
Didalam Mobil yang dikendalikan Davin tidak ada suara sama sekali, mereka berdua hanya sama-sama terdiam dan Davin fokus menatap kedepan karena dia dalam posisi mengendalikan kuda besinya tersebut.
" Dimana rumah kamu...? " tanya Davin tapi dia tidak menoleh kearah Fatimah sama sekali;
" Dirumah sakit yang tidak jauh dari perempatan jalan sana tuan." jawab Fatimah sembari menoleh kearah Davin.
" Ya Allah kenapa lelaki yang ada disampingku ini terlihat dingin seperti gunung es, tapi saat dia berada dirumah tadi sangat antusias sekali membela ku, saat berada berduan dia tidak sama sekali memperhatikan ku." ucapnya dalam hatinya sembari menoleh kesamping dan menjatuhkan pandangannya keluar jendela mobil meskipun jendela mobil tersebut tidak terbuka, tanpa sepengetahuan Fatimah Davin melirik gadis yang ada disampingnya itu.
" Kenapa saat aku berdampingan dengannya saat ini hati dan perasaanku sangat tenang dan sangat bahagia yang tak terhingga." gumam batinnya.
Kemudian mobil tersebut memasuki halaman rumah sakit, saat mobil Davin hendak menuju kearah tempat parkir, Fatimah langsung menahannya.
" Maaf tuan muda, sampai disini saja, biarkan saya turun disini, terimakasih karena sudah mengantarkan saya." ucapnya seraya menoleh kearah Davin.
Davin pun mengangguk tapi tidak sama sekali menatap Fatimah, dan Fatimah pun turun dari dalam mobil tersebut, dan dia berdiri sembari mengawasi mobil tuan mudanya itu berlalu, setelah tidak terlihat lagi mobil Davin dari pandangannya dia pun langsung masuk kedalam rumah sakit, dan saat dia melangkah menuju keruangan sang ibu, dia dikejutkan dengan suara ponselnya dan terlihat sang Adik yang memanggilnya.
" Ya Aisyah ada apa?" tanya Fatimah.
" Kakak dimana? "
" Kakak dirumah sakit baru aja datang kenapa?"
" Ya udah nanti aja nunggu kakak sampai diruangan ibu."
" Iya dek." ucap Fatimah menyudahi sambungan bicaranya, dia pun langsung bergegas menuju ruangan ibunya, dengan pikiran yang penuh tanda tanya besar dikepalanya.
Mobil yang dikendarai Davin berbalik arah kembali menuju kearah rumah sakit dia ingin mengetahui sendiri kenapa dan bagaimana keadaan ibunya Fatimah, dia sebenarnya tadi ingin sekali melihat secara langsung tapi dia dicegah Fatimah untuk memarkirkan mobilnya, karena dia tidak ingin Fatimah tersinggung diapun hanya menyetujui saja agar dia tidak memarkirkan mobilnya itu, sebenarnya dia ingin mengetahui sendiri, akhirnya dia langsung berputar arah tanpa sepengetahuan Fatimah, Mobil Davin diparkir tidak dihalaman rumah sakit tapi dia memarkirkan mobilnya diseberang jalan dan diapun berjalan menuju arah rumah sakit, kemudian dia menemui perawat yang jaga dan menanyakan tentang nama Fatimah, karena suster jaga memang sudah mengenal Fatimah dan suster itupun langsung memberikan arahan pada Davin menuju ruangan dimana Ibu Fatimah dirawat, saat dia melangkah menuju keruangan tersebut dia mendengar sepasang suami istri berbicara menyebut nama Fatimah yang berada didepannya yang sama-sama berjalan menuju kearah ruangan ibu Fatimah, siapa lagi kalau bukan Paman Ari dan istrinya, karena ruangan ibu Fatimah terlihat sekali berada diruangan tersendiri, dikarenakan ruangan itu berada dipojok yang memang hanya ada satu ruangan saja.
__ADS_1
" Maaf Pak, Bu, mau tanya itu ruangan apa ya...? " tanyanya menanyakan pada sepasang suami istri tersebut.
" Oh iya pak, itu adalah ruangan saudara saya." Jawab paman Ari
" Oh iya, maaf karena saya mencari ruangan teman saya, mungkin saya salah jalan kali ya." ucapnya berbohong.
" Memang mencari ruangan apa pak.?" tanya paman Ari
" Saya juga lupa pak, ntar saya hubungi teman saya, terimakasih ya pak "
" Iya pak sama-sama, tapi bapak ini mencari ruangan teman bapak yang sakit apa ya?" tanya paman Ari lagi sembari tersenyum
" Sakit jantung pak." Jawab Davin tersenyum.
