
Davin masih memperhatikan Fatimah dia pun kemudian mendekati Fatimah dan meraih tangannya untuk menguatkan Fatimah, agar Fatimah tidak gugup nantinya bertemu dengan sang Ayah, kemudian Davin memencet bel kembali dan beberapa saat kemudian pintu rumah itu pun terbuka, terlihat seorang pembantu rumah tangga itu pun menatap mereka berdua, Davin tersenyum pada perempuan muda yang baru saja keluar membukakan pintu itu
" Maaf Pak, Bu, mau mencari siapa?" tanyanya seraya menatap heran dengan tamunya yang baru saja dilihatnya itu.
" Maaf Mbak, Apakah ini rumahnya pak Ahmad? Apakah pak Ahmadnya ada?" Tanya Davin.
" Oh iya, ini rumahnya Pak Ahmad, silakan masuk, nanti saya panggilkan tuan besar saya." ucapnya sembari mempersilakan Fatimah dan Davin masuk ke dalam rumahnya tersebut.
" Silakan duduk tunggu dan tunggu sebentar." ucapnya
Mempersilahkan mereka berdua duduk untuk menunggu sebentar karena asisten rumah tangga itu lagi memanggil kan tuan rumahnya, Fatimah merasakan kegugupan itu semakin menjadi, karena sudah sekian lamanya dia tidak bertemu dengan Ayahnya, ingin rasanya dia mencurahkan tangisnya, tapi dia menahannya dikarenakan dia tidak tahu bagaimana sikap Ayahnya nantinya bertemu dengannya, lagi-lagi Davin menatap ke arah Fatimah, jelas sekali wajah Fatimah sangat gugup, dia menatap ke arah Davin, Davin tersenyum dan memegang kembali tangan Fatimah, dia menganggukkan kepalanya agar menguatkan Fatimah supaya tidak gugup, sebentar lagi bertemu dengan Ayah kandungnya yang bertahun-tahun tidak bertemu.
" Jangan takut Fatimah, kamu bertemu dengan Ayah kandung kamu, bukan bertemu dengan penjahat, hilangkan rasa kegugupan kamu itu, aku berada di samping kamu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu." ucap Davin sembari terus menatap ke arah Fatimah, Fatimah hanya menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian seorang laki-laki paruh baya bersama dengan seorang wanita paruh baya, tapi masih kelihatan tampan dan cantik, walaupun terlihat cantik, tapi tetap dengan wajah yang terlihat sombong, sedangkan wajah Ayahnya terlihat berubah tidak seperti dulu, Fatimah menatap ke arah Ayahnya itu, begitu juga pak Ahmad menatap ke arah Fatimah, dia terkejut karena sekarang Anaknya yang telah di tinggalkannya beberapa tahun yang lalu dan selalu dirindukannya itu ada di hadapannya.
__ADS_1
" Fatimah.." ucapnya, saat Pak Ahmad ingin mendekat dengan Fatimah, Ibu Fenny langsung menarik tangan suaminya itu, dia maju ke arah Fatimah, sedangkan suaminya berada di belakangnya, dia menatap Fatimah dengan sinis, kemudian menatap ke arah Davin, tapi Davin tidak membalas ke sinisan Bu Fenny, dia malah tersenyum padanya.
" Heh! Buat apa kamu datang ke sini hah! kamu ingin meminta uang pada Ayahmu, bisa saja kamu minta uang tapi jangan sekali-kali kamu panggil dia dengan sebutan Ayah!" ucapnya sembari menatap ke arah Fatimah.
Fatimah terkejut dengan ucapan Bu Fenny, Begitu juga dengan Davin karena tidak menyangka kalau Ibu Feni ini sangat tidak pantas berbicara di hadapan Fatimah, sedangkan Pak Ahmad hanya diam saja, dia tidak membela ataupun memarahi istrinya yang sudah berkata seperti itu pada Fatimah Anak kandungnya.
Saat Fatimah ingin berbicara, tangan Davin kemudian memegang tangan Fatimah, agar Fatimah tidak menjawab pertanyaan dari ibu Fenny tersebut, Davin menghela nafasnya, kemudian tersenyum pada mereka berdua, setelah Ibu Fenny dan suaminya duduk di hadapan mereka yang memang berjarak sedikit jauh karena ruangan itu sangat besar, dari gelagatnya sepertinya Ibu Penny tidak ingin suaminya dekat-dekat dengan anak kandungnya itu.
" Maaf Ibu,tidak sepantasnya ibu bicara seperti itu pada Fatimah, karena Fatimah adalah anak kandung dari pak Ahmad, tidak ada sejarahnya ibu memisahkan Ayah dan Anaknya, dan saat ini kami datang ke sini untuk meminta Bapak Ahmad menjadi wali dalam pernikahan kami, bukan hendak meminta uang!" ucapnya.
" Apa? Anakku mau menikah?" ucap pak Ahmad terlihat senang, sedang ibu Fenny hanya mencibir.
