Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 67


__ADS_3

Fatimah menatap kearah Clara dimana saat itu tangan Fatimah dicengkram kuat Clara, Fatimah meringis karena rasa sakit yang dirasakannya itu akibat cengkraman Clara yang kuat.


" Aduh sakit Mbak! Lepaskan tangan saya Mbak! Apa salah saya sehingga mbak mencengram tangan saya sangat kuat gini?!" Ucapnya sembari menatap kearah Clara yang menatapnya dengan tatapan sinisnya itu, terlihat wajah Clara memancarkan kemarahan yang sangag tinggi membuat Fatimah bingung dengan wanita yang ada dihadapannya itu.


" Tolong Mbak lepaskan tangan saya, cengkraman Mbak membuat tangan saya sakit." ucapan Fatimah lagi seraya menatap kewajah Clara.


Namun Clara tidak menghiraukan ucapan Fatimah padanya itu, dia malah menambah cengkramannya lebih keras lagi dan terlihat di wajah Fatimah meringis kesakitan, semakin Fatimah meringis semakin dia merasa senang karena dia sudah menyakiti fisiknya Fatimah.


" Auw! sakit Mbak! tolong lepaskan tangan saya." ucap Fatimah lagi, namun Clara tidak menghiraukan ucapan Fatimah, tapi karena Fatimah sudah merasa sakit sekali, Dia pun langsung menepiskannya dengan kuat tangannya untuk bisa melepaskan dari cengkraman tangan Clara, karena Fatimah sudah sangat merasa kesakitan.


Tanpa keseimbangan akhirnya tubuh Clara mundur ke belakang dan menyentuh dinding tembok dan langsung terjatuh kembali ke arah depan dan terjatuh di lantai ubin keramik lantai 2 rumah Davin itu, karena melihat Clara yang tanpa sengaja terjatuh gara-gara dirinya itu, Fatimah pun langsung mendekatinya dan membantu Clara untuk berdiri.


" Lepaskan tanganmu dariku! Aku tidak mau bantuan darimu!!" ucap Clara sembari berdiri sendiri dan menghadap ke arah Fatimah.


" Maafkan saya Mbak! ucap Fatimah sembari menangkupkan kedua tangannya tersebut.


" Heh pembantu!! kamu jangan belagu ya! Apa kamu tidak tahu dengan salah kamu sekarang ini, salah kamu sudah menjatuhkan diriku ke lantai dan kamu sebagai pembantu berani-beraninya kamu masuk ke dalam kamar majikan kamu! Apakah kamu ingin menyerahkan dirimu pada majikan kamu hah?! Apakah kamu terpesona dengan majikan kamu yang ganteng itu?! asal kamu tahu majikan kamu itu calon suamiku! paham!! Makanya jadi seorang pembantu itu nggak usah terlalu bebas ya, mentang-mentang kamu disayang sama calon mertuaku sehingga kamu bertingkah seperti ini!!" ucap Clara sembari mensedekapkan tangannya di dada dan menatap Fatimah dengan tatapan sinisnya sembari menyipitkan matanya, Fatimah hanya menganggukkan kepalanya.


" Jangan hanya menganggukkan kepala saja! tapi kamu harus mengerti dengan omonganku!! mulai sekarang kamu harus jaga jarak dengan majikan kamu! terutama Davin!jangan sekali-kali lagi kamu masuk ke dalam kamarnya ingat itu!!" ucapnya sembari hendak mendorong Fatimah tapi tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh suara Laura yang baru datang dari lantai bawah.

__ADS_1


" Kak Clara! Apa yang dilakukan Kakak pada Kak Fatimah?" ucapnya sembari melangkah mendekati mereka berdua, Clara kemudian menepiskan tangannya yang saat itu sudah terlihat oleh Laura terlihat ingin mendorong Fatimah.


" Bukan Kakak yang salah Laura, ini nih pembantu ini yang salah, sudah tahu diri dia pembantu malah berani dia memasuki kamar Davin, aku menegurnya!! tapi dia tidak merasa bersalah dan mendorongku, nih lihat tanganku merah karena kena tembok." ucapnya sembari mengadu dengan Laura tapi Laura tidak percaya dengan omongan Clara, karena dia tahu tabiat Clara seperti apa, Dia kemudian mendekati Fatimah sembari berkata.


" Kakak nggak apa-apa kan?" Tanyanya pada Fatimah dan dianggukan Fatimah, Fatimah tersenyum pada Laura, saat Laura menegur Fatimah dan menanyakan keadaan Fatimah, Clara merasa heran dia pun langsung menatap ke arah Laura.


