Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 72


__ADS_3

" Fatimah bolehkah kalau seandainya ibumu sudah keluar dari rumah sakit nantinya nggak usah pulang ke rumah kediaman kalian terdahulu, bisakah kalian pindah ke rumah ini, karena rumah ini sangat besar sekali, Mamah dan Ibumu ingin menghabiskan waktu bersama di masa tua, biar Mamah di rumah ini ada temannya, kalau kalian sibuk nantinya."


Fatimah terkejut dan dia pun menghentikan aktivitas yang memberi makan Keyra.


" Maksud Mamah, Ibu boleh tinggal di sini? bersama Aisyah, agar bisa berkumpul dengan Fatimah?"


Bu Santi menganggukkan kepalanya.


" Ya Nak, sudah sejak dulu, Mamah menginginkan itu, jika Mamah sudah mempunyai seorang besan, Mamah ingin Besan Mamah itu tinggal bersama dengan Mamah, setiap pagi, siang, dan malam selalu bercerita apa aja, jalan-jalan ke Mall, liburan, Mamah ada temannya, dan Mamaj juga bisa curhat juga."


" Mamah kan bisa curhat sama Laura." Ucap Laura tersenyum.


" Tapi kan kamu jauh, tidak mungkin Mamah curhatnya dengan kakakmu, karena kakakmu juga pasti sibuk, apalagi sekarang kakak kamu sudah punya istri, pastilah kakakmu akan curhat sama istrinya, begitu juga istrinya, pasti akan curhat dengan suaminya." ucap Bu Santi tersenyum. Fatimah pun tersenyum.


" Baiklah Mah, Fatimah akan mengatakannya nanti pada ibu, mudah-mudahan ibu mau, sebenarnya kami tinggal di rumah paman Ari, tapi bukan satu rumah, melainkan ada rumah kecil yang udah lama tidak ditempati, di situlah kami tinggal, tapi kalau kemauan Mamah agar ibu tinggal di sini, Fatimah sangat bersyukur sekali, di samping Fatimah bisa menjaga Mamah, Fatimah juga bisa menjaga ibu kandung Fatimah."


Dianggukkan Bu Santi.


" Ya Kak, Laura juga bersyukur kalau seandainya, ibunya Kakak mau tinggal di sini menemani Mamah, karena Laura ingin fokus untuk kuliah, pastinya waktu untuk Mamah akan berkurang, dan bahkan Laura juga jarang nantinya akan menghubungi Mamah, karena Laura ingin fokus dengan kuliah yang sudah lama Laura tinggalkan, kalau ada temannya Mamah setidaknya kan Mamah bisa kemana-mana dengan ibunya kakak." ucap Laura dianggukan oleh Fatimah, Fatimah merasa bahagia mendapatkan mertua seperti Bu Santi.

__ADS_1


Ingin rasanya Fatimah mengatakan kepada sang ibu, Fatimah sudah tidak sabar ingin segera berkumpul kembali dengan ibunya dalam satu atap, dan bisa menjaga adik dan ibunya itu.


" Ya Tuhan ternyata rencanamu indah sekali untukku, dari yang dulunya menderita sampai aku berpikiran penderitaan itu tiada akhirnya, tapi sekarang aku menemukan kebahagiaan yang mungkin sebagian orang tidak menemukannya seperti ini, terima kasih ya Allah karena rencanamu itu indah untukku* di balik penderitaan kebahagiaan pasti ada." gumamnya dalam hati sembari menatap ke Bu Santi, Laura dan Keyra secara bergantian, Mereka pun tersenyum melihat Fatimah yang terlihat di wajahnya kebahagiaan yang tiada tara, setelah mereka sarapan pagi selesai, Fatimah Kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit untuk bertemu dengan ibunya tersebut.


Fatimah berangkat ke rumah sakit dengan diantar Mang Cecep, sedangkan Bu Santi dan Laura hanya berada di rumah saja, karena Bu Santi ingin menghabiskan waktunya bersama dengan sang anak, karena beberapa jam lagi anaknya akan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studinya yang sudah tertunda beberapa bulan lamanya.


