Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 42


__ADS_3

Mobil yang dikendalikan Davin melaju dijalan yang mulus tanpa hambatan menuju kerumah sakit untuk menemui keluarga dari Fatimah, tapi sayang jalan yang mulus itu tidak semulus pikiran yang sedang Davin hadapi karena didalam kepalanya itu terasa banyak sekali yang sudah menempatinya semenjak Mamahnya mengucapkan keinginannya untuk menikahi Fatimah yang beberapa hari dia kenal dan lihat, karena posisi dia itu yang masih memiliki istri yang sangat ia cintai dan tidak ingin istrinya itu pergi begitu saja darinya, dan disatu pikiran lagi yang menancap dikepalanya keinginan sang Mamah yang tidak bisa ia bantah,semakin dibantah semakin gencar sang Mamah menyuruh ia menikah.


" Ya Tuhan semoga saja keluarga Fatimah menerima kehadiran ku untuk menjadi pasangan Fatimah." Ucap batinnya sembari fokus dalam menyetir kuda besinya itu, sesekali dia melirik Fatimah yang diam sembari memangku Keyra yang bergelayut manja dengannya dan kadang-kadang terlihat Dia mencium bocah mungil itu, kemudian Keyra pun membalas ciuman sang pengasuhnya yang dianggapnya Mamah itu.


Davin tersenyum...walaupun hanya beberapa hari Keyra bersama dengan Fatimah sudah sangat akrab, padahal dia tidak bisa begitu saja akrab dengan siapa saja selain dengan keluarga Davin.


Kemudian mobil itupun masuki halaman rumah sakit dan terparkir dengan rapi ditempat yang sudah disediakan.


Mereka turun semua dan Davin pun mengambil Keyra dari pangkuan Fatimah dan kemudian mereka melangkah menuju keruangan Ibunya Fatimah, dalam diam mereka tanpa suara dan larut dalam pikiran mereka masing-masing tetapi terus melangkah dan Fatimah kemudian membuka pintu sembari mengucap salam dan dibalas paman Ari salamnya Fatimah sembari menyalami tamunya itu dan mempersilahkan mereka masuk serta duduk didekat ibunya Fatimah karena tempat duduk ada didekat ranjang ibu Fatimah.


" Bagaimana sekarang pak keadaan ibu?" Tanya Davin sembari menatap kearah ibunya Fatimah.


" Alhamdulillah Nak, sudah terlihat mendingan." Ucap Paman Ari, terlihat Laura pun mendekati ibunya Fatimah, keluarga Fatimah tidak curiga sama sekali dengan Laura yang sudah membuat kesedihan dikeluarga Fatimah itu


" Ibu...maafkan Laura, saat itu saya tidak sengaja ibu, saya pergi karena saat itu juga saya takut dan saya tidak tau harus berbuat apa, maafkan saya ya bu, saya pasti akan mempertanggung jawabkan semuanya bu, karena perbuatan saya waktu itu membuat luka hati dan serpihan perih dikeluarga saya dan keluarga ibu terutama kak Fatimah. " Ucap batinnya sembari menitikkan air matanya dan dengan lembut mengusap tangan ibunya Nany, dan Laura terkejut, karena saat jemari tangan ibu Nany disentuhnya bereaksi dan terlihat menggenggam tangan Laura, Laura membelalakkan matanya, ia menganggap ibu Nany marah dan ingin meluapkan kemarahannya melalui genggamannya itu, tapi ternyata tidak, genggaman ibu Nany terasa lembut dan Laura melihat kearah wajahnya Bu Nany terlihat senyum mengembang, dan terasa pilu dihati Laura dan diapun langsung lemas dan duduk disamping sang Mamah, menelungkupkan wajahnya disamping tubuh bu Nany membuat mereka yang ada diruangan itu heran.


" Mbak...kamu kenapa? " Tanya Fatimah sembari mendekati Laura dan langsung mengusap pundaknya Laura dengan penuh perhatian.


Laura mengangkat wajahnya dan terlihat air matanya mengalir, Fatimah langsung mengusap airmata Laura dengan lembut dan diapun merangkul Laura.

__ADS_1


" Saya mengerti perasaan Mbak Laura,pasti Mbak Laura merasa sedih kalau seandainya posisi saya sekarang ada diposisi Mbak." Ucapnya tersenyum,terasa hangat senyuman Fatimah dilihat bagi Davin dengan terpancar polosnya wajah Fatimah mengatakan itu pada sang Adik.


Laura hanya menganggukkan kepalanya dalam dekapan Fatimah.


" Kak Fatimah terlalu polos dan dia tidak sama sekali mencurigai kalau akulah yang menyebabkan ibunya berada disini selama beberapa bulan, maafkan Laura kak, maafkan Laura..." Ucap batinnya mengeratkan pelukakannya dengan airmatanya yang mengalir.


" Kamu tidak tahu Fatimah,Laura menagis itu karena penyesalan sudah menghampirinya." Ucap Davin sembari menatap lembut keawajah Fatimah.


