Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 68


__ADS_3

Davin menuruni tangga menuju ke arah Haris yang sedang duduk di ruang tengah rumahnya tersebut.


" Mereka sudah pulang semua Vin, kalau tidak ada halangan mereka akan datang di acara tahlilan pertama Almarhumah Sherly." Ucap Haris dan Davin menganggukkan kepalanya.


" Maafkan aku ya Ris, karena aku tidak menemui mereka di saat seperti ini."


" Tidak apa-apa Vin, mereka juga memaklumi keadaan kamu sekarang ini, kamu nggak usah terlalu memikirkannya, ada aku, aku akan selalu berada bersama kamu di saat kamu memerlukannya."


" Terima kasih ya Ris...."


Haris mengangguk seraya menatap kearah sang sahabat.


" Kamu harus kuat Vin, kamu harus mengikhlaskan kepergian Sherly, Kamu harus bangkit, memang itu sangatlah berat bagimu dan aku hanya bisa berbicara seperti ini, karena aku tidak mengalaminya tapi aku tahu dan dapat merasakan sedih yang kamu rasakan saat ini." Ucap Haris sembari menghela nafasnya dengan pelan.


Davin mengusap wajahnya dengan kasar dia menganggukkan kepalanya.


" Oh ya Vin, aku lihat tadi ada Clara."


" Iya, dia berada di lantai atas bersama dengan Laura."


" Kemana Fatimah?"


" Kata Laura tadi menemui mama, belum aku tanya apakah dia sudah bertemu dengan Clara tadi atau tidak, aku takut Fatimah menjadi korbannya Clara, aku bingung Ris."


" Kenapa? bukankah Sherly sudah menyetujuin kamu menikah dengan Fatimah, dan dia juga sangat senang kalau Fatimah yang mendampingimu dan menjaga Keyra dan menjadi ibu sambungnya yang sangat disayangi oleh Keyra, aku juga tahu Sherly berpesan padamu untuk tetap menyayangi Fatimah seperti kamu menyayangi dirinya."


Davin menoleh ke arah Haris.


" Dari mana kamu tahu?"


" Laura baru aja udah cerita semuanya padaku tadi."

__ADS_1


" Iya, sebelum akhir hayatnya Sherly memang berpesan padaku agar aku menyayangi Fatimah seperti aku menyayanginya dan aku akan membahagiakan Fatimah dan Keyra sebisa yang aku lakukan, dan semoga saja aku bisa menjalankan amanah dari Sherly."


" Terus yang kamu bingung kan apa Vin? ada apa?"


" Masalah Clara, apalagi dia sudah mengetahui kalau Sherly sudah tiada, dia pasti akan terus menggangguku, kalau mengganggu aku, aku masih bisa melawannya ataupun mencegahnya serta memarahinya ataupun membentaknya, Tapi yang aku takutkan dia akan mengganggu Fatimah dan menyakitinya, aku tidak ingin Fatimah Jadi sasarannya."


Terdengar helaan nafas Haris.


" Clara memang sudah sangat keterlaluan, coba kamu bayangkan saja, aku merasa malu karena dia memakai pakaian yang minim sekali kayak kurang kain gitu, masuk ke dalam rumah ini dan para kolega bisnis mu menatap ke arahnya, bahkan ada yang tersenyum ada yang merasa tidak enak dan ada yang tidak mau menatapnya sama sekali."


" Apa? Berpakaian yang minim? tapi di atas dia tidak menggunakan pakaian yang minim."


" Aku juga tidak tahu, mungkin itu pakaian punya Laura yang sudah dipinjamkan sementara untuk Clara, yang aku heran kan dia sudah tahu kalau di rumah ini sedang berduka, tapi tetap aja dia masuk, sebenarnya darahku tadi mendidih melihat kelakuan dia seperti itu, tapi karena ada rekan bisnis kita, aku jadi menahan emosiku." Ucap Haris.


" Hey! menahan emosi untuk apa hah?" tanya Clara yang sudah ada di belakang mereka.


Davin dan Haris menoleh kearah belakang, dan Clara melangkah menuju kearah mereka berdua.


" Masalah kamu denganku apa hah?! aku tidak ada masalah dengan kamu! Lagian aku kelewat batas apa?!"


