
Bu Santi merasa heran dengan Devan dan Fatimah.
" Kenapa mereka harus dijemput padahal mereka membawa mobil sendiri, Ada apa dengan mereka?" ucapkan sembari menunggu mereka sampai ke rumah dia pun duduk di teras rumahnya.
" Lagi ngapain Mah?duduk di teras sendirian?" tanya Laura sembari duduk di samping Bu Santi.
Bu Santi tersenyum melihat anaknya itu yang baru datang dari arah dalam.
" Mama lagi nunggu kakak kamu yang Mama heran kan mereka minta jemput dari rumah."
" Mungkin mobil mereka rusak di jalan, jadi pengen cepat pulang ke rumah minta jemput." sahut Laura menatap ke arah sang mama.
" Udah, Mama nggak usah cemas, Mereka baik-baik aja kok, Laura yakin dengan Kak Davin, Kak Davin pasti berhasil bertemu dengan orang tua laki-laki Kak Fatimah." sambung Laura lagi sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang ada di teras rumahnya itu.
" Iya Mama tahu, tapi tidak biasanya mobil kakakmu itu mengalami kerusakan, Kamu tahu kan kakakmu itu bagaimana mengurus mobil-mobilnya termasuk mobil pribadinya, dia selalu rutin membengkelkan mobil pribadinya itu." sambung Bu Santi seraya menghela nafasnya dengan pelan, mereka berdua hanya terdiam menikmati semilirnya angin yang menerpa mereka yang sedang duduk di teras rumah tersebut, rumah Bu Santi memang besar, halamannya juga luas, dan pemandangan di halaman rumah itu sangatlah enak dilihat tidak membosankan, di kiri kanannya ditumbuhi dengan pepohonan yang rindang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, bunga-bunga bermekaran karena Bu Santi memang menyukai bertaman bunga menambah keindahan rumahnya bak istana, dalam pikiran Bu Santi berkecamuk antara kerusakan mobil sang anak dan sesuatu yang terjadi yang dia tidak ketahui.
Beberapa saat mereka menunggu di teras rumah tersebut sebuah mobil pun memasuki halaman rumah Bu Santi.
" Itu mereka udah datang." ucap Laura dianggukan oleh Bu Santi, Bu Santi hanya membenarkan duduknya seraya menatap mobil yang dikendarai oleh Mang Cecep.
__ADS_1
Fatimah dan Davin keluar dari dalam mobil, Mereka kemudian melangkah menuju ke arah Bu Santi yang sedang duduk di teras depan, Davin tersenyum dengan sang Mamah kemudian duduk di depan mamahnya tersebut diikuti dengan Fatimah yang duduk di samping Laura.
" Maaf Mbak Laura,Keyra ada di mana?" tanya Fatimah menanyakan anak asuhnya itu, karena beberapa jam dia tidak melihatnya dan bertemu dengannya, padahal pagi tadi mereka sudah bertemu, Fatimah yang sudah sayang dengan Keyra itupun sangat merindukan anak itu terlihat Laura tersenyum dan menyentuh tangan Fatimah.
" Kak Fatimah, sebentar lagi Kakak itu akan menjadi kakak ipar Laura, jadi mulai sekarang Kak Fatimah nggak perlu memanggil aku itu dengan sebutan Mbak lagi, panggil aja aku dengan sebutan Laura, rasanya tidak enak didengar kalau kata-kata Mbak dipredikatkan untukku." ucapnya sembari terkekeh.
Fatimah hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Tenang aja kak, Keyra sudah tidur di kamarnya, karena kayaknya dia itu ngantuk banget saat main bersama denganku, mungkin dikarenakan jam tidurnya kali ya." ucapnya.
" Syukurlah kalau seperti itu." ucapnya lagi sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, Bu Santi menatap ke arah Fatimah terlihat kesedihan di wajah Fatimah, dia pun langsung menanyakannya.
" Fatimah, sebenarnya ada apa? kenapa wajah kamu terlihat sedih? Apakah Ayahmu tidak mau datang di hari pernikahan kamu? cerita sama ibu." ucapnya sembari menatap ke arah Fatimah, kemudian ke arah Davin secara bergantian, Davin hanya tersenyum saja dengan Mamahnya itu, awalnya Bu Santi ingin menanyakan sesuatu yang terjadi dengan Davin dan Fatimah, namun itu diurungkannya, karena melihat wajah Fatimah yang terlihat sedih.
" Begini Mah... Davin yang akan menceritakan semuanya, mungkin Fatimah tidak sanggup untuk bercerita pada Mamah." Ucapnya
" Memang ada apa nak ?"
