Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 82


__ADS_3

Mereka berdua larut dalam kebahagiaan yang dirasa oleh mereka, kemudian Prasetyo melepaskan pelukannya pada Clara.


" Clara, kamu pasti belum tahu siapa namaku dan siapa aku, aku kenal dan tahu namamu dari identitas yang ada di dalam tas kecil milikmu itu, aku Prasetyo." ucapnya kemudian dia pun mengatakan asal muasal dan pekerjaan apa yang dia tekuni saat ini Clara hanya menganggukkan kepalanya.


" Kenapa kamu membantuku saat itu.?"


" Aku juga tidak tahu, begitu saja kata-kata itu keluar dari mulutku, saat dua orang itu mengganggumu, tapi setelah kejadian tadi malam aku merasa nyaman berdampingan denganmu." ucap Prasetyo sembari tersenyum.


Clara hanya tersenyum sembari menundukkan kepalanya karena dia merasa tidak pantas untuk berdampingan dengan Prasetyo.


" Aku akan menikahimu..." Clara terhenyak dia langsung menatap ke arah Prasetyo, Prasetyo menganggukkan kepalanya dengan spontan Clara pun langsung tersungging senyum di wajahnya, Prasetyo kemudian mencium pucuk kepala Clara, perkenalan yang instan dan kebahagiaan yang instan didapatnya itu dalam satu malam membuat Prasetyo melupakan Fatimah untuk selama-lamanya, Begitu juga dengan Clara yang tidak terbesit lagi bayangan Davin yang selalu dinantinya dan dia juga harus bertekad mendapatkan Davin tapi nyatanya sekarang semenit bahkan sedetik pun sosok Davin tidak ada lagi di ingatannya.


" Boleh aku bertanya satu hal denganmu?" Clara hanya menganggukkan kepalanya.


" Siapa Davin?"


Clara terkejut, Prasetyo menyebut kata Davin.


" Sebelum aku jawab, siapa Davin sebenarnya, apakah kata-katamu yang ingin menikahiku itu memang benar sungguh-sungguh keluar dari hati nuranimu.?"


Prasetyo menganggukkan kepalanya.


" Apakah kamu yakin menikah denganku yang baru saja kamu kenal dalam waktu satu malam."


Lagi-lagi Prasetya menganggukkan kepalanya, Clara menatap ke bola mata Prasetyo dia mencari kebohongan di sana namun sayangnya kebohongan itu tidak ada, kata-kata Prasetyo memang benar kalau dia ingin bersungguh-sungguh menikahi Clara.


" Aku sudah katakan padamu, aku merasa nyaman bersama denganmu, mungkin kamu adalah jodohku yang diberikan yang maha kuasa untukku, Apapun adanya dirimu itu adalah masa lalumu yang ingin kuhadapi sekarang lah masa sekarang kamu, kalau kamu yakin hidup bersama denganku kita akan melanjutkan hubungan singkat kita ini menjadi hubungan yang sangat berarti, membina suatu keluarga dengan kedua anak dan kebahagiaan yang akan kita ciptakan sendiri."


Clara tersenyum sembari menganggukkan kepalanya tidak terasa air matanya pun menetes dengan lembut dan penuh kemesraan serta kasih sayang yang diberikan Prasetyo menghapus air mata yang mengalir begitu saja di wajah cantik Clara.


Walaupun dia sesaat mengenal Clara tapi dia merasa kalau Clara membawa kebahagiaan bagi dirinya dia yakin hidup berumah tangga dengan Clara akan membawa damai di hatinya.


Begitu juga dengan Clara dia merasa kalau Prasetyo adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuknya agar dia menjadi sadar siapa dirinya sebenarnya dan tidak boleh memaksakan kehendak yang tidak akan pernah dia dapatkan.


" Aku akan cerita tentang Davin." ucapnya.


Prasetyo menganggukkan kepalanya dan siap untuk mendengarkan cerita dari Clara, karena Clara tidak ingin ada kebohongan di antara hubungan mereka sekarang.

__ADS_1


Clara Kemudian menceritakan siapa Davin sebenarnya sampai selesai, kenapa dia sampai tergila-gila dengan Davin, setelah selesai dia menceritakan tentang Davin pada Prasetyo dia pun hanya menghela nafasnya dengan pelan.


" Aku sekarang sadar, kalau cinta itu tidak bisa untuk dipaksakan, walaupun bertahun-tahun lamanya, aku mengejar Davin tapi Davin tidak pernah memberikan cintanya padaku, setiap aku mengingatnya aku selalu menghabiskan waktuku untuk minum-minuman dan yang membuat aku tidak sadarkan diri seperti tadi malam, aku tidak menyadari kalau ada seorang laki-laki yang mau menerima aku apa adanya dan dia tidak jauh dariku tapi aku tidak melihatnya sama sekali." ucapnya sembari menatap lurus ke depan keluar kamarnya tersebut.


Prasetyo kemudian meraih tangan Clara dan menggenggamnya.