" Iya Ayah, Fatimah sudah mau menikah, Fatimah berharap Ayah bisa menjadi wali dalam pernikahan Fatimah, Karena yang Maha Kuasa sudah menetapkan jodoh Fatimah." ucapnya, terlihat dari wajah Pak Ahmad sangat bahagia mendengar sang anak sudah menemukan jodohnya.
" Syukurlah, kalau kamu sudah mendapatkan orang yang kamu cintai, Ayah bahagia mendengarnya, bagaimana keadaan ibumu dan adikmu?" Tanya Pak Ahmad, mendengar Pak Ahmad bertanya tentang mantan istrinya itu, Bu Fenny pun langsung membentak suaminya itu.
__ADS_1
" Mas!! Kenapa kamu menanyakan mantan istri kamu di depanku hah!! sudah kubilang padamu, tidak boleh kamu menanyakan mantan istri atau anak-anakmu di depanku, yang bisa kamu tanyakan hanya aku, dan anak-anakku!!" ucapnya sembari menatap ke arah Pak Ahmad, Pak Ahmad terdiam dia tidak menjawab ucapan istrinya itu, dia hanya menghela nafasnya dengan pelan, Fatimah terkejut karena kelakuan Bu Fenny seperti itu pada Ayahnya, memang Ayahnya terlihat bersih, rapi, dan tidak dekil, seperti saat Ayahnya berada di kampung, kulit Ayahnya sekarang terlihat bersih tidak seperti saat mereka hidup di kampung dulu, tapi berbeda dengan wajah sang Ayah, Fatimah melihat wajah Ayahnya menyimpan beban yang tidak bisa diungkapkan, terlihat dari wajah Ayahnya itu Fatimah bisa menilai kalau Ayahnya itu terbebankan perasaannya bersama dengan ibu Fenny.
" Kamu mau menikah! kamu masih ingat dengan apa yang pernah saya katakan saat itu kan! jika kalian berdua adikmu itu mau menikah dan menginginkan wali dari Ayah kalian, kalian pasti sudah ingat apa persyaratannya dariku." ucap Bu Fenny.
" Sayang... kenapa kamu bicara seperti itu, dia kan Anak kandungku, biar bagaimanapun Aku adalah wali sahnya, untuk menikahkan mereka, karena mereka tidak ada lagi saudara laki-laki ataupun saudara dari aku, lagi pula aku masih hidup, jadi aku berhak untuk menikahkan Anakku." ucapnya.
" Apa sih Mas!! kamu ini sudah berani ya, kamu menjawab aku, aku sudah bilang padamu, kalau kamu mau hidup bersama denganku, kamu harus mengikuti aturan dan kemauanku, aku sudah bilang juga dengan kamu, kalau seandainya kedua anakmu menikah kamu menjadi walinya, mereka harus mengikuti persyaratanku, itu butuh waktu Mas, waktumu pasti akan terbuang dengan duduk menjadi wali kedua anakmu itu!!" ucapnya di depan Davin.
" Sebentar Bu Fenny,karena ini adalah pernikahan saya dengan Fatimah dan Anda tidak bisa untuk melarang Ayahnya menjadi wali nikah anak kandungnya sendiri, apapun kemauan Anda Saya akan menurutinya, sebutkan saja apa mau anda!" ucap Davin berbicara penuh dengan penekanan.
Bu Fenny langsung menatap ke arah Davin, dia menatap Davin dengan lekat, Dia kemudian menatap ke arah luar, dari dia duduk terlihat mobil Davin terparkir di samping mobilnya, Dia juga melihat kalau mobil pribadi Davin adalah mobil mewah yang tidak mudah didapatkan begitu saja, Walaupun dia sendiri orang kaya tapi tidak bisa membeli mobil seperti yang dimiliki oleh tamunya itu, diapun tersenyum.
" Oh! Rupanya kamu calon suami yang rela berkorban demi menikahi gadis kampung ini?!" Ucap Bu Fenny.
" Iya, saya adalah calon suami dari Fatimah yang Anda bilang gadis kampung, Anda tidak sadar ya Anda bilang Fatimah gadis kampung, sedang suami Anda, orang kota apa orang kampung?! suami Anda itu juga orang kampung, seharusnya Anda itu berkaca, apakah pantas Anda berbicara seperti itu di hadapan suami Anda? dan di hadapan Anak kandung dari suami Anda sendiri? Bagaimana kalau hal ini dikembalikan pada Anda dan Anak-Anak Anda? Bagaimana pendapat Anda." ucap Davin membuat Ibu Fenny terkejut, Begitu juga dengan Fatimah, Pak Ahmad yang lebih terkejut lagi karena tidak mengira kalau calon menantunya ini orang yang sangat pintar, dia mampu membalas semua perkataan dari istrinya sekarang ini.
__ADS_1
" Maafkan saya Pak Ahmad, bukannya saya ingin mempermalukan Bapak didepan istri Bapak ini, tapi karena istri Bapak ini sudah sangat keterlaluan dengan calon istri saya, dan Calon mertua saya yaitu Bapak."
Pak Ahmad hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum sedangkan ibu Fenny hanya mendengus dengan kesal.