
Mobil yang dikemudikan Davin memasuki gerbang rumah mereka dan Davin membukakan pintu mobil untuk sang Mamah dan Fatimah,sedangkan Laura yang ada didalam hanya bisa mendengus dengan kesal.
" Sok jadi bidadari!" Ucapnya diapun keluar sendiri sembari membanting pintu mobil dengan keras, karena sangat kerasnya membuat Davin dan yang lainnya merasa terkejut dengan ulah Laura. Laura berjalan menuju masuk kedalam tanpa memperdulikan mereka semua.
" Astagafirullahalajim anak itu...!!" ucap Davin, kemudian mengejar Laura masuk kedalam.
Sedangkan Bu Santi hanya bisa mengurut dadanya sembari menatap kearah Fatimah. Fatimah langsung tersenyum, dan mendekati ibu Santi untuk memberikan kesabaran pada sang majikan.
" Ayo bu kita masuk kedalam, dan ibu sebaiknya istirahat." ajak Fatimah sembari mengajak majikannya itu, ibu Santi merasa tidak dihargai sama anak gadisnya dan diapun langsung menuju kamarnya sendiri dan menuju tempat tidurnya.
" Fatimah silahkan saja kamu membawa Keyra kekamarnya, ibu mau istirahat dulu, karena kepala ibu sangat pusing sekali." pintanya.
" Ibu mau apa biar Fatim bikinkan."
" Ibu nggak mau apa-apa, ibu mau istirahat aja." ucapnya sembari merebahkan tubuhnya di tempat tidur pribadinya.
" Iya bu, kalau gitu saya kekamar Keyra dulu ya..." ucapnya tersenyum dan dianggukkan bu Santi.
Fatimah kemudian menuju kamar Keyra dan saat dia melewati kamarnya Laura terdengar pertengkran antara kakak dan Adiknya, karena pintu kamar Laura tidak tertutup rapat, jadi memudahkan Fatimah mendengarkan pertengkaran itu.
" Kamu memang nggak punya sopan santun Laura kamu memang keterlaluan!! Inilah yang tidak kakak suka darimu!!" Ucap Davin marah.
" Kak, Laura benci dengan kak Fatimah, Laura sudah bilang kalau Laura nggak mau duduk bersebelahan tapi kakak terus memaksa Laura." Belanya
" Apa salahnya Fatimah dengan kamu hah!! Diabtidak ada salah dengan mu Laura! Kamu yang bersalah dengannya!!" Ucap Davin.
" Salah?! Heh...salah Laura apa kak denga dia, dia itu selalu aja kakak bela!"
Davin hanya bisaenafik nafasnya dengan pelan, dia tidak mau sekarang mengatakan semuanya pada Laura kalau dialaha yang bersalah atas Ibunya Fatimah.
" Kamu juga tidak menghargai mamah, kamu sadar tidak kalau orang tua kita cuma ad satu-satunya, kamu tidak sopannya dengan Mamah."
Laura mendengus dengan kesal semabari memalingkan wajahnya kearah lain.
Mendengar itu Fatimah merasa terkejut karena ternyata dia tidak disukai Laura, dia pun langsung menuju kekamar Keyra dan meletakkan tubuh mungil itu ditempat tidurnya, dia pun duduk dibibir ranjang Keyra.
" Kenapa mbak Laura tidak suka denganku, apakah karena masalah itu dia mendendam padaku, ya allah apakah ini cobaan yang kau berikan padaku, kalaupun iya kuatkan aku ya Allah." Ucapnya pelan.
__ADS_1
Dia pun langsung keluar dari kamar Keyra saat dia membuka pintunya dia terkeut dengan kehadiran Davin yang sedang menyenderkan tubuhnya didinding luar kamar sang anak sembari menyenderkan kaki satunya di dinding dan satunya masih lurus berdiri sembari bersendekap tangan dan satu tangannya memijit pelipis matanya.
" Tuan muda..." panggil Fatimah, Davin pun langsung menoleh kearah Fatimah dan merubah posisi dan gayanya dia memasukkan tangannya kedalam saku celananya dan dia menenggok kearah dalam.
" Apakah Keyra tidak bangun?" tanyanya
" Tidak tuan muda."
" Fatima, maafkan kelakuan Laura ya, tapi dia tidak seperti itu, saya juga tidak tahu kenapa dia begitu saja berubah, maafkan dia dengan ulahnya tadi ya."
Fatimah tersenyum dan menganggukkan kepalanya
" Iya Tuan...nggak apa-apa, saya merasa itu hak Mbak Laura, mungkin saja dia ada masalah lain dan dia kesal jadilah dia bersikap seperti itu."
Davin menghela nafasnya dengan pelan.
" Sungguh mulia sekali hatimu Fatimah, jika kamu tahu kalau Laura lah pelaku kecelakaan itu, mungkin aku rasa kamu tak akan memaafkannya."
" Ya udah Tuan saya mau pamit pulang."