Mobil yang ditumpangi Fatimah sudah memasuki halaman rumah sakit dimana ibunya dirawat, Fatimah bergandengan tangan dengan Keyra menuju ke arah ruangan di mana sang Ibu berada, kemudian Mang Cecep kembali lagi ke rumah keluarga Wijaya, Fatimah membuka pintu ruangan tersebut, terlihat keluarganya sudah berada di dalam ruangan itu, Fatimah tersenyum, Keyra yang melihat Aisyah yang kebetulan tidak sekolah itu pun langsung berlari mendekatinya dan memeluknya, seakan-akan Aisyah sudah sangat akrab dengan Keyra kemudian Aisyah bermain di luar.


Fatimah meraih tangan sang ibu, dan mencium punggung tangannya sembari tersenyum, Fatimah terlihat sangat bahagia karena ibunya semakin membaik, dia mengambil kursi yang tidak jauh dari ranjang ibunya itu, kemudian dia pun menghenyakan tubuhnya di kursi itu.


" Bagaimana Fatimah keadaan suamimu?" tanya Paman Ari.


" Syukurlah kalau dia tidak berlarut-larut dalam kesedihannya, Davin memang orang yang kuat dalam menghadapi segala hal, akhir dari perjuangannya untuk mempertahankan istrinya itupun berakhir dengan kesedihan, tapi terlihat saat pemakaman itu Davin sangat terpuruk sekali, kesedihan menghampirinya, Paman harap kamu selalu menghiburnya ya Nak, karena sekarang kamu adalah istri satu-satunya yang mungkin akan selalu ada bersama dengannya." ucapnya.


Dianggukkan oleh Fatimah.


" Oh ya Bu, Mamah Santi ingin mengajak Ibu dan Aisyah tinggal di rumahnya, kalau Ibu sudah keluar dari rumah sakit.


" Tnggal di rumah besan ibu?"

__ADS_1


" Iya Ibu, Mamah Santi ingin sekali ibu tinggal di sana, kata Mamah ingin menghabiskan masa tua bersama dengan ibu sebagai teman dikala sedih dan duka, tiba saatnya Mamah dan ibu menikmati masa tua yang indah tanpa ada beban."


Bu Nany menghelan nafasnya dengan berat, dia menatap ke arah sang adik, Paman Ari pun tersenyum.


" Itu lebih bagus lagi Mbak, biar Mbak tidak terlalu kepikiran bila berjauhan dengan Fatimah, setidaknya Fatimah bisa menjaga Mbak dan Aisyah, kalau aku setuju banget Mbak satu Atap dengan Fatimah dan Aisyah." Ucap Paman Ari terlihat bahagia.


" Di mana mertuamu sekarang?" Tanya Bu Nany.


" Mamah mau ikut ke sini Awalnya, tapi Mamah tidak jadi, karena Laura siang nanti akan berangkat ke luar negeri melanjutkan kuliahnya yang tertunda beberapa bulan yang lalu, jadi Mama ingin menghabiskan waktu dengan Laura selama Laura berada di rumah, karena waktunya tinggal Beberapa jam lagi aja."


Bu Nani menganggukkan kepalanya.


" Bagaimana Ibu? Apakah ibu mau kalau sudah keluar dari rumah sakit ini tinggal di rumah mertua Fatimah? Benar apa yang dikatakan Paman Ari agar Fatimah bisa menjaga ibu di masa tua ibu, kita tidak berjauhan, kita harus sama-sama Bu, kalau Fatimah sangat menyetujui keinginan dari Mamah Santi."


" Baiklah kalau memang itu keinginan kamu Nak, kamu tidak apa-apa kan Ari rumah yang di samping kamu itu nantinya tidak ada lagi yang menempati."


" Tidak apa-apa Mbak, rumah itu tidak ada yang menempati lagi, walaupun tidak ditempati nantinya akan dibersihkan terus agar tidak berdebu."


" Maafkanlah Mbak ya, karena selalu merepotkan kamu selama ini "

__ADS_1


" Tidak apa-apa Mbak, aku melihat Mbak bahagia saja sudah sangat senang sekali." ucapnya sembari tersenyum, Mereka lalu berbicara dengan topik yang berbeda sesekali mereka terdengar tawa kecil di antara mereka.


__ADS_2