
Didalam perjalan menuju kantornya Davin hanya diam menikmati jalanan dengan pikiran yang tidak menentu. Beberapa menit kemudian dia memasuki halaman parkir kantornya dan dia pun memarkirkan mobilnya tersebut, dengan wajah dinginnya dia berjalan memasuki lift dan langsung menuju kearah ruangannya, sesampainya diruangannya dia menghempaskan tubuhnya disofa dan meletakkan kepala disandaran sofa sembari menatap langit-langit ruangannya tersebut.
Haris yang mengetahui sang Bos sudah berada diruangannya itupun langsung saja menemui Davin, dia berjalan menuju ruangan Davin setelah dia membuka pintu ruangan itu dia merasa heran dengan Davin yang sedang duduk tanpa gairah tersebut.
Haris mendekati Davin dan duduk didepan Sang Bos dan berkas yang harus ditandatangani bosnya itupun diletakkannya diatas meja dan dia menatap Davin dengan lekat dia juga memberanikan dirinya untuk menegur Bosnya itu.
" Ada apa Vin...cerita padaku, sekarang aku temanmu saat ini bukan anak buah mu, ceritakanlah padaku apa yang terjadi sehingga kamu terlihat sekali banyak beban yang kamu rasakan." ucapnya sembari tetap mentap sang bos yang masih terlihat menatap langit-langit ruangannya itu.
Hening! tidak ada suara diruangan Davin, dia tidak bergeming sama sekali, begitu juga dengan Haris dia juga tidak lagi bersuara pada bosnya itu, dia membiarkan Davin larut dalam keheningan ruangan tersebut, Haris kemudian mengambil salah satu berkas yang harus ditandatangani Davin dia membuka berkas itu dan melihat lihatnya namun pikiran Haris menjurus pada seseorang yaitu Sherly.
" Ini pasti masalah tentang keadaan Sherly yang membuat Davin jadi seperti ini, ada apa sebenarnya yang terjadi, tadikan Davin baik-baik saja bersama dengan bos besar dan anaknya, kenapa selepas pulang dari bersama dengan keluarganya dia jadi seperti ini." gumam Haris sembari melirik sang Bos.
Karena Davin larut dalam lamunannya dia pun langsung meletakkan berkas yang ia pegang ditangannya itu sembari berkata pada sang Bos.
" Ini adalah berkas dari perusahaan pak Tekno yang ada disurabaya yang menjalin kerjasama dengan kita tentang proyek pembangunan lahan perkebunan teh yang akan digarap bulan depan dan membutuhkan tanda tangan mu, aku letakkan dimeja, kalau sudah ditandatangani aku akan mengambilnya kembali." ucapnya sembari berdiri dan hendak melangkah meninggalkan Davin, terdengar helaan Davin sembari bersuara.
" Jangan pergi dulu Ris, aku perlu teman untuk bicara." ucapnya sembari membenarkan duduknya dan menatap kearah Haris, Haris pun mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Davin dan diapun kembali duduk ditempatnya semula.
" Ini pasti masalah Sherly kan? walaupun aku tidak tahu apa yang dibicarakan dokter atau perawat yang merawatnya, aku dapat menerka pasti ini adalah masalahnya, karena tidak ada yang membuat seorang Davin menjadi seprti ini selain masalah tentang istri tercintanya. Lebih baik kamu ikuti saran doter Vin, mungkin ini adalah jalan terbaik bagi kamu dan Sherly." ucapnya sembari menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
__ADS_1
Lagi-lagi Davin menghela nafasnya dengan pelan, dan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Kamu benar Ris, ini adalah masalah tentang Sherly, dokter menyarankan untuk mencabut semua alat medis yang menempel di tubuh istriku,karena tubuhnya menolak sudah obat-obatan yang masuk ketubuhnya, aku bingung dengan ini semua, aku ingin saja menuruti apa kata dokter tapi apakah itu sama aja aku membunuh dia secara perlahan, aku bingung Ris, benar-benar bingung." ucapnya sembari menghela nafasnya dengan berat.
" Vin, saranku lebih baik semuanya diakhiri, benar apa kata dokter Vin, Sherly sudah lama tiada karena alat itulah yang membuat dia bertahan selama ini, tapi percuma saja kamu mempertahankannya karena dia juga bertahan tapi tak bisa kamu rengkuh karena di hanya bisa menutup matanya dan tidak bangun dari koma yang berkepanjangan, kasihan dia Vin, tubuhnya lelah, sedangkan jiwanya melayang entah kemana, kalau kamu sayang dengannya kamu pasti memilih yang terbaik untuknya." ucap Haris sembari menatap sang Bos.
" Iya, aku tahu itu, karena Sherly menemui aku selalu melalui mimpi entah sadar dan tidak aku bertemu dengannya dan dia juga mengatakan ingin pulang bersama dengan ku kerumah karena dia merasa tubuhnya sakit, tapi aku takut kalau aku lepaskn semuanya dia akan pergi selama-lamanya dariku." ucapnya sembari menarik nafasnya dengan kasar.
