
Setelah mengembalikan motor yang disewanya itu dia pun kemudian minta bantuan dengan orang tersebut untuk membantu dirinya mengganti ban mobil dia yang mengalami kebocoran itu mereka yang membantu Rahman pun merasa heran awalnya Rahman datang dan bersih tanpa babak belur tapi sekarang saat dia datang untuk mengembalikan kendaraan pada mereka wajah Rahman babak belur namun mereka tidak bertanya sedikitpun setelah mereka membantu memperbaiki mobil Rahman, Rahman pun berterima kasih pada mereka dan lalu meninggalkan mereka begitu saja tidak ada komentar sama sekali ataupun menjelaskan kenapa wajahnya bisa babak belur dia terus melajukan kuda besinya itu menuju ke arah rumah sakit karena sekarang dia harus menjaga eksklusif sang mama saat mobil dia berhenti di depan parkiran Rumah Sakit tersebut ponselnya pun berbunyi dia menjawab panggilan itu.
" Ya halo..."
" Apakah ini dengan Pak Rahman?"
" Iya saya sendiri."
" Pak segera datang ke rumah sakit." ucap suara di seberang sana.
" Iya, saya sudah berada di depan rumah sakit."
" Segeralah Pak masuk ke dalam kami menunggu Bapak." ucap suara itu yang ternyata adalah suster rumah sakit yang menghubunginya, karena saat sebelum dia keluar dari rumah sakit Dia sudah memberikan nomor ponselnya bila terjadi apa-apa dengan sang mama, segera saja menghubunginya dia pun merasa gugup setelah mendapatkan telepon tersebut, dia bergegas turun dari mobil dan langsung berlari menuju koridor rumah sakit dan menuju ke meja penjagaan kemudian diarahkan ke ruang ICU ternyata sang Mama sudah dikeluarkan dari ruangan ICU dalam keadaan meninggal dunia, Rahman terkejut karena melihat ranjang dorong yang dibawa oleh para suster keluar dari ruang ICU tersebut dan terlihat kain putih panjang menutupi seluruh tubuh sang Mama, Dia pun langsung bergegas berlari mendekati para suster tersebut.
" Mama bangun mah, Mama bangun mah!" ucapnya sembari menggoyang tubuh Bu Yeti namun tidak ada sahutan dari Bu Yeti dia tetap menutup matanya kemudian seorang dokter datang menemui Rahman.
" Kamu yang sabar menerima Ini semua lebih baik kamu selesaikan administrasinya dan segera memakamkan ibumu."
Rahman pun terkulai lemas Dia kemudian duduk di lantai ubin keramik rumah sakit itu melihat ranjang dorong itu pun kemudian menjauh darinya.
" Ya Tuhan kenapa kau ambil cepat mamaku, aku belum sempat membahagiakannya, Apakah ini hukuman darimu atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada orang-orang yang pernah Aku sakiti,Ya Tuhan maafkan aku." ucapnya sembari menengadahkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dia terkejut dengan sentuhan di bahunya.
" Kamu kenapa?" ucapnya, Rahman kemudian membuka tangannya dari wajahnya tersebut dan menoleh ke arah samping karena Rahman mengenali Bu Santi dia pun langsung mencium kaki Bu Santi.
" Tante Santi,Maafkan saya, maafkan saya." ucapnya.
Bu Santi bingung karena Bu Santi belum terlihat jelas wajah Rahman dia pun langsung mengangkat Rahman untuk berdiri, Bu Santi terkejut barulah dia jelas melihat wajah Rahman namun tidak ada kemarahan di wajah Rahman malah terlihat kesedihan yang sangat mendalam, Bu Santi pun kemudian bertanya padanya.
" Kamu kenapa Rahman? Kenapa kamu seperti ini? siapa yang sakit?" tanya Bu Santi, Bu Santi kebetulan berada di rumah sakit pribadinya itu karena dia ingin memeriksa keadaan Rumah Sakit keluarganya itu, tidak sengaja dia melewati ruang ICU dan terlihatlah seorang laki-laki yang sedang duduk di lantai ubin keramik rumah sakit tersebut dengan terlihat sangat menyesali dirinya itu, dia pun mendekatinya yang ternyata adalah Rahman putra tiri Almarhum suaminya.
__ADS_1
" Maafkan saya tante." ucapnya meraih tangan Bu Santi dan mencium punggung tangannya tersebut, menambah keheranan Bu Santi terhadap Rahman.