Kemudian Davin pun menceritakan perihal pertemuan mereka dengan Pak Ahmad dan Bu Fenny, sampai Bu Fenny menjatuhkan persyaratan agar suaminya bisa menjadi wali nikah anaknya tersebut, Bu Santi dan Laura mendengarkan penjelasan dari Davin tidak ada satupun kata yang tertinggal, Davin menceritakan dan didengar dengan Bu Santi sampai akhirnya cerita pun berakhir, Davin hanya menghela nafasnya dengan pelan, dan melepaskannya dengan berat seberat hatinya melihat ketidak sanggupan Fatimah menerima apa yang telah dilakukan oleh ibu tirinya pada keluarganya, Davin memahami semua itu, kemudian dia tersenyum dengan Bu Santi, Bu Santi hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia menatap ke arah Fatimah yang masih betah menundukkan kepalanya karena tidak ada yang bisa dia lakukan selain menundukkan kepalanya merasa bersalah pada keluarga Bu Santi karena perlakuan ibu tirinya itu membuat dia sangat kecewa terlebih lagi pada Ayahnya.
__ADS_1
" Fatimah kamu nggak usah terbawa perasaan seperti itu, tentang masalah mobil yang diinginkan oleh ibu tirimu itu Ibu tidak mempermasalahkannya yang penting kamu masih menerima Davin menjadi calon suamimu, kami bersyukur bertemu denganmu karena kamu tidak haus akan harta dunia seperti ibu tirimu, hatimu sangat mulia Fatimah, Ibu yakin ibumu juga pasti sangat bahagia memilikimu, lupakan masalah mobil yang sudah menjadi milik ibu tirimu itu, ibu tidak berpikiran yang tidak-tidak tentang kamu, karena Ibu bisa menilai sendiri siapa kamu sebenarnya." ucap Bu Santi sembari menatap ke arah Fatimah dengan senyuman terukir di wajahnya, Fatimah mengangkat wajahnya dan menatap Bu Santi, terlihat buliran bening keluar dari kedua bola matanya, Bu Santi menggelengkan kepalanya mengisyaratkan pada Fatimah jangan sampai meneteskan air mata lagi.
" Simpan Kak air matamu, air matamu berhak keluar untuk kebahagiaanmu saja, bukan rasa kecewa yang kamu alami, Laura tahu kakak pasti sangat kecewa dengan ayah kakak kan, karena ayah kakak tidak bisa menangani ibu tiri kakak itu, tapi jangan Kakak keluarkan air mata Kakak itu untuk ibu tiri kakak, simpan air mata Kakak untuk kebahagiaan kakak nantinya, karena air mata Kakak itu adalah air mata kebahagiaan bukan untuk air mata kekecewaan." ucap Laura sembari menyentuh tangan Fatimah dan menepuk-nepuknya pelan, Fatimah menoleh ke arah Laura dia menganggukkan kepalanya sembari mengukir senyum di sudut bibirnya, Davin menatap ke arah Fatimah dengan lekat dan mengukir senyumnya untuk Fatimah, Davin juga merasa bahagia mendengar kata-kata Laura itu.
" Di samping Laura manja, ternyata ada sisi positifnya juga." gumamnya sembari beralih menatap ke arah adiknya itu.
" Davin, kamu sudah mengatakan dengan Pak Ahmad kalau dua hari lagi akad nikah kalian sudah dilaksanakan?" tanya Bu Santi pada Davin.
Davin menganggukkan kepalanya.
" Apakah kamu juga sudah bilang pada Pak Ahmad kalau pernikahan kalian hanya antar keluarga saja dan dilaksanakan di rumah sakit di depan ibunya Fatimah yang sedang koma?"
Davin menggeleng
" Davin tidak ingin mengatakan semuanya pada Pak Ahmad di depan istrinya itu, kalau sampai Davin ceritakan semuanya dia pasti akan senang mendengar berita tentang mantan suaminya itu."
" Baguslah Nak, kalau seperti itu Kamu tidak menceritakannya, tapi kalau dia mengikuti Pak Ahmad pasti juga akan ketahuan."
" Davin yakin, dia tidak akan ikut di saat pernikahan kami berlangsung." ucapnya lagi sembari menatap sesaat ke arah Fatimah.
__ADS_1
" Baiklah sekarang kita bersiap-siap ke rumah sakit, kita akan mengatakan pada keluarga Fatimah bahwa 2 hari lagi pernikahan kalian akan dilaksanakan."
Mereka mengangguk dan kemudian berlalu dari teras rumah itu menuju ke arah dalam dan mempersiapkan diri mereka untuk bertemu dengan keluarga Fatimah kembali untuk membicarakan perihal pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dua hari lagi, Kemudian Davin mengambil ponselnya dan menghubungi Haris untuk segera mengurus berkas pernikahan mereka berdua.