Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 20


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Davin melaju dengan kecepatan sedang dia tidak menuju kantornya tapi dia melaju menuju kearah rumah sakit dimana sang istri masih terbaring koma.


Sesampainya dihalaman rumah sakit dia buru-buru keluar dari mobilnya dan menuju kearah ruangan sang istri.


Davin melangkah dengan tenang tapi dia terus terbayang wajah cantik Fatimah.


" Kenapa dengan ku? Ada apa dengan pikiranku, kenapa isi kepalaku mengingat Fatimah, oh tuhan...ada apa ini?" Ucap batinnya sembari dia mengusap wajahnya dengan kasar dan terus melangkah menuju kearah ruangan istrinya.


Sesampainya dia diruangan istrinya dia melihat sang istri yang terbaring dengan lengkap peralatan medis menempel ditubuhnya, dia belai rambut sang istri dan dia sentuh pipi pucat sang istri.


" Sayang...maafkan aku yang sudah sedikit melupakan mu hari ini, maafkan aku juga karena aku sudah melukai hati kamu dengan cara seperti ini, maafkan aku karena aku lakukan ini agar kamu tetap bisa bertahan untuk anak kita sayang, aku berharap suatu saat nanti kamu bagun dan kita berdua dapat membesarkan anak kita satu-satunya." Ucapnya sembari terus mengelus pipi istrinya tersebut, Sherly hanya terdiam, dia tetap betah dalam menutup rapat matanya. Davin terus bersuara berbicara pada istrinya itu.


Kemudian Davin dikejutkan suara sang istri.


" Sayang...kamu tidak perlu minta maaf padaku." Ucap Sherly sembari tersenyum.


" Sayang...syukurlah kamu sudah bangun, aku sangat merindukan mu sayang...anak kita sudah besar hari ini dia genap tiga tahun, tapi ...." Davin menggantung kalimatnya dan dia perlahan berjalan kearah jendela dan mensedekapkan tangannya didada sembari menatap jauh keluar jendela.


Sherly kemudian mendekati Davin dan memeluk Davin dari belakang sembari berkata.


" Aku senang Keyra mengucapkan kata Mamah dengan pengasuhnya." Ucapnya tanpa ada nada kesal ataupun nada berat terdengar dari ucapannya membuat Davin terkejut dan memalingkan wajahnya menghadap kearah Sherly dan diapun memeluk Sherly dengan penuh kasih sayangnya.


" Apa maksudmu, aku akan bahagia kalau Keyra menyebut kamu dengan sebutan Mamah, karena kamu adalah Mamah kandungnya bukan pengasuhnya, Ayo kita pulang sekarang, dan kita akan bahagia selamanya, tanpa ada orang lain dirumah tangga kita." Ucap Davin dengan memegang kedua pipi Sherly dengan kedua tangannya.

__ADS_1


" Aku bersyukur sekali karena kamu sekarang sudah sadar dan membuka matamu, aku sangat bahagia sekali, kalau Keyra, Mamah dan Laura mengetahui keadaan kamu sekarang ini mereka pasti sangat bahagia sekali." Ucap Davin sembari memeluk Sherly.


" Ayo sayang kita pulang kerumah sekarang, kita tunjukkan pada dunia kalau kamu sekarang sudah sehat dan sadar seperti biasanya." Ajaknya pada sang istri, namun Sherly hanya tersenyum saja dan diapun menyentuh wajah suaminya itu membuat Davin merasa heran.


" Sayang aku tidak bisa pulang bersama kamu saat ini." Ucapnya tersenyum.


" Kenapa? Kenapa kamu bicara seperti itu dengan mengatakan tidak bisa pulang bersama ku, ada apa?" Tatap Davin heran.


" Maafkan aku sayang, kamulah yang menahan aku selama ini, dan membuat aku tidak bisa pulang."


" Maksud kamu apa sayang? Aku tidak mengerti..."


" Iklaskan aku sayang, tubuhku sakit sekali, aku ingin pulang bersamamu, karena aku sudah tidak kuat lagi berada disini, aku ingin pulang bersama denganmu." Ucap Sherly sembari tersenyum walaupun disudut matanya ada buliran bening keluar, Davin terkejut dan dia segera menghapus buliran bening itu.


" Kenapa kamu menangis sayang...aku bersama denganmu, kita akan pulang bersama..." Lanjutnya sembari menatap wajah cantik Sherly.


" Apa maksudmu, sayang...aku tidak mengerti..." Ucap Davin sembari menatap langkah Sherly yang berjalan menuju arah luar.


" Sayang...tunggu, Sherly...Sherly..." Panggilnya, namun tubuh Sherly seakan-akan ditelan cahaya yang berbarengan dan menyilaukan pandangan mata Davin, Davin terbangun dari tidurnya disamping sang istri.