" Iya! memang kamu tidak ada masalah denganku! tapi kamu sudah bermasalah dengan keluarga ini! kalau kamu bermasalah dengan keluarga ini, sama aja kamu bermasalah denganku! kamu sadar nggak hah?!! sebagai seorang wanita, sudah tahu di depan terlihat tanda ada orang yang berduka, tapi masih aja kamu memakai pakaian yang tidak pantas seperti tadi!!" Ucap Haris sedikit geram.


" Apanya yang nggak pantas! nih lihat, apa matamu buta ya! aku berpakaian tertutup seperti ini, dibilang nggak pantas!!"


" Iya!! kamu sekarang berpakaian seperti itu! karena kamu sudah berganti pakaian! Apakah kamu tidak melihat banyak orang-orang di sini yang sudah melihat sebagian tubuh kamu hah!! Seharusnya kamu itu malu dan sadar kalau kamu itu seorang wanita dan kodrat seorang wanita itu harus dijaga sebaik mungkin dan pintarlah dalam memilih pakaian dan tempat yang mau dikunjungi, jangan asal pakai aja!! dasar wanita tidak ada akhlaknya!!" ucapnya sedikit emosi.


" Kamu memang keterlaluan!!" Ucap Clara menatap Haris dengan tatapan tajamnya.


" Clara! Cukup! aku tidak mengundang kamu untuk datang ke rumahku ini saat kami sedang berduka."


" Tapi Davin..." Ucap Clara menatap Davin dengan tatapan memelasnya

__ADS_1


" Sekarang aku minta, kamu pergi dari rumahku sekarang juga! aku tidak ingin bertengkar disini denganmu!!" Ucap Davin penuh dengan penekanan diucapannya.


" Kak Clara, lebih baik Kakak keluar aja dan pulanglah dulu, karena kakak di sini mungkin akan membuat emosi kak Davin semakin memuncak." Ucap Laura.


" Ishh!!!..." kalian memang keterlaluan! Kalian semua akan menyesal dengan perbuatan kalian ini kepadaku!"


" Heh! Mak Lampir menyesal apanya, dipikir yang menyesal itu kamu! jelas-jelas sudah membuat onar dengan pandangan yang tidak sepantasnya kamu perlihatkan pada orang-orang yang memang sedang berduka , sadarlah dengan kesalahanmu!" Ucap Haris.


Clara mendengus dengan kesal sembari melangkah meninggalkan rumah tersebut, sambil membawa pakaian dirinya dan tas pribadinya itu menuju ke arah mobilnya dengan tatapan mereka yang sedikit menahan emosi mereka, Davin menghela nafasnya dengan berat dan duduk di sofa ruang tengahnya tersebut seraya memijit pelan keningnya untuk memberikan kesabaran pada dirinya sendiri.


" Ada apa ini?" Tanya bu Santi dan Fatimah disampingnya bersama dengan Keyra yang sedang digendongnya.


" Kak Clara membuat masalah, dan dia sekarang sudah pergi."


" Anak itu, nggak bosen-bosennya mengganggu orang."


Fatimah yang sudah duduk disamping sang suami itupun hanya mengusap lembut pundak suaminya dengan pelan memberikan kesabaran pada sang suami, Davin menoleh kearah sang istri dan dia melihat tangan kiri sang istri yang memerah, dia langsung saja meraih tangan Fatimah dan melihat pergelangan tangannya yang terlihat merah tersebut.


" Kenapa dengan tanganmu?" Tanya Davin seraya menatap wajah istrinya


Fatimah tersenyum.


" Tidak kenapa-kenapa kok Mas, tadi terasa gatal dan digaruk pelan, jadilah seperti ini."


" Kamu nggak bohongkan?"


Fatimah mengangguk, dia terpaksa berbohong karena dia tidak ingin menambah beban kesedihan dan kemarahan yang dirasakan suaminya itu, sedih karena baru saja ditinggal orang yang sangat dicintainya selama-lamanya dan kemarahan yang muncul akibat ulah Clara seorang wanita yang menaruh hati yang sangat berat pada suaminya itu.


" Bukan karena ulah Clarakan?" Tanya Davin lagi.


" Nggak Mas, bukan sama sekali ini adalah ulah nyamuk." Ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Davin menarik nafasnya dengan pelan, dia merasa tidak percaya kalau itu adalah perbuatan nyamuk, dia berpikiran itu adalah perbuatan Clara.


__ADS_2