" Laura, sebenarnya kakak yang teraniaya di sini, Kenapa kamu perhatian dengan wanita kampungan ini!!" Laura kemudian menoleh ke arah Clara sesaat.


" Kak Fatimah, silakan Kak Fatimah kembali kelantai bawah karena Mamah mencari kakak."


Fatimah menganggukan kepalanya dan kemudian meninggalkan Laura dan Clara yang berada di lantai atas tersebut, setelah Fatimah hilang dari pandangan mereka berdua Laura mengela nafasnya dengan pelan.


Clara menatap heran ke arah Laura.


Laura hanya tersenyum, dia tidak mau mengatakan pada Clara, kalau Fatimah itu sudah jadi istri sahnya Davin, tapi karena komitmen yang sudah dikatakan Davin agar tidak memberitahu khalayak ramai sementara waktu tentang pernikahan mereka, termasuk Clara.


" Kenapa kamu tersenyum Laura? katakan pada Kakak, ada apa ini sebenarnya? kamu sudah mendukung aku kan? dan ingin membantu aku kan? agar bisa menjadi istrinya Davin, lagi pula k Sherly sudah meninggal, jadi Davin sekarang sendirian."


Laura menoleh ke arah Clara.

__ADS_1


" Dari mana kakak tahu kalau Kak Sherly sudah meninggal."


" Ya dari acara inilah, siapa lagi yang berduka di rumah ini,kalau tidak meninggalnya Sherly, kamu ada, pembantu itu juga ada, anaknya Davin juga ada, Davin juga ada, Tante Santi juga ada, terus siapa lagi kalau bukan Sherly." ucapnya sembari tersenyum menatap lekat ke arah Laura, Laura hanya menghela nafasnya dengan pelan, sembari melangkah menuju tempat duduk yang ada tidak jauh dari Mereka berdiri, Clara pun kemudian mendekati Laura dan duduk di samping Laura.


" Ya memang benar Kak Sherly sudah meninggal, tapi kak Davin sudah..." sebelum Laura mengatakan kalau Davin sudah menikah lagi dengan Fatimah dia pun tersadar hampir saja dia mengatakan semuanya pada Clara.


" Sudah apa Laura? katakan pada kakak? emang kenapa dengan Davin, sudah apa dia.?"


" Maksud Laura, kak Davin sudah merasa nyaman dengan kesendiriannya, ada dan tidak adanya Kak Sherly, lagi pula Laura tidak bisa membantu Kakak menjadi istrinya Kak Davin, karena Kak Davin sudah menolak Kakak, Laura sudah jelas mengatakan pada Kak Davin kalau kakak sangat menyayangi dan mencintai kak Davin, tapi Kak Davin menolaknya, bahkan Kak Davin mengatakan kalau Laura masih membujuk dia menjadi suaminya kakak, Laura yang akan diusir dari rumah ini." ucap Laura berbohong pada Clara, mendengar ucapan Laura Clara pun mendengus dengan kesal dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa itu, kemudian pintu kamar Davin terbuka Davin pun menengok kanan dan kiri saat dia menengok ke arah kiri dia melihat Laura dan Clara sedang duduk di sofa yang ada di lantai atas tersebut, dia tidak terkejut kalau Clara ada di rumahnya dan dia pun tidak menghiraukan kehadiran Clara tersebut yang ada di samping Laura.


" Laura, kamu melihat Kak Fatimah?" tanyanya membuat Clara merasa terkejut, ia menatap Laura,lalu beralih dengan menatap kearah Davin, dia langsung berdiri dan mendekati Davin dia ingin meraih tangan Davin tapi Davin langsung menepiskan tangannya tersebut, kemudian kedua tangannya dia sembunyikan di saku celananya, Laura pun langsung berdiri.


" Oh, Kak Fatimah? Kak Fatimah baru aja dia menemui Mamah di lantai bawah."


Davin kemudian menatap ke arah Clara.


" Davin, Aku turut berduka cita atas kepergian Sherly."


Davin hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun langsung berbalik menuju ke lantai bawah sebelum dia melangkah Clara langsung meraih tangan Davin kembali,dan Davin menatap ke arah Clara.

__ADS_1


" Clara! lepaskan tanganku! Aku tidak ingin berdebat denganmu saat hari berduka istriku ini."


Clara pun kemudian melepaskan tangannya dia merelakan Davin yang meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri di lantai atas tersebut.


__ADS_2