
" Fatimah..." Panggil Bu Santi.
" Ibu ..." Panggilnya seraya menyalami tangan Bu Santi.
Mata Pras terus menatap kearah Fatimah yang sangat akrab dengan tamunya itu.
" Siapa mereka... Kenapa anak kecil itu memanggil Fatimah dengan sebutan mamah?" Gumam Pras terlihat tidak suka dengan kehadiran keluarga Davin.
" Keyra mencarimu Fatimah,papahnya tidak tega liat Keyra menangis inginkan dirimu ada disampingnya " terang bu Santi.
" Keyra sayang...besokkan kita bisa ketemu lagi." Ujar Fatimah tersenyum sembari mencubit gemes pipi Keyra, dan Keyra menggelengkan kepalanya sembari mengeratkan pelukannya, Fatimah tidak menyadari kehadiran Devan dan Laura.
" Hadeh!! Sok dipentingkan banget sih, bagusan juga kak Clara. Awalnya aku respeck dengan dia ini, tapi setelah kejadian tadi siang membuat aku dimarahi kak Devan, Aku mulai tidak suka dengannya." Gumam batin Laura sembari menatap tidak sukanya pada Fatimah.
" Oh...ya bu, kok ibu bisa tahu kalau saya ada diruangan ini?" Tanya Fatimah...
" Davin yang membawa kami kearah ruangan ini."
" Tuan Muda Davinn?" Ucap Fatimah setengah terkejut, padahal Dia tidak membawa tuan mudanya itu keruangan ibunya baik yang lama ataupun yang baru.
" Kok bisa tahu ya, jangan kan yang baru yang lama aja aku nggak kasih tahu ruangannya dimana." Ucapnya dalam diamnya.
" Fatimah..." Panggil Bu Santi menyentuh pundak Fatimah.
" Iya Bu..."
" Ibu mau melihat kondisi ibu kamu, boleh?" Ucap Bu Santi.
" Boleh Bu, silahkan masuk..." Ucapnya sembari mengajak sang majikannya itu kedalam, di ikuti Davin, dan Pras yang memasang muka tak senangnya pada Davin setelah melihat penampilan Davin lebih Wow darinya.
" Ayo Laura masuk...!" Ajak Davin.
__ADS_1
" Bentar kak, Laura nerima telpon dulu." Ucapnya menjawab telpon pribadinya.
Mereka semua pun masuk kedalam ruangan ibu Fatimah, Awalnya biasa saja Bu Santi dan Davin karena belum mendekati ibu Fatimah, tapi setelah dekat dan melihat langsung Ibu Santi langsung terkejut dan spontan dia memegang tangan Davin, begitu juga Davin tidak kalah terkejutnya siapa yang terbaring diatas ranjang pesakitan itu, Davin hanya bisa berucap pelan dan hampir tak terdengar.
" Ya Tuhan, itukan korbannya Laura." Ucapnya,sembari memegang tangan sang mamah yang dirasanya sangat gemetar.
" Ibu...ini tempat duduk, silahkan ibu duduk." Ucap Aisyah memberikan tempat duduk pada bu Santi.
Bu Santi berusaha tersenyum, dia menyembunyikan rasa terkejutnya itu, dia tidak ingin kalau Fatimah tahu keadaannya yang sangat gemetar sekarang ini setelah mengetahui ibu Fatimah yang tak lain adalah korban dari kecerobohan anaknya itu.
" Sebaiknya mamah duduk.." ucap Davin dianggukkan Bu Santi.
" Inilah bu keadaan ibu saya dalam lima bulan terakhir,sejak kejadian itu saya merasa sangat terpukul, hampa rasanya hidup saya karena orang yang sangat menyayangi saya dan adik saya tertimpa musibah." Ucapnya sembari membelai tangan sang ibu sambil menggendong Keyra.
" Bagaimana kejadiannya?" Tanya Bu Santi pelan."
" Ibu saya kecelakaan bu, dan saya saat itu sedang bekerja, kronolaginya saya tidak tahu pasti, ibu saya ditemukan sama paman saya bu waktu itu, seandainya paman tidak melewati jalan itu, mungkin sekarang ibu saya tak tertolong." Ucapnya terdengar kesedihan dinada bicaranya.
Fatimah menggelengkan kepalanya.
" Kenapa?" Tanya Davin sembari menatap kearah Fatimah.
Fatimah menoleh sesaat kearah Davin.
" Kenapa aku setiap menatap lama ataupun sesaat pada tuan muda Davin, aku selalu gugup dan jantungku berdebar hebat." Ucapnya sembari dengan cepat memalingkan wajahnya kearah ibunya yang terbaring.