" Ceritamu sama denganku, Aku juga memiliki pengalaman yang sama seperti kamu, aku mencintai seseorang menyayangi seseorang bahkan Aku mengakui kalau akulah yang memberikan biaya tentang pengobatan sang ibunya tapi dia sudah menikah dengan orang lain, aku baru sadar jangan-jangan Davin yang kamu ceritakan itu adalah Davin yang jadi suami perempuan yang aku kejar selama ini."


" Siapa?" tanya Clara.


" Fatimah.." ucap Prasetyo sembari mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto Fatimah yang ada di ponselnya tersebut.


Clara terkejut melihat foto tersebut, Tapi kemudian dia tersenyum.


" Kamu bilang tadi kalau wanita ini menikah dengan Davin?"


Prasetyo pun menganggukkan kepalanya.


" Itu keterangan dari suster yang merawat ibunya Fatimah."


" Aku sih percaya aja kalau Davin menikahi Fatimah karena aku memang kenal dengan wanita ini, dia adalah pengasuh anaknya Davin, kalau dia menikah dengan wanita ini, itu masuk akal, karena dia adalah wanita yang baik tapi sekarang entah kenapa dalam waktu semalam bersama denganmu aku sudah melupakan Davin, bahkan aku menganggap ini hanya biasa saja tidak terlalu sangat berlebihan, aku juga tidak tahu memoriku tentang Davin sudah terhapus, rasanya sedikitpun aku tidak mengingatnya untuk menjadikan dia sebagai pendamping hidupku, tapi sekarang yang kuingat hanyalah ingin meminta maaf pada mereka." ucap Clara sembari menatap ke arah Prasetyo.


Di rumah Prasetyo...


Revi datang bersama dengan seorang laki-laki bertamu ke rumah keluarga Prasetyo yang ada di kota tersebut


Dia disambut dengan kedua orang tua Prasetyo kedua orang tuanya terkejut melihat Revi bersama dengan seorang laki-laki tampan yang diperkenalkan Revi sebagai calon suaminya agar tidak ada kesalahpahaman Revi pun menjelaskan kalau dia sudah tidak mengharapkan lagi Prasetyo menjadi pendamping hidupnya, Karena dia sudah merasa yakin bersama dengan calon suaminya sekarang ini, kedua orang tua Prasetyo hanya menghela nafas panjangnya dia pun tidak bisa memaksakan kehendak mereka, mengharapkan Revi menjadi menantunya, mungkin sudah takdir dari anaknya karena tidak bisa bersatu dengan Revi saat Revi ke rumah keluarga Prasetyo berhubung Prasetyo memang tidak berada di rumah, Dia pun tidak terlalu lama berada di rumah tersebut karena dia hendak menuju ke kampung halamannya karena pernikahannya akan segera dilaksanakan dengan diiringi langkah kedua orang tua Prasetyo Revi pun memasuki mobil calon suaminya dan beberapa saat kemudian mobil tersebut meninggalkan halaman rumah keluarga Prasetyo.


*****


Prasetyo yang berada di rumah Clara pun kemudian membersihkan dirinya Begitu juga dengan Clara mereka berniat ingin ke rumah Davin agar mereka mendapatkan Maaf dari keluarga Davin dan Fatimah, Clara yang merasa bahagia itu pun kemudian mengajak Prasetya untuk sarapan pagi bersama di rumahnya itu, setelah mereka berdua sarapan pagi Mereka pun meninggalkan rumah pribadinya Clara untuk bertemu dengan keluarga Davin.


Di rumah kediaman keluarga Wijaya...


Davin yang sangat Bahagia itu pun sedang bersantai di ruang tengah, karena dia memilih untuk libur dalam bekerja selama 3 hari, saat itu mereka sedang berbicara satu sama lain, Paman Ari yang kebetulan belum pulang dari rumah kediaman keluarga Davin itu pun masih bercerita dengan Bu Santi.


Haris yang kebetulan berada di rumah tersebut karena ingin menandatangani beberapa dokumen yang harus mendapatkan tanda tangan Pak Bosnya itu pun ikut bersantai dengan mereka di ruang tengah, berbagai macam cerita mereka ceritakan kadang gelak tawa hadir di antara mereka, sebuah mobil pun masuk ke dalam halaman rumah tersebut mereka semua menatap ke arah mobil itu, merasa rumahnya kedatangan tamu Davin dan Fatimah pun keluar menuju ke arah pintu utama, mereka tidak tahu kalau yang datang itu adalah Prasetyo dan Clara.

__ADS_1


Saat mobil dibuka berbarengan Clara dan Prasetyo pun keluar membuat mereka berdua terkejut dan Saling pandang.


' Kak Pras...." ucap Fatimah


" Clara ..." sambung Davin.


