Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 55


__ADS_3

" Bagaimana Bapak? Bapak akan datang kan dihari pernikahan kami?" Tanya Davin sembari menatap kearah pak Ahmad.


" Tidak! Tidak boleh datang kamu Mas! Kalau kamu tetap datang ke pernikahan dia...!! " ucapnya dengan keras sembari menunjuk kearah Fatimah dengan tatapan marahnya, dan melanjutkan bicaranya, " Kamu tidak akan bisa kembali lagi kerumah ini!!" ucapnya sembari mensedekapkan kedua tangannya dan menatap sinis pada suaminya tersebut.


Pak Ahmad terdiam dan begitu juga dengan Fatimah, tanpa sengaja dia memegang tangan Davin dan menggenggamnya dengan kuat, Davin menoleh pada Fatimah dan dia melihat wajah Fatimah sangat sedih, dia terlihat kecewa pada sang Ayah yang tidak mau membantah omongan istri mudanya itu. Tapi Davin tidak berhenti disitu, dia kemudian menatap Ibu Fenny dengan lekat.


" Baik!! kalau ibu tidak mengijinkan pak Ahmad hadir dipernikahan kami, tidak apa-apa, tapi asal ibu tahu setelah pernikahan kami terlalsana, ibu akan tanggung sendiri akibatnya, perusahaan ibu akan gulung tikar! begitu juga dengan kehidupan anak-anak ibu akan merasakan seperti apa ibu membuat calon istri saya menderita,begitu juga dengan kedua anak ibu yang akan menderita melebihi penderitaan calon istri saya ini, camkan lah itu Ibu Fenny Shella.!!" ucapnya dengan penuh ketegasan mengucapkannya.


Ibu Fenny langsung terkejut dan mukanya pun langsung berubah ketakutan.


" Akhirnya takut juga dia, terlihat jelas diwajahnya itu sangat jelas kalau dia merasakan kebingungan akan kehilangan semua aset yang sangat berharga itu, pintar juga ya aku mengeluarkan kata ancaman heheheh, nggak sia-sia selama ini aku nonton film yang berbau-bau Mafia kelas berat." Gumamnya dalam batinnya sembari menatap kearah Bu Fenny Sella sambil tersenyum terukir disudut bibirnya itu.


" Ibu takutkan kehilangan semua harta ibu, sebelum acara pernikahan kami berlangsung, silahklan ibu menikmati semuanya terlebih dahulu, tapi setelah pernikaan selesai ibu akan menerima akibatnya, silahkan ibu mencari perlindungan, saya tidak akan pernah gentar sama sekali dan saya tetap dengan kata-kata saya." ucapnya sembari masih menatap kearah ibu Fenny yang tidak sama sekali bergeming dari tempatnya dan tidak bersuara itu.


" Sepertinya ucapan pria ini tidak main-main,aku tidak ingin kehilangan usahaku, kehidupan anak-anak ku dan aku tidak ingin kehilangan suamiku ini." gumamnya dalam batinnya.


" Sayang, ijinkan aku menghadiri pernikahan anak ku, tolonglah mengerti aku." ucapnya membujuk istrinya itu yang hanyalah terdiam saja tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya itu, dia hanya menoleh sesaat pada suaminya itu.


" Baiklah aku akan mengijinkan suamiku untuk menjadi wali anaknya, tapi dengan syarat yang pernah aku katakan pada Fatimah tetap berlaku!" ucapnya sambil menatap Fatimah.


" Silahkan katakan saja apa yang Anda inginkan."


Ibu Fenny tersenyum sinis pada Davin.


" Tinggalkan mobil mewah itu!!"

__ADS_1


Fatimah terkejut engan ucapan Ibu tirinya itu, dan dia langsung menjawab perkataan ibu tirinya itu.


" ini tidak bisa! ini namanya pemerasan!" ucap Fatimah sembari menatap ibu Fenny dengan rasa tidak percaya.


" Ya ampun sayang, kenapa mesti mobil segala sih syaratnya apa tidak ada yang lain selain mobil, itu sama aja kamu memeras calon menantu ku." ucap Pak Ahmad.


" Itu pantas bagi lelaki yang banyak omong kaya calon menantu kamu itu, berlagak mengancamku, tapi sebenarnya dia takut untuk memberikan mobilnya padaku, makanya jangan sok-sokan ngancem orang segala, cih!! harimau dikadali, ya nggak mempanlah.!!" ucapnya tersenyum kemenangan merasa akan menang melawan Davin, saat dia menikmati senyumannya itu Davin langsung berdiri dan mengambil kunci kontak mobilnya yang ada didalam saku celananya tersebut dan menaruhnya di meja dengan senyuman yang mengembang, tidak ada rasa keterpaksaan diwajah Davin, karena bagi dirinya sekarang adalah Fatimah, harga diri Fatimah yang selalu dijaganya dari wanita yang rakus akan harta kekayaan yang ada dihadapannya yang berupa wajah manusia itu.


" Silahkan ambil saja mobil itu, karena bagi saya mobil itu tidak penting selain calon istri saya ini, tapi dengan syarat, Anda harus benar-benar memperbolehkan suami Anda hadir dipernikahan kami, kalau tidak Anda akan terima sendiri akibatnya." ucap Davin tersenyum tanpa ada beban sama sekali.