" Tidak tuan muda, karena saya tidak ingin memperpanjang masalah ini, lagi pula saat itu terlihat kata paman, tidak ada saksi mata." Ucapnya menjawab pertanyaan Davin tanpa menoleh kearah Davin.
Mendengar ucapan Fatimah Pras langsung mendekati Fatimah dan berdiri pas disamping Fatimah,membuat Davin menatap kearah Pras tidak karuan.
" Siapa lelaki ini, begitu sangat akrabnya dia dengan Fatimah, terasa sakit didada ini melihat Fatimah dekat dengannya." Gumam batin Davin sembari memalingkan wajahnya kearah lain dan Pras tampak tersenyum kemenangan karena sudah memperlihatkan dirinya yang mendampingi Fatimah disaat ada lelaki lain diruangan itu.
__ADS_1
" Fatimah! Kamu harus tetap melaporkan kejadian ini, jangan lepaskan orang yang telah berbuat tidak bertanggung jawab terhadap ibumu ini."
" Maaf sebenarnya kamu siapa?" Tanya Bu Santi.
" Saya adalah teman dekatnya Fatimah, dan saya juga yang menanggung semua biaya ibu Fatimah sehingga beliau bisa dipindahkan keruangan ini, yah! Bagi saya Fatimah adalah segala-galanya jadi saya harus memperlakukan keluarganya dengan istimewa apalagi disaat sekarang ini,Fatimah memerlukan sandaran buat dia bersandar dikala sedih, bahu inilah yang siap menopangnya." Ucap Pras panjang lebar.
Mendengar Pras berucap seperti itu, Davin mengepalkan tangannya dengan rasa marah dan murka dengan Pras.
" Kurang ajar benar nih cowok, enak aja bilang seperti itu, menanggung apa, menanggung dosa? Karena berbohong pada Fatimah." Ucap batinnya menahan marahnya terhadap Pras yang mengada-ngada tentang apa yang diucapkannya.
" Maaf Bu...jangan didengarkan kata dia."
" Kak, apa-apaan sih kak ngomong seperti itu, nggak baik lho, mengungkapkan kebaikan sendiri didepan orang, kebaikan kita sendiri itu orang lain yang menilainya, kalau kakak yang memang benar menanggung semua pengobatan ibu ku, aku berterima kasih pada kakak, tapi ini aku anggap aku yang berutang pada kakak dan akan aku bayar secara mencicil nantinya." Ucap Fatimah terlihat tidak suka dengan sikap Pras yang sangat membanggakan diri sendiri.
" Fatimah, nggak apa-apa kalau nak Pras sudah berbuat baik padamu, in sya Allah semua akan dibalas Allah kebaikan nak Pras pada keluarga kamu." Ucap Bu Santi sembari tersenyum.
" Iya bu, tapi Fatimah dengan kak Pras hanya teman biasa, bukan teman dekat, tidak lebih dari itu." Ucapnya sembari melirik Davin yang melipat tangannya didada sembari menatap kearah Fatimah.
Bu Santi hanya tersenyum tapi tidak dengan Pras dia terlihat sangat kecewa dengan ucapan Fatimah padanya.
" Kalau boleh tahu, pak Pras bekerja dimana?" Tanya Davin berusaha tersenyum.
" Saya pengusaha perkebunan teh milik pribadi " ucapnya tersenyum sembari memasukkan tangannya kedalam saku celananya.
" Oh...pengusaha..." Ucap Davin santai.
" Kalau bapak sendiri?"
" Saya seorang pekerja diperusahan DSW group." Ucap Davinn tersenyum membuat Fatimah dan ibu Santi terperangah dengan ucapan Davin dengan tenang.
" Oh, gitu ya...bagus dong setahu aku diperusahaan itu terkenal dengan selektif banget merekrut karyawan dan banyak ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan terbesar itu, rencananya juga aku akan berkunjung keperusahan itu." Ucapnya santai, padahal dia berbicara dengan pemilik perusahan tersebut, tapi karena sombong dan lagaknya seperti orang kaya yang hebat dia lupa kalau didepannya itu adalah CEO perusahan tersebut,dan dia juga lupa kalau wajah tampan Davin itu sudah mengiasi berbagai acara Tv dan media sosial lainnya, Davin hanya tersenyum mendengar ucapan Pras.
__ADS_1
" Sayang sekali seandainya kamu menjalin kerjasama dengan DSW Group pasti nantinya kamu akan sia-sia." Gumam batin Davin seraya masih dengan guratan senyumannya pada Pras.