Mereka berdua tersenyum, Davin dan Fatimah menatap ke arah wajah mereka saling silih berganti, tidak ada senyum sinis yang didapat Fatimah dari wajah Clara, begitu juga Davin, tidak ada tatapan seolah menantang dari mata Prasetyo, mereka berdua kemudian melangkah mendekati Fatimah dan Davin yang sedang berdiri di depan teras tersebut, Clara dan Prasetyo pun menyalami mereka, mereka berdu menyambut uluran pangan dari Prasetyo dan Clara, Davin dan Fatimah yang merasa heran dengan keanehan mereka berdua itu pun langsung mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam dengan diiringi langkah Fatimah dan Davin, mereka menuju ke ruang tengah di saat mereka masih berkumpul semua yang ada di ruangan itu pun terkejut melihat kedatangan mereka berdua, secara bersamaan, terlihat wajah Clara yang biasanya menampakan wajah sinisnya tapi sekarang dia terlihat menampakan wajah manisnya.


" Mohon maaf, Kok bisa kalian berdua berbarengan." ucap Haris karena Haris mengenal mereka berdua walaupun tidak terlalu akrab.


Mereka berdua pun tersenyum.


" Kalian merasa bingung pastinya melihat kami berdua berbarengan, percaya tidak percayanya Aku baru saja mengenal Pras tadi malam dan mungkin karena kami sudah dijodohkan untuk bersama kami berdua memutuskan untuk menikah, kami ke sini khususnya untuk aku pribadi aku mohon maaf kepadamu Davin, karena selama ini aku mungkin bersikap jahat padamu, keluargamu, bahkan aku mempengaruhi Laura, itu karena emosi yang sudah menghantuiku, setelah kehadiran Prasetyo aku rasanya mendapatkan suatu hidayah yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, aku menyadari semua kesalahanku, selama ini dengan keluarga kamu, Maafkan aku, Maafkan aku juga Fatimah karena aku sudah menyakiti kamu di saat kalian berduka kala itu, Maafkan Aku, aku salah." ucapnya.


Fatimah hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Begitu juga dengan Davin dia merasa senang karena Clara sudah berubah dari yang awalnya sinis sekarang menjadi manis, yang dulunya kekanak-kanakan, sekarang terlihat dewasa, Pras mampu merubah sikap Clara dalam waktu semalam.


Prasetyo menghela nafas panjangnya Dia kemudian menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


" Saya juga minta maaf selama ini tentang kesalahan saya terhadap kalian semua, sebenarnya bukan saya yang membiayai rumah sakit itu saya sengaja mengatakan itu karena pihak rumah sakit tidak mengatakan siapa yang membiayai rumah sakitnya ibu Nani, itu semua saya lakukakn agar saya mendapatkan Simpati Fatimah, tapi nyatanya saya salah dan maafkan juga saya karena selama ini saya mengejar kamu Fatimah, tapi nyatanya cinta itu tidak bisa untuk dipaksakan, dan saat ini saya sudah mendapatkan pendamping hidup saya,semoga saja ke depannya kami berdua menjadi lebih baik dan menjadi pasangan yang sangat bahagia."


Dan diaminkan oleh mereka semua.


Bu Nani menghela nafas panjangnya sembari tersenyum.


Kami memaafkan kamu Nak, tidak ada yang tidak memaafkan, jauh sebelum kalian meminta maaf, kami semua di sini pasti sudah memaafkan kamu, kami bersyukur karena kamu sudah menyadari kesalahan kamu berdua, Dan kami juga meminta maaf kalau Kami mempunyai kesalahan denganmu, baik sengaja ataupun tidak sengaja." ucap Bu Nani sembari tersenyum dan dianggukan oleh mereka semua.


Di ruangan itu pun merasa bahagia tidak ada lagi rasa dendam dan sakit hati yang mereka rasakan yang ada sekarang hanyalah Rasa Bahagia yang tiada taranya.


" Berarti pernikahan besar-besaran akan dilaksanakan dong..." Ucap Haris, dianggukkan mereka.


" Hemmm... ternyata sangat Indah saling memaafkan, sungguh! sakit beban ini saat menyimpan rasa dendam dan rasa sakit hati tapi setelah saling memaafkan semuanya akan terasa bahagia." gumam Clara sembari menatap mereka satu persatu yang tergurat senyum di wajah mereka.


Fatimah pun kemudian menatap ke arah seluruh keluarganya.


" Sungguh indah rencanamunya Tuhan, untuk semua dan keluarga Kami, merasa bahagia sekali, penderitaan yang pernah terjadi begitu saja engkau hapuskan dengan kebahagiaan, terima kasih Tuhan karena selama ini telah memberikan kami kebahagiaan yang tiada batasnya." ucapnya pelan namun terdengar oleh sang suami yang duduk di sampingnya, Davin pun menoleh ke arah Fatimah, Fatimah menatap ke arah suaminya sembari tersenyum dan mereka pun sama-sama menatap ke arah Keyra yang sedang bermain dengan mereka, tawa candanya pun membuat semua orang tertawa bahagia.


🌹______TAMAT______🌹

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2