkejut Clara mengucapkan dengan kata 'pacar' kemudian pelayan cafe itu langsung menyerahkan bil-nya.


" Kamu nggak usah membayarnya , biar aku yang membayarnya." Ucap Davin.


" Nggak apa-apa, aku kan juga makan pesanan kamu, jadi aku harus membayarnya juga, sekali-kali ya cewek mentraktir calon suaminya." ucapnya tersenyum sembari mengeluarkan uang tunai dan memberikannya kepada pelayan cafe tersebut.


" Sebentar ya mbak." Ucap pelayan tersebut.


" Iya, lama-lama juga nggak apa-apa mbak, karena saya betah bersama dengan pacar saya." Ucapnya merasa bangga.


Pelayan itu hanya tersenyum saja, Kemudian meninggalkan mereka.


" Clara kamu apa-apaan sih, bisa nggak kamu jaga sikap kamu."


" Davin, kamu tidak bisa untuk menghindari aku, kamu juga tidak bisa untuk membenci aku, mungkin kita sudah ditakdirkan untuk bersama." ucapnya sembari senang dan melingkarkan tangannya di tangan Davin.


Davin hanya diam saja bukannya dia tidak mau untuk menolak Clara tapi karena dia masih ingin menyelidiki siapa sebenarnya korban dari Laura, kemudian pelayan cafe itu pun datang dan menyerahkan struk pesanan mereka dan beberapa uang kembalinya.

__ADS_1


Kemudian Davin berdiri dan meninggalkan meja cafe tersebut melangkah menuju keluar, Clara kemudian mengikuti langkah Davin tapi Clara sengaja menarik meja yang ada di situ dengan tangannya dan terlihatlah dia seperti ingin jatuh.


" Aww..Aduh...!" Teriaknya pelan dan Davin pun langsung menoleh ke arahnya dan dia berusaha membantu Clara.


" Tolong Davin, aku nggak bisa jalan." Ucapnya Manja.


Dengan wajah kesalnya, Davin pun kemudian memapah Clara.


" Dimana mobilmu?"


" Aku tadi ikut sama temanku ke sini, terus temanku aku suruh pulang aja karena aku udah melihat kamu di sini." ucapnya manja.


Davin menoleh ke kiri dan kanan memang dia tidak melihat mobil Clara, lalu terpaksa dia membawa Clara dengan mobilnya.


" Wanita ini memang benar-benar dari dulu nggak jera-jera, enggak pernah capek-capeknya untuk mengejarku, tapi apa boleh buat aku terpaksa melakukan ini semua padanya agar sementara waktu masalah Laura aman." ucapnya kemudian membuka pintu mobil dan memasukkan Clara ke dalam mobil pribadinya, Clara tersenyum dengan kemenangan.


Davin pun kemudian memasuki mobilnya dan duduk di belakang setir dia pun kemudian meninggalkan cafe pelangi tersebut menuju ke arah rumah Clara untuk mengatarnya.


" Davin... tolong jangan Antar Aku ke rumah."


" Memangnya kenapa? "


" Karena di rumah enggak ada siapa-siapa, papah dan Mamah aku sedang berangkat ke luar negeri."


" Biasanya kalau kedua orang tuamu tidak ada, kamu berada di hotel." Ujarnya tanpa menghiraukan wajah Clara.


" Aku males lagi mau ke hotel."


" Jadi kamu mau ke mana?!"


" Aku mau ikut kamu ke rumah kamu."


" Buat apa?! kamu ke rumah aku!"


" Aku ingin menjenguk Laura."


" Tidak perlu Laura Kamu jenguk!"


" Davin Kamu kenapa sih selalu ketus gitu ngomong sama aku."


Davin hanya mendengus dengan kesal.


" Tolonglah Davin! Aku ingin ketemu Laura, Aku ingin ke rumah kamu, nanti aku dijemput sama sopir aku kok."


" Terserah!!" ucap Davin kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah rumahnya, dia sebenarnya tidak ingin Clara bertemu dengan Laura, karena Clara hanya memberi pengaruh buruk pada Laura.

__ADS_1


Davin melajukan kuda besinya itu dengan kecepatan tinggi, karena dia merasa kesal dengan kehadiran Clara ada bersamanya dan menuju ke rumahnya.


__ADS_2