
Davin melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas standar, dan diapun tidak terlalu memakan waktu lama untuk sampai dirumahnya, dengan kebiasaan diapun memarkirkan mobilnya dengan rapi digarasi rumahnya dia melangkah sedikit cepat, dia ingin menanyakan langsung pada Laura tentang kejadian kecelakaan itu.
Tapi saat dia melangkah masuk dia dikejutkan suara sang mamah yang menegurnya.
" Davin..." Panggilnya.
Davin pun menoleh kearah suara.
" Ya Mah..." Ucapnya sembari mendekati sang mamah yang sedang duduk diruang tengah rumahnya.
" Bisa kita bicara nak?"
" Hem...boleh mah, ada apa mah, apa yang ingin mamah bicarakan." Tanya Davin sembari duduk didepan Bu Santi.
" Begini Nak, Mamah mau tanya sama kamu."
" Tentang apa mah?"
" Clara..."
" Kenapa dengan dia? " Ucap Davin sembari terlihat tidak suka sang mamah menyebut nama Clara.
" Ada hubungan apa kamu dengan Clara?"
" Nggak ada Mah,Davin nggak ada hubungan khusus atau sejenisnya dengan dia, Davin hanya berteman saja."
" Tapi mamah melihat Clara sangat mengharapkan kamu, dari gerak gerik dan tingkah lakunya."
" Dia memang mengejar Davin terus Mah, tapi Davin tidak memberikan harapan padanya."
" Hem...jujur nak, mamah sejak awal bertemu dengan Clara mamah tidak suka dengan sikapnya, mamah tidak ingin kamu bersatu dengan dia, mamah inginkan Keyra mendapatkan mamah pengganti yang sayang dan tulus dengannya." Ucap Bu Santi sembari menatap kearah Davin.
Davin menarik nafasnya dengan pelan, dan dia menganggukkan kepalanya.
" Baiklah Mah, Davin kekamar dulu ya..." Ucapnya seraya berdiri dan dianggukkan Bu Santi.
Davin melangkah meninggalkan sang Mamah yang sedang duduk sendiri diruang tengah sembari mengawasi langkah sang anak menuju kearah lantai dua rumahnya.
Tapi Davin tidak memasuki kamarnya melainkan mengetuk pintu kamar sang Adik.
" Laura...bisakah kakak masuk." Ucap Davin.
Namun tidak ada sahutan dari dalam kamar Laura.
" Laura..." Panggilnya lagi, kerana tidak ada sahutan dari dalam kamar tersebut, Davin pun membuka pintu itu, saat dibuka dia melihat Laura sedang duduk santai dibalkon kamarnya dengan menggunakan Headset ditelinganya sembari memejamkan matanya.
" Hem...pantas saja nggak ada sahutan nih Anak..." Ucap Davin sembari mendekati Laura dan melepas headset yang menempel ditelinganya.
__ADS_1
Laura membuka matanya, dia terkejut dengan kehadiran sang kakak disampingnya.
" Sejak kapan kakak ada disini?" Tanyanya.
" Sepuluh jam yang lalu." Ucap Davin.
Laura mendelik kearah Davin.
" Laura ada yang ingin kakak tanyakan padamu."
" Soal apa kak?"
" Kejadian kecelakaan itu bulan apa dan tanggal berapa?" Tanya Davin
Laura kemudian membuka ponselnya dan membuka catatan tersimpannya yang ada di ponselnya tersebut.
" Tanggal 5 juni kak."
" Apa? 5 juni?" Ucap Davin terkejut.
Laura mengangguk.
" Iya kak, ada apa kak?" Tanyanya.
" Tidak apa-apa kakak cuma tanya aja." Ucapnya, saat dia hendak berlalu dari hadapan Laura dia terlejut melihat sang mamah ada dihadapannya.
" Kejadian apa?"
Mereka berdua hanya terdiam.
" Katakan dengan mamah, ada kejadian apa, dan apa hubungannya dengan Laura.?" Tanya Bu Santi sembari menatap kedua Anaknya dengan posisi melipat kedua tangannya didada.
" Davin, Laura...katakan ada apa? Jangan sembunyikan semuanya dari mamah."
" Hem...anu mah, nggak ada apa-apa." Jawab Laura.
" Jangan berbohong...!" Sahut Bu Santi lagi sembari tetap menatap Laura dan Davin saling bergantian, dan Davin menyenderkan tubuhnya didekat jendela dengan posisi kedua tangannya berada disaku celananya, dia menatap lantai ubin keramik kamar sang Adik.
" Davin, katakan, jangan sembunyikan dari Mamah dan jangan buat mamah kecewa dengan kalian berdua." Ucap Bu Santi.
Terdengar helaan nafas Davin.
" Mah, sebenarnya lima bulan yang lalu Laura mengalami kecelakaan, dan parahnya Laura terlibat kecelakaan yang tidak bertanggung jawab, Laura meninggalkan korban begitu saja." Terang Davin akhirnya dia berkata yang sebenarnya pada sang mamah.