" Oh sakit jantung didaerah sana pak, dari sini belok kekiri."
" Saudara saya mengalami kecelakan pak."
" Kecelakaan? gimana pak sekarang keadaannya?" Tanyanya terlihat terkejut tapi dia berusaha tenang.
" Koma pak, kecelakan insiden tabrak lari pak, oleh pelaku yang tidak bertanggung jawab lima bulan yang lalu, sampai sekarang belum sadarkan diri pak, maaf pak saya jadi curhat nih." ucap paman ari tersenyum
Davin tersenyum," iya pak nggak apa-apa," ucapnya sembari menyembunyikan wajah dan perasaannya yang terkejut mendengar keterangan paman Ari.
" Maaf pak kalau gitu saya permisi ya pak, karena katanya saudara saya sekarang membutuhkan obat yang mungkin obatnya harus beli keluar "
" Kenapa beli keluar pak? Bukankah dirumah sakit ini tersedia obat-obatan?" tanya Davin
__ADS_1
" Karena pihak rumah sakit kadang-kadang kehabisan stock obatnya, kadang juga obatnya terlalu mahal, jadi kami disuruh membeli persamaannya saja, biar meringankan kami pak,sudah syukur kakak saya ditanggung pemerintah pak, jadi kalau obatnya nggak ada dan terlalu mahal kami belinya diluar, maaf ya pak saya tinggal." ucap paman Ari langsung berbalik arah sembari tersenyum dan Davin pun langsung terduduk didekat ruangan ibu Fatimah dan dipun mengusap wajahnya dngan kasar
" Itu pasti korban Laura, ini tidak bisa dipungkirin lagi kalau ibu Fatimahlah korbannya insiden itu." ucap Davin sembari menopangkan kedua tangannya dikedua pahanya dan telapak tangannya menutupi sebagian wajahnya, beberapa saat dia terdiam dan diapun kemudian berdiri dan menuju kearah perawat yang sedang jaga tersebut.
" Maaf pak ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu perawat tersebut, tapi bukan perawat awal yang dia temui.
" Maaf sus, saya mau menanyakan tentang pasien yang koma sudah beberapa bulan itu yang ada diruangan melati diujung sana."
" Oh, Ibu Nany, ibunya Fatimah, iya pak kenapa, bapak siapanya.?"
" Saya keluarganya dari luar kota."
" Iya pak ada yang bisa saya bantu.?"
" Ibunya Fatimah itu sejak kapan ya mbak berada diruamah sakit ini."
" Sekitar lima bulan yang lalu megalami kecelakaan dan mengalami koma tepatnya tanggal 5juni yang lalu."
" 5 juni?" Ucap Dabin singkat.
" Iya pak," jawab perawat tersebut sembari mentap kearah Davin,
" Negini sus, saya minta tolong berikan perawatan yang terbaik buat ibunya Fatimah, segala macam obat yang diperlukan saya harap mereka jangan sampai beli diluar, saya yang akan menanggung biaya pengobatan semuanya untuk ibunya Fatimah dan tolong ruangannya dipindahkan diruangan Vvip yang terjamin untuk ibunya Fatimah." ucap Davin pada suster tersebut.
" Baik pak, kalau seperti itu, bapak bisa menemui pimpinan kami, mari pak saya antarkan."
" Baiklah." ucapnya sembari mengikuti langkah perawat terseut menuju kearah ruangan pimpinan rumah sakit, setelah bertemu dengan pimpinan rumah sakit dan dokter yang menangani ibunya Fatimah Davin langsung membicarakan semuanya, dan setelah disetujui dengan identitas Davin disembunyikan dari keluarga Fatimah, Davin pun tersenyum dan berterimaksih dengan pihak rumah sakit tersebut dan diapun langsung mohon pamit pada mereka dan dengan pikiran yang berkecamuk antara adiknya dan Fatimah dia terus melangkah keluar dari rumah sakit tersebut, menuju kearah mobilnya dia segera melajukan mobilnya itu pulang kerumah.
__ADS_1
Diruangan Ibunya, Fatimah terdiam setelah mengetahui kalau obat-obatan sang ibu sudah habis dan dia juga mengetahui kalau obat tersebut tidak tersedia dirumah sakit,dan uang ditangannya tidak ada sama sekali dan paman Ari pun tidak bisa memberikan banyak karena paman Ari juga tidak mempunyai uang banyak, Fatimah berpikir keras karena setelah mendengar carita sang adik padanya tentang obat sang Ibu yang sudah habis.