" Keyra sudah tertidur pulas jadi dia tidak akan bangun ditengah malam."
" Hem...baiklah kalau kaya gitu, saya akan mengantarkan kamu pulang kerumah sakit."
" Nggak usah Tuan Muda saya bisa pulang naik taksi."
" Jangan menolak Fatimah, mana ada taksi sudah malam seperti ini." cegahnya, lagi-lagi dia menenggok kedalam, dia berharap Keyra terbangun dan mencegah Fatimah untuk pulang.
" Ayolah nak bangun, biar Mamah Fatimah kamu tidak jadi pulang kerumah sakit." gumam Davin sembari mengusap rambutnya pelan.
" Ayo saya antarkan kamu pulang..." ulangnya pada Fatimah.
Fatimah mengangguk dan saat dia hendak menutup pintu kamar Keyra, terdengar Keyra berteriak memanggilnya,
" Mamah!! " teriaknya dan membuat Fatimah terkejut dan langsung masuk kembali kedalam dan memeluk Keyra dengan penuh kasih sayangnya, Davin pun tersenyum melihat Keyra terbangun.
" Yes! akhirnya anak papah mendengar omongan papah." ucapnya sembari berdiri didepan kamar sang anak.
__ADS_1
" Fatimah, lebih baik urungkan niat kamu yang ingin pulang."
Fatimah menoleh kearah Davin dan menganggukkan kepalanya,
" Tidurlah bersama Keyra atau kalau mau tidurlah di kamar tamu."
" Ya Tuan Muda, saya akan tidur bersama Keyra aja,"
" Baiklah kalau gitu, silahkan kamu istirahat." ucapnya sembari menarik gagang pintu kamar Keyra dan menutupnya, dan diapun melangkah menuju kearah kamarnya dan dia tersenyum sendiri, dia tak menyadari kalau Laura melihat gerak gerik kakaknya itu.
" Kenapa kak Davin telihat senang sekali sih! setelah berbicra dengan kak Fatimah,pasti ada apa-apanya, dasar emang kampungan, benar apa kata kak Clara lama-lama kak Fatimah itu akan jadi parasit dikeluargaku, awas aja ya kak Fatimah tunggu pembalasanku! aku tidak sudi memiliki kakak ipar seperti dia, idih amit-amit!" ucapnya seraya menutup pintu kamarnya tersebut.
Fatimah langsung merebahkan tubuhnya disamping Keyra dan diapun langsung memeluk gadis kecil itu dan Keyra juga menenggelamkan wajahnya dipelukan Fatimah dan tak terasa mereka berdua pun tertidur lelap.
Ditengah malam Davin terjaga karena dia merasa kalau Sherly menemuinya dan berbicara padanya, dia pun langsung menghubungi suster Lidya.
" Ya pak ada apa? "
" Gimana keadaan istri saya,?"
" Istri bapak nggak ada apa-apa tetap seperti biasanya aja."
" Ya udah kalau gitu, kalau ada apa-apa atau ada perkembangan yang baru tolong kabari saya ya."
" Siap pak.."
Kemudian Davin menyudahi bicaranya, dia pun langsung meletakkan ponselnya ketempat semulanya.
" Kenapa Sherly berbicara seperti itu ya?" ucapnya kemudian teringat tentang ucapan Sherly.
" Sayang,,, apa kabar mu...pasti baik-baik saja kan...aku sudah merestui kamu untuk menikah lagi, karena anak kita itu butuh kasih sayang seorang ibu, jangan sakiti hati anak kita dengan merenggut kasih sayang seorang ibu yang sangat dirindukan anak kita, tolonglah penuhi apa yang di inginkan anak kita, agar dia merasa terlindungi dan merasa lengkap kehidupannya, dan aku jangan pernah lagi kamu harapkan karena aku tidak bisa lagi pastinya bersama dengan mu dan anak kita, tolong iklaskan aku, jangan sakiti aku sayang..." ucap Sherly ditengah malam yang sangat tenang dan sepi itu, Saat itu Davin tidak bisa berkata apapun, karena dia merasa seolah mulutnya kaku tidak bisa digerakkan.
Kemudian dia mengusap wajahnya dengan kasar, dia pun turun dari tempat tidurnya dan langsung keluar kamarnya, dia menuju kekamar sang anak dan membuka pintunya dia melihat Keyra tertidur dipelukan Fatimah.
" Terlihat tenang sekali wajah anak ku, apakah yang dimaksud Sherly Fatimah, dan apakah bayang-bayang wanita yang pernah ingin diperkenalkannya pada ku waktu itu adalah Fatimah..." ucapnya kemudian menutup kembali pintu kamar tersebut.
Dia kemudian kembali mengusap wajahnya dan melangkah kelantai bawah dan menuju kearah dapur dan mengambil minum dan kembali lagi kekamarnya dia berdiri didepan jendelanya sembari menatap langit yang gelap bertabur bintang yang berkelip.
__ADS_1