" Apa?!" Ucap Bu Santi terkejut dan langsung duduk disofa yang ada dikamar Laura.
Melihat tubuh Bu Santi terkulai lemas seperti itu, Laura dan Davin langsung mendekati sang Mamah.
__ADS_1
" Mamah...!" Teriak Laura dan langsung duduk disampingnya.
" Apa yang kamu lakukan Laura, apa hah?!" Ucap Bu Santi sembari meneteskan Air matanya.
" Maafkan Laura mah, kala itu Laura takut, takut kalau dipenjara mah, maafkan Laura mah." Ucapnya sembari memeluk sang Mamah.
Davin kemudian berjongkok dan memegang kedua lutut Mamahnya.
" Mah...inilah yang Davin tidak ingin mamah mengetahui semuanya, Davin tidak ingin Mamah menjadi sedih dan kepikiran, Davin akan berusaha Mah, mencari Korban itu hidup dan matinya adalah tanggung jawab Davin Mah."
" Kenapa tanggung jawab Kamu? Kesalahan ada pada Laura, kenapa kamu yang menanggungnya, Laura! Kamu sudah melakukan kesalahan besar dan sangat fatal sekali, kamu harus mempertanggung jawabkannya!!" Ucap Bu santi sembari menatap kearah Laura, Laura hanya mampu terdiam, dia tidak mampu mau berkata apa, karena dia memang sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.
" Iya Mah, Laura salah, tapi jangan laporkan Laura, Laura janji akan bertanggung jawab dengan orang yang ditabrak Laura kala itu " ucapnya.
" Dengan apa kamu bertanggung jawab Nak? Dengan apa? Korban itu tidak tahu siapa dan gimana sekarang keadaannya Laura, Ya Allah...harus bagaimana ini??" Ucapnya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Mah, Laura akan mencari tahu siapa Korban itu, mudah-mudahan saja dia tidak apa-apa, karena Laura yakin kalau dia masih hidup." Ucapnya sembari memegang tangan sang Mamah.
" Apakah kamu mengenal orang itu?" Tanya Bu Santi.
Laura mengangguk.
" Iya Mah, Laura mengenali wajah korban Laura." Ucapnya sembari berdiri dan mengambil ponselnya dan membuka galeri fhoto, Diapun langsung membuka fhoto tersebut dan mencari sesuatu didalamnya, setelah ketemu fhoto tersebut, dia membukanya dan memperlebar fhotonya itu, dia kemudian menunjukkan pada Davin dan Mamahnya tersebut.
Sayangnya Davin tidak mengenalinya sama sekali, begitu juga dengan Bu Santi yang tidak mengenalnya.
" Kenapa aku tadi tidak melihat langsung ibunya Fatimah, jadi aku tidak tahu apakah Ibunya Fatimah yang menjadi korban Laura." Gumam Davin dalam batinnya.
Hening! Tidak ada suara didalam kamarnya Laura, lama mereka terdiam...sampai akhirnya mereka dikejutkan dengan suara Keyra yang diantarkan Bi Narti kedalam kamar Laura.
" Papah...Nenek...Mamah Mana?" Tanyanya sembari menghambur kedalam pelukannya Davin.
" Aduh! Anak Papah...sudah bangun ya..." Ucap Davin sembari mencium sang Anak.
" Mamah mana, Key mau mamah papah??!" Ucapnya sembari menatap sang papah yang sedang menggendongnya.
" Mamah lagi pulang kerumah sayang, besok baru Mamah kesini lagi,. Keyra yang sabar ya nunggu Mamah datang besok..." Ucap Davin tersenyum pada sang Anak.
" Nggak mau Key mau Mamah!! Mamah!! Mamah papah!!!" Teriaknya sembari memerosotkan tubuhnya dari gendongan sang papah dan dia pun langsung bergulingan dilantai ubin keramik kamar tantenya itu sembari teriak inginkan Mamahnya yaitu Fatimah.
Davin hanya bisa menghela nafasnya dengan dalam, dan Bu Santi hanya terdiam begitu juga dengan Laura tidak bisa berkata lagi, dan Davin langsung mengambil tubuh mungil sang anak dan menggendongnya membawanya keluar dari dalam kamar Laura, melihat Davin berjalan keluar Bu Santi langsung mengikutinya begitu juga dengan Laura yang mengikuti langkah Sang Mamah yang berjalan didepannya
" Davin, ...kamu mau kemana nak?" Tanya Bu Santi.
" Davin mau membawa Keyra menemui Fatimah Mah, Davin nggak kuat dan nggak tega kalau Keyra menagis terus mencari Fatimah." Ucaonya sembari melangkah menuju lantai bawah rumahnya.
" Tunggu Nak, mamah Ikut." Ucap Bu Santi.
__ADS_1
" Laura ikut juga kak..." Sambung Laura dianggukkan Davin dan mereka pun langsung menuju kearah mobil Davin yang sedang terparkir dan beberapa saat kemudian mobil itupun meninggalkan rumahnya menuju kerumah sakit dimana Fatimah sedang berada.