Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 70


__ADS_3

Sesampainya dirumah kediaman keluarga Davin, dia dikejutkan dengan pertengkaran sang Mamah dengan seseorang karena terdengar sampai keluar, Davin setengah berlari menuju kearah dalam, dia melihat Rahman bertengkar dengan Mamahnya.


" Apa-apaan ini hah!!" Ucap Davin sembari mendorong tubuh Rahman kesofa, dan tanpa keseimbangan Rahman terjatuh terduduk disofa dengan muka tersenyum sinis.


" Sabar Bro...santai...kamu tidak akan bisa berbuat semaunya padaku karena kartu As keluarga kalian ada ditanganku!" Ucapnya sembari berdiri dan lagi-lagi Davin mendorongnya untuk duduk kembali.


" Oke! oke! Aku akan duduk!" Ucapnya seraya membenarkan duduknya dan menatap sinis pada Davin.


" Apa mau kamu malam-malam bikin ulah dirumahku!" Tanya Davin, Fatimah mendekati mertuanya dan merangkulnya, sedangkan Laura hanya bisa terdiam disamping sang Mamah.


" Aku tidak akan mengganggu keluarga kamu jika kamu memberikan apa yang aku inginkan!"


" Disini tidak ada lagi yang harus aku berikan untukmu ataupun keluargamu! Rumah, perusahaan dan harta lainnya peninggalan Almarhum Papah sudah beralih atas nama ibu kamu dan kamu sendiri! Perusahaan yang kamu duduki saat ini juga adalah milik papah yang sudah beralih tangan denganmu! Kurang apa lagi hah!!" Terang Davin dengan emosinya, Fatimah yang melihat suaminya marah seperti itu ingin rasanya dia mendekati sang suami dan memberikan kesabaran padanya, namun diurungkannya karena dia takut nantinya akan membuat si lelaki yang ada dihadapan Davin mengetahui kalau sekarang dia adalah istrinya Davin.


" Dasar keluarga serakah!" Sahut Laura.


" Hey!! Tutup mulutmu, jangan bilang kalau kami adalah keluarga serakah! yang serakah itu adalah kalian! Janji dulu kakakmu ingin memberikan sebagian keberhasilan dari perusahaannya saat ini pada papah,dan Almarhum papah menjanjikan padaku, tapi apa hah?! Itu semua tidak diberikan Davin!! Dan jangan sekali-kali kamu membuat omongan yang tidak masuk akal! Aku akan membongkar kesalahanmu pada semua orang! Kalau kamu pernah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan!! Dan kamu tidak bertanggung jawab!!" Ucapnya sambil tertawa sinisnya pada Laura, Laura tersenyum dan diapun langsung mendekati Rahman.


" Kalau memang iya kenapa? kalau aku pernah melakukannya dan aku tidak bertanggung jawab apa masalahnya hah buat mu!!" ucap Laura didepan Rahman.


" Aku akan melaporkan kamu ke pihak yang berwajib karena kamu tidak berhak untuk dilindungi karena keluarga kalian itu sama sama jahatnya, perlakuan kamu itu akan kamu tanggung akibatnya." Ucap Rahman kembali menatap ke arah Laura yang ada pas di depannya.


" Wow! Silakan!!!" teriak Laura sontak membuat mereka yang ada di dalam itu terkejut.


" Silakan!! kalau kamu ingin melaporkanku! itu tidak masalah bagiku, malah aku bersyukur karena kamu masih perhatian denganku! untuk melaporkan kejadian itu!! Ayo sekarang! kalau kamu mau kita sama-sama kesana, biar aku di proses, aku berterimakasih, karena kamu sudah capek-capek mengurusi urusan orang lain, sehingga urusan orang lain itu kamu jadikan senjata untuk memeras keluargaku!! kalau kamu membawa aku ke tempat yang berwajib kamu salah!! bukannya aku yang dikurung di tempat itu!!tapi melainkan kamu!!" ucapnya sembari mendorong kuat Rahman, lagi-lagi Rahman kehilangan keseimbangan dia pun hendak jatuh kesofa kecil yang ada dibelakangnya, namun sofa didorong kuat oleh Laura dan dia punya terjerembab di lantai ubin keramik di rumah Laura, Laura menatap bengis ke arah Rahman, dia menarik kerah baju Rahman dan dua pukulan pun melayang di wajahnya, Davin terkejut melihat sang adik sangat kuat, saking terkejutnya mereka tidak melerai Laura yang beringas dengan Rahman, saat Rahman ingin melayangkan pukulannya ke arah Laura, Laura menepisnya dan sekali lagi Rahman kena tamparan dari Laura, Davin tersadar dan dia pun langsung menarik adiknya itu, dia langsung merangkul sang adik agar tidak berbuat beringas lagi terhadap Rahman.

__ADS_1


Rahman langsung berdiri dia menatap ke arah Laura.


" Aku akan melaporkan semua ini, agar kamu dipenjara karena penganiayaan terhadapku."