Mereka membiarkan Laura yang masih larut dalam tangisnya didekap Fatimah, kemudian Bu Santi memulai bicaranya untuk mengungkapkan keinginanya tersebut ingin melamar Fatimah sebagai menantunya.


" Pak Ari...ada yang ingin saya bicarakan sama bapak, karena bapak adalah keluarga Fatimah satu-satunya."


" Iya, bu ada pa ya, apakah keponakan saya berbuat salah selama bekerja dengan bapak?" Ucapnya terlihat sekali dia seperti orang yang takut kalau keponakannya itu berbuat salah, karena ia menganggap keluarga Bu Santi sangat baik pada keluarganya terutama Fatimah sekarang ini.


" Nggak pak, Fatimah tidak pernah melakukan kesalahan..."


" Jadi ada apa bu?"


" Kedatangan saya kesini, ingin melamar Fatimah sebagai menantu saya." Ucapnya tersenyum, tapi didalam hatinya dia berdoa pada yang maha kuasa agar keluarga paman Fatimah mau menerima lamarannya, terlihat Davin gelisah dan sering merubah posisi duduknya, dia terlihat sekali gugup diwajahnya takut lamaran ibunya itu tidak direstui pamannya Fatimah.

__ADS_1


" Ya Tuhan, apakah jawaban paman Ari sekarang? Aku tidak ingin dikatakan hanya kerana aku kesepian selama ini dan tidak ada kata sabar dalam menunggu kesembuhan istri ku yang koma saat ini, menjadikan aku mencari istri baru, aku tidak ingin juga Fatimah dikatakan sebagai pelampiasan kesendirianku saat ini " gumamnya sembari menyenderkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya didepan Mamah dan keluarga Fatimah, Fatimah dan Laura kemudian duduk kembali ditempatnya.


Paman Ari terkejut tapi langsung tersenyum.....


" Ibu ..saya memang benar keluarga satu-satunya dari Fatimah, Karena saat ini ibunya masih terbaring diranjang ini, tapi itu kembali lagi pada Fatimah, dan saya selaku pamannya Fatimah adik kandung dari ibunya hanya bisa merestui lamaran ini." Ucap Paman Ari tersenyum terlihat sekali wajahnya bahagia mendengar sang ponakan dipersunting lelaki yang tepat, bukan karena mereka kaya, tapi terlihat Davin adalah sosok lelaki bertanggung jawab dan penyayang serta perhatian dalam pandangan paman Ari.


" Benarkah pak... Alhamdulillah..." Ucap Bu Santi yang terlihat sangat senang sekali, dan Davin pun memejamkan matanya sesaat dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya rasa syukur yang tak terhingga dia mendengar semuanya.


" Bagaimana Fatimah? Apakah kamu mau menerimanay?"


Fatimah hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum bahagia terlukis diwajahnya, walaupun hatinya merasa bersalah dengan Nyonya Mudanya itu, ia tidak memperlihatkan rasa itu didepan kedua keluarga tersebut, karena ini demi kebaikan Keyra yang berada duduk disamping sang Nenek Bu Santi.


" Tapi sebelum kita menentukan tanggal hari yang tepat ada sesuatu yang ingin kami beritahu pada bapak." Ucap Bu santi.


" Apa itu Bu?"


" Sebelumnya saya mohon maaf pak, bu, sebelum kalian tahu dengan orang lain, lebih baik saya yang memberitahukannya terlebih dahulu. Sebenarnya Davin anak saya ini sudah beristri dan istrinya itu sudah koma selama tiga tahun lamanya sampai sekarang belum ada reaksi sama sekali..." Dan Ibu Santi pun menceritakan semuanya pada Paman Ari dan istrinya, paman Ari mendengarkan tanpa ada cerita yang tertinggal, sedangkan Davin lagi-lagi terlihat gelisah, sampai cerita Ibu Santi selesai, Paman Ari hanya menganggukkan kepalanya dan menatap kearah Fatimah, Fatimah tersenyum dan menghela nafasnya dengan pelan.


Kemudian paman Ari tersenyum pada Bu Santi dan Davin, ia lalu menatap kearah Keyra yang sudah berpindah duduknya dipangkuan Fatimah.

__ADS_1


" Ibu...saya disini hanya ingin melihat keponakan saya bahagia, jika seandainya Nak Davinlah kebahagiaannya saya hanya bisa merestui saja pernikahan ini terjadi, selagi Fatimah merasa bahagia saya juga ikut senang saya tidak akan mempermasalahkan semuanya, karena intinya selagi Fatimah merasa nyaman, bahagia, saya akan mendukung semuanya, iya kan Bu..." Ucapnya sembari tersenyum pada istrinya, yang disambut sang istri dengan senyuman yang tulus bahagia karena mereka berdua tidak ingin mendapatkan apa-apa dari pernikahan Fatimah dan Davin, secara Davin adalah pengusaha muda yang kaya.


Davin menghela nafasnya dengan pelan dan diapun tersenyum sembari menatap kearah Fatimah dan Fatimah seperti ada kontak batin yang kuat pada Davin ia langsung menyambut pandangan hangat sang Tuan Muda Tampan itu.


__ADS_2