" Sebenarnya ada apa ini? lebih baik kita duduk dulu di situ Kamu jelaskan kepada saya sebenarnya apa yang terjadi sehingga kamu seperti ini kayak orang penyesalan yang tidak ada akhirnya." ucap Bu Santi sembari membawa Rahman duduk di tempat yang sudah disediakan di depan ICU.
" Maafkan kesalahan Mama saya tante, baik yang disengaja ataupun tidak sengaja, Rahman tahu kesalahan Mama terhadap tante sangatlah besar tapi mohon tante berbesar hati untuk memaafkan mama." ucapnya sembari menatap ke arah Bu Santi.
" Sebenarnya ini ada apa? Tante tidak mengerti dengan kamu saat ini? Ada kenapa.?"
" Mama Rahman meninggal dunia tante." Ucapnya pelan.
Bu Santi terkejut dia terdiam dia tidak menyangka kalau ibunya Rahman meninggal dunia.
" Kamu tidak bohongkan? sakit apa Mamahmu? sehingga meninggal dunia? selama ini Tante lihat Mamamu baik-baik aja."
Rahman pun Kemudian menceritakan Kenapa Mamahnya sampai terkena serangan jantung, semua kesalahannya, terhadap kekasihnya pun dia ceritakan semua, dia juga merasa kalau masalah yang telah dia hadapi itu yang dia buat sendiri berakibat fatal untuk Mamahnya, walaupun sebenarnya Mamahnya tidak mengetahui kalau Rahman memiliki seorang kekasih yang sekarang sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa karena ulah dirinya.
Bu Santi hanya menghela nafasnya dengan pelan Dia tidak menyangka ternyata kesalahan Rahman membuat dirinya kehilangan Mamahnya untuk selama-lamanya.
Bu Santi hanya memandangi kepergian Rahman dari hadapannya kemudian dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Davin yang berada di kantor.
Beberapa saat Bu Santi menunggu panggilannya dijawab sang anak, Davin yang berada di kantor yang sedang sibuk dengan berbagai macam dokumen-dokumen yang ada di mejanya itupun terkejut mendengar ponselnya berdering dia menatap layar ponselnya itu yang ternyata adalah sang Mama memanggilnya.
" Ya Mah ada apa."
" Ada berita duka Vin."
" Berita duka dari siapa mah? siapa yang berduka.?"
" Rahman ucap singkat Bu Santi."
" Rahman?" tanya Davin sembari terkejut.
__ADS_1
" Iya Nak...."
" Mamah ketemu Rahman di mana? baru aja tadi Davin ketemu sama Rahman, karena di tengah jalan Dia berkelahi dengan dua orang sekaligus makanya wajah Rahman babak belur karena dihajar kedua orang tersebut."
" Benarkah?Di rumah sakit Nak Mamah bertemu."
" Memang yang berduka siapanya Mah? ibunya Rahman apa rahmannya? apakah rahmannya meninggal dunia?" ucap Davin.
" Bukan Rahman yang meninggal dunia Nak, tapi ibunya yang meninggal dunia."
Davin terdiam sesaat kemudian dia pun berbicara kembali dengan sang mama.
" Baik lah Mah, Davin akan segera ke rumah sakit kita, biar bagaimanapun kita sesama manusia pasti ada rasa belasungkawanya dengannya." ucapnya sembari memutus bicaranya dengan mamanya itu, beberapa saat kemudian dia pun merapikan mejanya dan meninggalkan ruangannya, saat dia keluar dari ruangannya dia ditegur kan dengan Haris.
" Mau ke mana Vin?"
" Mau ke rumah sakit."
" Siapa yang sakit?" tanya Haris sembari mensejajari langkah Davin yang menuju ke arah lift.
" Rahman..."
" Innalillahiwainnailaihirojiun, akhirnya laki-laki itu meninggal juga rupanya, bogem mentah orang itu menyisakan luka di hatinya dan hatinya tidak bisa menahan sakitnya akhirnya mati juga." Ucap Haris
" Bukan Rahman yang meninggal dunia tapi ibunya."
" Oh? Maaf salah ya? Yang benar Vin? aku kira dia, Sekarang kamu mau melayat?" tanya Haris.
Davin menganggukkan kepalanya.
" Aku ikut ya..."
__ADS_1
Lagi-lagi Davin menganggukkan kepalanya, mereka berdua pun kemudian meninggalkan kantor nya menuju ke arah rumah sakit pribadi keluarga Wijaya.