
Laura menatap kearah Sang Kakak dan Sang Mamah, terlihat Davin menundukkan kepalanya sembari menyenderkan tubuhnya didekat jendela seraya kedua tangannya berada disaku celananya, sedangkan Bu Santi langsung terasa lemas dan menghela nafasnya dengan pelan dan hanya bisa terdiam seketika.
" Laura sudah memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Kak Fatimah, agar tidak ada lagi yang bisa ditutup-tutupi apalagi kak Rahman mengetahui semuanya tentang kejadian itu, Laura tidak ingin kak Rahman membuat kesalahan Laura ini menjadi senjata untuk menyakiti keluarga kita. Maafkan Laura Mamah, Kak Davin Maafkan Laura karena Laura sudah mengatakan semuanya pada Kak Fatimah." ucap Laura sembari menundukkan kepalanya Karena dia sudah lega jujur kepada Fatimah walaupun dia belum tahu apa reaksi dari Fatimah.
" Laura ini yang kakak tunggu sejak dulu, kakak tidak mempermasalahkan semuanya, apapun nanti tanggapan dari Fatimah kakak akan menerimanya, memang Dek kejujuran itu harus ditegakkan, kita berkata jujur memang sangat menyakitkan di awal, tapi kita akan merasa lega setelah kita jujur dengan orang yang pernah kita sakiti." ucap Davin seraya menatap ke arah Fatimah, Fatimah menoleh sesaat ke arah Davin namun dia tidak kuasa menatap mata Davin, dia pun langsung menundukkan kepalanya.
Sedangkan Bu Santi tidak bisa bersuara sama sekali karena dia merasa bingung, merasa malu, dan merasa takut kalau Fatimah menyamakan lamaran dia untuk menjadikan Fatimah menantunya itu adalah sebagian menutupi kesalahan dari Laura.
" Ya Tuhan apa yang harus aku katakan pada keluarga ini, Awalnya aku memang merasa sedih mendengar perkataan Mbak Laura, aku tidak bisa untuk menuntut Mbak Laura, bukan dikarenakan Aku ingin menikah dengan Tuan Davin, tapi jauh sebelum aku mengenal keluarga ini aku memang berniat di dalam hati tidak akan pernah memperpanjang musibah yang sudah menimpa ibu, Karena itu adalah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa, seandainya Ibu tahu siapa orang yang membuat dia sampai terbaring selama 5 bulan itu, dia pun pasti akan memaafkan orang itu, ibu pasti mendukung keputusanku yang akan aku katakan pada mereka, di samping mereka sebenarnya keluarga yang sangat baik sekali denganku dan sebentar lagi juga mereka akan menjadi keluargaku ya Tuhan berikanlah aku kekuatan agar aku bisa mengatakan keputusan ini." ucapnya dalam batinnya sesaat dia menatap kearah Davin dan sesaat kemudian menatap ke arah Bu Santi, Fatimah menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan begitu lega.
Mereka di ruangan itu tidak ada suara sama sekali, mereka larut dalam lamunan mereka sendiri. Davin dan Bu Santi beserta Laura menunggu jawaban dari Fatimah, apapun keputusan dari Fatimah mereka bertiga akan menerimanya, karena pernikahan yang akan dilaksanakan antara Fatimah dan Davin tidak bisa dipaksakan kalau seandainya pihak Fatimah memutuskan hubungan itu.
__ADS_1
" Ya Tuhan apapun keputusan dari Fatimah aku akan menerimanya, Karena semua ini tidak bisa aku paksakan." gumam batin Davin.
Akhirnya Bu Santi pun bicara dia meraih tangan Fatimah dan menggenggamnya.