" Ya Allah...aku bermimpi lagi, tapi mimpi itu terlihat sangat nyata sekali..." Ucapnya sembari menatap wajah sang istri yang masih betah menutup matanya itu, Davin tertuju dibagian sudut mata Sherly yang berair, dia pun langsung mengusap air mata sang istri, dia membelai pipi istrinya itu, tanpa terasa giliran buliran bening yang lolos dari bola matanya melihat keadaan sang istri yang tak kunjung membaik, dan dia hanya bisa bertemu dan berbicara dengan istrinya melalui alam bawah sadarnya.


" Maafkan aku sayang...maafkan aku...aku tidak bisa kehilangan kamu begitu saja, aku tidak bisa rasanya menggantikan kamu dihati ini dengan wanita yang lain, aku rasa kamu mendengar aku saat ini, dan kamu tahu sebernaya aku tersiksa tanpa kamu, aku berusaha membuat kamu kembali lagi bersamaku, aku merasa kamu akan kembali membuka matamu, jangan tinggalkan aku sayang...aku sangat memerlukanmu,. Aku sangat membutuhkanmu, begitu juga dengan Keyra, dia sangat merindukanmu..." Ucapnya berbicara sendiri sembari meletakkan telapak tangan sang istri diwajahnya.

__ADS_1


Kemudian dia dikejutkan dengan sebuah suara, siapa lagi kalau bukan suara seorang dokter yang selalu memantau keadaan Sherly.


" Pak Davin,maaf bisakah kita bicara sebentar." Pintanya.


" Oh iya dok bisa..." Ucapnya sembari mengikuti langkah dokter tersebut menuju ruangannya yang tidak jauh dari ruangan Sherly, memang dokter yang khusus menangani Sherly diistimewakan Davin tempat dan ruangannya, semua fasilitas dicukupkan dan tidak kekurangan suatu apapun bila sang dokter berjaga untuk memantau khusus sang istri.


Setelah sampai diruangan dokter tersebut, kemudian dokter itupun berbicara tentang keadaan Sherly pada Davin, dengan seksama Davin mendengarkan keterangan sang dokter, awalnya dia dengan tenang mendengarkannya, setelah keterangan demi keterangan dijelaskan pada Davin diapun langsung terkulai lemas dengan menundukkan kepalanya sambil menangkupkan kedua tangannya diatas meja.


" Apakah harus dilakukan?" Tanyanya.


" Iya pak Davin, karena sebenarnya obat-obatan yang sudah dikonsumsi bu Sherly sudah tidak bisa lagi diterima tubuhnya, bahkan obat yang kita pesan dari luar Negeripun sudah tidak bisa lagi diterima tubuhnya, hanya bergantung dengan alat oksigen saja." Terangnya.


" Apakah tidak ada lagi cara yang lain?"


Terdengar tarikan nafas dokter pribadi Sherly, dan diapun hanya bisa menggeleng pelan......


" Sepertinya tubuh ibu Sherly sudah tidak bisa lagi berinteraksi dengan obat-obatan, maaf pak sebaiknya semua peralatan yang menempel ditubuh ibu Sherly kita lepaskan, saya takut alat itu tidak bisa lagi menahan keadaan ibu Sherly, maafkan saya pak berkata seperti itu, karena dalam dunia medis orang yang koma pasti masih merespon apa yang kita berikan, tapi tidak dengan ibu Sherly, tubuh beliau sudah tidak bisa merespon apa-apa lagi." Terangnya.


Davin terdiam...dia tidak bisa berbicara lagi dia pun hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan, dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi yang dia sekarang duduki.


Hening! Tidak ada suara sama sekali diruangan itu.


" Baiklah pak, kalau gitu saya permisi dulu mau melihat keadaan bu Sherly sekarang..." Ucap dokter tersebut dan meninggalkan Davin seorang diri diruangannya itu.

__ADS_1


" Ya Allah...apakah aku harus mengakhiri semua ini? Apakah aku harus melepaskan semuanya dari tubuh istriku? Apakah aku sama saja membunuh istriku sendiri dengan membiarkan semua alat tersebut dilepas darinya?ya Allah aku harus bagaimana? Berikan aku petunjukmu ya Allah..." Ucapnya sembari mengusap wajahnya dengan kasar dan diapun berjalan gontai menuju kearah luar dan menuju kearah mobilnya yang terparkir rapi didepan rumah sakit.


Dia memasuki mobilnya dan dia menelungkupkan wajahnya distir mobilnya sembari menghela nafasnya dengan berat, kemudian dia melajukan mobilnya menuju kearah kantornya dengan pikiran yang tidak menentu.


__ADS_2