Laura langsung menepiskan rangkulan sang kakak, Dia kemudian mendekati Rahman kembali, sontak saja Rahman terkejut dan mundur ke belakang mentok di sudut tembok.


" Silakan!! kalau kamu ingin melaporkanku aku tunggu, tapi ingat satu hal!! bukannya aku yang dipenjara tapi melainkan kamu!! silakan sekarang pergi dari rumahku ini!! laporkan saja jika itu membuat kamu menang!!" ucap Laura sembari menarik kedua kerah baju Rahman dan mendorongnya keluar dari rumahnya, Rahman mendengus dengan kesal!! kemudian memasuki mobilnya dan meninggalkan rumah kediaman Davin, setelah kepergian Rahman, Laura pun langsung lemas dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah rumahnya itu, Dia kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya, terdengar isak tangis dari Laura, Fatimah kemudian mendekati adik iparnya itu dan merangkulnya, Laura menangis dalam rangkulan Fatimah.


Davin menghela nafas panjangnya dengan pelan, dia menatap sang adik seolah-olah tidak percaya kalau adiknya yang dianggapnya sangat lemah itu ternyata sangat pemberani, di balik kelemahannya dia begitu pemberani dalam membela keluarganya.


Davin mendekati sang Mamah, yang duduk di sofa sembari menatap Laura yang menangis dalam dekapan Fatimah, sesaat Laura dibiarkan untuk melepaskan rasa di hatinya, dia pun kemudian menghapus air matanya sembari menatap mereka silih berganti.


" Maafkanlah Laura Kak, Mah, kejadian waktu itu dijadikan senjata oleh Rahman untuk menekan keluarga kita, maafkan juga Laura sudah memukul Rahman, mungkin ini akan dijadikan Rahman kembali sebagai senjata untuk menekan keluarga kita."


" Tidak apa-apa Laura, yang terpenting kamu akan mempertanggungjawabkan semuanya, kalau seandainya memang benar Rahman akan melaporkanmu." Ucap Davin


" Kenapa kamu yakin seperti itu, ini bisa dijadikannya senjata lagi." Ucap Davin.


" Tidak kak! Laura tahu Rahman tidak berani, karena diam-diam Laura mencari tahu tentang dia, kalau sebenarnya dia itu tidak berani untuk berbuat lebih dari itu, dia mau lakukan itu untuk menekan Kakak aja."


" Benarkah! sejak kapan kamu mencari tahu tentang Rahman?"


" Laura mencari tahu tentang dia secara diam-diam, sejak dia pertama kali ke rumah, saat Laura belum berani mengakui kesalahan Laura pada keluarga kak Fatimah."


" Terus kenapa kamu menangis Nak?"

__ADS_1


Laura menoleh ke arah sang Mamah sembari menghapus sisa air matanya dan mengukir senyum di wajahnya, walaupun wajahnya terlihat sembab karena baru saja menangis.


" Karena Laura merasa sedih Mah, jika seandainya masalah yang pernah Laura hadapi waktu itu Laura akui, mungkin semuanya tidak akan pernah dijadikan senjata oleh Rahman, Laura capek Mah! dia selalu saja menjadikan senjata masalah Laura yang sudah pernah Laura lakukan kala itu, Laura juga tidak tahu ada kekuatan dari mana membuat Laura bisa melawan dia."


Mereka hanya mengangguk dan terdiam, hening! di ruangan itu tidak ada suara sama sekali yang hanya terdengar suara cicak yang berbunyi dan detik jam dinding terdengar oleh mereka karena saking heningnya di ruangan tersebut.


Di dalam mobil Rahman meringis kesakitan karena wajahnya yang ditampar oleh Laura beberapa kali dengan melajukan kuda besinya itu dia pulang menuju ke rumahnya.


" Ternyata wanita itu tidak bisa diremehkan!" ucapnya beberapa saat dia pun memasuki halaman rumahnya.


Dia keluar dari dalam mobil dan menuju ke dalam rumah pribadinya itu di mana sang Mamah sudah menunggunya di rumah.


Bu Yeti terkejut melihat sang anak masuk ke dalam rumah dengan wajah memar dan meringis kesakitan.


" Ada apa denganmu Rahman? Kenapa wajahmu seperti ini? kamu berkelahi lagi.?"


" Ini adalah ulah adiknya Davin Mah!"


" Si Laura...?"


Rahman menganggukkan kepalanya.


" Kenapa kamu tidak langsung melaporkan saja dia biar dia tahu rasa!"


" Tidak Mah! jangan sampai dilaporkan, karena bisa berbahaya pada diri Rahman sendiri, karena Rahman yang selalu meneror keluarga mereka agar bisa memberikan sebagian dari kekayaan mereka sekarang ini."

__ADS_1


" Benar juga ya Apa kata kamu,ya sudah sini Mamah obati memar muka kamu." ucapnya sembari melangkah mengambil kotak P3K yang ada di rumahnya tersebut.


__ADS_2