" Davin...Sherly berbuat seperti itu menemui kamu melalui mimpi berarti dia inginkan kamu bahagia bukan menderita selama ini, dengan kamu bolak balik, kantor rumah sakit dan rumah hanya ingin mengurus istrimu, dirumah waktumu hanya untuk Keyra dan dikantor hanya pekerjaan, kapan waktumu untuk bahagia, Sherly akan terlihat sedih sebenarnya tapi kamu tidak mengetahui isi hatinya, aku rasa dia setuju dengan kamu mencari ibu sambung buat Keyra dan yang benar-benar sayang pada anakmu dan dapat mengurus kamu juga, kalau kamu ingin Sherly dan Keyra bahagia apa salahnya kamu mengikuti saran tante Santi." ucap Haris lagi.
Hanya helaan nafas yang keluar dari Davin, dia seakan-akan berada dipersimpangan dimana dia bingung harus memilih tikungan yang mana yang harus dilewatinya untuk menjemput kebahagiaannya.
" Apa lagi yang kamu pikirkan, kandidat kamu sudah ada didepan mata."
" Maksud kamu? " tanya Davin sembari menatap wajah Haris.
" Fatimah...." ucapnya singkat sembari tersenyum pada Bosnya.
Davin menatap lekat kearah Haris.
__ADS_1
" Fatimah adalah kandidt dari Tante Santi, tante Santi sangat menyukai Fatimah, dan dia juga menginginkan Fatimah jadi pendamping kamu, disatu sisi Fatimah sudah sangat disayangi Keyra, dan kamu melihat sendirikan anak mu itu tidak ingin jauh-jauh dari Fatimah, kamu bisa belajar mencintainya, aku rasa Sherly juga sangat setuju kalau kamu meikah dengan Fatimah."
" Fatimah? kenapa kamu punya pikiran agar aku menikah dengannya, dan kenapa juga kamu sampai tahu kalau mamah sangat menyukainya, padahalkan kamu baru sekali mengenalnya kala itu dan berjumpa dua kali, kamu tidak terlihat bicara serius dengannya, wajarlah dia menjaga dan menyukai Keyra karena dia bekerja untuk mendapatkan uang, apalagi dia butuh banyak uang untuk keluarganya, karena aku dengar dari mamah ibunya sedang dirawat dirumh sakit..."
" Nah..! itu yang ingin aku katakan padamu, dia pasti mau menikah dengan mu."
" Maksud mu aku jadi tidak mengerti apa yang kamu katakan sekarang ini."
" Maksud aku kamu pasti akan diterimanya untuk menikah denganmu, walaupun kamu tidak mencintainya dan tidak ingin menyentuhnya, kamu menikahinya hanya ingin menjadikan dia sebagai ibu sambung bagi Keyra, dan kamu juga ingin membahagiakan Sherly dan tante Santi, kamu bisa membahagiakan Fatimah dengan cara kamu membantu perobatan rumah sakit ibunya Fatimah yang sedang mengalami koma juga seperti Istri mu Sherly." ucap Haris sembari menyenderkan tubuhnya disandaran sofa. Davin terkejut dengan ucapan haris yang mengatakan kalau ibu Fatimah mengalami koma.
" Apa?? koma?? yang benar...kenapa sampai koma dan tahu darimana kamu kalau ibunya koma?" tanya Davin terkejut dengan ucapan Haris.
" Tante Santi yang cerita semua, kalau Ibunya Fatimah mengalami koma karena kecelakaan.." ucap Haris, Kemudian Haris menceritakan pada Davin tentang cerita Ibunya Fatimah yang diketahuinya melalui tante santi, dan Bu Santi tidak pernah bercerita pada Davin kalau Ibunya Fatimah mengalami koma, dan Bu Santi hanya menceritakan pada Davin kalau ibu Fatimah dalam perawatan dirumah sakit.
" Kecelakaan...?" ucap Davin Antusias menanyakankannya dengan Haris dan diapun membenarkan duduknya menatap Kearah Haris.
" Iya...ceritanya kenapa sampai kecelakaan dan kenapa juga sampai koma aku tidak tahu secara pastinya karena tante Santi juga tidak mengetahui lebih pastinya juga, menurut keterangan Fatimah dia perlu uang banyak untuk pengobatan ibunya itu aja, karena terlalu bannyak obat yang harus ditebus diluar karena persediaan rumah sakit tempat ibunya dirawat tidak memadai." terang Haris.
" Hmmmm..." Davin menghela nafasnya dengan berat, dia menyandarkan tubuhnya disofa dan pikirannya menerawang jauh dia teringat akan masalah yang Laura hadapi.
__ADS_1
" Jangan-jangan ibu Fatimah yang jadi korban Laura..." batinnya.