" Mas! ini sangat berlebihan Mas!" tegur Fatimah pada Davin, namun Davin hanya tersenyum dan menatap Fatimah.


" Tenanglah, Kamu jangan khawatir aku bisa membeli lebih dari satu seperti mobil itu,tapi kasihan dengan ibu Fenny karena dia tidak pernah naik mobil mewah dan mahal seperti punya kita." ucap Davin sembari melihat kearah bu Fenny sesaat, terlihat wajah bu Fenny memerah karena menahan amarahnya.


" Bagaimana ibu? apakah Anda sudah siap melepas suami Anda untuk menjadi wali anaknya sendiri?"


" Silahkan saja dia datang kepernikahan anaknya, aku tidak akan melarangnya lagi." ucapnya sembari melihat kunci kontak yang ada diatas meja tersebut.


Davin tersenyum.


" Dasar manusia yang haus akan harta dunia, dia lupa harta didunia hanyalah titipan, sewaktu-waktu akan hilang." ucap Davin dalam batinnya. sedangkan Fatimah sangat terpukul sekali melihat semuanya yang terjadi dihadapannya itu, dia merasa tidak berdaya disaat calon suaminya kehilangan sebuah barang miliknya yang sangat berharga demi dirinya, sedih, benci dan sakit hati karena perbuatan ibu tirinya itu padanya dan dia juga menyesalkan karena sikap sang Ayah yang tidak ada keberdayaan dibawah tekanan istri mudanya itu.


" Baiklah ibu, ini sudah terekam di ponsel pribadi saya, ini sebagai bukti kalau ibu, mengingkari dengan ucapan ibu, siap-siap ibu tanggung akibatnya, antara dua, ibu menginap di hotel prodeo atau ibu jadi gelandangan.!" ucap Davin sembari menatap ibu Fenny dengan lekat.


Ibu Fenny mngangguk dengan senyuman mengembang, karena dia mendapatkan lebih dari yang diharapkanya.

__ADS_1


" Baiklah, kami permisi dulu, jangan lupa ya Pak, dua hari lagi orang suruhan saya yang akan menjemput bapak." ucapnya sembari berdiri dan meraih tangan Fatimah dan mengajaknya untuk pulang, masih dengan sikap bu Fenny yang menghalangi suaminya untuk berdekatan dengan anaknya tersebut.


" Ayah...Fatimah pergi dulu." ucapnya sembari menatap sang Ayah dengn tatapan penuh kerinduan pada orang tua laki-lakinya itu.


Pak Ahmad hanya menganggukkan kepalanya sembari berkata.


" Hati-hati dijalan Nak..." ucapnya.


Kemudian Fatimah mengiringi langkah Davin dengan posisi tangan Fatimah tetap digenggamnya, sembari Davin menghubungi orang rumahnya untuk mengirim sebuah mobil untuk mereka.


Setelah keluar dari rumah tersebut mereka berdua menunggu jemputan dihalte dekat rumah ibu tirinya itu, Fatimah langsung menarik keras tangannya dari Davin, Davin terkejut dan menoleh kearahnya dengan tatapan heran.


Fatimah menangis, air matanya tidak bisa ditahannya lagi diapun langsung berbicara.


" Mas! kenapa kamu turuti kemauan ibu tiri saya Mas???" ucapnya


" Saya malu Mas! malu, hanya karena saya Mas rela melakukan apa saja sampai harta berharga milik mu kau lepas demi saya! saya malu Mas! " ucapnya seiring air matanya mengalir.


" Hey! ada apa Fatimah, jangan kamu pikirkan soal itu." ucapnya sembari tersenyum dan diapun langsung meraih tubuh Fatimah dan memeluknya menenangkan perasaan Fatimah dan membiarkan tangisnya Fatimah tumpah didadanya,


" Fatimah, aku tidak ingin ada yang mempermainkan harga dirimu, aku juga tidak ingin kamu di sakiti, masalah harta benda bisa dicari tapi tentang perasaan tidak bisa dipermainkan, seperti perasaan ku padamu, aku benar-benar menyayangimu Fatimah." ucapnya terdengar jelas Davin mengucapkan kata-katanya itu, Fatimah terkejut tapi dia tidak bisa rasanya keluar dari dekapan hangat Davin padanya, dia merasa nyama dan dia juga merasakn daya tarik yang kuat didalam tubuhnya seperti rasa cinta yang begitu bahagia.


" Inikah namanya Cinta?" gumamnya sambil menghentikan tangisnya, kemudian terdengar sebuah suara yang mengejutkannya, siapa lagi kalau bukan suara mang Cecep.


" Maaf Tuan Muda, mari kita pulang." ucapnya tersenyum dan Davin pun mengajak Fatimah masuk kedalam mobil dan kemudian meninggalkan tempat tersebut, dengan diiringan tatapan sang Ayah dari balik pagar rumahnya.

__ADS_1


" Semoga kamu bahagia selalu Anakku, Maafkan Ayah ya Nak..." ucapnya sembari menutup pagar rumahnya itu sambil berjalan menemui sang istri yang sedang bangga memiliki mobil mewah hasil persyaratan yang disengaja.


__ADS_2