" Fatimah, Laura sudah mengatakan kejujuran semuanya kepadamu, sebenarnya kesalahan Laura ini mungkin tidak bisa kamu Maafkan, siapapun pasti akan merasa sakit hatinya karena melihat orang tuanya terbaring selama 5 bulan lamanya dan pasti membuat kamu berjuang sana-sini mencari biaya itu, tapi Ibu ingin mendengar jawaban kamu langsung, Apa tanggapan kamu tentang kejujuran Laura yang sudah dia ucapkan padamu tadi.?" ucap Bu Santi sembari menatap wajah Fatimah.
Fatimah tersenyum dia pun semakin erat menggenggam tangan Bu Santi.
Tatapan teduh Fatimah membuat hati Davin merasa bahagia sekali.
" Tatapan matamu Fatimah membuat aku merasa senang dan ingin selalu melihatnya dan ingin tatapan itu selalu menemani hari-hariku tapi itu sepertinya tidak mungkin setelah kamu memberikan keputusan kamu nantinya." gumam Davin
__ADS_1
Fatimah tersenyum dia mengalihkan pandangannya ke arah Bu Santi.
" Ibu, awalnya saya merasa terkejut sedih mendengarkan kejujuran Laura tentang pengakuan Laura yang telah membuat ibu saya sampai saat ini belum sadarkan diri, saya sangat menghargai kejujuran Laura tapi jauh sebelum saya kenal dengan keluarga Ibu Santi saya sudah memaafkan dan tidak akan memperpanjang orang yang telah membuat ibu saya seperti ini, bukan karena saya ingin menikah dengan Tuan Davin tapi karena memang sudah janji saya tidak akan memperpanjang masalah yang telah menimpa ibu saya itu dan Tuan Davin jangan khawatir saya tidak akan menuntut Laura ataupun memenjarakan Laura, karena ini adalah suatu musibah yang terjadi tanpa kita sadari, seandainya Ibu saya juga sudah sadar dia pasti akan memaafkan Laura karena saya kenal dengan sifat ibu saya, dia tidak akan memperpanjang kejadian yang menimpanya itu." Ucap Fatimah sembari masih menyunggingkan senyumannya di wajahnya cantiknya itu.
Davin dan Bu Santi pun terperangah dengan ucapan Fatimah, antara percaya dan tidak dia mendengar ucapan langsung dari Fatimah.
" Ya Tuhan lembut sekali hatimu, kamu bisa memaafkan kesalahan seseorang yang seharusnya tidak bisa dimaafkan bagi sebagian orang yang jika mengalaminya, engkau bagaikan seorang peri yang turun dari langit yang tidak memiliki sifat marah dan dendam sedikitpun." Gumam Davin sembari menatap lekat ke arah Fatimah tanpa sedikitpun dia mengalihkan pandangan matanya itu.
Bu Santi mendengar ucapan dari Fatimah langsung memeluk Fatimah dan meneteskan air matanya, Dia mengucapkan terima kasih pada Fatimah berkali-kali, Laura yang mendengar ucapan Fatimah itu pun langsung bersimpuh di kaki Fatimah untuk kesekian kalinya, dia tidak bisa berucap kata apapun lagi selain menangis kesesugukan dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang Fatimah membelai rambut Laura.
" Mbak Laura, kamu nggak usah pergi ke tempat di mana semestinya kamu berada saat 5 bulan yang lalu, karena itu sudah tidak perlu lagi, masalah ini sudah kami kubur rapat-rapat tidak akan pernah saya ataupun Ibu memperpanjang masalah ini, yang saya pinta padamu teruslah berkata jujur jangan sampai engkau sembunyikan kata jujur itu dengan ketakutan dan kebohongan." ucap Fatimah sembari terus membelai rambut Laura, tiba-tiba saja Laura merasa nyaman berada di dekat Fatimah, Laura hanya menganggukkan kepalanya dia pun menatap ke arah Fatimah sambil berucap pelan hampir tidak terdengar oleh mereka.
__ADS_1
" Terima kasih Kak, terima kasih." ucapnya dengan kedua tangannya Fatimah pun mengusap air mata Laura yang jatuh berderai di pipi cantiknya itu.